Tafsir Surat Al Maa-idah ayat 88 – 89

Drs. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Pada kesempatan ini kita akan mengkaji Surat Al Maa-idah ayat 88 – 89 , dua ayat ini konteksnya berbeda. Ayat 88 merupakan lanjutan ayat sebelumnya yaitu ayat 87 tentang hidup yang baik menurut Islam adalah hidup yang balans (seimbang) antara kebutuhan hidup yaitu makan-minum, berpakaian, bermasyarakat, dan kebutuhan hidup beragama. Bila itu dilakukan dengan seimbang antara ibadah dan muamalah, keluarga dan diri-sendiri, maka itulah ajaran Islam yang benar.  Tidak boleh timpang.

Ayat 88 :

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Ayat 89 :

89. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Penjelasan Tafsir :

Ayat 88 : Ini merupakan perintah Allah subhanahu wata’ala kepada kita manusia agar makan makanan yang halal dan baik. Halal dari aspek hukumnya dan baik dilihat dari substansinya.   Ada juga yang menterjemahkan bahwa “Halal” artinya boleh dan ‘thoyyib” (baik) adalah yang bergizi. Makanlah olehmu makanan yang dibolehkan oleh agama dan mengandung gizi yang baik.

Dan bertaqwalah kepada Allah, maksudnya : Jaga dan peliharalah dirimu dari perbuatan yang Allah tidak suka. Siapakah Allah ?  Ialah yang kamu semuanya beriman kepada-Nya.    Jadi ayat 88 ini mengandung dua pesan dari Allah subhanahu wata’ala :

  1. Makan-minumlah apa yang di-rezki-kan Allah kepada kita manusia,  yang halal dan bergizi.
  2. Bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ayat 88 ini sekaligus membantah apa yang pernah dilakukan oleh enam orang sahabat Nabi Muhammad saw  yaitu ‘Utsman bin Mad’un, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Miqdad bin Aswad, Salim dan Qudamah yang datang menemui ‘Aisyah r.a. (isteri Rasulullah saw) bertanya tentang seperti apa ibadahnya Rasulullah saw.

Maka diceritakanlah bagaimana ibadah Rasulullah saw ketika di rumahnya. Setelah mendengar cerita ‘Aisyah tentang bagaimana ibadah Rasulullah saw, maka berkatalah tiga orang sahabat tersebut.  Yang seorang berkata : “Demi Allah, mulai sekarang aku akan shaum (puasa) sepanjang hari”. Yang seorang lagi berkata : “Demi Allah, aku bersumpah, aku tidak akan menikah sampai mati”. Yang seorang lagi berkata : “Demi Allah, aku bersumpah bahwa aku akan melaksanakan sholat malam (Tahajud) setiap malam”.

Apa yang disampaikan oleh para sahabat tersebut adalah ekstrim (terlalu), walaupun niatnya baik. Karena dengan cara demikian itu mereka mengabaikan rezki Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala telah menyediakan rezki yang halal dan thoyyib. Dengan sumpah seperti tersebut diatas, mereka telah mengabaikan kewajiban kepada isteri dan anak-anaknya.  Dengan sumpah seperti itu mereka telah menjadikan agama menjadi sesuatu yang berat (memberatkan).   Padahal agama yang benar adalah agama yang seimbang.  Yaitu Ibadah – Muamalah – Syahsiyah.

Ibadah kepada Allah swt – Mu’amalah kepada sesama manusia dan Syahsiyah adalah memperhatikan kelestarian hidup pribadi.

Ayat 89 :  Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala tidak akan menyiksa orang-orang yang bersumpah   yang tidak sengaja.  Di negeri Arab sering terdengar orang yang berkata-kata seperti sumpah “Wallohi” (Demi Allah).  Kalau berkata demikian itu karena suatu gaya atau tradisi, kebiasaan mengucapkan “Wallohi”,  bukan bermaksud sumpah, maka mengucap yang demikian itu (yang artinya Demi Allah), orang tersebut tidak terkena siksa (hukuman).  Kesimpulannya : Sumpah yang dilakukan tidak dengan sengaja, dengan menggunakan Nama Allah, tidak kena sanksi.

Tetapi Dia (Allah) akan menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, artinya terkena sanksi.  Sanksinya (kaffaratnya, dendanya) atas sumpah yang dilanggar adalah :

Sanksi alternatif pertama : Memberi makan sepuluh orang miskin. Misalnya ada orang berkata : “Wallohi, besok aku pasti datang”,  ternyata esok harinya ia tidak datang. Maka ia terkena sanksi dan sanksinya seperti tersebut diatas, yaitu memberi makan kepada sepuluh orang miskin.  Untuk seorang miskin adalah satu Mud ( sebanyak 0,7 liter makanan pokok, beras, gandum).

Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, maksudnya makanan yang biasa dimakan  sehari-hari. Misalnya seseorang biasanya makan nasi dari beras Cianjur Slip (kualitas baik), maka jangan memberikan makanan kepada orang miskin beras (nasi) yang lebih rendah dari Cianjur Slip

Sanksi alternatif kedua : Atau memberi pakaian kepada mereka (fakir-miskin), maksudnya, bila tidak bisa memberi makanan, boleh dengan memberi pakaian dan pakaiannya adalah pakaian yang lazim dipakai di masyarakat setempat. Di sini ada perbedaan pendapat (pandangan), tentang berapa orang miskin yang harus diberikan pakaian.

Pendapat pertama, mengatakan : Cukup kepada seorang yang miskin.

Pendapat kedua, yaitu Imam Syafi’i mengatakan : Bukan seorang melainkan tiga orang miskin.  Karena dalam ayat tersebut dipergunakan kata jama’ (kiswatuhum) artinya pakaian lebih dari dua orang.

Sanksi alternatif ketiga : Atau memerdekakan seorang hamba sahaya (budak).

Ini lebih mahal karena seorang budak pada waktu itu harganya seperti seharga seekor unta yang bagus. Sepertinya aneh bila dibandingkan dengan alternatif pertama dan kedua di atas.

Para ahli hukum Islam dengan mengacu tafsir tersebut, mereka mengatakan bahwa ayat 88 ini ingin memberikan keleluasaan kepada Hakim (Hakim Pengadilan Agama) untuk  menetapkan hukum menurut siapa orang yang diberikan ketetapan hukum (divonis) itu.

Kalau yang melanggar sumpah itu seorang raja, presiden, gubernur atau bupati tentu sanksinya tidak sekedar memberi makan kepada sepuluh orang miskin atau memberi pakaian kepada tiga orang miskin.  Itu terlalu ringan, dan menjadi tidak adil.  Untuk seorang raja, atau gubernur, atau bupati yang punya penghasilan besar, punya harta banyak, maka dikenakan sanksi seperti alternatif yang ketiga ini, yaitu memerdekakan seorang hamba sahaya (budak).

Ayat selanjutnya:  Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya  puasa selama tiga hari, maksudnya adalah bagi orang yang terkena sanksi itu tidak bisa (tidak sanggup) memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian kepada tiga orang miskin atau memerdekakan budak juga tidak sanggup,  sanksinya (alternatif keempat), ialah ia disuruh berpuasa (shaum) selama tiga hari berturut-turut.  Artinya Islam sungguh bijaksana, seseorang yang melanggar sumpah tetap dihukum dengan berbagai alternatif, sesuai dengan kemampuan si pelanggar sumpah itu. Allah Maha Adil.

Yang demikian itu adalah kaffarat (denda) sumpah kamu bila kamu bersumpah (dan yang dilanggar), maksudnya, di sini Allah subhanahu wata’ala mengajarkan cara menghukum orang yang melanggar sumpah.

Dan jagalah sumpahmu, maksudnya, kalau kamu bersumpah jangan kamu langgar, tepatilah.

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya), maksudnya, kita disuruh bersyukur karena Allah subhanahu wata’ala karena Dia telah mengajarkan aturan yang demikian fleksibel (luwes), dan amat bijaksana.  Alhamdulillah.

Apa tujuannya orang yang bersumpah dihukum ? Agar orang tidak sembarangan bersumpah, harus berhati-hati berkata-kata, dan orang harus mempertanggungjawabkan ucapannya.  Ucapan orang tidak akan hilang begitu saja, karena di Akhirat harus dipertanggungjawabkan.

Penjelasan Dr. Wahbah Az Zuhaili.

Dalam Tafsirnya Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili menjelaskan ayat 88, bahwa Allah subhanahu wata’ala telah memberikan rezki  kepada manusia   untuk dinikmati, yaitu berupa makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dst, nikmatilah itu, jangan kamu mengharamkan apa yang sudah Allah berikan kepadamu.  Dengan tidak makan (puasa) terus menerus, tidak tidur setiap malam karena memilih ibadah terus menerus, itu tidak baik.  Karena Nabi Muhammad saw juga mengatakan : “Aku ada waktunya tidur, tetapi juga ada waktu untuk sholat Tahajud.  Aku juga menikah seperti halnya laki-laki lain”.

Artinya, Nabi Muhammad saw mem-posisikan diri beliau sebagaimana manusia yang mempunyai kelebihan.  Sebagai manusia beliau juga sama dengan kita. Tetapi beliau diberikan kelebihan berupa Ar Risalah An Nubuwah (Kerasulan dan Kenabian).

Sedangkan kita manusia biasa tidak dalam posisi seperti Nabi/Rasul.  Karena tidak mungkin.  Allah subhanahau wata’ala memberikan kepada Nabi Muhammad saw kelebihan kemampuan dibandingkan rata-rata orang biasa.   Walaupun beliau makannya biasa, tetapi beliau dicukupkan oleh Allah subhanahu wata’ala.  Walaupun tidur beliau di waktu malam hanya sebentar, tetapi beliau diberi kemampuan lebih kepada beliau untuk sholat malam.   Kita, paling sedikit bisa meniru beliau. Kalau beliau sholat malam, kitapun sholat malam, hanya mungkin jumlahnya tidak sama dengan Nabi Muhammad saw.  Kalau Nabi Muhammad saw dari jam 02.00 malam, kita cukup dari 03.30 (setengah empat) pagi. Lalu diteruskan dengan sholat Subuh berjamaah di masjid/mushola.

Sahabat-sahabat Nabi saw seperti ‘Utsman bin Mad’un dkk, ingin meningkatkan kemampuannya seperti Nabi Muhammad saw, yang secara fisik tidak mungkin bisa.  Maka yang wajar saja, seperti dalam ayat tersebut dikatakan :  Makanlah apa yang direzki-kan oleh Allah kepada kamu yang halal dan thoyyib.

Seperti apa Nabi Muhammad saw makan ?  Ternyata beliau makan seadanya. Apa yang ada di rumah, itulah yang beliau makan. Beliau tidak pernah mencari-cari makanan yang tidak ada di rumah beliau.  Apa yang disediakan oleh isterinya, itulah yang beliau makan.

Kadang-kadang beliau makan makanan yang paling baik, seperti daging kambing. Dan daging kambing yang beliau makan adalah bagian paha kambing. Kadang-kadang juga makan roti yang terbuat dari gandum. Maka dalam Hadits dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw makan dengan tiga jari, karena yang dimakan adalah roti, bukan nasi seperti kita di Indonesia.

Maka ketika belajar Hadits harus dipahami secara kontekstual, atau tekstual  atau esensial.  Kalau Nabi Muhammad saw makan dengan tiga jari, karena yang beliau makan adalah roti yang terbuat dari gandum, maka cukup dengan tiga jari.

Nabi Muhammad saw kadang-kadang juga lapar.  Dalam suatu riwayat Hadits dikatakan bahwa pernah Nabi Muhammad saw dua hari –  dua malam tidak makan, karena memang tidak punya makanan. Kata ‘Aisyah r.a (isteri beliau) pernah ia dan Nabi Muhammad saw pernah dua hari – dua malam tidak makan, hanya minum air saja.  Dan beliau tidak mau minta kepada orang lain.  Padahal kalau beliau mau, beliau bisa minta bantuan kepada sahabat yang lain seperti Utsman bin ‘Afffan atau Abdurrahman bin Khauf yang orang kaya pada waktu itu, pasti akan dibantu dan disediakan berapapun keperluan beliau.  Tetapi memang Nabi Muhammad saw tidak mau minta bantuan.

Mengapa Nabi saw kadang kenyang tetapi kadang juga lapar ?  Nabi Muhammad saw melakukan seperti itu untuk menjadi qudwah (anutan, contoh), bahwa bagi orang yang hidupnya dalam kemampuan bisa mencontoh Nabi Saw, demikian pula orang yang tidak mampu juga bisa mencontoh Nabi Saw.

Beliau terkadang memerankan sebagai orang yang tidak mampu, tetapi terkadang memerankan orang yang mampu, makan dengan kenyang, dst.

Dalam Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa orang yang bangun pagi aman terhadap kejahatan lingkungannya, sehat badannya, makanan tersedia untuk hari itu,  orang seperti itu bagaikan dilimpahkan dunia beserta isinya”.

Maka bagi kita yang sekarang bangun pagi merasa aman, badan sehat, makanan selalu ada bahkan selalu terjamin hidupnya tidak akan kelaparan, maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan sujud kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena tiga unsur tersebut yaitu aman, sehat dan tersedia makanan, adalah penopang hidup sejahtera. Kalau sudah tercukupi ketiga unsur tersebut, maka tidak ada alasan untuk tidak mau sholat.

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bercerita bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihin wasallam bila minum, paling senang beliau meminum air yang dingin dan manis. Artinya bukan air panas.

Para ahli tafsir mengatakan bahwa sumpah ada tiga macam, yaitu :

  1. Sumpah yang tidak sengaja.
  2. Sumpah yang disengaja (yang ini terkena kaffarat, denda).
  3. Sumpah palsu (yang ini diancam Neraka Jahanam), misalnya ketika jual-beli, atau sumpah para pejabat.

Catatan Dr. Wahbah Az Zuhaili :

  1. Sumpah dalam Islam adalah peneguhan komitmen dari seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala untuk melakukan sesuatu.  Dengan mengucapkan sumpah, seseorang meneguhkan komitmen-nya kepada Allah subhanahu wata’ala. Karenanya melanggar sumpah adalah mencederai akhlak yang terpuji dan itu bukan ciri orang beriman.
  2. Islam dengan aturannya dalam AlQur’an sangat luwes (fleksibel)  Karenanya ia memberikan alternatif pilihan apabila seseorang terpaksa melakukan kesalahan karena sumpah.  Dan alternatif pilihan sanksi itu sesuai kemampuan orang yang bersangkutan. Walaupun demikian, jagalah sumpahmu kepada Allah subhanahu wata’ala.
  3. Sumpah,  baru disebut ibadah kalau menggunakan Nama Allah subhanahu wata’ala. Sumpah yang tidak menggunakan Nama Allah dikategorikan sebagai maksiat. Misalnya, orang bersumpah dengan Ka’bah : “Wabil Ka’bah”, dst, ini tidak boleh, hukumnya haram.  Atau orang bersumpah : “Wallohi warrasul” ini juga tidak boleh.  Cukup dengan “Wallohi”, tidak ada “warrasul”.

Tanya-Jawab.

Pertanyan :

Dalam AlQur’an Allah subhanahu wata’ala sering bersumpah dengan nama benda ciptaan-Nya, itu bagaimana ?

Jawaban:

Bila Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan nama benda atau makhluk, dalam Tafsir dikatakan bahwa Allah ingin agar manusia memperhatikan apa yang disumpahkan.

Misalnya : “Wal ‘Ashri” (Demi masa, waktu), maksudnya agar manusia memperhatikaan soal waktu, karena waktu atau masa itu tidak bisa berulang.  Atau “Wasyamsi” (Demi matahari), artinya: Perhatikan matahari.  Matahari itu manfaatnya besar, pelajarilah, kajilah tentang matahari.   Maka orang lalu mempelajari segala sesuatu yang terkait dengan matahari.

Pertanyaan :

  1. Tentang membayar kaffarat, kapankah pelaksanaannya, sesudah melanggar atau ditunda beberapa hari ?
  2. Para sahabat yang mendatangi rumah Rasulullah saw seperti dijelaskana diatas sebanyak enam orang, tetapi baru disebutkan tiga orang yang akan melakukan ibadah terus menerus. Lalu sahabat yang lain dari enam orang itu bagaimana, kenapa tidak disebutkan  mereka ingin ibadah apa ?

Jawaban:

  1. Membayar kaffarat adalah seketika begitu ia sadar bahwa ia telah melanggar sumpahnya sendiri, maka segera langsung dilakukan membayar kaffarat.
  2. Sahabat yang mendatangi rumah Rasulullah saw ada 6 orang, tetapi disebutkan yang akan melakukan ibadah terus menerus hanya tiga orang.  Yang 3 orang lagi lainnya, tidak disebutkan. Karena yang tiga orang yang sudah disebutkan itu sudah dianggap mewakili yang lain. Yang seorang berjanji akan sholat malam (Tahajud) sepanjang masa,  seorang lagi akan puasa sepanjang hari dan seorang lagi tidak akan menikah selamanya. Itu mengingkari fitrah manusia, tidak cocok dengan fitrah manusia, jangan melakukan seperti itu.

Pertanyaan:

Bagaimana bila ada seorang ulama yang tidak mau menikah karena khawatir bila menikah ibadahnyaa akan terganggu ?

Jawaban:

Tidak ada ke-padri-an dalam Islam.  Maksudnya, Islam tidak mengajarkan agar hidup seperti padri (pastur), yang tidak menikah selamanya.  Maka sebagai muslim menikahlah.

Karena semua Nabi dan Rasul menikah, kecuali Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Maka Rasulullah saw bersabda : “Nikah itu adalah sunnahku, siapa yang tidak mau mengkuti sunnahku maka ia bukan termasuk dalam kelompok umatku”. Berangkat dari Hadits tersebut, maka sebaiknya anda menikah.

Kalau ada seorang ulama yang tidak mau menikah, tanyakan ke-ulama-annya.  Atau mungkin kita yang salah memahaminya.  Kalau ada seorang ulama berilmu tinggi, menguasi ilmu, pasti ia menikah.  Mungkin kita yang salah menilainya. Atau kita salah memandangnya, karena tidak selalu orang yang bersurban tebal pasti ia ulama, belum tentu.  Tetapi yang pasti bahwa ulama yang berilmu tinggi tidak akan beramal yang bertentangan dengan Hadits-Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Atau mungkin ada sebabnya mengapa seseorang itu tidak menikah. Kalau penyebabnya itu bisa kita pahami, dan sesuai dengan syari’at, maka bisa kita katakan bahwa seseorang itu tidak menikah, bukan karena menentang Hadits Rasulullah saw, melainkan karena ada penyebabnya.  Jadi jangan cepat-cepat membuat stigma, sebelum diteliti lebih jauh.

Sekian bahasan Tafsir, mudah-mudahan bermanfaat.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Alimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal ‘afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahumakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

______________

Kamis malam, 22  Muharram 1431 – 7 Januari 2010

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: