Hadits Bab : 1.Mengajak Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tetapi tidak konsekuen 2.Perintah menunaikan Amanah.

Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.

27 Maret 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kajian kali ini adalah pembahasan Hadits dari Kitab Riyadhushsholihin, Hadits Bab Beratnya siksaan orang yang mengajak untuk berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar (Amar Ma’ruf Nahi Munkar) tetapi ia tidak konsekuen. (Tidak satunya kata dengan perbuatan).

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 44 :

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian (kebaikan) sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Tidaklah kamu berpikir?

Dalam AlQur’an Surat Ash Shoff ayat 2 – 3 :

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Dalam AlQur’an Surat Hud ayat 88 :

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang

Keterangan ayat .

Ayat pertama (Surat Al Baqarah ayat 44) tersebut di atas diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menjelaskan berkaitan dengan perilaku orang-orang Yahudi di Madinah di zaman Rasulullah saw.   Orang-orang Yahudi itu tahu bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah benar, dan mengerti bahwa Islam itu benar. Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang sudah  masuk Islam berkata : “Teruskan dan ikuti Muhammad, ia benar”.

Tetapi bersamaan itu orang-orang Yahudi itu melupakan dirinya. Mereka tidak mau masuk Islam, padahal perkataannya bagus, dan membenarkan Nabi Muhammad saw. agar orang mengikutinya, dst. Semestinya  mereka masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Tetapi nyatanya tidak seperti itu.  Perbuatan mereka tidak seperti yang mereka katakan. Tidak ada satunya kata dan perbuatan.  Dan yang demikian itu tercela dalam Islam.

Ayat kedua (Surat As Shoff  ayat 2 – 3 ), menurut Tafsir ada ceritanya :  Ketika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam di Madinah,  banyak orang-orang munafik (menampakkan keimanan tetapi menyembunyikan kekafiran) datang kepada Nabi Muhammad saw  dan berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak bisa ikut berperang (Perang Uhud) karena keluarga kami sedang kasulitan”.  Jawab Rasulullah saw : “Ya sudah, silakan”.

Padahal itu hanya sebagai alasan untuk tidak mau ikut berperang.  Karena ada orang-orang Yahudi (orang munafik) yang berkata tidak mau ikut berperang dengan berbagai alasan itulah, maka turunlah ayat tersebut.  Orang munafik juga sering melakukan sholat, ikut berjamaah bersama Rasulullah saw, tetapi sholatnya hanya untuk berpura-pura saja, karena hati mereka tidak beriman.  Sebenarnya mereka bukan Islam.   Maka bila mereka diajak berperang, dalam hatinya menolak, lalu mengatakan berbagai alasan untuk tidak ikut berperang. Seluruh orang munafik menolak untuk ikut berperang.

Ayat tersebut mengajarkan untuk : Satunya kata dan perbuatan

Amat besar dosanya di sisi Allah subhanahau wata’ala, orang yang berkata tetapi tidak mengerjakan apa yang dikatakan. Dengan kalimat lain : Kalau kita mengajak orang untuk berbuat baik, kita harus berbuat baik terlebih dahulu.

Misalnya kita mengajak orang yang tidak pernah sholat untuk sholat, kita sendiri harus menjadi orang yang selalu mengerjakan sholat terlebih dahulu. Kalau kita mengajak orang untuk pergi mengaji (ke Majlis Ta’lim) maka kita harus selalu mengaji terlebih dahulu.  Jangan sampai  mengajak sholat, tetapi dia seendiri tidak pernah sholat.  Mengajak mengaji, tetapi dia sendiri tidak pernah mengaji.

Ayat ketiga, (Surat Huud ayat 88), adalah cerita Nabi Syu’aib a.s.  Lengkapnya adalah :

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Nabi Syu’aibalaihissalam adalah nabi yang diutus untuk kaum Madyan, yaitu suatu bangsa yang ketika itu tinggalnya di pesisir Laut Merah. Bangsa Madyan terkenal dengan kecurangannya. Bangsa Madyan terkenal karena ketidak-jujurannya. Artinya ketidak-jujuran manusia sudah ada sejak 3.500 tahun lalu. Dan diulang-ulang terus dalam sejarah  sampai sekarang,   Bukti ketidak-jujuran ditampakkan dengan perbuatan jahat. Muncullah korupsi, gratifikasi (suap-menyuap), manipulasi, dst, sudah ada sejak zaman Nabi Syu’aib ‘alaihissalam (3.500 tahun yang lalu).

Maksudnya bahwa Nabi Sy’aib a.s. ketika itu berkata kepada kaumnya (Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang), adalah Nabi Su’aib tidak ingin berbeda dengan kaumnya dengan apa yang beliau larang.  Nabi Syu’aib a.s. tidak akan mengerjakan apa yang telah dilarangnya.  Kalau dilarang, maka tidak dikerjakan.

Pelajarannya adalah :

Islam bisa dilihat dari dua perspektif (pandangan) :

1.Secara Eksoterik (melihat Islam dari tampilan luar), secara lahiriyah, Islam ada 3 pokok utama yaitu :

  1. Aqidah, suatu system keyakinan yang berangkat (bertumpu) pada Tauhid, bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah subhanahu wata’ala. 
  2. Syari’ah, jalan (aturan) yang disediakan oleh Allah untuk umat-Nya menuju kepada Allah subhanahu wata’ala.
  3. c.       Akhlak, perilaku, cara hidup yang sesuai dengan Aqidah dan Syari’ah.  Akhlak banyak sekali cabang-cabangnya :Akhlak terhadap Allah subhanahu wata’ala, Akhlak terhadap Rasulullah saw, akhlak terhadap Kitab Suci, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap sesama muslim dan akhlak terhadap sesama umat manusia.

Berdasarkan ayat tersebut, kita disuruh untuk memperhatikan akhlak terhadap diri sendiri.  Dan akhlak terhadap diri sendiri yang paling tinggi,  itulah yang disebut jujur (Kejujuran, Honesty).

Kejujuran adalah satunya kata dan perbuatan.  Mengajak orang berbuat baik dan kita juga berbuat baik, maka itulah satunya kata dan perbuatan. Kalau kita melakukannya, maka kita dipuji oleh Allah dan Rasulullah saw. Orang yang mampu hidup dengan lurus, benar, maka sabda Rasulullah saw : “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan itu akan membawa kamu kepada surga”

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda : “Kejujuran, kebenaran, satunya kata dan perbuatan  akan membawa orang kepada Tuma’ninah (hidup yang tenang)”. Maksudnya, orang yang jujur dan benar, maka ia akan hidup dengan tenang.

Kejujuran sudah dikenal sejak zaman dahulu kala.  Nabi Muhammad saw ketika mengirim delegasi dakwah (delegasi diplomatik) kepada Kaisar Heraclius (Raja Romawi), delegasi dipimpin oleh Abu Sofyan,  Kaisar Heraclius bertanya kepada Abu Sofyan : “Apa yang diperintahkan nabimu kepada kamu ?”

Abu Sofyan berkata menjawab : “Dia memerintahkan kepada kami untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Kedua agar kami  meninggalkan apa yang diajarkan oleh nenek-moyang kami.  Ketiga, agar kami melakukan sholat 5 kali sehari/semalam. Keempat dia memerintahkan kami untuk berlaku jujur”.

2.Secara Esoterik (melihat Islam dari dalam), bahwa Islam berisi empat hal :

  1. Syariah, yaitu jalan, aturan beribadah : Sholat, zakat, shiam, ber-Haji, dst.
  2. Thoriqoh, jalan (cara-cara) yang lebih detail (kecil) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala : Dzikir, banyak ibadah-ibadah sunnah (shiam sunnah), Tahajud, sholat Dhuha, dst.
  3. Ma’rifah, mengenal siapa dan bagaimana Allah subhanahu wata’ala.
  4. 4.      Haqiqoh, suatu keadaan di mana seseorang tahu bahwa seluruh yang terlihat di alam semesta ini essensinya kembali kepada Hakikat Allah subhanahu wata’ala.

Menjalani hidup dengan lurus dan benar, membiasakan hidup dengan jujur. perlu latihan. Misalnya menilai diri dengan : Berapa kali dalam sehari berkata dusta (bohong). Esok harinya dihitung lagi berapa kali berkata bohong, sambil berusaha semakin mengurangi (menghilangkan) berkata bohong. Sampai akhirnya setiap hari tidak pernah bohong, artinya menjadi orang jujur, tanpa dusta.  Itulah Thoriqoh, latihan kejujuran.

Bila sudah biasa jujur, maka orang akan Ma’rifat, mengenal Allah subhanahu watangala.  Ia akan menjadi orang yang waspada dan sadar diri.

Dan bila sudah Ma’rifat, maka ia akan sampai kepada Haqiqoh, merasa Allah subhanahu wata’ala selalu bersamanya di mana saja ia berada. Orang baru bisa merasakan selalu bersama Allah subhanahu wata’ala, kalau membiasakan berlaku jujur.

Hadits tentang orang yang tidak jujur, tidak satunya kata dan perbuatan :

Hadits 1 :

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah rodhiyallahu ‘anhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Nanti pada Hari Kiamat  ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan  ke dalam neraka, maka keluarlah usus perutnya dan berputar-putar di dalam neraka  sebagaimana berputarnya keledai  yang sedang berada dalam penggilingannya, lantas para penghuni neraka berkumpul seraya berkata : Wahai Fulan, kenapa kamu seperti itu ?  Bukankah kamu dulu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan mungkar ?  Ia menjawab : Benar,  saya dulu menyuruh untuk berbuat baik  tetapi saya sendiri tidak mengerjakannya;  dan saya melarang dari perbuatan mungkar tetapi saya sendiri malah melakukannya”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Keterangan.

Hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa sifat tidak jujur (ketidak-jujuran) akan membuat orang masuk neraka.

Pelajarannya adalah :

  1. Jangan berlaku tidak jujur
  2. Perbanyak do’a : Allahumma ajirna minannaar (Ya Allah jauhkan kami dari api neraka) setiap selesai sholat.
  3. Jangan lupa membaca : Robbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar (Ya Allah Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat dan hindarkanlah kami dari api neraka).

BAB TENTANG PERINTAH UNTUK MENUNAIKAN AMANAH.

Bab ini merupakan lanjutan dari Bab jujur.  Orang yang jujur akan bersikap Amanah. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat An Nisaa’ ayat 58 :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

Berdasarkan ayat tersebut, para ahli AlQur’an mengatakan bahwa menunaikan amanah hukumnya wajib.  Amanah artinya jujur, bisa dipercaya. Orangnya disebut Al Amin (laki-laki)  atau Aminah (perempuan).

Surat Al Ahzab ayat 72 :

 Sesungguhnya Kami (Allah) telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala pernah menyerahkan Amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Tetapi ternyata langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup memikul amanah itu, mereka menolaknya. Dengan diciptakannya Nabi Adam, maka amanah diserahkan kepada Nabi Adam dan Nabi Adam menerima amanah itu.  Maka amanah dipikulkan kepada manusia.  Lalu diberikan catatan (gambaran) bahwa sesungguhnya manusia dalam memikul, amanah punya dua sifat yaitu suka berbuat dzolim dan suka tidak mau tahu (bodoh).

Pelajarannya.

  1. Melaksanakan amanah hukumnya wajib.
  2. Menjalankan amanah merupakan akhlak terpuji.
  3. Tidak menjalankan amanah disebut  khianat (akhlak tercela).

Dalam kitab-kitab Tafsir, yang dimaksud Amanah adalah :

  1. Agama (Islam).  Jadi Islam adalah amanah Allah subhanahu wata’ala yang harus dijalankan oleh manusia.
  2.  AlQur’an. Maka bila disebutkan bahwa AlQur’an adalah amanah Allah, berarti kita memikul amanah Allah untuk membaca (mempelajari) AlQur’an.
  3. Keluarga. Bila seseorang menikah, maka isteri dan anak-anaknya merupakan amanah yang dibebankan kepadanya. Tidak boleh isteri dan anak-anaknya sampai menyimpang dari Islam. Ajaklah isteri dan anak-anaknya menuju surga.
  4. Anak. Orang yang punya anak berarti ia punya amanah dari Allah subhanahu wata’ala. untuk dididik menjadi anak yang sholih/sholihah.

Dari amanah yang empat itu yang bisa memikul hanya manusia. Sayangnya, dalam memikul amanah manusia punya sifat : Dzolim dan Jahil, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut di atas.

Dzolim artinya menganiaya diri, yaitu :

-          Kalau sudah tahu bahwa amanah harus dijalankan, tetapi tidak dijalankan, itulah dzolim

-          Kalau sudah tahu agama (Islam) adalah amanah, lalu kita tidak menjalankannya, maka kita dzolim.

-          Kalau sudah tahu bahwa AlQur’an adalah amanah Allah, lalu kita tidak mau membaca dan mempelajarinya serta melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari,  maka kita dzolim.

Jahil, artinya tidak mau tahu, (bodoh).  Diberi tahu tetapi tidak mau mengerti. Misalnya, sudah tahu bahwa sholat adalah wajib, tetapi tidak mau mengerjakan. Akan menyesal selama-lamanya.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Dalam ayat tersebut di atas dinyatakan bahwa : Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh. Dan itu sudah merupakan ketentuan Allah subhanahu wata’ala ketika Nabi Adam a.s. menerima amanah.  Tentu itu tidak lepas dari skenario Allah subhanahu wata’ala.  Untuk itu kita diharuskan mempelajari AlQur’an dan solusinya dari kebodohan juga diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana sebagai manusia kita mendapatkan yang terbaik ketika di Akhirat kelak ?

Jawaban:

Manusia punya watak suka dzolim dan suka jahil (bodoh). Artinya,  ketika manusia tidak bisa memberdayakan imannya,  tidak mengembangkan akal-sehatnya, dan tidak mengikuti petunjuk Allah subhanahu wata’ala, maka orang itu dzolim. Karena ia mengikuti hawa-nafsu dan bisikan syaithan.  Jadi yang membuat orang tidak jujur adalah hawa-nafsu dan bisikan syaithan.

Untuk menanggulangi itu semua, maka :

  1. Manusia harus mengembangkan dan memberdayakan Iman serta diperbagus Imannya.  Caranya adalah dengan sering mengaji (mendatangi Majlis Ta’lim).
  2. Iman harus disertai akal sehat.
  3. Selalu berharap hidayah (petunjuk) Allah subhanahau wata’ala, agar selamat dan sampai di Surga.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk kita semua . Al Fatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim

Allahumma bihaqqil Qur’an.

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an

‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,

Wa’alimna ta’wil, wahdina ilassawa-issabil.

 

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

 

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Robbana wafiqna li tho’atika,

Wa atmim taqshirona wataqobbal minna,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Riyadhatun Nafs (Melatih Jiwa)

K.H. Muhammad Rusli Amin, MA

20 Maret 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wat’ala,

Menyambung bahasan sebelumnya bahwa pembentukan kepribadian manusia paling tidak dipengaruhi oleh tiga hal (dasar) yaitu fitrah, sifat warisan (keturunan) orangtuanya dan lingkungan.

 

Sifat bawaan sejak lahir seseorang bisa jadi merupakan perkara yang sifatnya kodrati yang melekat pada diri manusia yang disebut fitrah. Bisa saja sifat bawaan itu merupakan warisan orangtua dan leluhurnya, bisa bersifat fisik, bersifat mental atau kecerdasan. Bersifat fisik misalnya : Biasanya bila orangtuanya berhidung mancung, anaknya(keturunannya) juga berhidung mancung, dst.  Bersifat mental, misalnya bila orangtuanaya dermawan, isnya Allah anak-anaknya (keturunannya) berjiwa dermawan. Bersifat mental (kecerdasan) misalnya,  bila orangtuanaya cerdas, maka biasanya anak-turunnya juga cerdas-cerdas.

 

Adapun bahasan kali ini adalah Ryadhatun Nafs  (melatih Jiwa atau mengasah Jiwa). Dalam AlQur’an Surat Asy Syams ayat 7 – 10

7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya),

8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

10. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Berdasarkan ayat-ayat dalam Surat Asy Syams tersebut, sebaik apapun seseorang, maka dalam dirinya ada potensi berbuat buruk.  Dan seburuk apapun sifat seseorang, maka dalam dirinya ada potensi (benih) untuk berbuat baik.   Misalnya :  Apakah yang suka senyum (berbuat baik) hanya orang Islam saja ? Tidak. Apakah hanya orang Islam saja yang suka membantu orang miskin ? Tidak.   Sebab kedermawanan bukan hanya pada diri orang Islam tetapi ada juga pada diri seorang Nasrani. Budha, Hindu. dst.

Bedanya adalah : Bila yang dermawan adalah orang yang tidak menjadikan Allah sebagai Tuhan, maka kedermawanannya hanya selesai sampai di dunia saja.  Di Akhirat adalah nol.

Oleh karena itu setiap kebaikan harus ada tempat bergantung, harus ada cantolan-nya, dan cantolan setiap kebaikan adalah : Lailaha illallah (tidak ada sesembahan kecuali Allah).  Sebab bila kebaikan (kedermawanan) dilakukan oleh orang tidak ada cantolannya, maka akan menjadi muspra (sia-sia).   Seseorang bersedekah untuk fakir-miskin sebanyak satu milyar rupiah, tetapi orang itu tidak percaya kepada Allah subhanahu wata’ala, orang adalah kafir atau musyrik, maka sedekah itu hanya bermanfaat di dunia, tetapi di Akhirat kelak akan kosong, tidak ada balasannya (pahalanya).

Dalam jiwa seseorang setiap saat terjadi pertarungan perebutan kekuasaan antara kebaikan dan keburukan.  Kalau dalam pertarungan itu kebaikan yang menang, maka jiwa orang itu dikuasai oleh kebaikan, dan jiwanya menjadi bersih dan akan memancarkan cahaya, sehingga hubungan jiwa orang tersebut dengan Allah subhan ahu wata’ala menjadi bagus. Sebaliknya bila dalam pertarungan tersebut keburukan yang menang, maka jiwa orang itu dikuasai oleh keburukan dan jiwa menjadi kotor, menjadi hitam.  Dan lama-kelamaan jiwa menjadi mat..   Kalau jiwa sudah mati, maka kebenaran sebesar apapun tidak bisa dilihat olehnya. Itulah yang dimaksud dalam Surat Asy Syams ayat 7 – 10 tersebut di atas.

Melatih jiwa agar jiwa lebih dikuasai oleh kebaikan.

Jiwa yang dikuasai oleh kebaikan maka jiwa akan menjadi bersih. Caranya adalah dengan :

1.Menumbuh-suburkan kebaikan, dengan membiasakan amal-kebaikan.

Ada peribahasa : Alah bisa karena biasa. Bila seseorang mampu melakukan suatu keahlian, itu karena ia telah berlatih berkali-kali dan bahkan mungkin bertahun-tahun. Bila seseorang memluai pekerjaan, seringan apapun pekerjaan itu selalu dengan ucapan Bismillah, itu karena memang ia sudah terbiasa begitu.

Mengapa setiap melakukan kebaikan selalu dimulai dengan ucapan Bismillah,

Pertama, karena Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (menganjurkan) demikian.

Kedua, supaya Allah subhanahu wata’ala memberkahi.  Setiap kebaikan tidak dimulai dengan Bismillah akan terputus ke-berkah-annya.   Bagi orang Islam, barokah sangat penitng.

Dalam buku yang baru selesai kami tulis dan sekarang sudah beredar, yaitu buku berjudul Umrah Sebuah Fenomena Spiritual Manusia Modern, disebutkan : Ada waktu tertentu, tempat terentu yang bila kita berada pada waktu atau di tempat itu, iman kita akan mengalami peningkatan, hati kita terasa suci dan jernih, semangat beribadah meningkat.  Waktu tertentu itu adalah Bulan Romadhon. Tempat tertentu itu adalah Makkah Al Mukaromah dan Al Madinah Al Munawrah.

Di bulan Romadhon iman dan ibadah setiap muslimin akan meningkat karena bulan tersebut adalah bulan yang diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala. Maka di dalam AlQur’an bulan Romadhon disebut sebagai Syahrul Mubarok (Bulan yang diberkahi).

Makkah dan Madinah adalah tempat-tempat  yang diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Maka bila anda ingin beribadah dengan nikmat,  ibadah dirasakan, beribadahlah pada waktu yang diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala. Beribadahlah di tempat yanag diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga,  membaca Bismillah adalah penyadaran diri bahwa kita bisa melakukan apa saja karena pertolongan Allah subhanahau wata’ala. Bila orang menyadari tentang peran dan keterlibatan pertolongan Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan apapun, akan menopang dia menjadi orang yang tawakkal kepada Alalah subhanahu wata’ala. Maka setiap kita hendak pergi, ketika berngkat selalu membaca do’a : Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.

Kesadaran beragama adalah akumulasi dari : Pengetahuan, pengamalan dan pengalaman.

Kalau kita sudah tahu bahwa agama adalah bagus lalu diamalkan, maka itu akan semakin membantu kalau kita punya pengalaman-pengalaman tentang bukti kebenaran dari sesuatu yang kita amalkan.  Seperti sudah dibicarakan pada pertemuan terdahulu bahwa kepasrahan total secara batin kepada Allah subhanahu wata’ala laksana mayit (jenazah) yang berada di tangan orang yang memandikan mayit (jenazah) itu.  Si mayit pasti pasrah dengan apa yang dilakukan oleh orang yang memandikan terhadap dirinya. Demikian seperti dikatakan oleh Imam Al Khusyairi dalam Kitab Risalatul Khusyairiyah.

Itulah tawakkal yang sesungguhnya.  Dan tawakkal yang demikian akan muncul kalau orang tahu (punya pengetahauan) tentang tawakkal – mengamalkan tawakkal – pengalaman tentang tawakkal. Akan semakin mantap tawakkalnya itu.

Sementara orang hanya ber-tawakkal di lisannya saja. Mungkin karena pengetahuan dan pengalaman tentang tawakkal orang tersebut belum banyak.

Bila pengetahuan tentang tawakkal lalu ditambah dengan pengalaman-pengalaman digabung dan di akumulasi akan membuat kita sadar bahwa benar bahwa ajaran-ajaran Allah subhanahu wata’ala tidak diragukan sedikitpun.  Kalau kita ber-tawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia akan mencukupkan kebutuhan hidup kita.  Semua ajaran Allah subhanahu wata’ala memiliki kebenaran mutlak.

Membiasakan kebaikan.

Bila orang senang dan selalu membaca AlQur’an, itu karena ia membiasakan membaca AlQur’an.   Bila seseorang senang membaca buku, itu karena ia terbiasa membaca buku. Orang yang senang ber-derma, ber-shodakoh, itu karena ia terbiasa berderma (ber-shodakoh). Sebaliknya orang yang kikir, tidak biasa ber-derma, bila disuruh ber-derma ia akan merasa berat sekali.

Maka biasakan ber-derma (ber-shodakoh) karena yang demikian itu tidak akan menjadikan ia miskin, justru sebaliknya orang itu akan menjadi semakin kaya, terutama kaya hati. Karena di lain waktu akan Allah ganti dengan yang lebih banyak dan lebih bagus lagi. Mem,biasakan berbuat kebaikan akan memudahkan orang berbuat kebaikan.

Mengulang-ulang kebaikan.

Bagaimana agar kita selalu melakukan kebaikan, kuncinya adalah dengan membiasakannya. Dengan mengulang-ulang kebaikan.  Ingat peribahasa : Alah bisa karena biasa. 

Dan hendaknya lakukan kebaikan secara berulang-ulang, secara terus-menerus. Kalau sudah terbiasa sedekah, maka akan dengan ringan sekali ber-sedekah (ber-shodakoh).

Terus-menerus melakukan kebaikan agar jiwa dikuasai oleh kebaikan.

Kalau kebaikan sudah menjadi terbiasa dan diulang-ulang, agar hati kita menjadi bersih, jiwa terbina dengan baik, adalah terus-menerus melakukan kebikan itu agar jiwa selalu dikuasai oleh kebaikan, maka wilayah keburukan menjadi sempit.

Syaikh Imam Ath Thoilah As Sakandari dalam Kitab Al Hikam mengatakan: Bila anda melakukan suatu kebaikan, maka kebaikan yang lain berseru untuk minta dikerjakan.

Bila seseorang tidak berniat (mengharap) suatu keberuntungan dunia, tidak merencanakan dan juga tidak berusaha, tetapi keberuntungan dunia itu datang dihadapannya, maka itu namanya Taqdir.  Seseorang tidak pernah ingin sakit, tidak merencanakan dan tidak berusaha untuk sakit, tetapi bila skit itu datang, maka itu disebut Taqdir.

Dalam Hadits shahih Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seandainya manusia seluruh dunia ini berkumpul untuk memberikan keberuntungan kepada seseorang, maka tidak akan keberuntungan itu di dapat kecuali itu sudah ditetapkan Allah subhanahu wata’ala. Seandainya manusia seluruh dunia ini berkumpul untuk mendatangkan suatu bahaya kepada seseorang, maka bahaya itu tidak akan menimpa orang itu kecuali Allah subhanahu wata’ala telah menetapkan bahaya itu untuknya. Itulah bagian dari Taqdir”.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Setiap manusia punya sifat baik dan sifat buruk.  Bagaimana usaha kita untuk menjauhkan sifat-sifat buruk itu ?

Jawaban.

Setiap manusia punya sifat (potensi dalam jiwanya)  kebaikan  dan keburukan. Bagimana menghindari potensi-potyensi keburukan itu, seperti disampaikan diatas adalah :

  1. Membiasakan amal-amal kebaikan secara terus-menerus, rutin.  Teruslah berbuat baik. Maka jiwa akan dikuasi oleh kebaikan.             Bisikan keburukan memang sering muncul, tetapi itu akan kalah dengan kebiasaan amal-kebaikan yang selalu dikerjakan. Insya Allah.
  2. Hendaknya kita selalu meningkatkan iman kita. Orang tidak akan berbuata kejahatan apabila Iman selalu ada bersamanya. Rasulullah saw bersabda : “Bila orang berbuat mencuri, maka saat itu imannya sedang keluar dari dalam hatinya. Bila orang berzina, maka imannya sedang lepas dari hatinya. Selama iman ada, maka iman itu menjadi benteng hatinya, yang muncul adalah kebaikan dan hilanglah keburukan”.
  3. Banyak Istighfar kepada  Allah subhanahau wata’ala agar hati menjadi bersih dan suci, kalau hati bersih dan jernih, akan bisa melihat kebaiakan.  Sedangkan hati yang mati, yang terlihat hanya kejahatan(keburukan) kebenaran dan kebaikan tidak terlihat.
  4. Selalu bergaul dengan orang-orang sholih. Hati anda akan menjadi lembut.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermnafaat.

Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk kita semua. AlFatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma inna nas-alukal huda,

Wattuqo, wal ‘afaf, walghina,

Birohmatika ya Arhamarrohimin,

 

Allahumma inna nas-aluka mujibati rohmatik,

Wa ‘azaa-ima maghfirotik,

Wassalamataka min kulli itsmin,

Wal ghonimata min kulli birk,

Wal fauza bil jannah,

Wannajata minannaar,

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Menyikapi Musibah.

Muhammad Arifin Purba, MA.

Pengajian Tgl, 6 Februari 2013

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Thema kajian kali ini adalah bagaimana Menyikapi  Musibah apakah ia sebagai teguran, adzab atau ujian.  Allah subhanahu wata’ala adalah Robbul ‘alamin, Pencipta dan Pengatur alam semesta.  Dia-lah yang meniupkan angin, membawa awan dan menurunkan hujan.   Dengan hujan tersebut hiduplah bumi yang terhampar ini, tumbuhan dan hewan tumbuh di sana, semuanya itu diperuntukkan bagi manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia kufur kepada Allah subhanahu wata’ala.  Hanya sedikit manusia yang pandai bersyukur.

 

Bahkan ada sebagian manusia yang melampau batas dengan mengatakan dalam tayangan TV-TV : “Jangan ke mana-mana, sebab cuaca sedang tidak bersahabat. Hari ini cuacanya ekstrim,”.   Sebenarnya ungkapan demikian itu keterlaluan kepada Allah subhanahu wata’ala. Ketika mereka mengatakan bahwa “cuaca tidak bersahabat, cuaca ekstrim”, dst,   artinya mereka mengatakan tidak bersahabat dengan Allah dan menuduh Allah adalah bersifat ekstrim.

Karena hakikatnya yang menciptakan keadaan alam seperti itu adalah Allah subhanahu wata’ala.

 

Bahkan ketika ada musibah banjir mereka mengatakan : “Akibat banjir satu hari, maka kerugian ekonbomi kita per-jam sekian milyar rupiah dan satu hari sekian trilyun rupiah”.

Demikianlah mereka, bila rugi ngomong, tetapi kalau beruntung tidak pernah ngomong.

 

Bahkan mereka mengatakan : “Musibah ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan”.  Ketika mereka diberi banjir (pesta air) mereka mengeluh, tetapi ketika mereka malam Tahun  Baru mengadakan pesta Api, padahal itu musibah, tetapi tidak mereka katakan itu musibah.

Demikian manusia masa kini, teramat banyak  melampaui batas. Oleh karena itu kita sebagai orang beriman harus meyakini bahwa musibah adalah atas Izin Allah subhanahu wata’ala.  Di antaranya  Allah subhanahu wata’ala beriman dalam AlQur’an Surat Al Hadid ayat 22 :

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Juga dalam Surat  At Taghabun ayat 11 :

 

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

 

Juga dalam Surat At Taubah ayat 51 :

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Artinya, bahwa semua musibah yang terjadi di muka bimi ini sudah ditetapkan (ditkadirkan ) oleh Allah subhanahu wata’ala.   Segala ketetapan di sisi Allah subhanahu wata’ala disebut Qadha, sudah ada tercantum di dalam Kitab Induk Lauhil Mahfudz.

Qadha adalah sepasang, yaitu positif dan negatif, sebagaimana disebutkan dalam Surat Asy Syams ayat 8 :  

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala meng-ilhamkan kepada manusia sebagian (50%) positif dan sebagian lagi (50%) negatif. Jadi Qadha Allah ada dua : Positif dan negatif.

Dalam Hadits diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam selesai menguburkan (memakamkan) mayit, berkumpullah dengan para sahabat, beliau bersabda : “Setiap kalian sudah punya tempat tidurnya di neraka”.  Sahabat terkejut dan bertanya : “Ya Rasulullah, lalu untuk apa kami beribadah kepada Alah subhanahu wata’ala?”.

Kemudian Nabi Muhammad saw. menjawab, bersabda : “Akan tetapi setiap kalian juga sudah disiapkan tempat tidurnya di Surga.  Maka berusahalah kalian untuk mendapatkan tempat di Surga itu”..   Mendengar itu mereka para sahabat merasa senang.

Maka kita umat Islam telah ditetapkan dalam Qadha Allah subhanahu wata’ala 50% mati Husnul Khotimah (Akhir hidup yang baik) dan 50% mati Su’ul Khotimah (Akhir hidup yang buruk).  Positif dan negatif ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala, itulah Qadha. kita tinggal memilih mau yang positif atau yang negatif.  Setelah kita lahir barulah Allah subhanahu wata’ala memberikan Qadar (kemampuan) yaitu usaha, doa dan tawakkal. Kalau ia berhasil maka ia bersyukur, sedangkan kalau gagal ia ber-sabar.

Itulah yang dinamakan Qadar, yaitu kemampuan.  Kita manusia diberi tenaga, akal dan qalbu (hati) diturunkan Kitab suci, diutus Nabi,  ada para ulama serta sarana dan prasarana yang lain, itu semua Qadar.  Tinggallah mau atau tidak menjalankannya. Bila mau, maka Allah akan memberikan Taqdir kepada kita. Dan Taqdir tidak bisa diubah, Taqdir ada yang positif dan ada yang negatif. Kalau kita berusaha dengan maksimal sesuai dengan tuntunan (Allah) maka  kita akan mendapatkan Qada dan Taqdir yang positif.

Kesimpulan : Taqdir tidak bisa diubah sedangkan Qadha bisa dipilih.

Maka dalam Al Qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirmaan : Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. 

Itulah yang dimaksud Musibah merupakan ketetapan dan idzin Allah subhanahu wata’ala, artinya telah duitetapkan di Lauhil Mahfudz sebelum musibah itu terjadi.

Faktor Penyebab.

Semua musibah ada factor penyebabnya (Sunnatullah-nya, hukum alamnya).   Penyebab Musibah adalah :

1.Ulah tangan manusia.

Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Ar Ruum ayat 41 :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Juga dalam Surat Asy Suura ayat 30 :

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Contohnya : Banjir dan longsor,  adalah akibat ulah tangan manusia. Manusia membuang sampah sembarangan, pohon-pohon di hutan ditebang, tanpa ditanami lagi, dst.

2.Rusaknya Akhlak dan Aqidah manusia.

Allah subhanahau wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Al A’raaf ayat 96 :  

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,(kepada Allah)  pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Yang dimaksud “mereka mendustakan” (ayat-ayat Kami) adalah mereka menganggap AlQur’an itu dusta (bohong) dan mereka berlaku syirk (musyrik) melakukan kesyirikan, menganggap ada kekuatan lain selain Allah, menyembah dewa-dewa, meminta pertolongan kepada kuburan, menyembah selain Allah dst. Sehingga Aqidah mereka penuh dengan kemusyrikan.

Maka bila dalam rumahtangga kita terjadi musibah, apakah itu berupa sakit parah dan lainnya, cobalah interospeksi diri, boleh jadi selama ini akhlak dari salah satu anggota keluarga atau seluruhnya rusak,  selama ini Aqidahnya rusak, bercampur dengan ke-musyrikan.

Musyrik adalah mem-persekutukan Allah dengan yang lain, ia sholat tetapi juga masih percaya kepada yang lain, minta pertolongan kepada Makam Gunung Kawi, percaya kepada Nyai Lara Kidul, sesaji kepada tempat-tempat yang dikeramatkan,  dst, Padahal semua itu adalah syirk (musyrik) itu merupakan larangan keras dari Allah subhanahu wata’ala.

Rusaknya Akhlak dan Aqidah itulah yang mengundang bencana dan malapetaka.

Sebagai apa Musibah itu ?

1.Sebagai teguran awal atau peringatan pertama.

Allah subhananhu wata’ala berfirman dalam Surat As Sajdah ayat 21 :

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab (kecil) yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Jadi Musibah yang terjadi di sekitar kita baru teguran kecil dari Allah subhanahu wata’ala, dibandingkan kelak adzab di Akhirat.  Tujuannya adalah agar manusia sadar dan kembali beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara menjalankan semua perintah-Nya dengan benar sesuai dengan petunjuk dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ar Ruum ayat 41 di atas,  musibah terjadi disebabkan oleh sebagian dari perbuatan mereka yang Allah balas, tidak semuanya.  Sebab bila dibalas semuanya, hancurlah seluruh muka bumi ini.  Maka hanya sedikit (sebagian) yang dibalas.

Misalnya manusia punya 10 (sepuluh) kesalahan, maka yang yang dibalas hanya 2 (dua) kesalahan.  Yang 8 (delapan) kesalahan dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala. 

Juga dalam Surat As Syuura ayat 30 sebagaimana disebutkan diatas, bahwa Allah subhanahu wata’ala telah banyak memaafkan umat Islam sekarang.   Bila dibayangkan umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhgammad saw, bila umatnya durhaka langsung dibalas kontan oleh Allah subhanahu wata’ala, ada yang buminya dibalikkkan, sehingga umatnya tenggelam dalam perut bumi,  ada yang diberikan hujan batu, dan banjir bah seluruh muka bumi, sehingga manusia mati semua ketika itu kecuali umat yang taat kepada nabinya.  Tetapi umat Nabi Muhammad saw (umat Islam) berkat do’a beliau, musibah diberikan dalam bentuk kecil. Lebih banyak dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala.  Tujuannya agar umat Nabi Muhammad saw mau sadar.

Tetapi bila tidak sadar juga maka Allah subhanahu wata’’ala akan memberikan bencana yang lebih besar lagi, yaitu dengan “teguran” yang lebih keras, sebagai mana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Anfaal ayat 25 :

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Itulah yang Allah ingatkan, bahwa ada siksaan (bencana) yang lebih besar lagi dibandingkan yang disebutkan di atas.  Karena saat ini banyak para pejabat, para tokoh masyarakat, yang tidak mau tahu, mereka chuek saja, melakukan korupsi seenaknya, dan ketika ditangkap tidak mau mengaku. Dan mereka  masih bisa tertawa-tawa, masih bisa sumpah-sumpah dst.  Dan itu adalah penyakit jiwa, penyakit hawa-nafsu, yang telah merasuki tubuh orang (pejabat, penguasa, dst).

Itulah yang lebih berbahaya.  Ber-partai, berpolitik dijadikan kendaraan untuk mencari harta dengan cara-cara yang melanggar hukum.

2. Musibah sebagai Adzab (siksaan).

Kalau masih belum sadar juga maka Allah berikan “teguran kedua” seperti difirmankan dalam Surat 7 ayat 97 dan 98 :

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Kita ingat, peristiwa Tsunami di Aceh terjadi pagi hari sekitar jam 09.00 pagi (waktu Dhuha) ketika banyak orang sedang senam, olah raga pagi, sedang bermain-main. Itulah peringatan (teguran)  dari Allah subhanahu wata’ala, Apakah mereka tidak takut dengan teguran demikian itu ?

Ayat 99 :

99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Para koruptor itu tidak takut dengan murka Allah, karena kalau mereka takut, tentu tidak akan berani melakukan korupsi.   Mereka adalah orang-orang yang merugi (di Akhirat).

Setelah ditegur demikian tidak juga sadar, maka diberikan teguran yang ketiga, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al A’raaf ayat 96  di atas : Tetapi mereka tetap berbuat kedustaan, (berbuat syirik,  musyrik, dst) akhlaknya sudah becampur dengan berbagai kemaksiatan dan kebohongan, ke-musyrikan sudah meraja-lela, maka Allah adzab dengan berbagai bencana dan musibah.

Seperti Tsunami di Aceh,  bencana gempa di Yogya, karena umat di sana sudah terlalu.  Bahkan mereka sudah jarang sholat Subuh berjamaah. Malam itu mereka ber-pesta narkoba, dst.  Itulah fakta dan data-nya.  Kalau tidak terlalu, tidak mungkin Allah memberikan bencana itu.

3.Musibah sebagai Ujian.

Musibah sebagai ujian bagi orang yang beriman.  Bagi orang yang iman-nya setengah-setengah, kadang beriman kadang tidak, musibah adalah ujian. 

Ujian dimaksudkan untuk mengangkat harkat-martabat kita orang beriman di sisi Allah subha-hanahu wata’ala,  Karena Iman adalah mutiara yang paling berharga.  Orang hidup tanapa iman maka akan si-sialah hidupnya seperti hewan. Orang mati tidak membawa Iman, maka rugilah ia. Maka Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Wal ‘Ashri :

Demi Masa, sesungguhn ya manusi itu pasti merugi, kecuali orang-orang yang beriman.

Maka Musibah yang terjadi adalah ujian bagi orang yang beriman. Iman itu wajib diuji. Dalilnya adalah :

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Ankabut ayat 2 dan 3 : 

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

3. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Maka kalau ada orang berdo’a : Ya Allah jauhkanlah kami dari ujian, cobaan dan musibah - maka do’a yang demikian itu salah.  Yang benar adalah do’a : “Ya Allah tabahkanlah kami, kuatkanlah kami dalam menghadapi ujian ini”. – Artinya, siap menerima ujian dan tabah.

Hakekat hidup ini adalah ujian. Dan ujian itu dimulai dari rumahtangga, ekonomi rumah tangga, dst, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 155 :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat 156 dan 157 :

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

157. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hidup ini adalah ujian.  Bentuk ujian adalah berupa kebaikan (kenikmatan) dan keburukan  (penderitaan) Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Anbiyaa ayat 35 :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (cobaan) (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

Ujian bukan saja yang buruk-buruk berupa penderitaan, tetapi ujian juga berupa kebaikan (kenikmatan).  Selama ini kita suka salah kaprah, dikira yang dimaksud ujian hanya yang berupa kenikmatan.  Padahal ujian juga berupa kebaikan (kenikmatan).  Dan banyak orang tidak lulus ketika diuji dengan kebaikan (kenikmatan). Kalau sedang diuji dengan keburukan (penderitaan) sampai di mana ber-sabarnya dan ketika diuji dengan kebaikan (kenikmatan) sampai berapa ber-syukurnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 216 :

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Itulah ayat yang seharusnya menjadikan sikap kita sebagai orang beriman. Kalau mencintai sesuatu jangan terlalu cinta, kecuali  cinta kepada Allah subhanahu wata’ala.   Sebab boleh jadi yang kita cintai itu lain waktu akan membenci  kepada kita.  Dan kalau membenci sesuatu jangan terlalu benci, sebab boleh jadi lain waktu yang kita benci itu akan kita cintai.

Solusi.

Setiap masalah tentu ada solusinya.  Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Furqon ayat 70 

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jadi solusinya adalah : Taubat.  Dan syarat ber-Taubat ada  3 (tiga) :

  1. Menyadari kesalahan dan jenis kesalahan.  Maka ketika selesai sholat, terutama ketika selesai Sholat Tahajud, sebaiknya merenung, kesalahan apa saja yang pernah kita perbuat. Dan memohon-lah ampun kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menyebut kesalahan (dosa-dosa) apa yang pernah diperbuat.
  2. Menyesali apa-apa yang pernah diperbuat dengana menyesal yang sebenar-benar menyesal.
  3. Tidak akan mengulangi dosa-dosa yang pernah diperbuat. .

Setelah ber-Taubat, kemudian meningkatkan Iman dan Takwa, lebih meningkat dibanding sebelumnya.  Meningkatkan Iman dan Takwa dengan cara belajar, mempelajari tentang Aqidah, Iman, Tauhid, dan tentang Ihsan.  Meningkatakan keimanan dengan terus belajar (mengaji) tentang ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya yang sesuai dengan AlQur’an dan Sunnah.

Kemudian dilanjutkan dengan amal-amal sholeh, yaitu semua peribadatan dan perbuatan baik sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan :

  1. Musibah ada kalanya berarti teguran, ada kalanya adzab dan ada kalanya ujian.
  2. Teguran bagi orang yang imannya tipis, imannya setengah-setengah.
  3. Adzab bagi orang yang benar-benar kufur nikmat dan melampaui batas.
  4. Ujian bagi orang yang kuat imannya.

 

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA, ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

Membentuk Karakter Islami

K.H.  Rusli Amin, MA

Pengajian 27 Februari 2013

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala.

Setelah bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat yang telaah dianugerahkan kepada kita, maka selanjutnya kita selalu ber-sholawat kepada Nabi Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam,    mudah-mudahan kita mendapat Syafa’at dari beliau di Hari Kiamat kelak.

 

Paman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang akhirnya menjadi musuh beliau bernama Abu Lahab.   Kekafiran Abu Lahab itulah yang kemudian Allah subhanahu wata’ala menurunkan Surat Al Lahab dalam Al Qur’an :

 

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Abu Lahab adalah kafir, padahal ia adalah paman Nabi Muhammad saw, karena ia adalah adik dari ayahanda Nabi Muhammad saw yang  bernama Abdullah bin Abdul Mutholib.

Satu tahun setelah Abu Lahab meninggal dunia, ada saudara Abu Lahab yang juga paman Nabi Muhammad saw yang bernama ‘Abbas bin Abdul Mutholib rodhiyallahu ‘anhu.

Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi saw. yang juga saudara Abu Lahab suatu malam bermimpi, dalam mimpinya beliau melihat Abu Lahab dan ditanyakan bagaimana keadaan Abu Lahab.  Lalu Abu Lahab berkata : “Saya dimasukkan ke dalam neraka, disiksa terus menerus. Tetapi setiap malam Senin Allah meringankan siksa kepadaku dalam neraka, karena kegembiraanku  ketika Muhammad dilahirkan. Dan hari itu adalah hari Senin”.

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw lahir hari Senin, Abu Lahab yang paman beliau menyatakan kegembiraannya. Karena kegembiraannya itu Abu Lahab lalu me-merdekakan budaknya yang datang menyampaikan kabar kelahiran Nabi Muhammad saw.   Budak Abu Lahab itu bernama ‘Tsuwaibah Al Aslamiyah.  

Selanjutnya dalam riwayat diceritakan bahwa bayi Muhammad disusui oleh selain ibunya, juga Tsuwaibah Al Aslamiyah (Budak Abu Lahab tetapisudah dimerdekakan)  Itulah ibu susu pertama, dan setelah beberapa bulan kemudian disusui oleh seorang ibu-susu bernama Halimah As Sa’diyah (Halimatussa’diyah).

Kalau Abu Lahab saja yang kafir,  diringankan siksanya di neraka setiap hari Senin, karena kegembiraannya mendengar keponakannya yang bernama Muhammad lahir pada hari Senin, apalagi kita umat Nabi Muhammad saw yang selalu mencintai beliau dan melaksanakan semua ajaran beliau,  insya Allah kita akan masuk Surga.  Amin !

Bahasan kali ini adalah Membangun Karakter Berbasis Sirah Nabi Muhammad saw.   Bicara tentang karakter, maka karakter berpusat pada hati. Kajian-kajian Tafawuf lebih banyak penekanan pada pembangunan Hati Manusia.  Tidak berarti dalam Tasawuf tubuh (jasad) tidak penting, tetapi yang menentukan fisik (jasad) manusia menjadi apa, tergantung pada hati  manusia yang punya fisik itu.   Fisik ibarat kendaraan yang membawa muatan berupa ruh, jiwa, hati,  sehingga membuat kendaraan itu bisa terarah jalannya.

Dalam Islam ada tiga faktor yang penting dalam pembentukan karakter, yaitu :

1.Fitrah,

Yaitu apa yang dibawa sejak lahir, yang melekat pada diri setiap orang.  Yang paling prinsip dari  manusia, terutama sebagai muslim, yaitu yang disebut Tauhid. 

Dalam AlQur’an Surat Al A’raaf ayat 172, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Setiap manusia, bangsa manapun dan agama apapun, sejak lahir membawa fitrah yang sama yaitu Tauhid (Meng-Esa-kan Allah subhanahu wata’ala), yaitu Lailaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).  Kemudian dalam perjalanan hidup selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.  Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits shahih : “Kedua orangtuanya-lah yang membuat  anak itu menjadi Yahudi, Nsrani atau Majusi”. 

Artinya, lingkungan keluarganya atau masyarakatnya atau peendidikannya sejak lahir yang membentuk karakter manusia itu menjadi apa.  Fitrah itu mengalami penyimpangan setelah bayi manusia lahir ke dunia.  Alhamdulillah kita sebagai muslim tetap menjadi muslim/muslimah yang tetap dalam Tauhid, yaitu meng-Esakan Allah subhanahu wata’ala, dengan ucapan selalu Lailaha illallah (Tidak ada illah, sesembahan, kecuali Allah).

2.Makhluk Sosial.

Sejak lahir, manusia ada kecenderungan yang melekat pada dirinya sebagai makhluk yang memerlukan orang lain, yaitu yang disebut makhluk sosial.  Tidak ada orang yang bisa hidup tanpa orang lain.  Bukan saja bersama orang lain, tetapi juga beragam-ragam sifat manusia. Maka manusia perlu bekerjasama dengan manusia lain dalam segala bidang dan segala kepentingan. Faktor inipun mempengaruhi pembentukaan karakter (kepribadian ) setiap orang.

Keturunan.

Setiap manusia punya karakter atau sifat-sifat yang menurun dari orangtua atau nenek-moyangnya.   Jangankan manusia biasa, Nabi Muhammad saw sekalipun,  keadaan pribadi beliau dalam banyak hal tidak terlepas dari sifat-sifat yang menurun dari orangtua dan leluhur beliau. Nabi Muhammad saw bersabda : “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah memindahkan ruh-ku dari sulbi-sulbi leluhurku yang suci kepada rahim-rahim yang bersih, sampai pada akhirnya aku dilahirkan melalui kedua orangtuaku yang tidak pernah berjumpa  kepada kekejian atau kejahatan”.

Artinya, Nabi Muhammad saw suci karena memang leluhur beliau adalah suci. Maka secara alami, kalau dari hulunya bersih, insya Allah muaranya juga bersih.  Kecuali ada rekayasa dari manusia.  Nabi Muhammad saw suci karena memang dari “hulunya”beliau suci.

Nabi Muhammad saw adalah tampan dan gagah, karena menurut riwayat ayah beliau yaitu Abdullah bin Abdul Mutholib adalah seorang pemuda yang gagah paras mukanya. Disebutkan dalam Sirrah (sejarah) bila beliau (Abdullah, ayah Nab Muhammad saw) bila sedang melakukan Thawaf di Ka’bah, terlihat paling tampan di antara orang-orang yang bersama-sama melakukan Thawaf. Sehingga banyak mata tertuju kepada Abdullah dan saudara-saudaranaya, karena ketampanan mereka.

Abdul Mutholib bin Hasyim (kakek Nabi Saw) juga ketika mudanya adalah seorang yang tampan wajahnya.  Maka setelah Abdullah, lahirlah anak Abdullah yaitu Nabi Muhammad saw seorang yang berparas gagah. Itulah sifat fisik yang menurun dari nenek-moyang.

Kakek-buyut Nabi Saw (ayah Abdul Mutholib) bernama Hasyim. Oleh karena itu keluarga besar Nabi Muhammad saw disebut juga Bani Hasyim.    Nama asli dari Hsryim adalah Amar.

Nama asli dari Abdul Mutholib adalah Syaibah.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : Aku adalah keturunan dari dua orang yang hampir disembelih. Pertama adalah Ismail alaihissalam  yang hampir disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bila dirunut silsilahnya maka Nabi Muhammad saw adalah bergaris keturunan dari Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kedua adalah ayah Nabi Muhammad saw sendiri yang bernama Abdullah bin Abdul Muttholib.

Abdullah hampir saja disembelih karena nadzar ayahnya yaitu Abdul Mutholib.  Konon dalam kisahnya, ketika itu Abdul Mutholib baru punya anak laki-laki satu orang.  Lalu ada seorang laki-laki Arab yang mencemooh (merendahkan) Abdul Mutholib. Kemudian Abdul Mutholib berkata : “Apakah karena anak laki-laki hanya sedikit sehingga engkau menghinaku ?  Sekiranya Tuhan memberikan kepadaku sepuluh orang anak laki-laki maka pasti aku menyembelih salah seorang darinya untuk pengorbananku (mendekatkan diri) kepada Tuhan”.

Maka lahirlah Abdullah yang merupakan anak ke sepuluh dari Abdul Mutholib.

Selanjutnya Abdul Mutholib suatu hari mengundi untuk memilih siapa yang harus disembelih.  Dan ternyata undian jatuh kepada anaknya yang bernama Abdullah.  Lalu Abdullah dibawa oleh ayahnya Abdul Mutholib di depan Ka’bah.  Ceritanya panjang, bisa anda baca dalam Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam dan juga banyak lagi kitab-kitab sejarah yang lain.  Misalnya Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Prof. Dr. Quraisy Shihab , dan ada Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syaikh Syafiyurrahman Al Mubaroq Furry.

Tetapi Abdullah tidak jadi (batal) disembelih karena ditebus  dengan 100 (seratus) ekor unta. Maka Nabi Muhammad saw pernah bersabda seperti di atas.  Maka bila bicara sifat-sifat baik yang menurun seperti kepatuhan Nabi Muhammad saw dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, selain karena beliau seorang Nabi/Rasul.

Tetapi  kepatuhan itu adalah keturunan dari para leluhurnya. Misalnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sangat patuh kepada Allah subhanahu wata’ala, termasuk Abdul Mutholib yang sangat patuh kepada Tuhannya.

Dalam konsep pendidikan modern juga dikenal tentang sifat-sifat menurun, seperti teori yang terkenal seperti Teori Nafifisme yang dipopulerkan oleh Soven Hauwer yang mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau buruk tergantung pada sifat yang dibawa sejak lahir.

Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda : “Pilihlah tempat untuk menyemaikan benihmu karena sesungguhnya sifat-sifat dari orangtua akan turun kepada keturunan”.  

Dalam kehidupan moderen juga orang mempraktekkan hal sama. Karakter juga dipengaruhi oleh sifat keturunan.  Maka selagi masih hidup, jadilah orangtua yang menurunkan sifat-sifat baik kepada anak-cucu.

3. Pendidikan (lingkungan).

Sejak Nabi Muhammad saw kita sudah diajarkan bahwa selain fitrah dan sifat-sifat menurun dari orangtua, pendidikan juga punya pengaruh, tidak hanya melalui sabda beliau, tetapi juga yang beliau alami sendiri.  Misalnya dalam kehidupan beliau sejak masih anak-anak agar beliau tumbuh dengan pribadi yang sehat-kuat, punya perilaku yang bagus,  beliau ketika masih anak-anak berpisah dari ibunya, tinggal diperkampungan Bani Sa’ad ketika disusui oleh ibu-susu Halimah As Sa’diyah.

Ketika itu kebiasaan orang Arab  untuk menjadikan anak-anak suka tinggal di pegunungan, supaya mereka bisa menghirup udara yang lebih bagus serta lingkungan yang bagus, agar anak tumbuh mempunyai kepribadian yang bagus. Dan Nabi Muhamamad saw sejak masih kecil mengalami itu.  Beliau sejak bayi (anak-anak) disusukan kepada Halimah As Sa’diyah bukan karena susu ibunya (Aminah) tidak mengalir, karena memang kebiasaan zaman itu menyusukan anaknya kepada ibu-susu. Dan ketika itu Bani Sa’ad terkenal dengan sifat-sifat yang baik. Artinya sejak kecil Nabi Muhammad saw hidup di lingkangan orang yang berbudi luhur.

Selanjutnya beliau mendapat pendidikan langsung dari Allah subhanahu wata’ala.  Beliau bersabda dalam sebuah Hadits : “Tuhanku telah mendidikku dan menjadilah aku orang yang terbaik pendidikanku”.

Oleh karena itu faktor pendidikan adalah penting.  Terutama pendidikan agama (Islam). Setiap pendidikan zaman sekarang memerlukan guru (pengajar) yang baik. Disamping pendidikan yang baik juga lingkungan banyak berpengaruh.

Nabi Muhammad saw hijrah dari Makkah ke Madinah, karena beliau ingin mendapatkan lingkungan yang baru, yang bisa menopang perjuangan beliau berdakwah Islam ketika itu.

Ketika beliau meninggalkan Makkah sampai pada suatu tempat, beliau memandang ke arah kota Makkah bersabda : “Tidak ada bumi yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali engkau,  wahai Makkah.  Seandainya kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu, karena engkau bumi yang  aku cintai”.

Hijrah beliau adalah karena perintah Allah subhanahu wata’ala, Beliau harus mencari lingkungan baru  yang bisa menopang perjuangan beliau menegakkan Islam. Beliau pindah ke Madinah bukan karena tidak suka dengan kota Makkah, melainkan karena kaumnya mengusir Nabi Muhammad saw.    Dan itu diabadikan dalam AlQur’an Surat Al Anfaal ayat 30 : 

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum diakhiri marilah kita berdoa untuk saudara kita yang sedanaga sakit dan do’a untuk kita semua.  Al Fatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillahirobbil’alamin,

Allahumma sholli ‘ala Muhammad

Wa’ala ali Muhammad,

Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin,

Wa’afiatan fil jasadi, waziadatan fil ‘ilmi,

Wabarokatan firrizqi, wa taubatan qoblal maut,

Wa rohatan ‘indal maut,

Wamaghfirotan warohmatan ba’dal maut,

 

Allahumma hawwin ‘alaina fi sakarotil maut,

Wannajata minannaar, wal ‘afwa ‘indal hisab,

Allahumma robbannaas ‘adzihi bil ba’tsa,

Isyfi antasysyafi  la syifa-a illa syifauka,

Syifa’an layughodiru syaqoman,

 

Lailaha illa anta,

Subhanaka  inna kunna minadzdzolimin,

Robbana atina fiddun-ya hasanah

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Subhana robbina robbil ‘izzati ‘amma yasifun,

Wasalamun ‘alal mursalin,

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Membentuk Karakter Islami

K.H.  Rusli Amin, MA

27 Februari 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala.

Setelah bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat yang telaah dianugerahkan kepada kita, maka selanjutnya kita selalu ber-sholawat kepada Nabi Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam,    mudah-mudahan kita mendapat Syafa’at dari beliau di Hari Kiamat kelak.

Paman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang akhirnya menjadi musuh beliau bernama Abu Lahab.   Kekafiran Abu Lahab itulah yang kemudian Allah subhanahu wata’ala menurunkan Surat Al Lahab dalam Al Qur’an :

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Abu Lahab adalah kafir, padahal ia adalah paman Nabi Muhammad saw, karena ia adalah adik dari ayahanda Nabi Muhammad saw yang  bernama Abdullah bin Abdul Mutholib.

Satu tahun setelah Abu Lahab meninggal dunia, ada saudara Abu Lahab yang juga paman Nabi Muhammad saw yang bernama ‘Abbas bin Abdul Mutholib rodhiyallahu ‘anhu.

Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi saw. yang juga saudara Abu Lahab suatu malam bermimpi, dalam mimpinya beliau melihat Abu Lahab dan ditanyakan bagaimana keadaan Abu Lahab.  Lalu Abu Lahab berkata : “Saya dimasukkan ke dalam neraka, disiksa terus menerus. Tetapi setiap malam Senin Allah meringankan siksa kepadaku dalam neraka, karena kegembiraanku  ketika Muhammad dilahirkan. Dan hari itu adalah hari Senin”.

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw lahir hari Senin, Abu Lahab yang paman beliau menyatakan kegembiraannya. Karena kegembiraannya itu Abu Lahab lalu me-merdekakan budaknya yang datang menyampaikan kabar kelahiran Nabi Muhammad saw.   Budak Abu Lahab itu bernama ‘Tsuwaibah Al Aslamiyah.  

Selanjutnya dalam riwayat diceritakan bahwa bayi Muhammad disusui oleh selain ibunya, juga Tsuwaibah Al Aslamiyah (Budak Abu Lahab tetapisudah dimerdekakan)  Itulah ibu susu pertama, dan setelah beberapa bulan kemudian disusui oleh seorang ibu-susu bernama Halimah As Sa’diyah (Halimatussa’diyah).

Kalau Abu Lahab saja yang kafir,  diringankan siksanya di neraka setiap hari Senin, karena kegembiraannya mendengar keponakannya yang bernama Muhammad lahir pada hari Senin, apalagi kita umat Nabi Muhammad saw yang selalu mencintai beliau dan melaksanakan semua ajaran beliau,  insya Allah kita akan masuk Surga.  Amin !

Bahasan kali ini adalah Membangun Karakter Berbasis Sirah Nabi Muhammad saw.   Bicara tentang karakter, maka karakter berpusat pada hati. Kajian-kajian Tafawuf lebih banyak penekanan pada pembangunan Hati Manusia.  Tidak berarti dalam Tasawuf tubuh (jasad) tidak penting, tetapi yang menentukan fisik (jasad) manusia menjadi apa, tergantung pada hati  manusia yang punya fisik itu.   Fisik ibarat kendaraan yang membawa muatan berupa ruh, jiwa, hati,  sehingga membuat kendaraan itu bisa terarah jalannya.

Dalam Islam ada tiga faktor yang penting dalam pembentukan karakter, yaitu :

1.Fitrah,

Yaitu apa yang dibawa sejak lahir, yang melekat pada diri setiap orang.  Yang paling prinsip dari  manusia, terutama sebagai muslim, yaitu yang disebut Tauhid. 

Dalam AlQur’an Surat Al A’raaf ayat 172, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Setiap manusia, bangsa manapun dan agama apapun, sejak lahir membawa fitrah yang sama yaitu Tauhid (Meng-Esa-kan Allah subhanahu wata’ala), yaitu Lailaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).  Kemudian dalam perjalanan hidup selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.  Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits shahih : “Kedua orangtuanya-lah yang membuat  anak itu menjadi Yahudi, Nsrani atau Majusi”. 

Artinya, lingkungan keluarganya atau masyarakatnya atau peendidikannya sejak lahir yang membentuk karakter manusia itu menjadi apa.  Fitrah itu mengalami penyimpangan setelah bayi manusia lahir ke dunia.  Alhamdulillah kita sebagai muslim tetap menjadi muslim/muslimah yang tetap dalam Tauhid, yaitu meng-Esakan Allah subhanahu wata’ala, dengan ucapan selalu Lailaha illallah (Tidak ada illah, sesembahan, kecuali Allah).

2.Makhluk Sosial.

Sejak lahir, manusia ada kecenderungan yang melekat pada dirinya sebagai makhluk yang memerlukan orang lain, yaitu yang disebut makhluk sosial.  Tidak ada orang yang bisa hidup tanpa orang lain.  Bukan saja bersama orang lain, tetapi juga beragam-ragam sifat manusia. Maka manusia perlu bekerjasama dengan manusia lain dalam segala bidang dan segala kepentingan. Faktor inipun mempengaruhi pembentukaan karakter (kepribadian ) setiap orang.

Keturunan.

Setiap manusia punya karakter atau sifat-sifat yang menurun dari orangtua atau nenek-moyangnya.   Jangankan manusia biasa, Nabi Muhammad saw sekalipun,  keadaan pribadi beliau dalam banyak hal tidak terlepas dari sifat-sifat yang menurun dari orangtua dan leluhur beliau. Nabi Muhammad saw bersabda : “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah memindahkan ruh-ku dari sulbi-sulbi leluhurku yang suci kepada rahim-rahim yang bersih, sampai pada akhirnya aku dilahirkan melalui kedua orangtuaku yang tidak pernah berjumpa  kepada kekejian atau kejahatan”.

Artinya, Nabi Muhammad saw suci karena memang leluhur beliau adalah suci. Maka secara alami, kalau dari hulunya bersih, insya Allah muaranya juga bersih.  Kecuali ada rekayasa dari manusia.  Nabi Muhammad saw suci karena memang dari “hulunya”beliau suci.

Nabi Muhammad saw adalah tampan dan gagah, karena menurut riwayat ayah beliau yaitu Abdullah bin Abdul Mutholib adalah seorang pemuda yang gagah paras mukanya. Disebutkan dalam Sirrah (sejarah) bila beliau (Abdullah, ayah Nab Muhammad saw) bila sedang melakukan Thawaf di Ka’bah, terlihat paling tampan di antara orang-orang yang bersama-sama melakukan Thawaf. Sehingga banyak mata tertuju kepada Abdullah dan saudara-saudaranaya, karena ketampanan mereka.

Abdul Mutholib bin Hasyim (kakek Nabi Saw) juga ketika mudanya adalah seorang yang tampan wajahnya.  Maka setelah Abdullah, lahirlah anak Abdullah yaitu Nabi Muhammad saw seorang yang berparas gagah. Itulah sifat fisik yang menurun dari nenek-moyang.

Kakek-buyut Nabi Saw (ayah Abdul Mutholib) bernama Hasyim. Oleh karena itu keluarga besar Nabi Muhammad saw disebut juga Bani Hasyim.    Nama asli dari Hsryim adalah Amar.

Nama asli dari Abdul Mutholib adalah Syaibah.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : Aku adalah keturunan dari dua orang yang hampir disembelih. Pertama adalah Ismail alaihissalam  yang hampir disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bila dirunut silsilahnya maka Nabi Muhammad saw adalah bergaris keturunan dari Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kedua adalah ayah Nabi Muhammad saw sendiri yang bernama Abdullah bin Abdul Muttholib.

Abdullah hampir saja disembelih karena nadzar ayahnya yaitu Abdul Mutholib.  Konon dalam kisahnya, ketika itu Abdul Mutholib baru punya anak laki-laki satu orang.  Lalu ada seorang laki-laki Arab yang mencemooh (merendahkan) Abdul Mutholib. Kemudian Abdul Mutholib berkata : “Apakah karena anak laki-laki hanya sedikit sehingga engkau menghinaku ?  Sekiranya Tuhan memberikan kepadaku sepuluh orang anak laki-laki maka pasti aku menyembelih salah seorang darinya untuk pengorbananku (mendekatkan diri) kepada Tuhan”.

Maka lahirlah Abdullah yang merupakan anak ke sepuluh dari Abdul Mutholib.

Selanjutnya Abdul Mutholib suatu hari mengundi untuk memilih siapa yang harus disembelih.  Dan ternyata undian jatuh kepada anaknya yang bernama Abdullah.  Lalu Abdullah dibawa oleh ayahnya Abdul Mutholib di depan Ka’bah.  Ceritanya panjang, bisa anda baca dalam Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam dan juga banyak lagi kitab-kitab sejarah yang lain.  Misalnya Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Prof. Dr. Quraisy Shihab , dan ada Kitab Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syaikh Syafiyurrahman Al Mubaroq Furry.

Tetapi Abdullah tidak jadi (batal) disembelih karena ditebus  dengan 100 (seratus) ekor unta. Maka Nabi Muhammad saw pernah bersabda seperti di atas.  Maka bila bicara sifat-sifat baik yang menurun seperti kepatuhan Nabi Muhammad saw dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, selain karena beliau seorang Nabi/Rasul.

Tetapi  kepatuhan itu adalah keturunan dari para leluhurnya. Misalnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sangat patuh kepada Allah subhanahu wata’ala, termasuk Abdul Mutholib yang sangat patuh kepada Tuhannya.

Dalam konsep pendidikan modern juga dikenal tentang sifat-sifat menurun, seperti teori yang terkenal seperti Teori Nafifisme yang dipopulerkan oleh Soven Hauwer yang mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau buruk tergantung pada sifat yang dibawa sejak lahir.

Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda : “Pilihlah tempat untuk menyemaikan benihmu karena sesungguhnya sifat-sifat dari orangtua akan turun kepada keturunan”.  

Dalam kehidupan moderen juga orang mempraktekkan hal sama. Karakter juga dipengaruhi oleh sifat keturunan.  Maka selagi masih hidup, jadilah orangtua yang menurunkan sifat-sifat baik kepada anak-cucu.

3. Pendidikan (lingkungan).

Sejak Nabi Muhammad saw kita sudah diajarkan bahwa selain fitrah dan sifat-sifat menurun dari orangtua, pendidikan juga punya pengaruh, tidak hanya melalui sabda beliau, tetapi juga yang beliau alami sendiri.  Misalnya dalam kehidupan beliau sejak masih anak-anak agar beliau tumbuh dengan pribadi yang sehat-kuat, punya perilaku yang bagus,  beliau ketika masih anak-anak berpisah dari ibunya, tinggal diperkampungan Bani Sa’ad ketika disusui oleh ibu-susu Halimah As Sa’diyah.

Ketika itu kebiasaan orang Arab  untuk menjadikan anak-anak suka tinggal di pegunungan, supaya mereka bisa menghirup udara yang lebih bagus serta lingkungan yang bagus, agar anak tumbuh mempunyai kepribadian yang bagus. Dan Nabi Muhamamad saw sejak masih kecil mengalami itu.  Beliau sejak bayi (anak-anak) disusukan kepada Halimah As Sa’diyah bukan karena susu ibunya (Aminah) tidak mengalir, karena memang kebiasaan zaman itu menyusukan anaknya kepada ibu-susu. Dan ketika itu Bani Sa’ad terkenal dengan sifat-sifat yang baik. Artinya sejak kecil Nabi Muhammad saw hidup di lingkangan orang yang berbudi luhur.

Selanjutnya beliau mendapat pendidikan langsung dari Allah subhanahu wata’ala.  Beliau bersabda dalam sebuah Hadits : “Tuhanku telah mendidikku dan menjadilah aku orang yang terbaik pendidikanku”.

Oleh karena itu faktor pendidikan adalah penting.  Terutama pendidikan agama (Islam). Setiap pendidikan zaman sekarang memerlukan guru (pengajar) yang baik. Disamping pendidikan yang baik juga lingkungan banyak berpengaruh.

Nabi Muhammad saw hijrah dari Makkah ke Madinah, karena beliau ingin mendapatkan lingkungan yang baru, yang bisa menopang perjuangan beliau berdakwah Islam ketika itu.

Ketika beliau meninggalkan Makkah sampai pada suatu tempat, beliau memandang ke arah kota Makkah bersabda : “Tidak ada bumi yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali engkau,  wahai Makkah.  Seandainya kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu, karena engkau bumi yang  aku cintai”.

Hijrah beliau adalah karena perintah Allah subhanahu wata’ala, Beliau harus mencari lingkungan baru  yang bisa menopang perjuangan beliau menegakkan Islam. Beliau pindah ke Madinah bukan karena tidak suka dengan kota Makkah, melainkan karena kaumnya mengusir Nabi Muhammad saw.    Dan itu diabadikan dalam AlQur’an Surat Al Anfaal ayat 30 : 

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum diakhiri marilah kita berdoa untuk saudara kita yang sedanaga sakit dan do’a untuk kita semua.  Al Fatihah.

Do’a 

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillahirobbil’alamin,

Allahumma sholli ‘ala Muhammad

Wa’ala ali Muhammad,

Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin,

Wa’afiatan fil jasadi, waziadatan fil ‘ilmi,

Wabarokatan firrizqi, wa taubatan qoblal maut,

Wa rohatan ‘indal maut,

Wamaghfirotan warohmatan ba’dal maut,

 

Allahumma hawwin ‘alaina fi sakarotil maut,

Wannajata minannaar, wal ‘afwa ‘indal hisab,

Allahumma robbannaas ‘adzihi bil ba’tsa,

Isyfi antasysyafi  la syifa-a illa syifauka,

Syifa’an layughodiru syaqoman,

 

Lailaha illa anta,

Subhanaka  inna kunna minadzdzolimin,

Robbana atina fiddun-ya hasanah

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Subhana robbina robbil ‘izzati ‘amma yasifun,

Wasalamun ‘alal mursalin,

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Tafsir Surat Al Baqarah ayat 202 – 203.

Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM

 20 Februari 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Melanjutkan bahasan Tafsir Al Qur’an,  kali ini sampai pada Surat Al Baqarah ayat 202 – 203.  Pada ayat sebelumnya yaitu ayat 201 kita telah diberikan wawasan oleh Allah subhanahu wata’ala, tentang bagaimana orang yang berimaan berdo’a.  Mereka dalam berdo’a mengharapkan dua hal. Yaitu berdo’a agar diberikan hasanah (kebaikan) di dunia dan di Akhirat.  Sementara orang-orang yang tidak beriman (orang kafir) berdo’a hanya untuk kebahagiaan dunia. Demikian ditampilkan pada ayat 200.    Kali ini kita lanjutkan bahasan ayat 202 – 203, bagaimana yang sebenarnya.

 

Surat Al Baqarah ayat 202 :

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Keterangan Tafsir.

Ada orang yang orientasi hidupnya bersifat sekularistik (keduniawian). Bagaimana agar bisa senang hidupnya dengan harta yang banyak dan kedudukan tinggi di dunia.   Tetapi ada orang yang orientasinya bersifat asketik (Ukhrowi, akhirat).

 

Orang tersebut dalam hidupnya tidak hanya (melulu) mengejar kebahagiaan dunia tetapi juga mengejar kebahagiaan akhirat. Itulah yang dimaksud dalam Surat Al Baqarah ayat 201.

Yaitu mereka yang berdoa : Robana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat  dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Maka ayat 202 memberikan penjelasan,  baik bagi yang berorientasi duniawi saja maupun yang berorientasi dunia dan akhirat, bahwa Allah subhanahu wata’ala telah menyediakan bagian (balasan) atas apa yang selama ini mereka usahakan.

Maknanya, kalau orang di dunia semata-mata mengejar dunia saja, maka ia akan mendapatkan dunia saja,  tetapi akhiratnya nihil, tidak mendapat apa-apa, bahkan disiksa di neraka.  Sebaliknya orang yang berorientasi Asketik (Ukhrowi), maka ia punya dua sasaran, yaitu dunia dan akhirat. Ia bekerja (mencari nafkah) dan  taat kepada semua perintah Allah subhanahu wata’ala, menghindari larangan-Nya, maka ia bukan hanya mendapat kebahagiaan  di dunia saja, tetapi juga kebahagiaan di akhirat berupa surga.

Berdasarkan ayat 202 Surat Al Baqarah tersebut, mencerminkan bahwa Allah Maha Adil.

Adil, artinya kalau kelak ada orang masuk neraka,  itu bukan karena Allah benci atau dendam kepada mereka, tetapi karena orang tersebut sejak di dunia memang hanya keduniaan saja yang dikejar. Maka pantas kalau ia maasuk neraka. Kalau ada orang mencari akhirat, karena memang ia memilih surga, maka ia akan masuk surga.   Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak ada dendam.  Orang memilih neraka dipersilakan, memilih surga juga dipersilakan. Karena di Akhirat kelak hanya dua alam yaitu Surga dan Neraka. Tidak ada pilihan lain.

Maka jangan bosan membaca dan mempelajari AlQur’an, karena AlQur’an memberi petunjuk, mencerahkan dan membawa hidup ini menjadi lebih baik. Dan belajar AlQur’an memang perlu guru yang akan menjelaskan tafsirnya secara rinci dan detail.  Jangan hanya membaca terjemahan AlQur’an, sebab bisa keliru cara memahaminya. Oleh karena itu perlu belajar, dengan mendatangi majlis-majlis ta’lim yang mengajarkan Tafsir AlQur’an.

Sebetulnya Allah itu bagaimana kita manusia.  Dalam Hadits Qudsi disebutkan bahwa : “Aku (Allah) tergantung bagaimana prasangka hamba-Ku kepada Aku”.  

Maksudnya, kalau orang berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan baik kepada orang itu, sebaliknya kalau ada orang berprasangka tidak baik kepada Allah maka demikian pula Allah terhadap orang itu.

Ayat 203 :

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan*]. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan Barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya**], bagi orang yang bertakwa. dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.

*] Maksud dzikir di sini ialah membaca takbir, tasbih, tahmid, talbiah dan sebagainya. beberapa hari yang ditentukan ialah tiga hari sesudah hari raya haji yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijjah. hari-hari itu dinamakan hari-hari Tasy’riq.

**] Sebaiknya orang haji meninggalkan Mina pada sore hari terakhir dari hari Tasy’riq, mereka boleh juga meninggalkan Mina pada sore hari kedua.

Keterangan Tafsir.

Maksud kata  “ta’ajjala” artinya ingin cepat-cepat (menyegerakan) pada dua hari (pada hari Tasyriq), yaitu menyegerakan ibadahnya di Mina dan ingin cepat (segera) pulang ke Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadzoh.  Artinya, siapa yang ingin tanggal 12 Dzulhijjah menyelesaikan Jumroh Ula, Ustha dan Aqobah,  kemudian ia segera meninggalkan Mina menuju Mekkah,  maka boleh saja ia lakukan, tidak ada dosa baginya. Itulah yang disebut Nafar Awal.

Sebaliknya, siapa yang melambatkan (menunda, menangguhkan) kepulangannya ke Mekkah dari Mina pada hari berikutnya, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah, maka tidak ada dosa baginya, bagi siapa yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Yang demikian itu disebut Nafar Tsani.

Sehingga orang melaksanakan ibadah Haji bisa dilakukan dengan dua pilihan.  Pilihan pertama disebut Nafar Awal (rombongan pertama), yaitu mereka yang meninggalkan Mina menuju Mekkah  tanggal 12 Dzulhijjah.

Di Muzdalifah orang Mabit (menginap) semalam dan ketika di Mina orang melakukan :

  1. 1.      Melontar (melempar) Jumroh.  Bagi yang memilih Nafar Awal maka melontar Jumroh : Aqobah (tanggal 10 Dzulhijjah dini hari) dan melakukan Dzikir seperti yang disebutkan dalam ayat 203 tersebut : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, dalam hari-hari yang telah ditentukan”. Di Mudzdalifah berdzikir (Talbiyah). Disebutkan dalam Hadits : Talbiyah adalah syi’arnya orang yang sedang Ihram..
  1. 2.      Mabit (Menginap) di MinaBagi mereka yang Nafar Awal, mereka tinggal di Mina tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah.  Kecuali melontar Jumroh, mereka sholat berjamaah,, Takbir,  membaca AlQur’an dsb,  lalu tanggal 12 Dzulhijjah kembali ke Mekkah, melaksanakan Thawaf Ifadhoh.

Selanjutnya dalam ayat : Dan barangsiapa yang menangguhkan    (kepulangannya ke Mekkah), maka tidak ada dosa baginya,  yaitu yang disebut Nafar Tsani (Nafar Akhir) tanggal 13 Dzulhijjah baru menuju Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadhoh.  

Adanya Nafat Awal dan Nafar Tsani (Akhir) merupakan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala  bagi Jamaah Haji.   Seandainya tidak ada Nafar Awal,  karena sedemikian banyak Jamaah Haji, tidak terbayangkan betapa berjejal-jejalnya manusia di Mina ketika itu. 

Di ujung ayat : Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah  bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya,  artinya semua amal manusia kelak akan dibalas di Akhirat di hadapan Allah subhanahu wata’ala.  

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili memberikan keterangan :

  1. 1.      Hari Arofah adalah hari yang sangat agung, pahalanya sangat besar.  Karena itu bagi orang yang melaksanakan ibadah Haji menggunakan kesempatan di Arofah dengan sebaik-baiknya untuk berdo’a. Rasulullah saw bersabda dalam Hadits : “Sebaik-baik do’a adalah do’a ketika orang sedang berada di Arofah  dan seutama-utama ucapan yang aku ucapkan dan para nabi sebelum aku adalah Lailaha illallah wahdahu lasyarikalah. Lahulmulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu, wahuwa ‘ala kulli syain qadir.  Maka ketika Wukuf di Arofah para Jamaah Haji selalu membaca kalimat (do’a) tersebut sebanyak seratus kali.
  1. Bagi  orang yang tidak ber-Haji, ketika Hari Arofah disunnah-kan untuk berpuasa, karena puasa tersebut menghapuskan dosa satu tahun lalu dan dosa satu tahun yang akan datang. Jadi yang tidak ber-Hajipun ikut mendapat pahala ketika Hari Arofah.  Itulah kemurahan dan kaeadilan Allah subhanahu wata’ala.
  1. Do’a yang paling banyak diucapkan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah : Robbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar. Demikian dalam Hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik.
  1. 4.      Ada Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika Wukuf di Arofah beliau melakukan sholat Dhuhur dan Ashar dengan Jama’ Taqdim,  dengan dua kali khutbah seperti khutbah sholat Jum’at.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kemudian sholat Maghrib dan ‘Isya di Muzdalifah dengan Jama’ Ta’khir.

Sementara orang Indonesia ketika Wukuf di Arofah sholat Dhuhur – Ashar dan Maghrib – Isya dilakukan dengan Jama’ Taqdim di Arofah.

Melontar Jumroh Aqobah.

Para ahli Fiqih mengatakan bahwa waktu melontar Jumroh  Aqobah (saja) adalah sah bila dilakukan Ba’dal Fajri (Sesudah Fajar) sebelum terbit matahari.  Tetapi Imam Syafi’i lebih luwes lagi, yaitu bahwa sesuai dengan Hadits-Hadits Rasulullah saw adalah boleh melontar Jumroh Aqobah walaupun belum masuk Fajar, sesudah lewat tengah malam.

Tahalul Awal.

Dr. Wahbah Az Zuhaily menjelaskan bahwa Tahalul Awal disebut juga Tahalul Asghar (Tahalul Kecil), dilakukan setelah melontar Jumroh Aqobah saja. Kemudian kembali ke Mekkah, Thawaf dan Sai dan membaca doa menghadap Ka’bah (selesai Sai) lalu menggunting rambut. Paling sedikit tiga helai.   Bagi laki-laki yang bagus adalah mencukur seluruh rambut kepala.

Hadits Rasulullah saw : “Apabila kamu selesai melontar Jumroh (Aqobah) kemudian kamu selesai menggunting rambut dan melaksanakan Sunnah Qurban, maka telah halal bagimu segala sesuatu kecuali wanita”.

Artinya setelah mencukur (memggunting) rambut,  maka  sudah boleh mengganti pakaian Ihram  dengan pakaian biasa, Tetapi belum boleh bergaul dengan isteri/suami.

Untuk Haji Mabrur tidak ada balasan lain kecuali Surga.   Haji Mabrur adalah :

  1. Haji yang makbul (diterima oleh Allah subhanahu wata’ala). Supaya diterima maka syarat dan rukunnya serta wajib dan sunnahnya harus terpenuhi.   Maka sebelum pergi Haji, latihan (Training) dan belajar terlebih dahulu tentang ibadah Haji (Manasik Haji).
  2. Dalam pelaksanaan ibadah Hajinya tidak disertai dengan dosa.  Baik dosa terhadap Allah subhanahhu wata’ala, maupun terhadap sesama. (Ketika sedang Ihram dilarang Rofats, maksiyat, dan jidal). Ketika Thawaf tidak menyakiti orang.
  3. Keadaan sesudah Haji menjadi lebih baik, semakin sholih, akidahnya semakin mantap, ibadahnya semakin rajin dan khusyu’

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Ketika orang ber-Haji dan ketika Wukuf di Arofah, do’anya makbul.  Juga di tempat-tempat lain ketika orang sedang melakukan ibadah Haji do’anya makbul.  Bagaimana dengan orang yang Umroh apakah doa-‘anya juga makbul.  Dan di manakah tempat-tempat yang makbul do’anya ketika orang melakukan ibadah Umroh ?

Jawaban:

Arofah adalah kawasan di sekitar Mekkah yang dipenuhi oleh umat Islam dari seluruh dunia, tetapi hanya hari-hari tertentu saja, yaitu tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah dimana orang melakukan Wukuf di Arofah.   Di luar waktu itu, Arofah menjadi tempat ziarah yaitu orang-orang yang melakukan Umroh, singgah di Arofah, Kalau orang membaca do’a di Arofah di luar musim Haji, maka tidak se-makbul seperti ketika  musim Haji tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Tetapi do’a-do’a yang mustajab adalah di selain tempat tersebut, misalnya di Multazam, di depan Ka’bah, di Hijir Ismail, do’a di Sofa dan Marwa, do’a ketika Thawaf, dst. masih banyak pilihan lain.

Pertanyaan:

Bagaimana bila orang ber-Haji Mabit-nya di Aziziyah ?

Jawaban:

Aziziyah adalah kasawan di luar kota Mekkah.  Bila ada orang Mabit di sana tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, maka Mabitnya tidak sah.  Mabit yang sah adalah di Mina.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.   Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk keluarga.  Al Fatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,

Wa’alimna ta’wil, wahidna ilassawa-issabil

 

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron wal ‘afwa ‘indal hisab,

Wanajata minannaar.

 

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Walatakhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma balighna wa balighman ma ana,

Min ahli baitina wa banatina wa auladina ,

Wa dzurrayatina wa qorobatina,  wa jama’atina,

Wabil khusus Jamaah Kaum Ibu Majid At Taqwa,

Ila Baitillahil Haram, wa ziaroti qobri nabiyika

Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Warzuqna wa iyahum ziarota Makkah wal Madinah,

Salimin, ghonimin, farihin, mabrurin, mustafsirin,

Marrotin adidatan ya Robbal ‘alamin.

 

Robbana atina fiddun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alikum wr. wb.

 

                         ___________

Kiat Memperkuat Iman.

Dra. Hj. Ohan Zarkasih

Pengajian 13 Februari 2013

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Ibadah sebagai tugas setiap manusia, termasuk jin yang diciptakan Allah subhanahu wata’ala, dengan missi yang sama seperti difirmankan dalam AlQur’an Surat Adz Dzariyaat ayat 56 :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Maka ibadah sebagai tugas hidup adalah mencakup semua aspek kehidupan manusia. Dari mulai ucapan, perbuatan, suara hati yang diijinkan oleh Allah dan dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata untuk mendapatkan  ridho Allah subhanahu wata’ala. 

Ibadah dalam arti khusus menurut Fiqih adalah perbuatan atau ucapan dalam rangka melaksanakan hubungan langsung dengan Allah subhanahu wata’ala.  Termasuk dalam arti umum, yaitu melaksanakan apa yang sudah menjadi ketetapan diutusnya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam yang membawa Syari’at Agama Islam.   Termasujk ibadah adalah kita melaksanakan Rukun Iman dan Rukun Islam.

Salah satu diantara ibadah tersebut adalah duduknya anda dalam Majlis Ta’lim dalam rangka menunjukkan dan menyatakan iman anda kepada Allah subhanahu wata’ala.  Tinggi dan rendahnya nilai ibadah sangat tergantung pada kualitas ilmu yang ada pada diri masing-masing orang.   Maka mencari ilmu agama (Ilmu Syar’i) adalah Fardhu ‘Ain (Wajib bagi setiap orang).

Tidak bisa diwakilkan.

Bahwa kiat memperkuat Iman agar hal-hal yang disampaikan di atas secara totalitas menjadi ibadah dan dilaksanakan semata karena iman kepada Allah subhanahu wata’ala.  Sebagaimana imannya para Nabi dan Rasul.  Misalnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendapat ujian sedemikian berat, yaitu diperintah oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menyembelih anaknya Ismail,  dan dilaksanakan dengan penuh ikhlas dan ketaatan.   Demikian pula para Nabi dan Rasul lainnya ketika diperintahkan untuk ibadah, tidak pernah lepas dari segala bentuk ujian.

Termasuk Nabi Besar Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ketika melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala untuk menyampaikan dakwahnya tidak pernah lepas dari ujian dan cobaan yang berat.  Beliau diancam akan dibunuh oleh tokoh-tokoh masyarakat Mekkah.  Sehingga pada suatu malam ketika beliau sedang tidur di rumah beliau,  rumah beliau sudah dikelilingi oleh para pemuda yang siap membunuh Nabi Muhammad saw .

Tetapi Allah subhanahu wata’ala punya kehendak lain, yaitu ketika mereka yang sedang mengepung rumah Nabi Muhammad saw itu dibuat tertidur semua, sebagaimana dimuat dalam Surat Yaasin ayat 9 :

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Maksudnya, ketika orang-orang Quraisy itu mengepung rumah Nabi Muhammad saw, mereka dibuat tertidur oleh Allah, sehingga mata mereka tertutup, tidak bisa melihat, dan Nabi Muhammad saw mendapatkan perintah untuk segera meninggalkan rumahnya, bersama dengan Abubakar as Siddiq.  Untuk hijrah (pindah) ke Madinah (Yatsrib).   Tetapi beliau dan Abubakar As Siddiq tidak langsung menuju Madinah, melainkan singgah terlebih dahulu di Gua Tsur.   Sengaja beliau tidak melalui jalan yang biasanya dilalui orang-orang pada umumnya, tetapi mencari jalan lain dan singgah dulu di Gua Tsur, untuk menghindari kejaran kaum Quraisy yang hendak membunuhnya.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa dalam ketaatan kepada Allah masih ada ujian. Demikian pula bila kita melaksanakan ibadah, tidak lepas dari berbagai ujian.

Sampai di depan pintu Gua Tsur, mereka tidak langsung masuk, tetapi Abubakar yang meminta ijin untuk masuk lebih dahulu ke dalam gua, untuk meneliti apakah dalam gua itu tidak ada sesuatu yang membahayakan, misalnya ada ular  atau hewan yang berbisa lainnya.  Dan Nabi Muhammad saw diminta menunggu di luar gua. Demikian besar kesediaan Abubakar untuk membela Nabi Muhammad saw.  Semua lobang-lobang yang ada di dinding gua ditutup untuk menghindari binatang dan serangga yang datang melalui lobang-lobang itu. Demikian cerdas Abubakar dan setelah meneliti dan menutupi semua lobang dan dirasa aman, lalu Abubakar keluar gua dan mengajak Nabi Muhammad saw masuk ke dalam gua.

Selama mereka di dalam gua, sambil istirahat, rupanya Nabi Muhammad saw tertidur dengan kepala beliau diletakkan di atas paha (pangkuan) Abubakar, sampai terbangun kembali karena pipi beliau terkena tetesan air mata Abubakar yang sedang menangis.  Beliau Nabi Muhammad saw  bertanya : “Wahai Abubakar, kenapa engkau menangis ?”. Abubakar as Siddiq menjawab : “Aku menahan rasa sakit karena kakiku digigit ular berbisa”. Kemudian Nabi Muhammad saw mengusap dengan ludah  beliau di bekas gigitan ular berbisa itu sambil berdo’a memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kaki Abubakar yang digigit ular itu segera disembuhkan. Dengan idzin Allah, ternyata sakit bekas gigitan ular berbisa itu segera sembuh.

Ketika Nabi Muhammad saw dan Abubakar sedang dalam gua itu terdengar di luar langkah kaki-kaki orang yang sedang mencari Nabi Muhammad saw, yang mereka mengira Nabi Muhammad saw ada di dalam gua.   Tubuh Abubakar gemetar, ketakutan, karena seandainya mereka tahu keberadaan Nabi Muhammad saw dalam gua,  habislah mereka dibunuh.   Ketika itu Nabi Muhammad saw setengah berbisik bertanya kepada Abubakar : “Takutkah engkau wahai saudaraku ?”.  Abubakar menjawab : “Iya Rasulullah, aku sangat khawatir”.

Nabi Muhammad saw berkata : “Wahai saudaraku, jangan takut dan jangan kkhawatir, Allah bersama kita”.

Ternyata mereka dilindungi oleh Allah subhanahu wata’ala.  Di pintu gua itu seekor laba-laba membuat sarang, sehingga terkesan bahwa di situ tidak ada orang atau apapun yang melalui pintu gua itu.  Berarti gua itu kosong, tidak ada orang di dalamnya. Juga ada sepasang burung merpati yang sedang mengerami telurnya di dalam gua, sehingga meyakinkan bahwa di dalam gua tidak ada seorang manusiapun.   Dan orang-orang yang mengejar Nabi Muhammad saw itupun pergi meninggalkan Gua Tsur.  Dan selamatlah Nabi Muhammad saw dan sahabat beliau Abubakar as Siddiq.

Yang demikian itu memberikan pelajaran kepada kita bahwa setiap perintah Allah bila dijalankan dengan penuh ikhlas dan segera (tidak ditunda-tunda) betapapun berat ujiannya, insya Allah akan terlaksana dengan pertolongan dan perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala.   Dan setiap amalan jangan ditunda-tunda, segera dilaksanakan.  Sebab amal merupakan missi yang diberikan oleh Allah kepada kita.  Jin dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Nya.  Dan pengabdian tersebut adalah totalitas, artinya seluruh aktivitas hidup kita harus bernilai ibadah.

Perjalanan Nabi Muhammad saw seperti disampaikan diatas merupakan pelajaran bagi kita manusia,  betapa setiap gerakan ibadah tidak terlepas dari segala bentuk ujian dan cobaan,

Lihat firman Allah dalam AlQur’an Surat Al Ankabut (29) ayat 2, 3 dan 4 :

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

3. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

4. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

Dalam Kitab Al Hikam halaman 128-129 nomor kajian 170  Imam At Thoilah mengatakan : Sesungguhnya hawa-nafsu mengambil bagian dalam taat ibadah, ternyata ia masuk dalam keadaan samar.  Sedangkan hawa-nafsu mengambil bagian dalam maksiat, pembangkangan serta dosa, dalam perlawanan kepada Allah subhanahau wata’ala, hawa-nafsu nampak jelas.                                                                                                  

Misalnya seorang yang sedang maksiat, ketika ditegur, ia akan langsung melawan atau menunjukkan rasa tidak senangnya. Karena dalam pembangkangan dan  maksiat,  hawa nafsu terlihat jelas. Sedangkan ketika orang dalam taat, hawa nafsu dalam keadaan samar, tidak jelas, misalnya sholat diiringi Riya, ingin dipuji.  Kelihatan sholat tetapi sebenarnya sholatnya riya, hawa-nafsu. Beramal melaksanakan perintah Allah tetapi disertai ‘ujub (bangga diri). Semua itu tidak terlihat dengan nyata, tetapi samar-samar. Dan menurut Imam Ath Thoilah lebih sulit mengobati yang samar-samar dibandingkan yang jelas.

Dalam ayat 2 tersebut di atas  : Apakah manusia akan dibiarkan saja ia mengakui beriman tanpa diuji  oleh Allah subhanahu wata’ala ?

Maka kita berlindung kepada Allah mudah-mudahan Allah subhanahu wataa’ala memberikan kemampuan, mememlihara dan menjaga hati kita, mudah-mudahan segala aktivitas kita dinilai sebagai ibadah. Yaitu menjaga kita dari pengaruh hawa nafsu ketika kita menjalankan ketaatan dan kebaikan (ibadah), menjaga dari riya.

Ayat 3 :  Sungguh Allah telah menuji orang-orang sebelum kita, yaitu para Nabi dan Rasul serta kaumnya sebelum kita, dan Allah Maha Tahu siapa yang benar dan siapa yang berdusta.  Yaitu ketika kita beribadah, beramal, kita akan dinilai apakah ibadah kita itu benar karena Allah atau hanya berdusta saja, karena riya (karena orang lain, karena ingin dipuji orang lain). Sesungguhnya Allah Maha Tahu.

Maka kita harus selalu berdoa dan memohon agar Allah subhanahu wata’ala menjaga dan memelihara kita dalam beramal (ibadah) dari sifat riya, ‘ujub dst, Agar kita beramal dengan ikhlas karena Allah semata.  Dan agar kita tetap punya semangat dalam beribadah.

Ayat 4 : Jangan kita mengira bahwa setiap perbuatan kejahatan (keburukan) pelanggaran, ketidak-taatan kepada Allah akan luput dari siksa Allah subhanahu wata’ala. Dan biasanya semakin orang beriman, semakin taat, semakin bertambah ilmunya, mereka akan diuji oleh Allah subhanahu wata’ala.  \

Maka kita berdo’a dan memohon agar Allah tidak menguji dengan sesuatu di luar kemampuan kita.  Adapun kiatnya adalah :

  1. 1.      Husnudzon, ber-prasangka baik kepada Allah subhanahu wata’ala. Bahwa apa saja yang menimpa kita adalah yang terbaik dari Allah subhanahu wata’ala.  Meskipun mungkin bagi kita terasa tidak enak, tidak baik, menyakitkan, dsb.  Tetapi dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Di balik penderitaan ada kenikmatan.   Namun demikian kita boleh meminta yang baik-baik dan yang tidak menyulitkan. Ingat kisah Nabi Yusuf a.s. yang diawal hidupnya ia banyak menderita, dimasukkan ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya,  kemudian di kerajaan Mesir ia dimasukkan ke dalam penjara, dst, tetapi akhirnya ia menjadi raja dan penguasa di Mesir. Suatu pelajaran, bahwa bila kita kuat iman, kita harus punya sifat Husnudzon (baik sangka) terhadap Allah subhanahu wata’ala. . Semua yang terjadi adalah ketetapan Allah subhanahu wata’ala.
  1. 2.      Shobar (bersabar).  Lihat Surat Ali Imran ayat 200 :

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Ternyata Sabar merupakan pembuka kebahagiaan. Sabar adalah kesempatan meraih keberuntungan.   Bersabar menerima kenyataan bentuknya adalah : Tetap taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan tetap ikhlas.

Dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Daraquthni, dan Imam At Turmudzi, dari Anas bin Malik, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah berfirman: Jika Aku bebankan kemalangan untuk salah seorang hamba-Ku pada badannya atau hartanya atau anaknya, kemudian ia menerima dengan sabar dan kesabaran yang sempurna, maka sungguh Aku merasa malu menegakkan timbangan baginya”.

Maksudnya, demikian Allah subhanahu wata’ala menghargai atas kesabaran umat-Nya. Sampai-sampai Allah merasa malu kalau sampai tidak membalasnya dengan karunia yang besar atas orang yang sabar itu.

  1. 3.      Bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Lihat Surat Ibrahim ayat 7 :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dalam ayat tersebut dinyatakan bukan nikmat dulu lalu bersyukur, tetapi Syukur yang bisa melahirkan nikmat. 

  1.  Muhasabah (Interospeksi, menghitung diri-sendiri), sudah sejauh mana usia kita diberi oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa tahun lagi usia kita tidak tahu. Sudahkah ada nilai amal dan ibadahku ?  Adakah peningkatan ibadah selama ini ? Sudahkah aku meminta ampun atas dosa-dosaku ?
  1. 5.      Berserah diri dalam keadaan ikhlas dan bertawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala.  Lihat Surat At Taubah ayat 129 :

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.