At Taqwa

Al Ustadz H. Ahmad Rofi’I,  Lc.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allh subhanahu wata’ala,

Bahasan kali ini adalah tentang jurus lain menuju surga Allah subhanahu wata’ala, selain “Lailaha illallah” , banyak jalan  atau cara (jurus) menuju surga, salah satunya adalah :

At Taqwa. Secara global,  kalau kita membahas tentang At Taqwa maka tidak kurang dari beberapa perkara di bawah ini :

  1. Muqoddimah.
  2. Pemahaman para ’Ulama tentang makna Taqwa.
  3. Taqwallah dalam AlQur’an,
  4. Hakikat Taqwa,
  5. Kedudukan Taqwa,
  6. Urgensi Taqwa,
  7. Keutamaan Taqwa,
  8. Sifat-sifat orang yang bertaqwa,
  9. Buah dan hasil bertaqwa.

Kalau kita bisa mengetahui dan menghayati perkara-perkara tersebut dan bisa menghidupkan makna dan mafhum hakikat Taqwa dalam kehidupan kita, maka jaminan-nya adalah Al Jannah (Surga).  Yang menjamin adalah Allah subhanahu wata’ala.

Masalahnya adalah : Sejauh mana kita bisa “berjual-beli” dengan Allah subhanahu wata’ala dalam Taqwa itu.

Kita tengok pernyataan Imam Al Ghozali dalam Kitab Ihiya ‘Ulumuddin, yaitu :

Taqwa adalah Kanzun ‘Adzimun (Simpanan berharga). Harta terpendam yang sangat bernilai. Jika engkau bisa meraih derajat Taqwa, berapa banyak engkau akan memperoleh di dalamnya Jauhar (permata yang mulia), kebaikan yang banyak bahkan rezki yang murah datang kepada engkau”.

“Seolah-olah kebaikan dunia dan akhirot terkumpul di dalam Taqwa. Yang demikian itu dimasukkan dalam satu karakter, di mana ia bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Renungkanlah apa yang ada dalam AlQur’an, berapa banyak kebaikan, semua dikaitkan dengan Taqwa, tidak bisa dipisah-pisahkan.  Berapa banyak Allah berjanji dan janji-Nya itu berupa kebajikan dan pahala yang besar kepada kita, jika kita bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan berapa banyak keterkaitan kebahagiaan itu terpaku pada Taqwa.  Bila kita bertaqwa, maka kita akan bahagia”.

Demikianlah pernyataan dari Imam Al Ghodzali.

Maka marilah kita coba melihat bahwa Taqwa merupakan berita gembira, sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an Surat Thoha ayat 132 :

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu  dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Dalam bahasa Indonesia, “akibat” artinya nilai akhir.  Jadi menurut Allah subhanahu wata’ala, bahwa “akibat” (nilai akhir)  yang akan diraih oleh manusia adalah karena bertaqwa dan untuk orang-orang yang bertaqwa. Semua yang Allah janjikan itu untuk mereka orang yang bertaqwa.  Taqwa menjadi kunci kebahagiaan dan kesuksesan.

Dalam Surat Az Zukhruf ayat 35 :

Dan (kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Bayangkan, semua isi akhirat yang bermakna baik,  Allah khususkan bagi mereka orang yang bertaqwa. Kalau orang ketika hidup di dunia susah, serba kekurangan, lalu di akhirat juga susah (masuk neraka), maka ia orang yang rugi.

Kalau saja ketika hidup  di dunia ini susah (serba kekurangan, miskin) tetapi ketika di akhirat senang bahagia (masuk surga) maka itu adalah keberuntungan.

Maka marilah kita yakin dengan janji Allah subhanahu wata’ala, bahwa semua orang yang bertaqwa akan diberikan semua isi akhirat (surga). Akhirat yang dimaksud adalah yang bermakna Surga, Haudh, Syafa’ah, semua akan Allah berikan kepada orang yang bertaqwa.

Hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ditanya : “Ya Rasulullah, apakah yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka dan apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga?”.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Yang banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah Taqwa kepada Allah dan berakhlak baik, sedangkan yang banyak menyebabkan manusia masuk neraka adalah mulut dan kemaluan”.

Apakah Taqwa ?

Kata “Taqwa”  berasal dari kata Waqaa –Yaqii – Wiqaayatan. Juga berasal dari kata :

Al Wiqaa – Ittiqaa – Tuqyah – Attaqwa. Semuanya sama maknanya.

Taqwa secara bahasa Arab berarti:

  1. Al Hifdzu (memelihara, menjaga),
  2. As Shiyanah (merawat, service, memperbaiki).
  3. Al Hadzar (waspada, hati-hati),
  4. Al Wiqoyah (pencegahan).

Kalau saja kita bisa mengingat arti Taqwa secara bahasa saja,  maka sebenarnya kita bisa mengendalikan diri, yaitu :

  1. Mencegah,  yaitu mencegah diri kita dari segala yang menyalahi Syari’at Allah subhanahu wata’ala
  2. Memelihara, yaitu memelihara jasad kita, anggota tubuh kita : mulut, hidung, mata, telinga, tangan dan kaki kita, tidak boleh melampaui apa yang menjadi ketetapan Allah subhanahu wata’ala.
  3. Memperbaiki,  yaitu bila selama ini kita merasa belum optimal mengabdi kepada Allah, atau masih melanggar  apa yang dilarang Allah subhanahu watala’ala, maka segera perbaiki.
  4. Waspada, hati-hati, bila kita punya umur , maka sisa hidup ke depan gunakan untuk waspada, jangan sembrono (sembarangan).

Beberapa kata para ‘Ulama.

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ditanya tentang Taqwa, beliau menjawab : “Pernahkah kamu melewati jalan yang penuh duri?  Kalau pernah, apa yang engkau perbuat ?”.

Dijawab : “Aku akan mencari jalan lain, atau akan aku batalkan perjalanan atau aku mempercepat perjalanan”.  Kata Abu Hurairah  r.a. : “Itulah yang disebut Taqwa, yaitu engkau hindari duri-duri itu, atau engkau lalui dengan segera, atau engkau mempercepat jalanmu”.

Seorang ‘ulama Ibnul Mu’tamar yang membuat syi’ir (puisi).  Maka arti “nashid”  sebenarnya adalah membaca puisi (sajak) dalam bahasa Arab,  bukan menyanyi.  Sedangkan Nashid yang sekarang ada,  adalah bernyanyi, jadi disalah-artikan.

Arti Nashid adalah membaca sajak, bukan menyanyi.

Syi’ir (sajak) dari Ibnul Mu’tamar :

Hindarkan kamu dari dosa baik dosa kecil maupun dosa besar, itulah Taqwa.

Lakukan seperti orang yang berjalan di atas bumi yang penuh dengan duri,

Berhati-hati terhadap yang ia lihat, jangan kamu sepelekan dosa kecil,

Sungguh gunung yang besar itu berawal dari kerikil.

Hendaknya seorang hamba mengetahui apa yang harus ia hindari, lalu ia hindari.

Ada seseorang yang bertanya, orang ini bernama Ma’ruf Al Kurkhi, yang meriwayatkan dari Bakr Al Hunais, mengatakan : Bagaimana seseorang bisa menjadi orang yang bertaqwa, apa yang harus ia hindari ?

Ma’ruf Al Kurkhi menjawab :

Kalau kamu tidak bisa bertaqwa, maka kamu akan memakan riba.

Kalau kamu tidak bisa bertaqwa, maka kamu akan menemui wanita,

lalu kamu tidak menundukkan pandanganmu.

Kalau kamu tidak bisa bertaqwa, kamu akan metelakkan pedangmu pada lehermu.

Artinya, kalau orang mau memakan riba, berarti orang itu tidak bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan orang yang apabila bertemu dengan wanita, lalu matanya melotot, berarti ia tidak bertaqwa. Menundukkan pandangan maksudnya adalah memalingkan muka.   Ali bin Abi Thalib  ketika memandang wanita yang bukan miliknya, oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam langsung ditegur : “Palingkan pandanganmu.  Kamu hanya diberi kesempatan untuk pandangan pertama, lalu berpalinglah.  Adapun  mengulang pandangan kedua dengan punya rasa kelezatan,  maka itu tidak boleh”.

Kalau orang tidak bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka justru wanita yang bukan miliknya itu akan dinikmati.

Pedang bagi orang yang bertaqwa adalah disangkutkan di pinggang atau untuk memenggal leher orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Kalau diletakakan di leher sendiri berarti ia akan bunuh diri. Orang yang tidak bertaqwa akan membunuh dirinya sendiri.

Ulama Sulaiman ibnu Mughiroh, beliau hidup di zaman masa Tabi’in, membuat syi’ir :

Melakukan dosa lalu menyepelekan dosa itu, lalu ia melihat dalam mimpinya :

Ya Sulaiman,  janganlah kamu menyepelekan dosa kecil,

Sebab dosa kecil kelak akan menjadi besar.

Sesungguhnya dosa kecil bila dilakukan terus-menerus,

Maka di sisi Allah akan dicatat dan tidak disia-siakan.

Maka kalahkan hawa-nafsumu dari melakukan perkara yang sia-sia.

Jangan termasuk orang yang susah dikendalikan.

Dan singsingkan lengan bajumu .

Sesunggunnya orang yang mencintai itu,  jika ia benar cinta kepada Allah,

Maka hatinya akan terbang dan pikirannya akan berpikir dengan sungguh-sungguh.

Maka mintalah kepada Allah petunjuk,

Sehingga kamu akan merasa cukup kepada Allah

Sebagai Pemberi Petunjuk dan sebagai Pemberi Pertolongan.

Perkataan para Imam.

Imam Ahmad bin Hanbal rohimullah, berkata : Taqwa adalah engkau tinggalkan apa yang engkau cenderungi terhadap sesuatu yang engkau takuti.

Artinya, kita meninggalkan sesuatu yang kita cenderungi (hawa-nafsu) lalu kita menghadap kepada sesuatu yang kita takuti (Allah).

Yang kita cenderungi adalah hawa nafsu.  Misalnya : Rumah bagus, mobil mewah, wanita cantik, harta, jabatan, dst.  Termasuk yang dicenderungi adalah : Ingin bebas, tanpa ikatan. Semau sendiri, termasuk orang yang mempropagandakan Hak Azasi Manusia, adalah orang yang ingin semaunya sendiri.  Segalanya adalah Hak Azasi, termasuk porno, menyalahi Syari’at Allah, adalah Hak Azasi. Itu akan mengembalikan manusia ke dalam dunia hewan bukan dalam dunia manusia.

Ali bin Abi Thalib rodhyallahu ‘anhu berkata bahwa Taqwa ada empat perkara :

  1. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala.
  2. Ridho (menerima) dengan apa yang Allah turunkan, yaitu AlQur’an dan As Sunnah, serta mengamalkannya.
  3. Qona’ah (merasa cukup) dengan karunia Allah subhanahu wata’ala walaupun sedikit.
  4. Isti’dad, bersiap (berkemas-kemas) menuju hari kematian. Yaitu beramal sesuai yang disyari’atkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Ada lagi yang mengatakan :  Taqwa adalah bahwa ketika Allah melarang, Allah tidak melihatmu.  Dan Allah tidak kehilangan kamu ketika Allah memerintahkan kamu.

Maksudnya, Allah melarang, Allah tidak melihat kamu.  Misalnya Allah melarang riba, maka Allah tidak melihat kamu dalam keadaan riba. Allah melarang judi, maka Allah tidak melihat kamu dalam majlis judi itu.    Allah memerintahkan, maka Allah tidak kehilanganmu.  Misalnya Allah memerintahkan sholat lima waktu kepada kita, maka kita selalu ada dalam sholat lima waktu itu. Dengan kata lain, kalau ada larangan, maka orang tidak ada di situ, kalau ada perirntah, maka orang itu tidak pernah ghoib, selalu ada di situ.

Ada lagi yang mengatakan : Taqwa adalah pengetahuan dalam hati (keyakinan) bahwa Allah itu dekat.  Bila kamu  meyakini bahwa Allah itu dekat, maka ketika beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Allah.

Kalau kamu tidak bisa demikian, yakinilah bahwa Allah melihatmu.

Tetapi sayangnya, setiap Jum’at khotib di mimbar Jum’at selalu menyerukan : Saya ber-wasiat kepada diri saya dan kepada anda semua (jamaah), agar ber-Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Khotib mengatakan : Ber-Taqwa artinya menjalankan perrintah Allah dan menjauhi larangan Allah.  Tetapi tidak sedikit khotib yang tidak paham tentang yang dikhotbahkan itu.  Lalu khotbahnya menyalahi Sunnah, demikian pula sholatnya menyalahi Sunnah,  akhirnya ia tidak mengerti apa yang harus dijauhi dan apa yang harus dikerjakan.

Taqwa memang mudah diucapkan, tetapi pelaksanaannya perlu pembiasaan, perlu pendidikan, perlu hukuman, perlu hadiah, terhadap perjalanan makna Taqwa itu.

Hakikat Taqwa.

Pada hakikatnya Taqwa adalah mengerjakan ketaatan terhadap Allah berlandasan kepada Iman, berharap pahala dan ganjaran dari Allah dalam perkara yang diperintah dan yang dilarang.  Orang tersebut mengerjakan apa yang Allah perintahkan dengan Iman, bahwa perintah itu adalah perintah Allah dan membenarkan akan janji Allah subhanahu wata’ala. Bila Allah memerintahkan, yakinilah bahwa itu benar adanya,  dan benar bahwa Allah akan memberikan kepada kita pahala dan balasan.

Bila seseorang tidak melaksanakan amalan sholih, atau terbebani (terpaksa) beramal sholih, adalah karena ia belum beriman kepada Allah subhanahu wata’ala.  Orang yang sudah beriman kepada Allah, ia akan membenarkan bahwa bentuk konsekuensinya adalah : Mengakui dan menerima Syari’at Allah subhanahu wata’ala.

Kalau ada orang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah,  tetapi ia meninggalkan dan melecehkan syariat Allah, mengingkari bahkan menukar dengan Hukum manusia, maka orang demikian itu Asbun (asal bunyi).

Taqwa dalam arti kedua adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dengan beriman bahwa itu adalah larangan Allah, lalu takut dengan ancaman Allah subhanahu wata’ala.

Perintah dari Allah subhanahu wata’ala adalah langsung.

Lihat Surat An Nisaa’ ayat 1:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Surat Ali Imron ayat 102 :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Surat Al Ahzab ayat 70 – 71:

70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar,

71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Surat Ali Imron ayat 131 :

Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.

Ayat tersebut (Surat Ali Imran ayat 102) sudah seringkali kita dengar. Minimal setiap Jum’at selalu disampaikan oleh Khotib sholat Jum’at. Artinya dalam satu tahun sebanyak limapuluh dua kali diperdengarkan (diucapkan) oleh para Khotib sholat Jum’at.

Kalau kita sudah berusia 60 tahun, berarti sudah lebih dari seribu kali kita mendengar ayat tersebut.  Kalau kita  belum menjadi orang bertaqwa juga,  maka mungkin hati kita yang tertutup, atau mungkin salah dalam menyampaikan ayat tersebut, atau mungkin sebab yang lain.

Di ayat-ayat  tersebut kita diperintahkan untuk bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 281 :

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Surat Al Maa-idah ayat 96:

96. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Surat Al Hasyr ayat 18 :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklahs setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikianlah dari sekian ayat dalam AlQur’an dimana Allah memerintahkan kita agar kita bertaqwa, berhati-hati, dan selalu berada di atas Syari’at Allah subhanahu wata’ala.

Imam Ath Tholq bin Habib berkata : Jika terjadi fitnah  maka padamkan (hentikan) fitnah itu dengan Taqwa.

Misalnya terjadi riba,  hentikan riba itu dengan kita bertaqwa.  Demikian pula misalnya terjadi wanita  yang membuka auratnya, maka hentikaan itu dengan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan seterusnya masih banyak contoh lagi.

Lalu orang-orang bertanya : Apa yang dimaksud dengan Taqwa ?

Imam Ath Tholq menjawab :

  1. Engkau beramal, taat kepada Allah subhanahu wata’ala.
  2. Taatmu kepada Allah itu di atas cahaya (pedoman) yang pedoman itu berasal dari Allah subhanahu wata’ala. Bukan semau sendiri atau dari aturan manusia, maka itu bukan bertaqwa.
  3. Engkau berharap pahala (ganjaran) dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan pamrih ingin dipuji atau untuk kebanggaan.
  4. Engkau tinggalkan maksiat dan dalam meninggalkan maksiat itu jangan menggu-nakan aturan dan syari’at selain Allah subhanahu wata’ala. Artinya, aturan yang dipakai dalam meninggalkan maksiat itu juga dengan aturan Allah subhanahu wata’ala.
  5. Engkau takut kepada hukuman Allah subhanahu wata’ala.

Itulah yang dinamakan Taqwa. Itulah perkara yang kita harus introspeksi dalam berbagai sisi pandangan.  Tetapi kadang-kadang kita terlalu kritis,  lalu menggunakan logika (ratio), misalnya : Bisa dipahami atau tidak, masuk akal atau tidak, sesuai dengan perasaan atau tidak,  sesuai dengan ke-umuman manusia atau tidak, sesuai dengan pendapat mayoritas orang atau tidak, dst.  Marilah logika yang demikian itu kita tinggalkan, marilah kita kembali bahwa kita mengabdi kepada Allah dengan mengguna-kan pedoman Allah subhanahu wata’ala saja.

Al Imam Al Ghodzali berkata :  “Ketahuilah olehmu, mudah-mudahan engkau diberikan keberkahan dalam Din-mu dan Allah tambahkan keyakinanmu”. Amin.

Selanjutnya beliau berkata :

Bahwa Taqwa,  menurut guru-guru kami adalah :

Engkau membersihkan hati dari dosa yang belum pernah engkau lakukan seperti itu, sehingga engkau mendapatkan kekuatan dan kemauan yang tinggi untuk meninggalkan-nya dan mencegah diri antara engkau dengan maksiat.

Maksudnya,  bahwa Taqwa adalah kita mempunyai upaya yang gigih dan serius untuk membersihkan dan membebaskana diri kita dari suatu dosa yang belum pernah kita lakukan. Dengan cara : memperkuat kemauan, azam, agar kita jauh dari dosa itu.  Kalau itu dilakukan, maka dosa-dosa yang belum pernah kita lakukan tidak akan terjadi.  Karena dosa-dosa yang lalu dengan cara bertaubat dan dosa yang akan datang kita tidak pernah mendekatinya, karena kita punya kemauan untuk menghindarkan diri daripada-nya.  Demikian kata Imam Al Ghodzali.

Dari Imam Hasan Al Basri, beliau mengatakan :

Wujud gambaran Taqwa yang konkrit adalah jika taqwa itu selalu ada (melekat) karakter-nya pada orang yang disebut “Bertaqwa kepada Allah”,  selama ia banyak meninggalkan perkara yang halal karena ia takut terjerembab dalam perkara yang haram.

Maksudnya, barang itu halal, tetapi diusahakan agar tidak banyak dinikmati, karena khawatir terlalu banyak yang halal, lalu kepada yang haram  penasaran, ingin mencoba-nya. Dengan kata lain, meskipun halal, tetapi dikendalikan, tidak berlebihan.

Perkataan sahabat Abdullah bin Mas’ud :

Ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 102 (seperti tersebut diatas), maka Abdullah bin Mas’ud menafsirkan bahwa “Sebenar-benar Taqwa” ada tiga perkara :

  1. Allah subhanahu wata’ala harus ditaati dan jangan dimaksiati.
  2. Allah subhanahu wata’ala harus selalau diingat, jangan dilupa.
  3. Allah subhanahu wata’ala harus disyukuri jangan dikufuri.

Dengan berbagai ungkapan, seharusnya kita semakin faham tentang Taqwa. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita semakin bertaqwa, taat, tidak maksiat, selalu ingat kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak lupa, bersyukur dan tidak kufur.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

  1. Ketika berdo’a, dalam AlQur’an para Nabi dan Rasul berdo’a dengan “Robbi” atau “Robbana”,  Sedangkan dalam Hadits, kita di ajari berdo’a dengan “Allahumma” . Apakah ada perbedaan kedekatan seseorang dengan Allah subhanahu wata’ala dengan penggunaan “Robbi atau Robbana” dengan “Allahumma” ?.
  2. Tentang beribadah, sebaiknya bagaimana, apakah  kita beribadah sebagai strategi ataukah beribadah sebagai komitmen ?

Jawaban:

  1. Ketika orang berdo’a dengan mengggunakan “Robbi” atau “Robbana” itu menunjukkan bahwa ada keterkaitan antar Tauhid Rububiyah dan Tauhid ‘Uluhiyah. Dimana Tauhid Rububiyah sebagaimana kita sudah yakini bahwa keyakinan bahwa Allah-lah yang mencipta, yang memberi rezki, memberi hidup, mematikan dan memberikan untung dan memberi rugi, dan Allah-lah yang mengatur seluruh alam semesta ini. Karena kita yakin yang seperti itu, maka kita menyeru : “Ya Robb, ya Robbana”.  Ketika orang berdo’a dengan “Allahumma”, makna-nya adalah Tauhid ‘Uluhiyah, menyatakana bahwa “Ya Allah, yang aku berdo’a kepada-Nya”. Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Do’a adalah ibadah”. Maka berdo’a dengan “Allahumma” maksudnya adalah “Engkau yang aku ibadahi, yang aku serahkan semua amalanku kepada-Mu, aku bermohon kepada-Mu”.
  2. 2. Terntang ibadah itu strategi atau komitmen, yang paling benar adalah : Bahwa ibadah adalah Hak Allah subhanahu wata’ala.  Berarti kewajiban manusia. Karena Hak Allah maka kita tunaikan apa yang menjadi Hak Allah, dan apa yang menjadi Hak Allah adalah merupakan kewajiban bagi manausia. Maka sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Engkau beribadah kepada Allah dan engkau tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”. Itulah Hak Allah subhanahu wata’ala. Hak manusia adalah :  “Allah tidak akan meng-adzab seseorang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya”.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang gila ? Apakah ia masuk neraka atau surga ?

Jawaban:

Di sinilah letak Keadilan Allah subhanahu wata’ala. Bahwa menyuruh manusia yang berkonsekuensi pahala dan dosa, jika orang itu memenuhi beberapa prosedur :

  1. Ia muslim,
  2. Ia berakal,
  3. Ia sudah baligh.

Maka bila seseorang muslim sudah baligh, tetapi ia tidak berakal (karena gila, majnun), maka untuk orang yang demikian itu seperti disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : Terangkat pena dari tercatatnya pahala dan dosa dari tiga macam orang : Anak kecil sampai ia baligh,  orang gila sampai ia waras dan orang yang tertidur sampai ia bangun.

Orang yang gila, tidak dicatat oleh Allah subhanahu wata’ala. Yang dihitung (dicatat) hanya ketika ia waras.

Sekian bahasan kali ini mudah-mudahan bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an lailaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

__________________

Senin malam, 9 Rabi’ul Awal 1431 –  22 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: