Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 83 – 85.

Oleh  Drs. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.


Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kita melanjutkan kajian Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 83 – 85, ayat ini mengandung nilai-bilai yang universal, menyeluruh dan mengandung ajaran yang bersifat global.  Dikenal bukan saja oleh Bani Israil tetapi juga oleh umat Islam.  Karena apa yang diterangkan Allah subhanahu wata’ala dalam ayat-ayat tersebut juga diterangkan kepada umat Islam.

Ayat 83 – 85  :

83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

84. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

85. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat*].

*] Ayat ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, Maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya Kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.

Penjelasan Tafsir.

Ayat-ayat tersebut mengajarkan ajaran global, yaitu ajaran yang bersifat menyeluruh.  Berlaku bukan saja bagi umat Yahudi Bani Israil, tetapi juga bagi umat Islam.

1.  Hidup ini harus diisi dengan beribadah kepada Allah subhanahu wataa’ala.

Ibadah kepada Allah bisa dilakukan dalam tiga hal :

  1. Ibadah Fisik, misalnya : Sholat, shaum (puasa), mengurus keluarga, dst.
  2. Ibadah Psikis, misalnya : Sabar, syukur, tawadhu’ (rendah hati),
  3. Ibadah Harta, misalnya : Zakat, sodaqoh,  infaq dst.

2. Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Allah subhanahu wata’ala dalam ayat ini menggunakan kata “Ihsan” (berbuat baik). Artinya berbuat kepada kedua orang tua tanpa mengaharap balas.  Karena dulu orangtua kita mengurus kita tanpa mengharap balasan apa-apa dari kita. Orang tua kita mendidik kita, membesarkan dan menyekolahkan kita dengan tulus ikhlas tanpa mengaharap balasan apapun.

Sekarang kita sudah dewasa sudah mampu, hendaknya ganti berbakti kepada orang tua. Berbakti kepada orang tua bisa dilakukan ketika orangtua masih hidup. Bagaimana caranya ?  Diajarkan oleh Rasulullah subhanahu wata’ala, misalnya : Hormat kepada kedua orangtua. Kalau berbicara dengan orang tua, anak harus lebih rendah suaranya dibanding orang tua.  Dengan kalimat dan bahasa yang halus. Jangan menyingung hati orangtua.

Ketika orang tua masih hidup, si anak harus mengutamakan orangtua daripada orang lain. Misalnya kita menyediakan makanan dan minuman bagi orang tua, kebetulan anak kita minta makanan itu, beritahu anak tersebut bahwa makanan itu untuk nenek-kakek, tidak boleh dimakan siapa-siapa. Sambil mengambilkan makanan untuk anak kita itu dari tempat makanan yang lain.   Jadi orang tua harus di utamakan (didahulukan).

Berbakti kepada kedua orangtua bisa juga dilakukan ketika orangtua sudah wafat. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada berbakti kepada orang tua kita yang sudah meninggal dengan 4 hal :

  1. Men-sholatkannya ketika orang tua meninggal (sholat jenazah).
  2. Memohonkan ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala
  3. Melaksanakan pesannya. (Misalnya pesan untuk selalu bersilaturahim dengan saudara-saudara kita.  Maka ketika si anak bersilaturahim dengan saudara atau teman orang tua kita, berarti ia berbakti kepada kedua orangtuanya yang sudah wafat).
  4. Memuliakan sahabat dan kerabat orangtua yang sudah wafat.

3. Berbuat baik kepada kerabat.

Yang dimaksud kerabat, menurut Prof. Quraisy Shihab ialah mereka yang punya hubungan darah karena satu rahim (kandungan). Kerabat dekat : kakak – adik.  Kerabat jauh : Saudara sepupu, dst.

4. Berbuat baik kepada anak yatim.

Yatim adalah anak yang belum aqil-baligh yang tidak ber-ayah karena ayahnya mening-gal dunia.  Anak yang sudah diatas aqil baligh tidak termasuk anak yatim.

Berbuat ihsan kepada anak yatim diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala, caranya adalah :

  1. Mendidik dengan baik, dengan didikan Islam, sekolah Islam atau Madrasah serta membiayainya. Anak yang tidak diajarkan agama, maka ia sulit diharapkan menjadi anak yang sholeh. Mungkin ia menjadi anak cerdas tetapi tidak sholeh.
  2. Memenuhi hak mereka. Karena mereka tidak punya ayah, maka biasanya tidak ada yang menjamin  makan-minumnya dan pakaian serta tempat tinggalnya. Maka penuhilah kebutuhan hidup mereka secara wajar.  Paling tidak mereka dibantu sebagian keperluannya, bayaran sekolahnya, atau bagian yang lain.

5.   Berbuat baik kepada orang miskin.

Orang miskin ialah mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih bersabda : “Mengurus, menyantuni armalah (janda) misikin, dan orang-orang miskin adalah bagaikan berjuang di jalan Allah (fissabilillah)”.

Bahkan dalam Hadits yang lain dikatakan : “Mengurus orang miskin bagaikan orang yang sholat malam (tahajud) dan tidak pernah tidurbagaikan orang yang puasa terus-menerus tidak pernah berbuka”.

Maknanya, bahwa peduli  dan menyantuni janda miskin, orang miskin merupakan ajaran yang mulia dari Allah subhanahu wata’ala.

6.  Bertutur, berkata-kata mulia.

Maksudnya, kita diajarkan agar bertutur kata kepada siapa saja dengan kalimat-kalimat yang tidak menyakitkan. Kata-kata yang enak di dengar, lembut dan menarik hati dan baik.  Berbicaralah dengan orang dengan tidak melukai hati atau menyinggung perasaan.

Syukur-syukur kata-katanya itu berupa ajakan untuk mengaji. Maka bila orang yang diajak mengaji itu mau mengaji,  disamping ia berpahala, maka yang mengajak mengaji itu akan mendapat pahala sebesar pahala orang itu. Apalagi orang itu lalu melaksanakan ilmu yang diajarkan dalam pengajian, maka yang mengajakpun akan mendapat pahala sebesar pahala orang itu disamping pahalanya sendiri.

Bertutur mulia, intinya adalah kata-kata yang bermanfaat bagi agama, dunia dan bermanfaat bagi akhirat.

7.  Mendirikan sholat dan menunaikan zakat.

Sholat merupakan Hablumminallah yaitu hubungan antara hamba dan Allah subhanahu wata’ala, manusia melangsungkan komunikasi dengan Allah swt. 

Zakat adalah Hablumminannaas, membangun hubungan antar manusia. Hubungan yang serasi di antara manusia.  Yaitu dengan cara membayarkan zakat (sebagian dari harta yang kita miliki).

Itulah Islam, yang membangun hubungan antara manusia dengan Allah swt dan membangun hubungan antara sesama  manusia.  Membangun hubungan dengan Allah swt disebut Ibadah, dan membangun antara sesama manusia disebut Mu’amalah. Itulah yang disebut sholat dan zakat. Maka dalam AlQur’an  perintah sholat selalu digabung dengan perintah zakat.

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan :

Tetapi ada syaratnya agar amal kita diterima oleh Allah swt,  yaitu :

Dilakukan dengan ikhlas dan khusyu’ .

Ikhlas artinya dilakukan karena Allah swt. Bahwa seseorang itu melakukan sholat dan membayar zakat serta menyantuni anak yatim, fakir-miskin, adalah  semata-mata karena melaksanakan perintah Allah swt,  bukan karena pamrih lain.

Khusyu’ artinya serius, bersungguh-sungguh, tidak setengah-setengah.

Ayat 84 : Berupa larangan-larangan yang bersifat global. Yaitu :

1. Larangan membunuh sesama manusia.

Karena menurut AlQur’an, membunuh seorang sama dengan membunuh satu generasi. Dengan seseorang dibunuh maka potensi mendapat keturunannya menjadi hilang. Ketika orang itu tidak dibunuh, artinya maka akan hidup satu generasi, turun-temurun menjadi banyak. Maka membunuh itu dalam AlQur’an dilarang.   Termasuk aborsi dilarang.

Mulai kapan aborsi itu ?  Apakah semua aborsi (menggugurkan kandungan) dilarang ?  Ada aborsi yang dibolehkan, yaitu untuk kepentingan keselamatan ibu si bayi yang dikandungnya.

2. Larangan mengusir manusia.

Yaitu mengusir sesama umat manausia. Ternyata Yahudi Bani Israil tidak pernah memenuhi janjinya dalam Taurat.  Mereka mengusir orang-orang Palestina.  Yang sebetulnya orang Palestina berhak menempati negerinya yaitu Jericho, Jerussalem, mereka menjadi terusir dan akhirnya menjadi bangsa yang berpindah-pindah.  Pernah orang Palestina pindah di Lebanon, tetapi oleh pemerintah Lebanon mereka diusir. Pindah lagi ke Syiria, oleh Syiria diusir lagi.  Orang Palestina menjadi tidak punya tempat (negeri) karena mereka diusir oleh Yahudi Bani Israil.  Orang Yahudi Bani Israil tidak taat aturan Taurat.

Ayat 85 : Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu  dari kampung halaman,  kamu bantu-membantu terhadap mereka  dengan membuat dosa dan permusuhan.

Maka kita orang beriman tidak boleh bekerjasama dalam membuat dosa dan permusuhan. Kita bahkan sebaliknya dianjurkan untuk bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Kita tidak  mungkin hidup tidak bekerjasama karena kita manusia ini makhluk sosial. Dan kita pasti membutuhkan bantuan orang lain. Kita harus membangun koletivisme dan menjauhkan (menghindari) egoisme kelompok.

Selanjutnya dalam ayat 85 dikatakan : bahwa Yahudi Bani Israil ternyata mengingkari semua ajaran sebagaimana disebutkan diatas.

Dalam ayat :  Tiadalah  balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Maksudnya, karena Yahudi Bani Israil mengingkari janji-jani seperti disebutkan diatas,  maka mereka mendapat balasan :

-          di dunia hidup dalam  kenistaan (hina).

-          di Akhirat akan mendapat siksa yang sangat berat.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Menyantuni anak yatim sampai dengan aqil-baligh.  Tetapi dalam kenyataan kita sering melihat orang menyantuni anak yatim sampai ia sekolah SD, SMP dan SMA. Artinya orang itu menyantuni anak yatim lebih  dari aqil baligh, bagaimana yang demikian itu ?

Jawaban:

Kalau seseorang menyantuni anak yatim lebih dari akil baligh, maka orang itu tetap mendapat pahala, tetapi stataus anak itu bila sudah diatas aqil baligh tidak lagi sebagai anak yatim, tetapi sebagai anak fakir. Kalau orang membantunya tetap akan mendapat pahala (balasan). Karena orang yang membantunya berarti berbuat baik kepada sesama yang tidak berpunya.  Dan kita memang harus membantu dan peduli kepada orang-orang fakir-miskin.

Bahkan Rasulullah bersabda dalam sebuah Hadits shahih : “Aku dan orang yang suka mengurus anak yatim di surga akan seperti ini” (sambil beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah beliau). Artinya orang yang suka menyantuni anak yatim akan bertemu dan hidup berdampingan di surga bersama Rasulullah saw.

Memang dalam prakteknya, anak yatim ada yang bandel, nakal dsb.  Maka si pengasuh anak yatim diminta untuk sabar dan menganggap anak itu sebagai anak sendiri, jangan dibedakan.

Pertanyaan:

Kita dianjurkan untuk bertutur, bergaul dengan baik dengan semua orang, termasuk dengan tetangga.  Bagaimana bila tetangga kita orang Kristen dan merayakan hari Natal, apakah kita boleh mengucapkan selamat Natal, sedangkan mereka ketika Idul Fitri mengucapkan selamat Idul Fitri kepada kita ?

Jawaban:

Tentang ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, ada tiga pendapat ahli hukum Islam. Pendapat pertama, bahwa mengucapkan selamat Natal dan Tahun baru hukumnya haram. Karena dengan mengucap selamat Natal berarti ikut mengakui bahwa Nabi ‘Isa a.s. adalah anak Tuhan.  Disitu haramnya.

Pendapat kedua, mengatakan bahwa mengucap selamat Natal adalah sub-hat. Artinya tidak jelas hukumnya.  Karena di zaman Rasulullah saw tidak ada tradisi mengucapkan selamat natal dan tahun baru. Dan tidak ada Hadits yang secara khusus menyebut (menyinggung) soal ucapan selamat natal.  Karena tidak ada hukumnya, maka hukumnya Sub-hat (tidak jelas).  Karena tidak jelas, sebaiknya dihindarkan.

Pendapat ketiga, mengatakan bahwa mengucap selamat Natal adalah boleh, dengan catatan : Ketika kita mengucapkan selamat Natal dimaksudkan seperti mengucapkan ucapan yang lain, bukan ada kaitan dengan agama, seperti kita mengucapkan selamat naik pangkat, selamat pindah rumah menempati rumah baru,  dan lainnya yang sejenis itu. Dan keyakinan kita tetap mengakui bahwa Nabi Isa a.s. adalah Nabi, bukan anak Tuhan.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang Kristen yang mengantar bingkisan kepada kita kaum muslimin, ketika kita kaum muslim merayakan Idul Fitri.  Bolehkah kita membalas mengantar bingkisan juga ketika mereka selesai merayakan Natal dan Tahun Baru (Tidak tepat harinya, melainkan sesudahnya).

Jawaban :

Dalam kitab Minhajul Muslimin yang ditulis oleh Syaikh Abubakar Al Jazairi, seorang imam besar Masjid Nabawi, beliau mengatakan dalam kitabnya bahwa : Boleh menerima hadiah dari orang bukan Islam, sepanjang tidak mengikat dan boleh memberikan hadiah  kepada mereka.  Misalnya tetangga kita bukan Islam merayakan resepsi pernikahan anaknya, maka datanglah anda sambil memberikan kado/ bingkisan/amplop, maka itu boleh.  Ketika Idul Fitri mereka (orang bukan Islam) mengirim bingkisan (makanan, kue) maka boleh dan terimalah. Tidak mengapa.   Dan boleh membalasnya mengirim bingkisan ketika mereka selesai merayakan Natal dan Tahun baru.

Di dunia ini ada agama Samawi (agama dari langit)  dan agama Wadh’i (agama dari bumi). Agama Samawi adalah semua agama yang diajarkan (dibawakan) oleh semua Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Musa a.s.,  Nabi Isa a.s dan Nabi Muhammad saw.

Pengikut Nabi Musa a.s adalah orang-orang Yahudi, pengikut Nabi ‘Isa a.s,  adalah Nasrani dan pengikut Nabi Muhammad saw adalah Muslimin.   Semuanya itu mengajarkan Tauhid, yaitu mengakui dan menyembah Tuhan yang Esa, yaitu Allah subhanahu wata’ala. Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. tidak pernah menyuruh menyembah yang lain kecuali Allah subhanahu wata’ala. Demikian pula Nabi Muhammad saw.

Artinya Nabi Musa a.s. mengajarkan Tauhid, tetapi setelah Nabi Musa wafat, umatnya sebagian menyeleweng, mengakui bahwa ‘Uzair anak Allah.

Ketika mereka sudah menyeleweng mereka  sudah tidak lagi ber-Tahuid.   Kalau mereka konsisten dengan agama Nabi Musa maka mereka adalah Muslim. Bahkan dalam kitab Taurat disebutkan, Nabi Musa pernah berpesan kepada umatnya, apabila kelak kalian bertemu dengan Muhammad (maksudnya Nabi Muhammad saw) maka ikutilah dia. Karena dia meneruskan ajaranku.   Maka sebetulnya kalau seandainya orang-orang Yahudi jujur, mereka Tauhid. Tetapi mereka kemudian menyeleweng.

Demikian pula orang Nasrani, pengikut Nabi Isa a.s., dalam Surat Maryam disebutkan bahwa Nabi Isa a.s. menyuruh kepada orang-orang Bani Israil : “Hai Bani Israil sembahlah Allah jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, aku hanyalah hamba Allah, aku diberikan kitab (Injil)  dan aku diangkat menjadi Nabi”.

Artinya,  Nabi ‘Isa a.s. mengajarkan agar orang Bani Israil menyembah Allah, tidak menyembah tuhan lain selain Allah subhanahu wata’ala. Itulah ajaran Tauhid, karena Tauhid maka itulah ajaran Islam. Yaitu menyembah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dalam perjalanannya kemudian orang-orang Nasrani menyimpang,  setelah Nabi Isa a.s. diangkat ke langit oleh Allah subhanahu wata’ala. Ketika suatu waktu ada sekelompok orang Ya’qubiyah (Yaqubian), yang mereka adalah Yahudi masuk Nasrani lalu menga-jarkan seperti kepercayaan Yahudi (yang menganggap ‘Uzair anak Tuhan), lalu mengajarkan bahwa Nabi  Isa a.s.  adalah anak Tuhan.  Sejak itu orang-orang Nasrani mengakui bahwa Tuhan ada Tiga : Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Di sinilah menyimpang mereka.

Sementara kita umat Muslimin tidak ikut menyimpang, melainkan kita menghargai, mengikuti  dan menghormati  yang lurus, yang diajarkan oleh Nabi Musa, Nabi ‘Isa a.s. dan Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Maka sebetulnya agama Nabi Musa dan Nabi Isa a.s.  adalah Islam.  Bahkan termasuk Nabi Adam adalah Islam.  Seperti disebutkan dalam AlQur’an : Inna dina ‘indallahil islam (Sesunggunya agama di sisi Allah adalah Islam).  Siapa yang Islam ?  Ialah semua Nabi sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad saw adalah Islam.  Karena ajarannya adalah ajaran Tauhid (Menyembah hanya kepada Allah swt, Yang Maha Esa,  tidak kepada yang lain).

Tidak pernah Allah swt berfirman :  “Hai kamu Isa adalah Nasrani, hai kamu Musa adalah Yahudi” , tidak pernah sama sekali. Maka bila memang mereka (Yahudi dan Nasrani) jujur, seharusnya mereka mengikuti Nabi Muhammad  saw.

Dan dalam AlQur’an Surat  Al Maa-idah ayat 83 – 84 disebutkan bahwa ada juga orang-orang Nasrani yang masuk Islam.  Bahwa orang-orang Nasrani yang jujur mereka mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul.

Contoh : Ada seorang raja Negos (Raja Najasi) dari Yaman yang beragama Nasrani, ketika di datangi oleh delegasi dari Rasulullah saw yang mengajarkan dan mendakwahkan Islam, mereka membacakan AlQur’an Surat Maryam di depan Raja Negos, setelah mendengar itu lalu Raja  Negos itu berkata : “Oh, alangkah serupanya ajaran Muhamamad itu dengan ajaran Isa Almasih.  Dengan ini aku masuk Islam”.

Ada lagi Raja Heraclius (Kaisar Heraclius dari Romawi), yang beragama Nasrani, ketika disampaikan dakwah Islam oleh delegasi yang dipimpin oleh Abu Sofyan dengan dibacakan AlQur’an Surat Maryam, maka Kaisar Heraclius berkata : “Nabimu itu benar”.

Juga Raja Mesir yang bernama Muqaoqis, yang beragama Nasrani ketika itu, disampaikan dakwah Islam, lalu raja itu kagum dengan Nabi Muhammad saw, maka raja itu mengirim hadiah kepada Nabi Muhammad saw di Madinah.  Raja itu mengakui kenabaian Nabi Muhammad saw dan memuliakan Nabi Muhammad saw.

Artinya, raja-raja yang beragama Nasrani tersebut mengakui bahwa Islam itu benar, sesuai dengan ajaran Nabi Isa yang asli yang belum diubah-ubah.  Itulah maka orang Yahudi dan Narani dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala dengan panggilan “Ahli Kitab” (Pemilik Kitab suci).  Yahdi punya Kirab Taurat dan Nasrani punya Kitab Injil.

Jadi hidup saling menghormati dan saling tolong-menolong adalah ajaran Islam. Sampai batas itu saja, tidak sampai kita mengikut upacara peribadatan mereka.  Kita sebagai muslim tidak boleh lalu mengikuti upacara Natal (Kebaktian Natal).  Karena kita sudah bersaksi : La a’budu ma ta’budun.  Lakum dinukum waliyadin (Tidaklah aku menyembah yang kalian sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Demikian juga kita tidak boleh mendo’akan mereka yang sudah meninggal, tetapi kita cukup menghormati saja, ikut berduka-cita kepada keluarganya. Tetapi tidak boleh membaca do’a untuk mereka. Karena semua itu ada aturannya.

Pertanyaan:

Dalam Hadits disebutkan bahwa kita sebagai muslim dilarang ziarah kubur dengan menabur bunga dan membaca Surat Yaasin di atas kuiburan.  Bagaimanakah pendapat Bapak ?

Jawaban:

Di dalam Islam diajarkan tentang adab berziarah kubur  (Adabuzziarah). Setiap orang baik pria maupun wanita boleh berziarah kubur. Haditsnya, Rasulullah saw bersabada : “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah”.

Berdasarkan Hadits tersebut, maka ziarah kubur boleh., bahkan mendapat pahala. Yang tidak boleh bagi wanita adalah mengantar jenazah ke kubur.

Ketika orang berziarah kubur ada tata-caranya.  Yaitu ketika orang itu sampai di depan gerbang lokasi pemakaman, berhenti sebentar lalu membaca do’a :

Assalmu’alaikum ahladiyaar minal mu’minina wal mu’minat  wal muslimina wal muslimat, antum sabiquna wanahnu lahikuna insya Allah

(Semoga kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin  dan kaum muslimin.  Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian.  Kami memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian agar diberi keselamatan  (dari apa yang tidak diinginkan).

Setelah masuk ke dalam areal pemakaman, sampai di depan kubur yang kita ziarahi (misalnya kubur ibu kita), ucapkan : Salamun ‘alaiki ya Fulanah binti Fulan. (Keselamatan semoga dilimpahkan kepada engkau Fulanah binti Fulan (namanya disebut).  Menurut Rasulullah saw, saat itu ruh orang yang sudah meninggal itu dikembalikan ke kubur itu dan ia menjawab salam. Lalu yang berziarah itu mendo’akan untuk orang yang sudah meninggal : “Allahummaghfirlahu. . . . . . dst).

Bolehkah menabur bunga ?   Di masyarakat Arab tidak dikenal tradisi menabur bunga ketika ziarah kubur.  Tetapi di Indonesia ada tradisi menabur bunga.  Apakah ada manfaatnya ?  Ada ahli yang mengatakan bahwa masih ada manfaatnya.  Contohnya Rasulullah saw pernah menancapkan sebatang ranting pohon di atas kuburan.  Ketika ditanya, beliau menjawab : Selama tanaman ini belum kering, ia akan bertasib kepada Allah dan selama tanaman ini bertasbih, ia akan meringankan adzab orang yang dalam kubur ini.

Berdasarkan Hadits tersebut, maka selama bunga yang ditaburkan itu masih segar, bunga itu bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala dan selama bunga itu bertasbih, ia akan meringankan adzab orang yang ada dalam kubur itu.  Begitu pahamnya.

Tentang membaca surat Yaasin di atas kuburan, ini adalah kontroversial (beda pendapat). Silakan anda membaca Kitab Ar Ruh, yang ditulis Ibnul Qoyyim Al Jauzi, di dalam kitab itu diterangkan bahwa membaca Yasin di atas kuburan dengan maksud setelah itu mendo’akan orang yang dalam kubur supaya mendapat ampunan Allah, adalah menjalankan tuntunan agama.

Contoh : Ada seorang pemuda ibunya meninggal lalu hari Jumat ia datang di makam ibunya membaca Yasin.  Setelah selesai lalu ia berdo’a : “Ya Allah, jika bacaan surat Yasin ini Engkau kabulkan, aku mohon ampunilah dosa-dosa orangtuaku ini dan dosa-dosa orang yang dikubur dikompleks pemakaman ini”.   Kemudian ia pulang.

Demikian itu dilakukan pula pada hari Jum’at berikutnya.

Tetapi hari Jum’at ketiga ia tidak datang di kuburan ibunya.  Esoknya hari Sabtu ia didatangi oleh seorang ibu tua. Lalu ia bertanya nama pemuda yang suka membaca Yasin  di kubur ibunya itu, dan ia memperkenalkan bahwa ia seorang yang tinggal agak jauh dari kota Mekkah. Ia berkata : “Semalam aku bermimpi dan aku yakin bahwa  mimpiku itu benar, karena aku tidur dalam keadaan suci. Dalam mimpi itu aku berjumpa dengan anakku yang perempuan yang sudah meninggal lebih dahulu daripada ibumu.  Anak perempuanku itu duduk di atas kuburnya tidak jauh dari kubur ibumu. Bajunya putih bersih, wajahnya cemerlang  dan di atas kepalanya ada mahkota.  Dalam mimpiku aku bertanya kepada anak perempuanku itu : “Sedang apa kamu nak?”. Ia  menjawab : “Aku sedang menungu pemuda yang suka membaca Yasin di atas kubur ibunya. Pemuda itu kembali di hari Jum’at membaca Yasin di atas kubur ibunya, dan do’anya dikabulkan Allah dan orang di kompleks pemakaman itu semua mendapat ampunan Allah berkat do’a anak muda itu”

Maka boleh saja membaca Yasin di atas kubur.

Yang tidak boleh adalah orang datang di kuburan lalu minta doa kepada orang yang ada dalam kubur itu.

Pertanyaan:

Bagaimanakah dengan pendapat bahwa dilarang membaca AlQur’an di atas kubur ?

Jawaban:

Silakan anda membaca Kitab Fatwa Ibnu Taimiyah, di situ dikatakan bahwa berdasarkan Hadits-Hadits Rasulullah  saw yang shahih dengan maksud mendo’akan agar yang meninggal diampuni dosa-dosanya,  maka itu dibolehkan.

Memang ada  yang mengatakan tidak boleh membaca AlQur’an di atas kuburan.  Tetapi sebagian lagi mengatakan boleh.  Ibnu Taimiyah adalah ulama besar dari Syiria.

Tetapi semua terpulang kepada anda, kalau memang anda mengikut pendapat yang tidak membolehkan membaca AlQur’an di atas kubur, silakan tidak usah membaca AlQur’an di atas kubur.  Tetapi bila anda ingin membaca AlQur’an di atas kubur, memang ada dasar argumentasinya.

Pertanyaan:

Bagaimana bila seseorang menawarkan membaca AlQur’an bagi orang yang baru saja meninggal dengan imbalan uang sejumlah sekian rupiah ?

Jawaban:

Yang demikian itu dilarang. Hukumnya haram.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermanfaat.  Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk kita semua dan keluarga. 

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi Ummil Qur’an,

‘Alimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil,

Allahumma inna nas-aluka imanan kaamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma salimna wasallim dinana,

Wasallim auladana, wasallim ahlana,

Wasallim dzurriyatana, lana wala siama

Ibu-Ibu Majlis Ta’lim Masjid At Taqwa.

Kemanggisan,

Robbana atina fi dunya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wasaalmu’alaikum wr. wb.

__________________

Rabu,  13  Muharram 1431 / 30 Desember 2009

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: