Surat Al Maa-idah ayat 90 – 91

Oleh  Drs. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kita melanjutkan Kajian Tafsir Al Qur’an Surat Al Maa-idah ayat 90 – 91. Ayat ini sangat penting karena menjawab permasalahan yang ada dalam masyarakat baik pada masa itu (ketika AlQur’an diturunkan) maupun pada masa sekarang.

Bismillahirrohmanirohim.

Ayat 90 :

90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah*], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

*] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci Ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

Bahasan Tafsir.

Ayat 90 dibuka dengan kalimat sapaan yang sangat indah : Hai orang-orang yang beriman. Kita sudah tahu bahwa ayat seperti itu adalah ayat yang diturunkan di Madinah. Dan memang Asbabunnuzul ayat tersebut menceritakan perilaku orang Madinah.

Sesungguhnya minum khomer , berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithon.  Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Para ahli tafsir mengatakan bahwa kalimat “La’allakum” maknanya adalah penegasan.  Kalau “La’allakum”  itu difirmankan oleh Allah subhanahu wata’ala, artinya pasti. Bukan bermakna “mudah-mudahan” , karena Allah tidak mengenal kata “mudah-mudahan”.  Allah subhanahu wata’ala seperti disebutkan dalam ayat Kursi bahwa Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa datang dan apa yang telah terjadi di masa lampau.  Bagi Allah tidak ada istilah “mudah-mudahan”, tetapi pasti.

Arti dari ayat tersebut adalah : Kalau kita menjauhkan diri dari minum arak, menjauhkan diri dari berjudi, mengundi nasib dengan panah, dan menjauhkan diri dari membuat sesaji  (berkorban) untuk berhala, maka kita pasti beruntung.  Bila kita ingin beruntung, jauhilah  empat perkara tersebut.

Orang yang normal, tentu ingin sukses dalam hidupnya. Selalu ingin hidupnya beruntung dan berhasil.   Maka Allah subhanahu wata’ala memberikan resep: Bila kamu ingin beruntung hidup di dunia, maka yang empat perkara tersebut kamu jauhi.

Ayat 91 : Allah subhanahu wata’ala memberikan alasan yang lebih rasional, mengapa Allah melarang orang meminum minuman keras (khomer), dan melarang amal-amal seperti dalam ayat 90,  di ayat 91 lebih jelas lagi :

Sesungguhnya syaithon itu bermkasud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khomer  dan berjudi itu  dan menghalangi kamu dari melihat Allah dan sembahyang ;  maka berhentilah kamu  (dari mengerjakan pekerjaan itu.

Artinya,  bahwa  meminum minuman keras Khomer), berjudi, mengundi nasib dengan panah dan membuat sesaji adalah perbuatan syaithon.   Dan syaithon punya maksud untuk membuat manusia bermusuh-musuhan.  Biasanya orang yang suka berjudi, sebetulnya satu sama lain, sesama teman saling bermusuhan.  Mereka akan bertutur-kata dengan kata-kata yang kotor, memaki,  sumpah-serapah, dst. Dan ujung dari perjudian adalah dendam. Demikian juga arak, minuman keras, karena minuman keras lalu menimbulkan perzinahan, perkelahian, pembunuhan dsb.

Syaithon bermaksud menimbulkan kebencian sesama manusia, dan ini berakibat negatif secara horizontal. Padahal Islam ini dibangun atas cinta dan kasih-sayang sesama, menghormati, dan memuliakan sesama manusia.  Yang lebih berbahaya lagi adalah akibat negatif yang bersifat vertikal, yaitu menghalangi manusia untuk mengingat Allah subhanahu wata’ala.  Padahal hidup ini akan terasa nyaman dan nikmat bila kita selalu berdzikir (ringat) dan dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.

Jadi perbuatan syaithon itu sangat berbahaya. Kalau dituruti,  orang akan jauh dan tidak ingat kepada Allah subhanahu wata’ala.  Dan yang lebih berbahaya lagi serta sangat mendasar adalah : Bahwa khomer, judi, mengundi nasib dengan panah, dan sesaji itu menghalangi manusia untuk sholat. Orang yang mabuk, berjudi dan seterusnya itu tidak akan mau mengerjakan sholat. Dan biasanya orang-orang yang melakukan kemaksiatan itu memang tidak sholat.

Ujung ayat tersebut ditutup dengan kalimat yang halus sekali : Maka berhentilah kamu  (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Asbabunnuzul.

Ayat tersebut diatas ada asbabunnuzulnya (latar belakang turunnya ayat), yaitu Hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu menceritakan : Tatkala Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menuju ke kota Yatsrib (Madinah), beliau tidak langsung ke Madinah melainkan singgah dulu di suatu tempat bernama Quba, istirahat beberapa hari.  Setelah suasana kota Yatsrib kondusif untuk menerima kedatangan beliau, atas saran para sahabat beliau lalu masuk ke kota Yatsrib.   Ketika beliau sampai di kota Matsrib (Madinah), di tempat sekarang dibangun Masjid Nabawi, di Madinah.  Disebelah Masjid itulah dibangun rumah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika itu  ada kebiasaan masyarakat di Madinah,  yaitu mereka senang minum minuman arak (khomer), di mana-mana orang minum arak, dan  mabuk-mabukan.  Mereka makan dari hasil judi. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, maka ketika itulah Allah subhanahu wata’ala menurunkan ayat tersebut di atas.  Para sahabat ketika itu bertanya tentang muniman keras dan judi. Maka turunlah ayat tentang minuman keras, disebutkan bahwa minum minuman keras adalah dosa besar. Minuman keras memang ada manafaatnya sedikit,  tetapi besar mudharatnya.

Manfaatnya sedikit, misalnya menghilangkan rasa lelah, menghilangkan rasa tertekan sesaat, tetapi lebih besar mudharatnya (akibat buruknya).

Dengan kata lain, bahwa ayat yang pertama turun tentang muniman keras bersifat informatif. Pemberitahuan bahwa minum minuman keras itu dosa, ada manfaatnya tetapi lebih banyak mudharatnya.

Orang-orang Madinah ketika itu tetap minum minuman keras.  Sampai pada suatu hari ada seorang laki-laki dari Muhajirin (orang pindahan dari Mekkah), menjadi imam sholat Maghrib.  Ketika laki-laki itu menjadi imam sholat Maghrib, bacaan Suratnya kacau, karena ia baru saja minum minuman keras.  Maka turunlah ayat 43 Surat An Nisaa’.

Surat An Nisaa’ ayat 43 :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub*], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.

*] Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

Maksud ayat tersebut mulai membatasi (bersifat limitatif).  Artinya karena ada surat tersebut, ketika orang hendak melakukan sholat (misalnya sholat Maghrib), maka sebelum Maghrib mereka tidak minum minuman keras.  Dan sebelum sholat ‘Isya mereka juga tidak minum minuman keras.  Menjaga jangan sampai sholatnya ditolak oleh Allah subhanahu wata’ala. Mereka minum sesudah  sholat ‘Isya.

Setelah itu turun ayat berikutnya, yaitu ayat 90 Surat Al Maa-idah sebagaimana tersebut diatas.  Ayat tersebut bersifat definitif (menetapkan) haramnya minuman keras.

Bisa kita rasakan betapa bijaksananya Allah subhananhu wata’ala dalam menetapkan aturan-Nya.  Yaitu secara bertahap, pertama-tama bersifat informatif, diberitahu, disadarkan bahwa minuman keras itu banyak mudharatnya, meskipun ada manfaatnya tetapi sedikit.  Setelah disadarkan, lalu orang (masyarakat) dibatasi (limitatif).  Bila orang sudah bisa membatasi, bisa menahan hawa nafsunya, barulah ditetapkan bahwa minuman itu haram. Itulah penetapan hukum secara bertahap (gradatif).

Mengapa harus bertahap, dijelaskan oleh para ahli Tafsir bahwa masyarakat Madinah ketika itu sudah sangat gandrung (kecanduan) minuman keras (khomer).

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili menerangkan : Dahulu orang-orang Arab di masa Jahiliyah senang minuman keras,  bahkan mereka sangat tergantung kepada minuman keras.  Kalau Allah subhananhu wata’ala tiba-tiba mengharamkan muniman keras secara sekaligus, pasti akan ada reaksi yang menentang. Islam menjadi tidak laku.

Di sini bisa ditarik pelajaran, bahwa bila kita menyampaikan dakwah hendaknya secara pelan-pelan, bertahap, jangan sekaligus. Karena mengubah kebiasaan masyarakat adalah tidak mudah. Harus secara pelan-pelan dan bertahap.

Rupanya gaya AlQur’an menetapkan hukum seperti tersebut diatas,  ditiru oleh orang Barat.  Ada seorang ahli Hukum Eropa bernama Ross Copount  berkata : Hukum adalah alat rekayasa sosial.  Bila ingin mengubah masyarakat, ubahlah melalui perangkap hukum.  Caranya ialah direkayasa dengan aturan.   Ternyata Barat juga meniru Islam.

Arti penting ayat tersebut.

Pertama, Allah subhanahu wata’ala meng-informasikan informasi Ilahiyah. Bahwa hidup itu ada ranjau-ranjau yang bila kita tidak waspada akan mencelakakan. Ranjau hidup ada empat : Minuman keras (arak, khomer),  judi,  sesaji untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah.  Berdasarkan Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang dimaksud dengan Khomer bukan hanya arak. Dalam Hadits tersebut dinyatakan : Tiap-tiap yang memabukkan sama dengan arak, dan setiap arak adalah haram. Maka setiap yang bisa membuat orang mabuk adalah haram.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana bila hanya sedidkit, apakah juga haram?

Ada Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : Apa yang memabukkan bila diminum dalam jumlah banyak, maka dalam jumlah sedikit juga haram. Kalau demikian, semua minuman yang berpotensi menimbulkan mabuk adalah haram.

Bagaimana dengan bir ? Minum bir sedikit atau banyak tetap dihukumi sebagai khomer, hukumnya haram. Karena sudah ditetapkan bahwa bir adalah haram, meskipun dikatakan bahwa alkoholnya  0 %, tetap saja bir adalah haram.

Kedua, Bahwa Al Maisir (judi) adalah haram.  Dalam bahasa Arab “Al Maisir” berasal dari kata : Yasara – Yasiru – Yaisir – Yusra, artinya mudah.   Jadi Maisir artinya mudah, memperoleh harta dengan cara mudah, yaitu judi.  Cara ini tidak benar, tidak adil.  Orang lain mencari uang dengan kerja keras, membanting tulang, dengana cucuran keringat, pergi pagi pulang malam, tetapi orang yang melakukan perjudian hanya dengan santai-santai dan tertawa-tawa bisa mendapatkan keuntungan uang dengan mudah, meskipun itu merugikan orang lain.  Maka judi adalah haram.

Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa catur adalah termasuk judi.  Maka permaninan catur itu hukumnya haram. Catur dan sejenisnya misalnya karambol, halma, dan segala permainan yang menghabiskan waktu, adalah haram.

Jumhur ‘Ulama juga mengharamkan catur.  Karena catur dan sejenisnya dapat membawa orang kepada permusuhan dan kebencian.   Catur dan sejenisnya akan menghalangi orang untuk mengingat (dzikir) kepada Allah subhanahu wata’ala.  Kita lihat orang yang asyik main catur, meskipun mendengar adzan, tetap saja tidak mau beranjak dari tempat caturnya itu,  dan malas mengerjakan sholat.  Catur menghalangi orang untuk sholat tepat waktu.

Karena menghalangi orang untuk sholat, maka para ahli Fiqih mengatakan bahwa catur adalah haram.   Tetapi Imam Syafi’i mengatakan bahwa catur adalah makruh, karena dengan main catur orang akan menyia-nyiakan (membuang-buang) waktu yang sangat berguna. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar.  Kalau sudah lewat, tidak bisa diganti.  Ingat,  kita semua ini semakin tua, bukan semakin muda.   Semakin bertambah jumlah umur,  sesungguhnya semakin berkurang kesempatan hidup.  Semakin berkurang kesempatan hidup mengharuskan kita bersikap hemat dalam menggunakan umur.

Kalau begitu umur harus digunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif/strategis.  Sehingga umur kita mustinya digunakan untuk hal-hal yang strategis,  untuk mencapai tujuan hidup kita,  yaitu kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dengan Husnul Khotimah. Misalnya dengan mencari amalan yang dengan modal sedikit tetapi untungnya besar, antara lain dengan rajin mendatangi kajian-kajian AlQur’an, kajian Hadits dan kajian lain di bidang agama (Majlis Ta’lim).

Pengajian atau Majlis Ta’lim itu paling lama 1 – 2 jam, tetapi manfaatnya luar biasa. Pahalanya lebih baik daripada sholat sunnat seribu rokaat. Ditambah lagi mendapat ampunan dan dido’akan oleh para malaikat agar masuk surga. Maka anda harus bersema-ngat untuk menghadiri kajian-kajian AlQur’an atau Hadits, jangan surut hanya karena hujan.   Kesempatan tidak akan terulang.  Ketika anda sehat, waktu dan kesempatan ada, pergilah ke pengajian (Majlis Ta’lim). Kapan lagi ?

Ketiga, mengundi nasib dengan panah adalah haram. Dan sejenisnya yang sifatnya mengundi nasib, keberuntungan, maka hukumnya adalah haram. Semuanya itu adalah permaianan syaithon.

Keempat, membuat sesaji untuk berhala.  Misalnya, ketika orang hendak punya hajat, mantu atau keperluan hajat yang lain, orang lalu mengadakan suatu sesajian berupa “ancak” yang berisi berbagai jenis makanan, diletakkan di sudut-sudut rumah dsb. Itulah sesaji untuk berhala, untuk dewa-dewa, dsb.   Di zaman dahulu di Mekkah atau Madinah, orang menempatkan patung berhala, didepannya ada meja keci untuk meletakkan sesaji, untuk makanan berhala itu.  Yang demikian itu haram. Di negeri kita (Bali) juga masih ada tata-cara demikian sampai sekarang.

Mengapa Allah subhanahu wata’ala menyatakan bahwa keempat hal tersebut sebagai Rijsun artinya najis, kotor.  Karena kotor tidak layak untuk kita milki atau kita lakukan.  Karena Islam diturunkan untuk membersihkan manusia dan men-sucikan jiwa manusia. Segala yang mengotori jiwa manusia dijauhkan.  Menjauhi yang kotor-kotor adalah wajib, agar hidup ini menjadi nikmat.

Mengapa minuman keras, judi dilarang Allah subhanahu wata’ala ?

Pertama, karena hubungan antara manusia akan terkoyak.  Adanya minuman keras dan judi serta mengundi nasib dengan anak panah akan menimbulkan permusuhan dan kebencian  antara manusia.  Akan merusak hubungan sosial.  Padahal hidup ini akan bagus kalau orang mampu membangun hubungan sosial yang harmonis.   Maka segala yang  bisa merusak hubungan manusia dengan manusia dicegah.

Kedua,  dilarang karena akan merusak hubungan antara manusia dengan Allah subhanahu wata’ala.  Dzikir dan sholat seseorang menjadi rusak, orang menjadi malas beribadah, malas berdzikir dan mengerjakan sholat.

Dzikir bisa dilakukan dengan beberapa cara :

  1. Dzikir dengan lisan, membaca tasbih, tahmid, takbir, do’a, tilawah (membaca AlQur’an).  Bila orang mabuk, judi,  maka kegiatan dzikir ini akan terhenti.
  2. Dzikir dengan hati, orangnya diam tetapi hatinya berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.
  3. Dzikir dengan badan, yaitu duduk mendengar kajian dan telah AlQur’an di majlis ta’lim. Dzikir adalah menyebut dan mengingat Allah subhanahu wata’ala.
  4. Dzikir dengan harta,  yaitu anda bershodakoh, membayar zakat, infak, menyantuni fakir-miskin,  berarti anda sedang dzikir dengan harta.

Seorang ahli mengatakan bahwa berdzikir akan menghasilkan kesadaran, dan orang yang senang ber-dzikir akan menghasilkan tiga kesadaran :

  1. Sadar tentang adanya Allah subhanahu wata’ala.
  2. Sadar akan dirinya sendiri (tahu diri), bisa menempatkan dirinya dalam masyara-kat dengan tepat.
  3. Sadar kepada lingkungan sosial dan budaya.

Sadar adalah kondisi yang akan menghasilkan amal yang terarah.  Amal yang terarah akan membawa hidup selamat dan sukses.  Bila seseorang mabuk, judi maka amalnya tidak terarah, menjadi celaka.  Jadi dzikir adalah penting.  Karena syaithon tahu bahwa berdzikir adalah penting, maka manusia digoda untuk tidak berdzikir.  Di iming-imingi dengan minuman keras, judi, mengundi nasib dengan panah dan sesaji. Na’udzubillahi min dzalik.

Sholat.

Sholat adalah penting sekali.  Dengan sholat orang akan :

  1. Dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.
  2. Terpenuhi semua kebutuhan, baik kebutuhan fisik, psikis maupun kebutuhan sosial.
  3. Menghasilkan ketenteraman jiwa.
  4. Menimbulkan sehat fisik. Gerakan sholat yang teratur seperti senam, akan menghasilkan kesehatan fisik.
  5. Menghasilkan hati yang terang.  Orang yang hatinya terang, jernih, maka ia akan berpikir dengan jernih. Amalnyapun akan terarah.

Artinya, bahwa sholat itu sangat penting.  Karena syaithon tahu benar bahwa sholat itu sangat penting,  maka dihalangi manusia untuk sholat, dengan empat hal yang membahayakan seperti diterangkan diatas, yaitu minuman keras, judi,  mengundi nasib dengan panah dan sesaji kepada berhala. Maka jangan coba-coba mendekati minuman keras, judi, mengundi nasib dengan panah dan jangan lagi membuat sesaji  kepada berhala atau dewa-dewa.  Mudah-mudahan kita selamat. Amin.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

  1. Dijelaskan diatas bahwa setiap yang memabukkan adalah haram.  Bagaimana dengan orang yang memakan buah durian hingga mabuk?  Apakah durian juga termasuk haram ?
  2. Di negara Eropa orang banyak minum minuman keras dengan alasan karena udaranya dingin, lalu untuk menghangatkan badan (menahan hawa dingin) lalu mereka minum minuman keras (arak).  Sedangkan di Arab (Timur Tengah) udaranya panas, tetapi mereka dahulunya suka minum arak, mengapa demikian ?

Jawaban :

  1. Mabuk artinya fungsi akal tidak berperan sebagaimana mestinya. Kalau ada orang mabuk karena makan durian, perlu ditanyakan berapa banyak durian yang dimakan ?  Lalu benarkah mabuknya karena durian? Kalau orang makan durian sewajarnya, tidak terlalu berlebihan, tentu tidak akan mabuk. Maka durian tidak termasuk sesuatu yang memabukkan, tidak haram.
  2. Minuman keras bukan dari negeri Eropa (negara Barat).  Kalau menurut Hadits, arak dibuat dari anggur yang diolah sedemikian rupa sehingga bila diminum, akal menjadi tidak berfungsi yang sewajarnya.  Arak juga dibuat dari tamar (kurma) yang divermentasikan, sehingga mengeluarkan air yang menimbulkan mabuk.  Demikian juga madu, bila diolah sedemikian rupa pada tahap tertentu madu akan berubah menjadi khomer (arak).  Demikian juga gandum, bisa diolah menjadi arak.   Maka Allah subhanahu wata’ala melarang orang minum arak,  ketika itu di daerah Arab dan sekitarnya. Tidak usah di Eropa yang katanya arak itu untuk menghangatkan badan,  tetapi di mana saja selama disitu ada syaithon di situ akan ada mabuk-mabukan.  Karena syaithon selalu berusaha agar manusia jauh dari Tuhan-nya. Tidak terkecuali di Barat atau di Timur-Tengah.

Pertanyaan:

Menurut Isam, akal itu bersumber dari hati atau dari otak ?

Jawaban:

Para ahli Islam mengatakan : Akal adalah partikel halus yang tempatnya ada pada hati manusia (Qolbu).  Hati yang dimaksud adalah Qolbu yang bermakna tidak fisik. Bukan lever.  Sedangkan otak ada di kepala, bisa membikin orangnya pandai, dan hati (akal) membuat cerdas. Orang pandai belum tentu cerdas.  Orang yang cerdas bisa jadi pandai.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan taruhan sepakbola, apakah itu termasuk judi.

Jawaban :

Taruhan hasil sepakbola termasuk judi. Jangan anda lakukan.

Sekian bahasan Tafsir AlQur’an, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a mohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar keluarga kita mendapatkan Husnul Khotimah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an.

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kaamilan,

Wayaqinan shodiqon , warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bihusnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma robbana wafighna litho’atika

Wa atmim taqshirona taqobbal minna,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum  wr. wb.

________________

Kamis malam, 5 Shofar 1431  –  21 Januari 2010

4 Tanggapan

  1. Assalamu’alaykum,

    Terima kasih atas tulisannya, sangat berguna untuk diberikan ke teman saya yang hobi minum

    Wassalam,

    Iwan Syahroni

    • Wa alaikumssalam warahmatullah,
      maaf baru bisa membalas komentarnya,
      Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah untuk kita untuk bisa menjauhi hal-hal yang bersifat haram dan dibenci Allah Ta’ala.

  2. Salam. Boleh nyatakan sumber ambilan Asbabun Nuzul yang disebut di atas? Kitab mana rujukan yang boleh dirujuk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: