Hadits Bab Penjelasan Banyaknya Jalan Kebajikan

Kitab Riyadhushsholihin.

Oleh Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Melanjutkan kajian Hadits, maka kali ini kita akan mengkaji Hadits Bab Penjelasan Banyaknya Jalan Menuju Kebajikan, dari Kitab Riyadhushsholihin.

Bismillahirrohmanirrohim.

Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 215 :

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.


Kebaikan apapun yang kamu kerjakan sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya.

Surat Al Baqarah ayat 197 :

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

Surat Al Zalzalah ayat 7 :

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.


Surat Fushshikat  ayat 46 :

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya.


Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka pahalanya untuk dirinya sendiri.


Keterangan.

Hadits Bab yang menjelaskan banyaknya jalan menuju kebaikan(kebajikan) adalah seperti yang disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 215“Kebaikan apapun yang kamu sekalian kerjakan maka sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya”.

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala ingin menampilkan bahwa Allah Maha Mengetahui.  Pengetahuan Allah tidak terbatas.  Allah mengetahui sampai yang sekecil-kecilnya, sehalus-halusnya.  Maknanya, Allah subhanahu wata’ala akan membalas setiap perbuatan kebaikan kita.

Ayat berikutnya : “Kebaikan apapun yang kamu sekalian kerjakan niscaya Allah mengetahuinya”.

Maka bila kita berbuat baik meskipun di tempat yang paling tersembunyi sekalipun, Allah subhanahu wata’ala pasti tahu.  Tentu Allah akan membalasnya dengan pahala.  Misalnya anda bersodakoh, atau sholat malam (Tahajud), meskipun tidak ada orang yang tahu, tetapi Allah subhanahau wata’ala pasti tahu.  Maka anda tidak usah khawatir amal anda tidak akan dibalas. Pasti dibalas oleh Allah subhanahu wata’ala.

Ayat berikutnya : “Barangsiapa yang berbuat kebajikan walaupun hanya sebesar atom niscaya ia akan melihat balasannya”.

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah Maha Adil.  Setiap orang yang berbuat baik pasti dibalas.  Tidak ada yang tidak dibalas.

Ayat berikutnya :  “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih  maka pahalanya untuk dirinya sendiri”.

Artinya, bila anda beramal shalih, maka untungnya, manfaatnya, faedahnya kembali kepada anda.   Karena Allah Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Gagah, Ia tidak membutuhkan dengan amal kita.  Karena Dia (Allah) tidak membutuhkan, maka yang mengambil manfaat dari amal sholih itu adalah pelakunya dan pelakunya adalah kita. Maka karena hidup di dunia ini hanya satu kali, pergunakan hanya untuk beramal shalih.

Pelajarannya yang bisa kita ambil adalah  Allah subhanahu wata’ala :

  1. Punya Dzat,
  2. Punya Sifat,
  3. Punya Perbuatan.

Allah punya sifat yang banyak sekali, diantara sifat-Nya yang banyak itu ada tiga yang utama :

  1. Allah Maha Mengetahui,
  2. Allah Maha Melihat,
  3. Allah Maha Mendengar.

Allah Yang Maha Mengetahui, mengetahui apa yang kita perbuat.  Kita berbuat baik atau tidak baik, Allah pasti tahu.  Walaupun di tempat yang paling tersembunyi, Allah tahu. Karenanya, maka Allah akan me-respons perbuatan kita, yaitu dengan membalas kebaikan kita.    Bentuk bahwa Allah tahu akan perbuatan kita,  maka Allah memberikan balasan (ganjaran).

Balasan ada dua macam :

  1. Membalas dengan kebaikan.
  2. Membalas dengan keburukan.

Allah membalas dengan kebaikan, karena Allah ingin menampilkan sifatnya Yang Maha Adil. Demikian pula perbuatan buruk (jahat) dibalas dengan keburukan (neraka) karena Allah menampilkan Sifat-Nya Yang Maha Adil.   Dua Sifat tersebut menampilkan nuansa adil.

Bagaimana implikasinya bagi kita bahwa Allah Maha Melihat (Bashirun)?

Kalau kita sadar bahwa Allah Maha Melihat, artinya bahwa semua perbuatan kita selalu dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala. Maka sikap kita yang paling bagus adalah konkordans (menyesuaikan) perilaku kita dengan Sifat Allah itu yaitu :

Thaat (patuh) kepada Allah subhanahu wata’ala. Orang yang menyesuaikan perilakunya dengan Sifat Allah Yang Melihat disebut beramal sholih. Dan siapa yang beramal sholih maka yang beruntung adalah orang itu sendiri. Seperti disebutkan dalam Surat Al Kahfi ayat 110 : “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah maka hendaklah ia mengerjakan amal-sholih”.

Ketika kita sadar bahwa Allah Maha Mendengar (Sami’un), maka kita berusaha menyesuaikan ucapannya (perkataannya) dengan kesadaran itu.  Kita berkata benar atau tidak benar Allah pasti mendengar.   Maka lebih baik kita bicara benar (jujur) saja. Orang yang jujur pasti mujur.

Contoh: Nabi Muhammad saw adalah orang yang jujur, sejak masih kecil, masih muda beliau memang terkenal dengan kejujurannya.  Ketika beliau masih muda, orang Mekkah semua tahu bahwa beliau adalah anak-muda yang jujur.  Banyak para pedagang di Mekkah ketika hendak berniaga ke Syam atau ke Yaman,  barang-barang berharga, emas, uang dan sebagainya dititipkan kepada Muhammad muda, dan selalu aman, tidak berkurang, tidak ada yang hilang. Semua aman.  Maka beliau disebut Al Amin, artinya aman, dipercaya.   Ketika beliau menginjak usia dewasa beliau, beliau dititipi dagangan oleh Siti Khadijah untuk di jual ke Yaman, ke Bahrain, ke Syam (Syiria), karena dijual dengan sejujurnya, selalu mendapat untung besar, dan beliau mendapat hadiah dari orang-orang yang menitipkan dagangannya kepada beliau.

Dan setelah beliau diangkat menjadi Nabi, maka Allah subhanahua wata’ala memperkaya beliau, yang tadinya beliau miskin.  Seperti disebutkan dalam Surat Adh Dhuha ayat 8 :

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Maka Nabi Muhammad saw diperkaya oleh Allah subhanahu wata’ala karena beliau jujur.  Kalau demikian Kejujuran (jujur) adalah muncul dari sifat Sami’un (Allah Maha Mendengar).

Hadits-Hadits yang membicarakan masalah ini sebenarnya banyak sekali, tetapi di sini hanya akan dikutipkan beberapa saja, di antaranya :

Hadits ke-1  :

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah rodhiyallahu ‘anhu berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah  saw:  “Wahai Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling utama ?”.  Beliau menjawab : “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya”.   Saya bertanya : “Memerdekakan budak yang macam apakah yang paling utama ?”.  Beliau menjawab : “Memerdekakan budak yang paling disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya”.   Saya bertanya : “Seandainya saya tidak mampu berbuat seperti itu lalu bagaimana?”.  Beliau menjawab : “Kamu membantu orang yang  bekerja atau kamu menyibukkan diri agar tidak sia-sia hidupmu”.  Saya bertanya lagi : “Wahai Rasulullah bagaimana seandanya saya tidak mampu untuk melakukan sebahagian dari perkjaan itu?”  Beliau menjawab : “Janganlah kamu berbuat kejahatankepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk shodakoh pada dirimu”.

(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Abu Dzar nama lengkapnya adalah Abu Dzar Al Jundub  Al Ghifari, ayahnya bernama Junadah pernah bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam Hadits tersebut. Yang ditanyakan adalah tentang “Amal yang utama”. Karena ada amal yang biasa saja, disebut amal yang sah dan ada amal yang utama.

Amal yang sah adalah amal-pernbuatan yang sekedar memenuhi syarat dan rukunnya, sudah.  Misalnya sholat fardhu, selesai salam lalu sudah. Sedangakan amal yang afdhol (amal yang utama) adalah bukan sekedar melaksanakan sholat dengan syarat dan rukunnya dijalankan dan sunnah-sunnahnya di penuhi, tetapi juga waktunya diperhatikan, yaitu sholat di awal waktu, dilaksanakan dengan khusyu’ dan berjamaah.

Kalau disebut “Amal yang paling utama” artinya pertanyaan Abu Dzar itu adalah : Manakah amal yang paling besar balasannya dari Allah subhanahu wata’ala”.

Maka dijawab oleh Rasulullah saw : “Iman yang paling besar adalah iman kepada Allah dan berjuang (berjihad) di jalan-Nya”.

Mungkin seseorang mempunyai kekayaan harta yang banyak sekali, tanahnya luas berhektar-hektar, tetapi semuanya itu tidak akan bisa menolongnya di akhirat, kalau ia tidak punya Iman. Sebaliknya bila seseorang punya Iman dan punya harta walaupun tidak seberapa, maka harta yang dimilikinya akan dibimbing oleh Iman-nya, sehingga harta yang dimilikinya itu bermanfaat.

Bila harta dan kekuasaan tidak disertai Iman, maka akan terjadi penyalah-gunaan harta atau penyalah-gunaan kekuasaan.  Karena tidak dipakai (digunakan) atas dasar Iman. Kalau demikian, maka Iman adalah mahal.

Selanjutnya sabda Rasulullah saw : Iman itu harus dipraktekkan, yaitu dengan Berjihad di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Berdasarkan Hadits tersebut maka amal yang utama adalah :

  1. Iman kepada Allah subhanahu wata’a’ala.
  2. Jihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah subhanahu wata’ala.
  3. Beramal untuk kesejahteraan diri baik di dunia maupun bekal di akhirat.
  4. Menahan diri dari berbuat jahat.

Jihad artinya bersungguh-sungguh.  Yaitu bersungguh-sungguh beramal karena Allah subhanahu wata’a’ala. Misalnya anda melakukan sholat, sholatnya karena Allah dan dengan bersungguh-sungguh.  Waktunya diperhatikan, yaitu sholat di awal waktu. Bagi laki-laki sholatnya berjamaah di masjid/musholla.  Kalau ia seorang isteri, ia melayani suami dengan baik. Itulah jihad.  Jihad itu maknanya luas, bukan hanya berarti perang.

Selanjutnya Abu Dzar betanya : “Wahai Rasulullah, memerdekakan budak yang macam apa yang paling utama ?”.  Rasulullah saw menjawab : “Memerdekakan budak yang paling disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya”.

Maksudnya,  zaman dahulu (zaman Jahiliyah) di Arab ada kebiasaan orang-orang kaya memelihara budak (hamba sahaya).  Dan budak itu bisa diperjual-belikan.  Bila orang datang di pasar,  bukan hanya membeli barang-barang kebutuhan pokok, tetapi juga bisa membeli (memilih) mana budak yang bisa dibeli dan disukai.  Di pasar itu juga diperjual-belikan budak-budak.  Tanda budak ketika itu (yang laki-laki hanya memakai celana sebatas lutut dan tidak berbaju.  Perempuan memakai baju tetapi celananya hanya sebatas lutut. Dalam Hadits dikatakan bahwa hamba sahaya (budak) ketika itu setara dengan harga unta. Bila budaknya dinilai bagus maka sama dengan harga unta yang paling mahal. Bila diukur dengan zaman sekarang, maka harga budak sama dengan kendaraan (mobil) yang paling mahal.   Apalagi budak itu disayang oleh majikannya dan paling tinggi harganya. Itulah budak yang paling mahal.

Abu Dzar bertanya lagi : “Ya Rasulullah, seandainya saya tidak mampu berbuat seperti itu lalu bagaimana?”.   Rasulullah saw menjawab : “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar tidak sia-sia hidupnya?”.

Abu Dzar bertanya lagi : “Ya Rasulullah, bagaimanakah seandainya saya tidak mampu untuk melakukan sebagian dari pekerjaan itu ?”. Rasulullah saw menjawab : “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk shodakoh pada dirimu”.

Maksudnya, manahan diri dari berbuat jahat kepada orang. Itu merupakan shodakoh.  Kalau kita tidak bisa membantu orang, atau berbuat baik kepada orang, maka paling tidak kita tidak berbuat jahat kepada orang lain.  Itupun merupakan shodakoh.

Artinya, perbanyak berprestasi dalam kehidupan ini. Paling tidak adalah tidak berbuat kejahatan, atau menyakiti orang lain baik dengan kata-kata atau perilaku.

Hadits ke-2:

Dari Abu Dzar rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Setiap pagi tiap-tiap ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kamu sekalian harus dikeluarkan shodakohnya.  Setiap tasbih (ucapan Subhanallah) adalah shodakoh, setiap tahmid (ucapan Alhamdulillah) adalah shodakoh, setiap tahlil  (ucapan Lailaha illallah) adalah shodakoh, setiap takbir (ucapan Allahu Akbar) adalah shodakoh, menyuruh untuk berbuat baik adalah shodakoh,  mencegah dari perbuatan munkar adalah shodakoh dan semua itu bisa diganti dengan dua rokaat sholat Dhuha

(Hadits Riwayat Imam Muslim).

Sebagaimana kita ketahui bahwa tubuh manusia, terdiri dari ruas-ruas tulang, dan jumlah tulang tubuh kita (manusia) adalah 360 ruas tulang.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits tersebut :  “Maka tiap-tiap uacapan tasbih yang kamu ucapkan adalah shodakoh bagimu”. Maksudnya setiap gerakan anggota tubuh ketika mengucapkan Tasbih (ucapan Subhanallah)  sama dengan bershodakoh. Tiap-tiap Tahmid (ucapan Alhamdulillah) adalah shodakoh. Tiap-tiap Tahlil (ucapan Lailahaillah ) adalah shodakoh. Dan tiap-tiap Takbir (ucapan Allahu Akbar) adalah shodakoh. Juga mengajak orang untuk berbuat baik merupakan shodakoh. Dan mencegah orang berbuat mungkar-pun merupakan shodakoh.

Misalnya,  anda mengajak teman untuk ikut pengajian, dan teman anda mau ikut mengaji, maka anda sodah dianggap bersodakoh. Dan setiap teman anda itu ikut pengajian, maka anda akan mendapat pahala sebesar pahala teman anda itu ketika mengaji.  Jadi anda mengajak berbuat baik kepada orang lain, maka itu merupakan shodakoh, pahalanya besar.

Mencegah orang berbuat munkar juga shodakoh.  Misalnya anda mengingatkan teman anda untuk tidak suka ngerumpi (menjelek-jelekkkan orang lain), maka anda sudah seperti bersodakoh. Dan bila teman anda itu berhenti dari  ngerumpi (ghibah, menjelek-jelekkan orang lain) maka anda mendapat pahala shodakoh.

Dan bila semua itu tidak bisa anda lakukan, anda tidak sempat bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir, serta tidak sempat mengajak orang berbuat baik dan mencegah orang berbuat mungkar, semuanya itu tidak sempat anda lakukan, maka cukup memadai kalau anda melakukan sholat Dhuha dua rokaat saja.

Dari Hadits tersebut maka dapat kita ambil pelajaran :

  1. Shodakoh dengan lisan paling sedikit ada tiga macam, yaitu membaca Tasbih, Tahmid, Ahlil dan Takbir. Termasuk juga do’a, Tilawah (membaca AlQur’an), Munajat, Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak orang berbuat baik dana mencegah perbuatan muinkar).
  2. Shodakoh dengan Ilmu : Mengajar dan  belajar.
  3. Shodakoh dengan Badan (beramal sholih: Sholat Dhuha).

Dan sholat Dhuha dianggap memadai bila kita tidak sempat Tasbih, dll seperti yang tersebut diatas. Sholat Dhuha paling sedikit dua rokaat dan paling banyak delapan rokaat. Dilakukan waktunya antara jam 08.00 sampai jam 11.00.  Rasulullah saw selalu mengerjakan sholat Dhuha meskipun sedang dalam perjalanan (meskipun sedang di atas punggung unta). Dan sholat Dhuha akan menghasil tambahan rezki.

Do’a sholat Dhuha :   Allahumma inkana rizkqi fissamaa’i fa anzil-hu,

Wa inkana fil ardh  fa akhrij-hu,

Wa inkana mu’siron fa yassir-hu,

Wa inkana haroman fa thohir-nu,

Wa inkana ba’idan fa qorib-hu,

Ya Allah, jika rezqi-ku masih di atas langit, turunkanlah,

Dan jika masih di dalam bumi, keluarkanlah,

Dan jika masih jauh, dekatkanlah,

Dan jika sukar mudahkanlah,

Dan jika haram, sucikanlah.

Maka bila anda mau mengerjakan Sholat Dhuha, itu akan bagus sekali, rezki anda akan selalu mudah. Dan lakukanlah shoplat Dhuha setiap hari, jangan sampai tidak.

Surat yang dibaca dalam sholat Dhuha adalah Surat yang sekiranya mudah anda baca (hafal), Surat apa saja.

Tetapi bila anda ingin memilih maka: Rakaat pertama membaca Surat Wasysyamsi. Rakaat kedua : Surat Adh Dhuha, lalu salam. Bila ingin dilanjutkan, maka rokaat ketiga : Membaca surat Alam Nasyroh, Rokaat keempat : Surat Surat Al Fiel (Alam Taro).  Rakaat ke lima : Membaca Surat At Tiin (Wattini). Rokaat ke-enam membaca : Surat Al Qadar (Inna Anzalnahu).  Rokaat ke tuju : Surat Al Zalzalah (Idzazul), dan rokaat ke-delapan : Surat Al ‘Aadiyaat (Wal ‘Aadiyati).

Kalau tidak hafal membaca Surat-Surat tersebut, maka boleh  anda membaca Surat apa saja yang anda hafal.   Misalnya anda hanya bisa membaca Surat Qulya dan Surat Qul-hu saja (Surat Al Kafirun dan Surat Al Ikhlash) saja, maka baca itu saja berulang-ulang tidak mengapa.

Pertanyaan:

Kami suka membaca surat (ayat)  yang ada Asmaul Husna (Surta Al Hasyr  ayat 18-24 dan ayat Kursi dalam sholat, baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnat. Bolehkah ?

Jawaban.

Boleh anda membaca ayat-ayat tersebut.  Tetapi urutannya jangan terbalik.  Hendaknya Ayat Kursi (Al Baqarah ayat 255) lebih dulu, barulah pada rokaat kedua membaca  Surat Al Hasyr ayat 18  –  24  (akhir ayat).

Hadits Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang membaca ayat Kursi sekali di rumahnya, maka rumah itu akan dijauhkan dari syaithon selama tigapuluh hari.  Dan barangsiapa membaca ayat Kursi dalam sholatnya, maka ia tidak akan ditolak masuk surga”.

(Hadits Shahih diriwayatkan oleh  Imam Muslim).

Hadits Rasulullah saw, bersabda : “Siapa yang membaca Surat Al Hasyr ayat 18 – 24  maka Allah subhanahu wata’ala menurunkan tujuhpuluh ribu malaikat”.

Maksudnya, malaikat yang tujuhpuluh ribu itu mendo’akan supaya orang yang membaca ayat tersebut diampuni dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wata’ala.  Maka silakan anda membaca ayat tersebut ketika  sholat Fardhu atau sholat Sunnat.

Dan membaca surat ketika sholat hendaknya urut sesuai dalam Mushaf AlQur’an.  Karena bila terbailk-balik urutannya hukumnya menjadi makruh.

Pertanyaan:

Disebutkan diatas tentang budak (hamba sahaya).  Bagaimanakah menurut Islam apakah perbudakan itu dibolehkan dalam Islam?

Jawaban:

Islam diturunkan untuk menyebar-luaskan kebaikan, kebajikan, kehidupan yang mulia, kehormatan.  Ketika dalam masyarakat terjadi perbudakan, maka perbudakan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, tidak sesuai dengan peri kemnusiaan.

Karenanya, Islam diturunkan untuk membebaskan perbudakan.  Islam anti perbudakan. Sehingga bila ada orang yang berstatus budak, maka hendaklah ia dibebaskan, dimerdekakan, kalau perlu dibayar (ditebus) dan dimerdekakan.

Sekian bahasan kali ini mudah-mudahan bermanfaat.  Sebelum di akhiri, marilah kita membaca do’a untuk kita semua dan keluarga.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim.

Allahuma bihaqqil Qur’an.

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammdin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,

Wa’alimna ta’wil wahdina ilassawa-issabil,

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal ‘afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannar.

Allahummakhtimlana bihusnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma robbana wafiqna li tho’atika,

Wa atmim taqshirona wa taqobbal minna,

Robbana atina fiddun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

________________

RISALAH PENGAJIAN IBU-IBU MAJLIS TA’LIM

MASJID AT-TAQWA KEMANGGISAN JAKARTA

Hari, Tanggal  :  Rabu, 10 Rabi’ul Awal 1431

24 Februari 2010



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: