Surat Al Maa-idah ayat 85 – 87

Oleh  Drs. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Bahasan Tafsir AlQur’an kali ini adalah tentang Surat Al Maa-idah ayat 85 – 87

Ayat 85 – 86 – 87 :

85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).

86. Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.

87. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Penjelasan Tafsir.

Ayat 85 :

Maka Allah memberikan mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan –

Yang dimaksud “mereka” dalam ayat tersebut diatas adalah pendeta-pendeta Nasrani yang kemudian beriman kepada Allah subhanahu wata’ala setelah mendengar Surat Maryam dibacakan kepada mereka oleh utusan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka menjadi beriman karena ternyata isi Surat Maryam yang dibacakan itu seperti yang diajarkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Disebabkan apa yang mereka ucapkan, yaitu mereka mengucapkan (seperti dalam ayat 83) : “Ya Tuhan kami,  kami telah beriman  maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran AlQur’an dan kenabian Muhammad saw)”.

Karena ucapan seperti itu, Allah memberikan pahala kepada mereka (para pendeta Nasrani).

Berapa besar pahalanya ?  Dalam ayat 85 tersebut : (Yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya – Bukan jumlah melainkan kualitas.  Kalau jumlah, berarti ada batasanya, sedang kualitas menunjukkan ketinggian.  Surga yang dimaksud adalah banyak, lebih dari satu surga.  Dalam keterangan riwayat yang lain, ketika Nabi Muhammad saw ditanya berapa luasnya surga, beliau bersabda : “Surga itu luasnya adalah seluas langit dan bumi”.

Disebutkan “sungai-sungai” berarti sungainya lebih dari satu, banyak sungai.

Yang harus kita pahami adalah, bagi masyarakat Mekkah dimana ketika ayat tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, mereka tidak biasa melihat rumah yang sekelilingnya ada air atau sungai mengalir, dengan suara gemericik dengan hijaunya pohon-pohonan yang lebat.  Maka ketika mereka diberitahukan bahwa surga itu mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka membayangkan betapa indahnya surga itu. Betapa indahnya balasan Allah subhanahu wata’ala. Allah meng-ilustrasi-kan seperti itu.

Sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kabaikan (yang ikhlas keimanannya)  – yang berbuat “Ihsan”.

Ayat 86 :

Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami (Allah) mereka itulah penghuni neraka –  Maksudnya, siapa yang mengingkari Allah subhanahu wata’ala, mengingkari AlQur’an, mendustakannya serta menolaknya, mereka akan ditempatkan di neraka Jahim. (Jahim adalah nama salah satu tempat di neraka).

Ayat 87 :

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, agar jangan mengharamkan sesuatu makanan yang telah dihalalkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan janganlah suka melampaui batas.

“Melampaui batas” dalam hal ini maksudnya adalah berlebih-lebihan.  Walaupun halal, tetapi jangan berlebihan ketika memakannya.  Karena segala sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik, walaupun halal.

Dalam ayat tersebut ada kalimat yang bagus sekali : “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas”.

Kembali kepada ayat 85, ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, percaya kepada kebenaran Islam, beriman kepada AlQur’an, maka ia akan mendapatkan balasan surga.

Dan surga dalam ayat  tersebut disebutkan  “Jannaatin” (surga-surga)  berarti banyak surga.  Karena memang surga itu banyak.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah Hadits shahih bersabda : Ada Surga Jannatun Na’im, yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan, tidak ada habisnya, nikmat terus-menerus.   Kalau di dunia orang makan atau minum karena lapar atau haus.  Tetapi di surga, orang makan-minum bukan karena lapar dan haus, tetapi karena ingin menikmati balasan Allah subhanahu wata’ala, karena bersenang-senang.

Dan orang yang masuk surga kelak, tidak lagi merasa haus, karena ketika  orang meliwati Shirothol Mustaqim, orang beriman akan dipersilakan minum air Telaga Kautsar.

Setiap orang yang minum air Telaga Kautsar, sekali minum selamanya tidak akan merasa haus.

Ada lagi Surga Daarussalam (negeri penuh keselamatan). Maka selesai sholat kita disuruh membaca do’a : Allahumma antassalam, waminkassalam, wa ilaika ya’udussalam,  Fahayyina robbana bissalam, wa adkhilnal jannata daarossalam.

Ada lagi Surga Jannatul Ma’wa (tempat kembali yang menyenangkan). Tempat kembali yang paling menyenangkan adalah Jannatul Ma’wa.  Orang yang tinggal di Jannatul Ma’wa akan bersenang-senang selamanya.

Ada lagi Surga Jannatul Firdaus (surga yang paling tinggi), disitulah para Rasul dan Nabi berkumpul, Nabi Muhammad saw, Nabi Sulaiman a.s., Nabi ‘Isa a.s. dan seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul, termasuk juga orang-orang sholeh.

Dan di surga nanti orang akan bisa saling kunjung-mengujungi.  Orang yang masuk surga (yang tinggal di surga, tidak mengenal perubahan. Umurnya sekitar 30 tahun dan tetap seumur itu selamanya.  Rasulullah saw bersabda bahwa orang yang ada di surga dicabut rasa dengkinya (dihilangkan rasa dengkinya, rasa irinya, rasa congkaknya) yang ada tinggal hati yang bersih.

Disebutkan “sungai-sungai” artinya di surga itu banyak sungai, dan sungainya terdiri dari empat jenis dilihat dari isinya : Sungai yang isinya susu, sungai yang berisi madu, sungai yang isinya air arak (tidak memabukkan), sungai yang isinya air jernih, dingin seperti salju.    Itu semua disediakan untuk orang-orang penghuni surga.

Mereka kekal di dalamnya (di dalama surga).

Kalau kita tengok dalam Ilmu Tauhid kita mengenal bahwa yang kekal adalah Allah subhanahu wata’ala. Tetapi dalam ayat tersebut diatas disebutkan “kekal di dalamnya”, maksudnya dalam surga.

Kekal dibedakan menjadi dua : Kekal Relatif dan Kekal Mutlak.

Kekal Relatif adalah kekal yang ada permulaannya.  Orang akan masuk surga setelah Kiamat.  Jadi dimulai dari hari Kiamat, dari sinilah mulai kekalnya.

Kekal Mutlak adalah Kekalnya Allah subhanahua wata’ala.  Sebelum ada langit, sebelum ada bumi, sebelum ada alam semesta ini, sebelum ada manusia sebelum ada surga, Allah ada lebih dahulu.  Dia Allah adalah Kekal Mutlak (Absolut).

Dalam ayat 85 tersebut, mengapa Allah menyebutkan : Jazaa-ul muhsinin ? Mengapa tidak Jazaa-ul mu’minin, atau jazaa-ul muslimin ?

Allah menyebutkan Muhsinin, artinya orang yang berbuat ihsan (kebaikan).  Dalam agama isinya ada tiga : Iman, Islam dan Ihsan. Orang yang beriman disebut Mu’min.  Orang Islam disebut Muslim dan orang yang Ihsan disebut Muhsin.

Dalam ayat 85 disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala “Jazaa-ul muhsinin”, (balasan bagi orang yang ihsan), karena Ihsan merupakan derajat yang paling tinggi setelah Iman dan Islam.  Ia dibalas karena Ihsan-nya itu.  Para pendeta Nasrani yang masuk Islam,  berimana kepada AlQur’an, dan beriman kepada Allah subhanahu wata’ala karena Ihsan. Mereka sudah melewati Iman dan Islam.

Seperti halnya kita mengenal pola-pola dalam AlQur’an, setiap Allah subhanahu wata’ala menjelaskan tentang orang-orang yang sukses, maka di balik itu Allah subhanahu wata’ala menceritakan orang-orang yang celaka. Sehingga AlQur’an disebut juga Al Furqon (pembeda), sebagai pembeda mana yang salah dan mana yang benar, mana yang celaka dan mana yang sukses.   Ayat 85 tersebut menceritakan orang-orang yang sukses.

Ayat 86, menceritakan orang-orang yang celaka : Ialah orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami (Allah) mereka itulah penghuni neraka.

Orang kafir adalah orang yang menutup hatinya dari kebenaran.  Hati manusia berlapis- lapis.

–          Lapisan pertama, paling luar luar disebut As Shodru, isinya hawa nafsu, syahwat.

–          Lapisan kedua disebut Al Qolbu, isinya Iman.

–          Lapisan ketiga disebut Al Fu’ad, isinya  Ma’rifat,

–          Lapisan keempat disebut Al Lub, isinya Keasadaran adanya Allah swt.

Orang disebut kafaru (kafir) apabila ia menutup Qolbunya dengan hawa nafsu, sehingga cahaya Iman-nya tidak keluar.  Itulah yang disebut dalam Surat Al Baqarah ayat 7 : Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta penglihatan mereka ditutup. Dan  bagi mereka siksa yang amat berat.

Ada sekat yang menutupi, sehingga Iman-nya tidak bisa berperan.  Padahal asal-mulanya, sebelum manusia itu lahir ke dunia, ketika masih di alam awrah imannya berperan.  Karena perjalanan waktu maka Ash Shodru-nya ditutup dengan hawa nafsu, syahwat dan pikiran-pikiran yang menentang AlQur’an, menentang Islam, menentang Allah subhanahu wata’ala serta menentang Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.  Sehingga mereka disebut kafaru (kafir).

Mendustakan, karena tertutup hatinya, maka mereka menolak, akibatnya apa yang datang dari Al Qur’an, dari Islam, mereka tolak.  Mereka menolak karena imannya tidak bisa menangkap cahaya kebenaran akibat penuh dengan najis-najis bathin (kotoran hati), seperti dosa-dosa, pikiran-pikiran yang tidak benar, aqidah yang salah, syahwat serta hawa nafsu.

Ayat-yata Kami (Allah), bahwa ayat-ayat Allah ada dua macam yaitu ayat yang tertulis (ayat Qauliyah, AlQur’an) dan ayat-ayat yang tidak tertulis (ayat Qauniyah) yaitu alam semesta, bumi langit beserta isinya.   Orang bisa membaca alam semesta, adanya siang dan malam, ada hidup dan mati, ada senang dan susah, ada sehat dan sakit.  Orang yang memahami ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala akan bisa menangkap ayat-ayat tersebut.

Dari hasil membaca ayat-ayat yang tertulis dan yang tidak tertulis, maka muncullah Iman. Imannya semakin kuat.

Tetapi orang kafir itu karena hatinya tertutup, maka Iman-nya tidak berfungsi, qolbunya tidak berperan, mereka tidak bisa menangkap ayat-ayat tersebut.   Maka  sering kita amati ada orang yang mendengar AlQur’an dibacakan saja sudah tidak senang. Mendengar siaran pengajian di TV atau di radio juga tidak suka, minta radionya dimatikan.

Mereka itulah penghuni neraka jahim, karena mereka tidak bisa menangkap kebenaran yang datangnya dari Allah, AlQur’an, Hadits serta dari Islam ditolak. Telinganya mendengar tetapi tidak bisa menangkap, matanya melihat tetapi tidak bisa membaca, dan seterusnya.

Sementara itu kita orang yang beriman belajar AlQur’an,  supaya hatinya bersih, qolbunya terang-cemerlang, dan bila qolbunya selalu di asah, menjadi tajam, maka akan muncul Al Fu’ad yang bagus.  Bila Al Fu’ad-nya bagus maka akan muncul Al Lub (lubuk hati yang paling dalam) yang penuh dengan keimanan.  Maka tugas kita adalah membersihkan hati dan men-sucikan jiwa.  Itulah salah satu cara ber-jihad,  Jihad tidak selalu harus berupa perang membawa senjata, melainkan yang termasuk Jihad adalah mengendalikan hawa nafsu dan men-sucikan jiwa.

Ayat 87.

Ayat 87 ini ada asbabunnuzul-nya.   Dalam suatu Hadits yang panjang, diceritakan ada beberapa sahabat antara lain ‘Utsman bin Mad’un, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Miqdad bin Aswad, Salim (seorang budaknya Abu Hudzifah), dan Qudamah.

Mereka meninggalkan kesenangan duniawi, mereka berpakaian sederhana, mereka tidak mau menggauli isterinya.  Mereka mengharam-kan makan-makanan yang sebetulnya halal.  Mereka bersikap seperti itu karena khawatir ibadah mereka akan terganggu. Mereka bahkan berpakaian seperti orang Bani Israil.   Karena ada orang-orang seperti itu, maka Allah subhanahu wata’ala menurunkan ayat 87 tersebut di atas.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu,  dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Para sahabat seperti yang tersebut diatas, sebelumnya memang pernah datang ke rumah ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, (isteri Nabi saw),  mereka bertanya seperti apa ibadah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Serta bagaimana hidup keseharian beliau. Maka diceritakanlah semua peri kehidupan Rasulullah saw, misalnya, beliau sholat malam lama sekali sampai betis beliau bengkak. Setiap Senin dan Kamis beliau shaum sunnah.

Beliau makan tidak terlalu banyak dan selesai makan tidak pernah ber-sendawa.  Ketika minum tidak pernah terdengar suara minumnya. Ketika minumannya masih panas, beliau tunggu sampai agak dingin lalu beliau minum. Dan meminumnya tidak sakali habis. Beliau meminum beberapa teguk saja.

Malam hari beliau tidur hanya sebentar, lebih banyak bangun sholat malam (Tahajud).  Dan seterusnya, maka atas dasar cerita ‘Aisyah r.a. itu para sahabat tersebut lalu bersumpah : “Demi Allah, mulai hari ini aku akan sholat malam setiap malam”.

Sahabat yang lain bersumpah : “Demi Allah, aku akan berpuasa sunnah setiap hari”.

Sahabat yang lain bersumpah : “Demi Allah, aku tidak akan menikah dengan siapapun wanita di dunia ini”.

Ketika mereka sedang mengucapkan sumpah seperti itu, Rasulullah saw datang dan masuk ke rumah dimana banyak para sahabat itu. Beliau bertanya : “Benarkah kamu mengucapkan sumpah seperti yang kalian ucapkan itu ?”.

Para sahabat menjawab : “Benar, ya Rasulullah”.

Rasulullah saw bersabda : “Akulah yang paling taqwa di antara kalian, walaupun demikian aku shaum, tetapi ada waktunya aku berbuka, tidak tiap hari aku shaum. Ada waktunya aku berbuka (tidak puasa). Aku sholat malam, tetapi aku juga tidur. Aku juga menikah dengan wanita sebagaimana orang lain menikah”.

Artinya, Islam mengajarkan kepada kita manusia,   hidup yang seimbang (Equelibrium). Yaitu seimbang dalam melaksanakan tiga hal.  Di lain waktu ‘Aisyah r.a menceritakan bahwa Rasulullah saw membagi waktu hidupnya menjadi tiga bagian :

–          Sepertiga waktu untuk Allah subhanahu wata’ala,

–          Sepertiga waktu untuk umatnya dan

–          Sepertiga waktu lagi untuk diri dan keluarganya.

Rasulullah dalam sebuah Hadits shahih berabda : “Sesunggunya dalam tiap-tiap dirimu ada haknya, penuhilah itu hak badanmu”. Maksudnya,  setiap orang itu ada hak bagi dirinya, ia butuh istirahat, butuh makan-minum, butuh bekerja dll. “Keluargamu-pun punya hak pada kamu”. Termasuk isterimu punya hak atas kamu. Jangan keterlaluan (melampaui batas).   Silakan  beribadah, tetapi jangan lupa kepada keluargamu.

Dalam riwayat lain ada seorang sahabat bernama Abu Darda’ , seorang saudagar yang kaya.  Uangnya banyak, ia sering berdagang sampai berhari-hari tidak pulang, karena berdagang sampai negeri yang jauh.   Suatu hari sahabat karibnya  yang bernama Salman Al Farisi datang di rumah Abu Darda’, tetapi Abu Darda’ tidak ada di rumahnya karena sedang berdagang di negeri lain.  Salman ditemui oleh isteri Abu Darda, dan terlihat oleh Salman bahwa isteri Abu Darda’ tidak seperti dulu lagi. Kali ini ia terlihat lusuh tidak rapih seperti biasanya.

Melihat tampilan isteri Abu Darda’ yang kusam dan lusuh itu, Salman bertanya : “Wahai Ibu Darda’ ada apa dengan anda, aku lihat anda agak kusam tidak seperti dulu ?”.

Isteri Abu Darda’ menjawab: “Wahai Salaman,  saudaramu Abu Darda’ sekarang sudah tidak punya hajat dengan dunia, ia sudah tidak berhasrat denganku lagi”.

Salman bertanya lagi : “Apa maksudnya ?”.

Isteri Abu Darda’ : “Begini, saudaramu (maksudnya Abu Darda’)  setiap malam Tahajud terus-terusan, kalau siang shaum-sunnah setiap hari, untuk apa aku berdandan rapih ?”.

Tidak lama kemudian Abu Darda’ datang dari berdagang, maka bertemulah ia dengan saudaranya Salman Al Farisi.  Setelah saling mengucapkan salam serta ucapan basa-basi lainnya, Abu Darda’ mengajak tamunya duduk di dalam rumah, lalu memerintahkan kepada isterinya menyediakan makan untuk menjamu tamunya itu.

Salman Al Farisi berkata : “Wahai saudaraku Abu Darda’, aku tidak akan makan di rumah ini bila engkau tidak makan bersamaku, sekarang.  Aku tahu engkau sekarang sedang shaum sunnat”.  Maka Abu Darda’ membatalkan shaumnya, lalu makan bersama untuk menghormati tamu yang juga sahabat karibnya itu.

Setelah berbincang-bincang, ketika jatuh waktu malam, Abu Darda’ sebagai tuan rumah menawarkan tamunya (Salman Al Farisi) untuk tidur di rumahnya, dipersilakan memilih kamar yang mana, karena rumah Abu Darda besar dan kamarnya banyak.

Salman Al Farisi berkata : “Wahai saudaraku, aku tidak akan tidur di rumahmu ini, kalau engkau tidak tidur sekamar dengan isterimu”.  Abu Darda agak tercengang juga, tamunya tahu bahwa ia sudah lama tidak tidur bersama isteri. Maka Abu Dardapun akhirnya tidur bersama isterinya dikamar mereka.

Pagi harinya Salman Al Farisi merasa lega karena terlihat isteri Abu Darda mandi junub. Lalu Salman bersama Abu Darda pergi menuju masjid Nabawi (Masjid Nabi Muhammad saw) untuk sholat Subuh berjamah bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah selesai sholat, mereka menyalami Rasulullah saw, sambil berjalan pulang mereka bercerita, Abu Darda berkata : “Wahai Rasulullah, gara-gara Salman datang di rumahku, aku batalkan puasa sunnatku kemarin. Dan gara-gara dia datang akupun semalam tidak Tahajud, karena aku harus tidur bersama isteriku”.

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Salman itu benar, kamu wahai Abu Darda’ keterlaluan. Janganlah beribadah dengan keterlaluan”.

Artinya, beribadahlah secara wajar, ada waktunya beribadah, ada waktu tidur, ada waktu untuk keluarga dan seterusnya. Semuanya harus seimbang.

Apa yang dilakukan oleh Utsman bin Mad’un, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya seperti disebutkan dalam hadits diatas, cenderung ekstrim.  Beragama dengan secara ekstrim itu dilarang.  Beragamalah dengan seimbang, ada waktu untuk Allah subhanahu wata’ala, ada waktu untuk keluarga dan ada waktu untuk bermasyarakat.

(Hak Allah swt, hak keluarga dan hak masyarakat, ketiganya harus seimbang).

Selanjutnya Dr. Wahbah Az Zuhaili daam tafsirnya mengatakan bahwa berdasarkan ayat 87 tersebut, maka Islam mengajarkan :

  1. Melarang umatnya untuk menjadi Padri (Rahib, Pastur, Pendeta).  Tidak nikah, dsb, itu tidak boleh.    Menikahlah, karena menikah itu fitrah manusia.
  2. Makan dan minumlah karena itu menjadi hak pribadi setiap orang, sepanjang makanan dan minuman yang halal, dan jangan berlebihan.
  3. Bergaul-lah dengan keluarga dan masyarakat.

Bila tiga unsur itu dilaksanakan dengan baik, maka umat Islam akan menjadi umat yang seimbang dalam beragama yaitu agama Islam, itulah agama yang Hanif (lurus) agama yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Tanya-Jawab.

Pertanyan:

Siapa saja orang yang termasuk Muhsinin ?

Jawaban :

Orang termasuk Muhsinin adalah :  Mukhlisin  (orang yang Ikhlas), Muttaqin (taqwa), Muroqobin (Merasa diawasi oleh Allah swt).

Pertanyaan:

  1. Dalam ayat 83 (di akhir ayat) :  Robbana amanna faktubna ma’asysyahidin – sering dipakai berdoa dalam sholat Tarawih.  Tetapi ada ayat lain yang semacam itu, apakah boleh juga dipakai berdo’a ?
  2. Bagaimana beda arti antara kalimat “Ta’tadun” (berlebihan)  dengan “Asyrofu” (berlebihan)?

Jawaban:

  1. Ada ayat lain yang hampir mirip dengan ayat tersebut di ayat lain, dan itu boleh digunakan untuk berdo’a dalam sholat Tarawih.
  2. “Asyrofu” (Wala tusyrifu) jangan berlebihan, maksudnya untuk makanan.  Sedangkan “Wala ta’tadu” artinya jangan berlebihan dalam hal sikap, perilaku beragama.

Sekian bahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum di akhiri marilah kita membaca do’a untuk kita dan keluarga.

Do’a :

Bismillahirrohanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Alimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wadina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kaamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Robana atina fidun-ya  hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

__________________

Kamis malam,  8 Muharrom 1431  –   24 Desember 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: