Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah 86 – 90

Oleh Dr. H.M. Soetrisno Hadi, SH.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Sebagai kelanjutan bahasan tafsir AlQur’an beberapa waktu lalu, maka kali ini kita membahas Tafsir Surat Al Baqarah ayat 86 – 90.

Bismillahirrohmanirrohim,

Surat Al Baqarah ayat 86 – 90 :

86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

87. Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus[69]. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

88. Dan mereka berkata: “Hati Kami tertutup”. tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; Maka sedikit sekali mereka yang beriman.

89. Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[70], Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

90. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya[71] kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan[72]. dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

[69] Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, Yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. ini Termasuk mukjizat Isa a.s. menurut jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah Malaikat Jibril.

[70] Maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya.

[71] Maksudnya: Allah menurunkan wahyu (kenabian) kepada Muhammad s.a.w.

[72] Maksudnya: mereka mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda Yaitu kemurkaan karena tidak beriman kepada Muhammad s.a.w. dan kemurkaan yang disebabkan perbuatan mereka dahulu, Yaitu membunnuh Nabi, mendustakannya, merobah-robah isi Taurat dan sebagainya.

Ayat-ayat tersebut membicarakan tentang sifat dan perilaku orang-orang Ahli Kitab yaitu orang Yahudi Bani Israil. Seperti pada bahasan beberapa  hari lalu ayat sebelumnya yaitu Surat Al Baqarah ayat 83 – 85, yang membicarakan bagaimana Allah subhanahu wata’ala mengambil janji kepada kaum Yahudi Bani Israil, bahwa mereka akan hanya menyembah kepada Allah subhanahu wata’ala, berbuat bakti kepada orang tua, kepada kerabat, kepada anak-yatim dan fakir miskin dst.

Ayat 86 : disebutkan memberikan pernyataan seperti apa sifat mereka itu.

Itulah orang-orang yang membeli (menukar) kehidupan dunia dengan akhirat,

Maksud-nya :   Mereka lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Mereka mendahulu-kan kesenangan hidup di dunia dan mengorbankan kehidupan di Akhirat.

Di dalam sejarah kita mengenal bahwa orang-orang Yahudi lebih mengutamakan kesenangan duniawi.  Para pendeta Yahudi ingin agar sumbangan harta yang masuk kepada mereka dari umat Yahudi tidak terputus, maka mereka dengan sengaja mengorbankan agama, mengorbankan ayat-ayat dalam Taurat (Kitab mereka), semata-mata karena menyelamatkan dana yang masuk dari jemaah mereka.

Maksudnya, bahwa setiap umat Yahudi mempunyai kewajiban harus setor uang kepada Sinagog (gereja Yahudi) sejumlah 25% dari penghasilannya perbulan.  Jadi dana Yahudi itu cukup besar.  Kalau seandainya pendeta-pendeta Yahudi itu jujur dengan ayat-ayat yang ada dalam Taurat, utamanya yang menjelaskan tentang sifat-sifat Nabi Muhamamad shollallahu ‘alaihi wasallam, mereka khawatir banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Kalau umat mereka masuk Islam, berarti dana yang setiap bulan di setor ke Sinagog akan hilang.  Artinya pendeta-pendeta Yahudi itu tidak lagi mendapat jaminan dana untuk  hidup mereka.

Maka untuk menyelamatkan dana tersebut mereka dengan sengaja mengganti ayat-ayat Taurat, terutama yang berkenaan dengan Nabi Muhammad saw, dengan kalimat-kalimat yang dibuat oleh mereka.   Misalnya, dalam Taurat diilustrasikan akan kedatangan Nabi Muhammad saw di akhir zaman, perawakan sedang, sorot matanya tajam penuh perhatian, orangnya peduli kepada fakir-miskin, dst.   Oleh para pendeta Yahudi, ayat-ayat Taurat itu diganti dengan kalimat : Muhammad itu matanya juling, dst, dst, sehingga setiap yang membacanya akan antipati kepada Nabi Muhammad saw dan kepada Islam. Membacanya saja sudah tidak suka apalagi ikut agamanya (Islam).

Mereka (para pendeta Yahudi) melakukan yang demikian itu semata-mata karena mengutamakan uang (dana) yang tersebut diatas, mengorbankan Akhirat.  Sifat demikian itu tidak bagus, bahkan tercela.

Di ujung ayat Allah subhanahu wata’ala mengingatkan :  Bahwa apapun yang mereka lakukan di dunia, tidak akan meringankan adzab (siksa ) mereka di Akhirat dan di Akhirat tidak ada yang bisa menolong. Karena perbuatan mereka telah menuyimpang dari kebenaran.   Mengubah-ubah Kitab Suci (Taurat), mengingkari janji (bahwa mereka akan melaksanakan semua isi Kitab Taurat), ternyata mereka tidak melakukannya itu.

Pelajaran bagi kita umat Islam :  Kita umat Islam jangan meniru orang Yahudi, yang berani mengubah-ubah Kitab suci.

Yang bagus adalah : Mempelajari Kitab AlQur’an, meng-kaji isinya dan mengamalkan-nya dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat 87 : Dan sesungguhnya kami telah mendatangkan ( menurunkan) Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut mengiringi sesudah itu rasul-rasul yang kemudian, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi ‘Isa dan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam).

Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat), kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (Ruh Suci,  yaitu malaikat Jibril).

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu  (pelajaran)  yang tidak sesuai dengan keinginanmu  lalu kamu angkuh (sombong, menolak, maksudnya : Orang Yahudi itu menolak Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, apalagi Nabi Muhammad saw, lebih mereka tolak).

Maka beberapa orang (di antara mereka para rasul itu) kamu dustakan  dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh ?

Penjelasan Tafsir.

Sekali lagi Allah subhanahu wata’ala ingin membuka kepada kita bahwa orang Yahudi dahulu pernah berbuat keliru, seperti dalam ayat 87 tersebut diatas.  Karena sifat Yahudi yang demikian itu, maka Yahudi dikeluarkan dari susunan agama-agama Tauhid.

Dari agama-agama yang ada di dunia ini dapat diklasifikasi :

  1. Agama dilihat dari obyek yang disembah.
  2. Agama dilihat dari sumber ajarannya.

Semua agama pasti mengajarkan adanya obyek yang disembah, disebut Sesembahan (Tuhan).  Dilihat dari obyek yang disembah, maka agama dibagi menjadi dua :

  1. Agama Tauhid (Monotheistik), bahwa Tuhan itu Satu.
  2. Agama Syirk (Politheisme), banyak sesembahan (banyak Tuhan).

Agama yang termasuk agama Tauhid, mula-mula adalah semua agama minus Yahudi, Nasrani, dan Islam.   Tetapi, sekarang kita lihat, benarkah Yahudi masih termasuk agama Tauhid ?

Dalam proses perjalanan selanjutnya ternyata Yahudi mengalami distorsi (bergeser, berubah) dari agama Tauhid menjadi tidak Tauhid.  Orang Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair (Nabi ‘Uzair) anak Allah. Ketika orang Yahudi mengatakan Uzair anak Allah, maka mereka yang posisinya sebagai agama Tauhid pindah posisi menjadi agama bukan Tauhid.

Nasrani, dalam proses perjalanannya umat Nasrani mengatakan bahwa ‘Isa anak Allah.  Ketika mereka  (umat Nasrani) mengatakan bahwa ‘Isa anak Allah,  maka mereka yang tadinya termasuk agama Tauhid berubah posisi menjadi agama tidak Tauhid. (Bukan AgamaTauhid).

Maka dari tiga yang semula agama Tauhid, dua berubah posisi, maka tinggallah Islam yang merupakan agama Tauhid.

(Surat Al Ikhlas : Qul huwallahu ahad.  Allahushshomad.  Lam-yalid wa lam-yulad,  Wala yakullahu kufuwwan ahad – Katakanalah: Dia,  Allah itu Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tiada diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia).

Orang Yahudi juga punya sejumlah ke-alpaan, kekeliruan, misalnya seperti disebutkan dalam ayat diatas :

  1. Mengutamakan dunia dari pada Akhirat,
  2. Berani mengubah-ubah Kitab suci (Taurat).
  3. Berani mengingkari, menolak  para rasul selain Nabi Musa a.s.
  4. Berani membunuh nabi dan rasul, misalnya Nabi Zakaria, Nabi Yahya a.s.

Maka dua ayat tersebut (ayat 86 dan 87) menjelaskan kekeliruan dan kesalahan orang-orang Yahudi yang berani membunuh nabi-nabinya.  Padahal mereka adalah nabi-nabi Allah subhanahu wata’ala.

Nasrani demikian pula, mereka mengakui ‘Isa Al Masih anak Tuhan. Padahal aslinya, Nabi Isa ‘alaihissalam tidak pernah mengatakan : sembahlah aku, aku ini anak Tuhan.

Tidak pernah mengatakan demikian itu.  Tetapi Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengatakan kepada orang-orang Bani Israil : “Ya Bani Israiila’budullah robbi wa robbukum” (Wahai orang-orang Bani Israil, sembahlah Allah, Dia Tuhanku dan juga Tuhan kamu). Jadi Nabi ‘Isa ‘alahissalam tidak pernah mengaku dirinya Tuhan.

Kajian begini ini sungguh penting, meskipun kelihatan sederhana. Ini masalah Aqidah. Mempelajari AlQur’an dan Hadits adalah mempelajari sumber agama (Islam), sumber otoritatif dalam Islam.  Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih sumbernya adalah AlQur’an dan Hadits. Bila anda menguasai AlQur’an dan Hadits dengan baik, maka ilmu-ilmu yang lain akan mengikut.

Kembali, bahwa yang masih murni adalah Islam  dan Islam inilah yang disebut oleh Allah subhanahu wata’ala dalam AlQur’an sebagai agama yang sempurna, nikmat yang paling besar dan agama yang diridhoi.  Lihat Surat Al Maa-idah ayat 3 (akhir ayat) :

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

“Telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu”, itulah Islam.

Apa sebab Nabi Muhammad saw medapat wahyu seperti itu, dan apa sebab Allah subhanahu wata’ala menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna ?

Karena Islam adalah agama yang dibangun sejak awal adanya manusia, yaitu sejak Nabi Adam a.s. dan seterusnya Nabi Ibrahim a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Dawud a.s. , Nabi Sulaiman, Nabi Isa a.s. semuanya itu Islam. Jadi salah kalau ada orang mengatakan bahwa agama Nabi Isa a.s. adalah Kristen.  Salah itu.  Adalah salah kalau ada orang mengatakan bahwa agama Nabi Musa a.s. adalah Yahudi, salah.  Yang benar : Mereka sumuanya Islam.  Karena semua Nabi dan Rasul adalah rasul-rasul Allah subhanahu wata’ala. Dan agama Allah hanya satu : Islam. Inna dina ‘indallahil Islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam).

Dalam sebuah Hadits shahih Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan aku dan nabi sebelum aku seperti sebuah tembok yang tersisa satu tempat bata. Akulah yang satu bata itu”.

Jadi Nabi Muhammad saw adalah menyempurnakan agama yang telah dibawakan oleh nabi-nabi sebelumnya.

Maka kita umat Islam tidak membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan rasul yang lain. Artinya, kami beriman kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada Nabi Isa a.s. Nabi Musa as., Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s. dan seluruh nabi-nabi sampai dengan Nabi Adam a.s.

Sementara itu orang Yaudi tidak mau menerima Nabi Muhammad saw, tidak mau menerima Nabi Isa a.s. Orang Yahudi mengakui hanya sampai Nabi Musa a.s. saja.

Orang Nasrani percaya hanya sampai Nabi Isa a.s. saja   dan tidak menerima (tidak percaya) kepada Nabi Muhammad saw.  Berarti Yahudi dan Nasrani itu tidak jujur. Sedangkan kita umat Islam menerima semua Nabi dan Rasul dengan posisinya masing-masing.

Bila dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw itu menyempurnakan agama sebelumnya,  maka kita diwajibkan ibadah haji bagi (yang mampu).  Sedangkan ibadah haji sudah dikenal sejak sebelum Nabi Muhammad saw.   Yang mula-mula mencanang ibadah haji adalah Nabi Ibrahim a.s.    Pada zaman itu, ketika selesai me-renovasi Ka’bah, Nabi Ibrahim a.s. menyeru : “Wahai manusia, berhajilah kalian ke rumah Tuhanmu ini (Ka’bah)”. Artinya tradisi ibadah haji sudah dimulai sejak Nabi Ibrahim a.s.   Dan menurut Rasulullah saw bahwa seluruh nabi-nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi ‘Isa a.s. pernah melakukan Thawaf di Ka’bah (berjalan mengelilingi Ka’bah, ibadah haji).

Demikian pula Nabi Musa a.s. dan nabi-nabi yang lain semuanya pernah Thawaf di Ka’bah.   Maka benarlah bahwa agama Allah subhanahu wata’ala hanya satu : Islam.

Ibadah Haji yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s. sederhana saja,  sekedar datang ke Baitullah (Kabah) lalu Thawaf, sudah.  Itulah ibadah haji ketika itu.

Tetapi ibadah haji di zaman Nabi Muhammad saw lebih disempurnakan lagi, bukan hanya Thawaf tetapi juga ada Wukuf si Arofah, Sa’i, Mabit di Muzdalifah, melontar Jumrah dst,  itulah fungsi Nabi Muhammad saw menyempurnakan agama sebelumnya.

Disebutkan dalam ayat 87 bahwa : Kami memperkuatnya (Nabi Isa a.s.) dengan Ruhul Qudus.   Dan disebutkan bahwa ‘Isa putera Maryam (bukan putera Allah). Artinya Allah subhanahu wata’ala tidak pernah mengakui bahwa ‘Isa anak Tuhan.

Kesimpulannya, yang Tauhid tinggal satu : Islam. Selain Islam bukan/tidak Tauhid.

Dari sumber ajarannya.

Dilihat dari sumber ajarannya, agama dibagi dua :

  1. Dari wahyu,
  2. Dari akal.

Agama wahyu adalah agama yang sumber agamanya dari wahyu, bukan dari hasil kreasi akal manusia.  Agama wahyu adalah dari Allah subhanahu wata’ala. Maka agama wahyu sering disebut agama langit.

Agama akal adalah agama yang sumber ajaranya dari akal manusia, disebut agama dunia.

Kitab suci agama langit : Taurat, Zabur, Injil dan AlQur’an.

Orang Yahudi kitab sucinya Taurat dan Zabur.  Orang Nasrani kitab sucinya Injil dan umat Islam kitab sucinya adalah AlQur’an.   Kalau mereka tetap berpegang pada  kitab sucinya yang asli, maka mereka bepegang pada agama wahyu.  Sayangnya, agama wahyu yang semula masih murni yaitu berpegang pada Taurat, Zabur dan Injil dalam proses perjalannya mereka mengubah-ubah Taurat, Zabur dan Injil.  Ketika kitab-kitab itu berubah, maka statusnyapun menjadi berubah, dari agama wahyu menjadi agama akal.

Misalnya, Injil yang asli adalah wahyu dari Allah subhanahu wata’ala, tetapi dalam proses perjalanannya mengalami perubahan-perubahan.  Bila kitab sucinya sudah berubah (diubah) maka status agamanya menjadi agama akal.  Sedang satu-satunya yang masih murni adalah AlQur’an. Dalam AlQur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman : Kami (Allah) yang menurunkan AlQur’an dan Kami pula yang menjaganya sampai Kiamat. Maka yang masih murni hanya satu : AlQur’an.

Mu’jizat yang diberikan kepada Nabi ‘Isa a.s. oleh Allah subhanahu wata’ala adalah : Nabi ‘Isa a.s. dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang pada masa itu tidak bisa disembuhkan oleh Tabib. Misalnya : Orang lumpuh, diusap oleh Nabi ‘Isa a.s. menjadi sembuh dan bisa berjalan. Orang sakit lepra diusapnya lalu orang itu sembuh dari penyakitnya.    Mu’jizat diturunkan Oleh Allah subhanahu wata’ala untuk memperkuat risalah.  Dengan mu’jizat, Allah ingin menunjukkan bahwa yang diberikan mu’jizat itu benar-benar seorang Rasul.

Contoh, Nabi Muhammad saw mendapat wahyu  berupa AlQur’an adalah mu’jizat.

Mu’jizat AlQur’an sampai sekarang (saat ini) masih bisa dirasakan oleh manusia, walaupun Nabi Muhammad saw sudah wafat. Buktinya, tidak ada orang mengatakan bosan membaca AlQur’an.

Tidak ada orang yang mengatakan bosan membaca Surat Al Fatihah.  Padahal setiap hari orang membaca AlFatihah, minimal 17 kali sehari-semalam (dalam sholat fardhu).  Itulah mu’jizat AlQur’an.   Tujuan mu’jizat adalah menguatkan kerasulan (risalah).

Berikutnya dalam ayat 87 disebutkan : “Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya  dengan Ruhul Qudus”.

Maksudnya, bahwa Nabi ‘Isa a.s. diperkuat (selalu didampingi) dengan Ruh Qudus (malaikat Jibril).  Kemana saja Nabi ‘Isa a.s. pergi, malaikat Jibril selalu mengikuti (mendampingi). Disitulah kelebihan Nabi ‘Isa a.s.

Keadaan yang demikian itu, oleh orang Nasrani disalah artikan (disalah-gunakan), kata orang Nasrani, Tuhan ada tiga yaitu : Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruh Qudus. Disinilah menyimpangnya. Mereka orang Nasrani menyimpang. Demikian orang Protestan mengatakan.  Sedangkan orang Katholik mengatakan, Tuhan ada tiga : Tuhan Bapak (yang da di surga), Tuhan Anak (Jesus Kristus)  dan Bunda Maria. Lebih menyimpang lagi dari Tauhid, dari agama Allah subhanahu wata’ala.

Ayat 88 : Dan mereka (orang-orang Yahudi) berkata :  “Hati kami telah tertutup”

Itulah perkataan mereka (Yahudi) yang sombong,  maksud mereka bahwa : “Tidak ada tempat dalam hati kami untuk agamamu,  hai Muhammad”.  Mereka tidak mau terima apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.

Berikutnya dalam ayat :Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka  karena keingkaran mereka,  maka sedikit sekali mereka yang beriman.

Artinya, orang Yahudi itu karena merasa dirinya sudah cukup, tidak butuh lagi dengan Nabi Muhammad saw, maka banyak orang Yahudi yang tidak beriman kepada AlQur’an,

Tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, dan tidak beriman kepada Islam.  Kalaupun ada yang beriman hanya sedikit, bisa dihitung dengan jari.  Dan ternyata orang yang beriman ketika itu adalah orang-orang pandai dan cerdas.  Misalnya Abdullah bin Salam, Mu’adz bin Jabal,  Khalid bin Walid, mereka orang Yahudi yang cerdas dan masuk Islam di zaman Nabi Muhammad saw.  Artinya, yang masuk Islam justru orang-orang pilihan (yang cerdas dan pandai).  Yang tidak cerdas dan tidak pandai tetap menjadi Yahudi.

Ayat 89Dan setelah datang kepada mereka AlQur’an dari Allah, yang membenarkan apa yang ada pada mereka.

Maksudnya, AlQur’an tidak menolak isi Taurat, apa yang dalam Taurat diakui sebagai bagian yang ada dalam AlQur’an.

Contoh :  Dalam Kitab Taurat ditetapkan hukum Rajam, ada hukum Qishas di dalam AlQur’anpun ada hukum Rajam dan hukum Qishas. Artinya, AlQur’an mengakui ajaran Taurat.

Berikutnya dalam ayat : Padahal sebelumnya (dahulunya) mereka biasa (sering) memonon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir.

Maksudnya, dahulunya mereka mengharap kedatangan seorang Nabi akhir zaman, yang bernama Muhammad saw, yang membawa keberkahan kepada mereka,  dalam menghadapi kaum musyrikin.  Jadi dahulunya mereka mengakui dan mengharap kedatangan Nabi Muhammad saw.

Berikutnya dalam ayat : Maka setelah datang kepada mereka  apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkart  kepadanya.

Maksudnya, ketika Nabi Muhammad saw belum diutus, mereka (orang-orang Yahudi) itu percaya bahwa Nabi Muhammad saw akan datang,  tetapi begitu Nabi Muhammad saw sudah diutus menjadi Rasul,  sudah hadir, sudah menyampaikan Islam di tengah-tengah mereka,  mereka mengingkari (kafir) kepada Nabi Muhammad saw.  Di sinilah tidak jujurnya orang Yahudi.  Seharusnya, kalau mereka jujur dengan pengakuan mereka, begitu Nabi Muhammad saw diutus dan hadir di tengah-tengah mereka, mereka seharus-nya beriman, masuk Islam.  Mestinya sampai sekarang orang Yahudi itu sudah Islam.

Karena sudah diberitahukan oleh Nabi Musa a.s. bahwa nanti akan diutus seorang Rasul, kalau ia datang dengan ciri sebagaimana disebutkan diatas, maka ikutilah dia.  Sekarang Nabi Muhammad saw sudah datang, sudah hadir di alam dunia, tetapi mereka menolak, mereka kufur.  Tidak jujur lagi Yahudi itu.

Berikutnya dalam ayat : Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang  yang ingkar(kafir) itu.

Maksudnya,  Yahudi (Ahli Kitab) itu dilaknat oleh Allah subhanahu wata’ala dan mereka dicap sebagai Kafir karena menolak Nabi Muhammad saw dan menolak AlQur’an.

Ayat 90 : Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran  kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki  bahwa Allah menurunkan karunia-Nya  kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka  sesudah (mendapat) kemurkaan.

Jadi orang Yahudi mendapat murka Allah berkali-kali.  Ketika Nabi Isa a.s. lahir mereka (Yahudi) tidak mengakui Nabi Isa a.s.   Ketika Nabi Muhammad saw diutus mereka menolak, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jadi mereka berkali-kali dimurkai Allah subhanahu wata’ala.

Oleh karena itu dalam Surat Al Fatihah disebutkan : Ghoiril maghdubi ‘alaihim (Bukan jalan mereka yang Engkau (Allah)murkai, yaitu orang Yahudi). Jadi “Maghdub” dalam Surat Al Fatihah,  yang dimaksudkan adalah  orang Yahudi. Waladhdhoolin (Dan orang-orang yang sesat, Nasrani).  Orang sesat : orang Nasrani.

Akhir ayat : Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

Maksudnya, orang-orang kafir telah disediakan siksa yang menghinakan.  Na’udzubillah min dzalik !.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Orang-orang Nasrani sekarang hanya mengikuti pendahulu mereka dan membaca Injil yang telah diubah.  Artinya, mereka itu tidak tahu bahwa mereka telah dibohongi oleh pendahulu mereka.   Sekarang  bagaimana sebaiknya kita memberi tahu kepada mereka bahwa sebenarnya mereka telah dibohongi.

Jawaban:

Dalam Kitab Minhajul Muslimin, ditulis oleh seorang Imam Masjid Nabawi, diterangkan bagaimana kita orang muslim ber-interaksi dengan orang-orang bukan muslim, seperti orang Yahudi dan Nasrani.  Salah satu di antaranya adalah bahwa bila kita sanggup dan punya kemampuan untuk menginsafkan mereka, silakan mereka diinsafkan.  Jelaskan kepada mereka bagaimana sebenarnya, bahwa mereka itu dibohongi.  Itu bila anda punya kemampuan yaitu anda memiliki sejumlah argumentasi yang kuat.

Bila sekiranya anda tidak punya kemampuan dan tidak bisa mengungguli mereka, maka sikap anda dan kita adalah : Lakum dinukum waliyadin (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum di akhiri marilah kita membaca doa untuk kita semua dan keluarga kita.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim.

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabikalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan.

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma inna nas-aluka syifa-an ‘ajilan

Washihhatan taamman, lana siama

Jamaah Ibu-Ibu Majlis Ta’lim Masjid At Taqwa,

Kemanggisan jakarta Barat,

Wabil khusus Ibu Euis Siti Khadijah binti

H. Muhammad Makmur,

Ibu Tuti Sri Hartawati binti H. Muhammad Makmur,

Yeyek bin H. Dudung,

La syifa-a illa syifa-uka ya Allah,

La syifa-a illa syifa-uka ya Allah,

Syifa-an layughodiru syaqoman.

Robbana atina fidun-ya hasanah

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

_______________

Rabu, 4 Shofar 1431 / 20 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: