Beberapa Pelajaran dari Hijrah Nabi Muhammad SAW

Oleh Rusli Amin, MA.


Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada hamba-hamba pilihan Allah subhanahu wata’ala terutama para Nabi dan Rasul-Nya, di dalamnya pasti banyak mengandung pelajaran. Ada pelajaran tentang ‘aqidah, ‘ibadah dan akhlak yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Kali ini kita bersama akan melihat bagaimana peristiwa Hijrah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita  tentang beberapa pelajaran aqidah dan akhlak, yaitu :

1. Mu’jizat.

Kita sering salah-kaprah dalam hal istilah.  Mu’jizat adalah peristiwa luar biasa diluar jangkauan akal dan kebiasaan manusia,  yang hanya diberikan kepada seorang Nabi/Rasul oleh Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan manusia biasa tidak akan mendapatkan Mu’jizat.  Kalau peristiwa luar biasa itu diberikan kepada orang-orang bukan Nabi/Rasul, melainkan orang-orang sholeh, maka itu disebut Karomah. Untuk orang-orang biasa seperti kita pada umumnya, ketika ia mendapatkan peristiwa yang luar biasa, maka itu disebut Ma’unah (pertolongan dari Allah swt).

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw merupakan Mu’jizat.  Nabi Muhammad saw lahir pada bulan Rabi’ul awal, hijrah pada bulan Rabi’ul awal dan wafat pada bulan Rabi’ul awal.  Beliau berangkat dari Makkah dan bersembunyi di gua Tsur adalah pada akhir bulan Shofar.

Selama tiga hari beliau di dalam gua Tsur, lalu di awal bulan Rabi’ul awal beliau berangkat berkendaraan unta sampai di daerah bernama Quba (dekat Madinah) tanggal 8 Rabi’ul awal dan masuk kota Madinah (dahulu disebut Yatsrib) pada tanggal 12 Rabi’ul awal  (Lahir 12 Rabi’ul awal, Hijrah tiba di Madinah 12 Rabi’ul awal dan wafat 12 Rabi’ul awal).

Berbicara tentang mati, suatu ketika Nabi Sulaiman ‘alaihissalam didatangi seorang tamu yang sudah sangat dekat dengan Nabi Suliaman a.s., maka beliau sangat kenal dengan tamunya itu.  Maka tamu itu langsung duduk di samping kanan Nabi Sulaiman a.s. Ketika duduk itu tamu itu menatap kearah salah seorang sahabat Nabi Sulaiman a.s yang ada di majlis itu.  Sampai sahabat Nabi Sulaiman itu merasa tidak enak.  Setelah tamu itu pergi, sahabat yang ditatap itu bertanya kepada Nabi Sulaiman a.s : “Ya Nabiyallah, siapakah tamu anda itu ?  Mengapa ia selalu melihat kepadaku ?”.

Nabi Sulaiman a.s menjawab : “Oh, dia adalah malaikat Izrail”.  (Maksudnya : malaikat pencabut nyawa).  Terkejut sekali sahabat Nabi Sulaiman a.s. mendengar jawaban itu.  Lalu sahabat itu berkata kepada Nabi Sulaiman : “Ya Nabiyallah, bukankah engkau bisa memerintahkan angin.  Tolonglah perintahkan angin supaya saya dapat terbawa angin itu ke India”. Nabi Sulaiman a.s. : “Baiklah, kalau itu kehendakmu”  Maka Nabi Sulaiman memerintahkan angin agar membawa sahabatnya itu ke India.

Suatu waktu datang lagi malaikat itu ke tempat Nabi Sulaiman a.s.  Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Izrail (pencabut nyawa) itu : “Wahai Izrail, tempo hari kamu datang kepadaku untuk apa ?”

Malaikat Izrail : “Saya diperintahkan Allah untuk mencabut nyawa seorang laki-laki di India.  Tetapi ketika saya sampai di sana, di India, laki-laki itu tidak ada, lalu saya mampir di majlismu. Ketika aku sampai di majlismu, saya lihat ada orang laki-laki yang ciri-cirinya sama persis seperti yang dalam catatan saya. Maka saya pulang kembali ke India menunggu laki-laki itu datang, setelah datang lalu saya mengambil nyawanya”.

Banyak Mu’jizat yang diperlihatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw.

Mu’jizat pertama :

Ketika Nabi Muhammad saw keluar dari rumah beliau yang telah dikepung oleh 11 orang pemuda kafir Quraisy,  berdasarkan kesepakatan mereka membuat konspirasi (daya upaya) untuk membunuh Nabi Muhammad saw .

Lihat AlQur’an Surat Al Anfal ayat 30 :

(Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.

Akhirnya berlakulah Mu’jizat, kekuasaan Allah subhanahu wata’ala dipertunjukkan.  Nabi Muhammad saw malam itu keluar dari rumah beliau yang sudah dikepung oleh sebelas pemuda Quraisy dengan maksud untuk membunuh beliau.  Dan perintah untuk membunuh itu tidak tanggung-tanggung, diperintahkan oleh Abu Jahal, pembunuhan harus dilakukan serentak bersama-sama, dan harus diupayakan agar darah Nabi saw bisa mengena di seluruh badan para pemuda yang membunuhnya.  Agar setiap pemuda yang mewakili sebelas Kabilah itu terkena darah pada badannya, maka keluarga besar Nabi Muhammad saw tidak akan bisa menuntut mereka, karena seluruh dari mereka yang bertanggungjawab.

Tetapi ternyata ketika Nabi Muhammad saw keluar dari rumah beliau, diceritakan dalam riwayat,  bahwa  beliau membaca ayat dalam Surat Yaasin dari ayat 1 –  9,  ada riwayat lain yang mengatakan bahwa beliau membaca surat Yaasin ayat 9 saja, yaitu :

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Di sinilah Mu’jizat itu diperlihatkan, beliau keluar rumah  justru saat itu pemuda-pemuda kafir Quraisy yang mengepung rumah beliau sedang tertidur pulas.  Dan Nabi Muhammad saw sempat mengambil segenggam pasir, lalu ditaburi sedikit-sedikit di masing-masing kepala pemuda itu, sambil keluar dari rumah beliau.

Mu’jizat kedua :

Pada waktu Nabi Muhammad saw bersama sahabat beliau Abubakar Siddiq r.a. bersem-bunyi  di Gua Tsur, ketika beliau berdua hendak masuk ke dalam gua, tidak ada pohon akasia, tidak ada laba-laba yang membuat sarangnya dan tidak ada dua ekor burung merpati yang sedang mengerami telornya di jalan masuk gua itu.  Ketika sudah di dalam gua, diriwayatkan bahwa Abubakar sempat menangis menahan sakit karena kakinya digigit ular.  Lalu Nabi Muhammad saw berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, lalu beliau mengoleskan ludah beliau di  kaki Abubakar Siddiq bekas gigitan ular.  Dengan idzin Allah subhanahu wata’ala sembuh dan hilang rasa sakitnya.

Ketika bersembunyi di Gua Tsur itu Abbakar sempat sedih dan khawatir diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy.   Sebab bila diketahui, habislah riwayat mereka berdua. Maka ketika itu Nabi Muhamamad saw mengatakan kepada Abubakar r.a. : “Wahai Abubakar, jangan sedih dan jangan takut, kita tidak hanya berdua, tetapi ada yang ketiga yaitu Allah subhanahu wata’ala”.

Ketika orang-orang kafir yang mencari-cari beliau  sudah di depan gua itu mereka melihat ke arah dalam gua, tetapi ternyata di mulut gua itu sudah tumbuh pohon akasia, sudah ada laba-laba yang membuat sarang dan di dinding gua ada dua ekor burung merpati yang sedang mengerami telornya.

Melihat keadaan yang demikian itu mereka berpikir, tidak mungkin ada orang masuk ke dalam gua,  karena bila ada orang masuk ke dalam gua pasti pohon akasia sudah rusak, tidak ada sarang laba-laba dan tidak akan ada burung merpati bertelor di situ.

Mu’jizat ketiga :

Dalam perjalanan Hijrah Nabi Muhammad saw menuju Madinah (Yatsrib) berdua dengan Abubakar  Siddiq r.a. ditambah dua orang lagi yaitu bekas budak Abubakar  yang telah dimerdekakan bernama Amir bin Fuhairoh, dan seorang penunjuk jalan yang disewa bernama Abdullah bin Uraiqith ( seorang Nasrani).  Jadi semua ada empat orang.

Arah Madinah adalah di sebelah utara Makkah.  Maka bila orang dari Makkah hendak menuju Madinah berjalan menuju ke utara.  Tetapi ketika Nabi Muhammad saw dan Abubakar hendak berangkat ke Madinah, beliau berdua berjalan menuju ke Gua Tsur untuk persembunyian sementara, yang letaknya di sebelah selatan kota Makkah. Itu adalah bagian dari taktik beliau, dengan maksud agar orang-orang Quraisy yang mengejarnya tidak bisa menemukannya.

Di tengah perjalanan beliau beserta Abubakar dan pengiringnya dua orang singgah di suatu desa, dimana disitu tinggal seorang perempuan tua yang  bernama Ummu Ma’bad. Ummu Ma’bad ini seorang yang  baik hati, setiap orang yang mampir (singgah) disitu selalu ditawari makanan dan minuman.  Tetapi ketika Nabi Muhammad saw beserta rombongannya itu singgah sebentar dan meminta barang sedikit minuman, kebetulan di rumah Ummu Ma’bad sedang tidak ada  persediaan makanan dan minuman.  Nabi Saw melihat di situ banyak kambing yang digembalakan di sekitar rumah Ummu Ma’bad.

Nabi saw berkata berkata kepada Ummu Ma’bad : “Wahai Ummu Ma’bad, apakah kambing-kambing ini ada susunya?” .  Ummu Ma’bad menjawab : “Ya Tuan, kambing itu tidak ada susunya, sudah beberapa hari ini kering, tidak kaluar susunya”.

Kemudian Nabi Muhammad saw melihat ada seekor kambing yang menyendiri, tidak bercampur dengan kambing-kambing yang lain. Beliau bertanya kepada Ummu Ma’bad : “Bagaimana dengan kambing yang seekor itu, apakah ada susunya ?”. Ummu Ma’bad menjawab : “Oh, kambing itu tidak disukai oleh kambing-kambing yang lain, maka ia menyendiri, tidak mau campur.  Kambing itu lebih parah lagi, tidak ada susunya sama sekali”.

Nabi Muhammad saw kemudian mendekati kambing yang dimaksud, baliau pegang dan beliau mengelus-elus tubuh kambing itu, dan beliau berkata minta mangkuk besar kepada Ummu Ma’bad, lalu beliau memeras susu kambing itu sampai mangkuk itu penuh dengan susu kambing.    Lalu Ummu Ma’bad dipersilakan minum susu itu terlebih dahulu, sesudah itu  beliau beserta rombongannya ikut meminumnya sampai puas. Kemudian beliau memeras susu kambing itu lagi sampai semangkuk penuh lalu ditinggalkan untuk Ummu Ma’bad, dan setelah berpamitan,  beliau beserta rombongannya meneruskan perjalanan menuju Madinah.

Itulah salah satu Mu’jizat yang diperlihatkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Artinya, pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut di atas, bahwa rezeki tidak tergantung pada sebab.  Memang ada pendapat bahwa siapa yang bekerja keras, pasti akan mendapat rezki banyak pula.  Tetapi karena rezeki tidak tergantung pada sebab, ada orang yang bekerja keras, banting tulang, tetapi hasilnya sedikit.  Tukang Bajaj itu bekerja keras, bahkan sangat keras, tetapi hasilnya sedikit.  Kuli bangunan juga bekerja keras, tetapi hasilnya sedikit.

Sebaliknya ada orang yang  bekerja hanya sedikit, tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit, tetapi hasilnya besar.  Misalnya seseorang hanya membubuhkan tanda tangan saja, ternyata hasilnya besar, jauh lebih besar daripada tukang Bajaj atau kuli bangunan. Tentunya yang tanda tangan saja tetapi hasilnya jauh lebih banyak itu mempunyai faktor-faktor keunggulan yang lain.  Mungkin keahliannya, skill-nya, ilmu pengetahuannya, dll.

Menurut logika manusia, mana mungkin kambing yang kurus-kering bisa menghasilkan susu yang banyak.  Tetapi karena Allah subhanahu wata’ala memperlihatkan kekuasaan-Nya,  maka dari kambing yang kurus kering bisa mengeluarkan susu yang banyak seketika itu. Itulah Mu’jizat yang dikenakan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, dalam hidup ini kita manusia hanya wajib berusaha, tetapi jangan menggantung-kan semata-mata pada usaha yang kita lakukan. Allah subhanahu wata’ala yang meluas atau menyempitkan rezki seseorang.

Mu’jizat ke empat :

Dalam perjalanan menuju Madinah itu sebetulnya Nabi Muhammad saw beserta rombongannya dikejar oleh Suraqah bin Malik. Ia seorang kafir yang di-iming-imingi hadiah oleh tokoh-tokoh Quraisy, dengan imbalan : Siapa yang bisa menangkap Nabi Muhammad saw akan diberi hadiah 100 ekor unta.  Suraqah bin Malik termasuk orang yang tergiur, maka ia ambil tombaknya, kudanya, lalu dipacunya kudanya itu, begitu sampai di dekat Nabi Muhammad saw beserta rombongannya, dua kaki depan kuda Suraqah tiba-tiba terperosok ke dalam pasir. Tubuh Suraqah-pun terpental agak jauh.

Iapun tidak jadi membunuh Nabi Muhammad saw, tetapi ia minta catatan kepada Nabi Muhammad saw, agar kelak di kemudian hari ia tidak dibalas (disiksa) atau diperlakukan buruk oleh Nabi Muhammad saw.  Lalu Nabi saw menyuruh Amir bin Fuhairah membuat catatan kecil diatas kulit untuk diberikan kepada Suraqah bin Malik.

Itu salah satu dari sekian Mu’jizat yang diperlihatkan Allah subhanahu wata’ala, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya.

2. Semangat Pengorbanan.

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw juga memberikan pelajaran semangat pengorban-an.  Hampir semua orang yang terlibaat dalam peristiwa Hijrah itu berkorban.

Misalnya sahabat Ali bin Abi Thalib, yaitu ketika beliau menyediakan dirinya untuk tidur di tempat tidur Nabi Muhammad saw,  dengan resiko bisa saja ia dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy.  Karena ketika itu Nabi saw sedang dicari-cari untuk dibunuh, kalau mereka orang kafir itu marah, dan yang ditemukan adalah Ali bin Abi Thalib, bisa saja Ali bin Abi Thalib yang dibunuh mereka.   Tetapi atas perintah Allah subhanahu wata’ala Nabi Muhammad saw menyuruh Ali bin Abi Thalib, menjelang saat hendak berhijrah, menggantikan tidur di tempat tidur Nabi saw, menggunakan selimut Nabi saw, yang berwarna hijau yang berasal dari Hadrami.

Maka ada sebagian ahli Tafsir yang mengatakan bahwa Surat Al Baqarah ayat 207 :

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Bahwa yang dimaksudkan  orang yang bersedia mengorbankan dirinya karena mencari ridho Allah subhanahu wata’ala dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib.

Yang mengorbankan dirinya dengan menggantikan tidur di tempat tidur Nabi Saw yang sedang diancam hendak dibunuh.

Tetap memang Nabi Muhammad saw sempat mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib : “Tidurlah engkau di tempat tidurku, tidak mungkin mereka mencelakakanmu”. Lalu Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Itulah semangat pengorbanan Ali bin Abi Thalib.

Juga pengorbanan dari orang-orang yang bersama Nabi Muhammad saw.  Misalnya Asma binti Abubakar Siddiq, yang selalu mengirim makanan dan minuman  ke gua Tsur dimana Nabi Muhammad saw dan Abubakar Siddiq bersembunyi.  Asma bin Abubakar ketika itu dalam keadaan hamil tua, selama tiga hari itu pergi-pulang dari rumahnya ke Gua Tsur sambil sembunyi-sembunyi, karena khawatir ada orang kafir Quraisy yang melihatnya.

Suatu saat Asma r.a. ketika mengirim bekal makanan dan minuman itu lupa tidak membawa tali untuk mengikat barang-barang yang dibawa dengan pelana unta. Asma kemudian melepas kain ikat pinggangnya, dibelah menjadi dua, separuhnya untuk mengikat barang (bekal untuk Nabi dan Abubakar) dan separuhnya untuk mengikat pingganya sebagaimana biasanya. Karena kejaidian ini maka Asma binti Abubakar dikenal dengan sebutan Dzaatunnitaqqain (perempuan dua ikat pinggang).

Banyak julukan para sahabat Nabi Muhammad saw.  ‘Utsman bin ‘Affan diberi julukan Dzunnurain wal Hijratain (Dua cahaya dan dua Hijrah).  ‘Utsman bin ‘Affan menikah dengan dua orang puteri Nabi Muhammad saw.  Isteri pertamanya dari puteri Nabi saw bernama Ruqayah, karena sakit tidak lama kemudian Ruqayah wafat dan ‘Utsman bin ‘Affan dinikahkan denngan puteri Nabi saw yang lain bernama Ummu Kaltsum.

‘Utsman bin ‘Affan Hijrah dua kali, yaitu pertama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan kedua Hijrah bersama Nabi saw ke Madinah.

Jadi pengorbanan dari para sahabat dan orang-orang dekat Nabi Muhammad saw banyak sekali, tetapi kita sebut saja yang dua seperti tersebut di atas yaitu pengorbanan dari Ali bin Abi Thalib dan Asma binti Abubakar.   Sahabat-sahabat yang lain juga berkorban, mereka melakukan pengorbanan sesuai dengan apa yang bisa mereka korbankan.

Muslimin dan muslimat yang dirahamati Allah subhanahu wata’ala,

Kita yang hidup di abad 21 ini tentunya tidak dituntut untuk mengorbankan jiwa kita, karena kita tidak tinggal di wilayah Daarul Harby (negeri dalam peperangan), kalau orang di Palestina sekarang dituntut untuk mengorbankan jiwa dan raganya, demikian juga Afghanistan, Iraq, dan negeri lain yang masih dijajah oleh orang kafir.  Yang dituntut dari kita paling-paling adalah harta, waktu dan tenaga kita.

Maka salah satu perirntah Allah subhanahu wata’ala dalam AlQur’an adalah kita disuruh membelanjakan (mengorbankan) harta kita di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Kalau kita perhatikan dalam kehidupan manusia sehari-hari, ketika anak (bayi) lahir tangannya menggenggam. Ada seorang sufi bercerita, kalau seorang anak bayi menggenggam adalah simbul bahwa setiap orang itu terlahir dengan kecenderungan ingin mencari, mengumpulkan dan memiliki harta sebanyak-banyaknya untuk dirinya.

Seperti difirmankan Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Al Humazah ayat 2 dan 3 :

2. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung.*)

3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,

*) Maksudnya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.

Dan kalau ia sudah mengumpulkan hartanya itu,  maka ia terjatuh pada golongan orang-orang yang kikir. Dan itu sudah terlihat sejak bayi ketika ia dilahirkan.  Tandanya adalah tangannya menggenggam.  Ia kikir, tidak mau berbagi dengan orang lain.  Ia tidak akan mau menjadi orang yang dermawan.  Ia tidak suka dengan kedermawanan.

Dermawan artinya orang yang suka memberikan harta atau makanan yang berlebih atau bahkan barang yang sudah tidak perlukan lagi kepada orang lain yang membutuhkan.  Tetapi lebih tinggi tingkatannya dari itu adalah orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan, padahal orang yang memberikan itu sangat membutuhkannya. Bahkan ketika memberikan kepada orang lain, ia menjadi susah.  Itulah yang disebut puncak kedermawanan.   Lihat Surat Ali Imron ayat 134 :

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Kalau dalam keadaan lapang seseorang punya barang (harta) yang berlebih, maka ia tidak akan terpengaruh dengan ia memberikan harta itu, karena ia berlebih harta.

Atau ia memberikan barang yang sudah tidak ia perlukan lagi sementara barang itu masih bermanfaat bagi orang lain.

Yang berat adalah memberikan harta kepada orang lain, sementara ia sendiri dalam keadaan sempit. Ia sendiri sedang sangat membutuhkannya bahkan ia menjadi sulit karenanya.  Sifat yang demikian itu dalam Islam disebut : Itsar.

Itsar itu dilakukan oleh orang-orang Anshor (penduduk Madinah) ketika Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah.

Lihat Surat Al Hasyar ayat 9 :

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.

Yang demikian itu dialami oleh sahabat Nabi Muhammad saw seperti Abdurrahman bin ‘Auf,  ia pernah ditawari harta oleh orang Anshor, tetapi Abdurrahman bin ‘Auf berkata :  “Terima kasih atas kebaikanmu, tetapi tunjukkanlah dimana ada pasar, aku akan berusaha mencari nafkah dengan berdagang di pasar itu”.

Riwayat lain lagi, suatu saat Nabi Muhammad saw menerima tamu di Madinah, kebetulan saat itu tidak ada makanan di rumah beliau.  Kemudian ada seorang sahabat datang juga di rumah beliau. Nabi saw bersabda : “Wahai sahabatku, ini ada tamu saya, ajaklah ke rumahmu dan tolong jamulah tamu saya ini”.

Sahabat itu lalu mengajak tamu Nabi Saw ke rumahnya, padahal di rumahnya hanya ada makanan pas untuk persediaan untuk satu orang saja.  Lalu sahabat itu menyuruh isterinya untuk menyediakan makanan dan minta agar lampu dimatikan sehingga ruang menjadi gelap.

Lalu sahabat duduk bersama di meja makan bersama tamu, dalam keadaan gelap gulita dan mempersilakan tamunya makan yang telah disediakan dihadapannya, dan ia pura-pura ikut makan. Hal itu dilakukan sekedar untuk menyenangkan tamunya.

Jadi tamu dilayani tetapi ia malam itu dalam keadaan lapar.

Esok harinya Nabi Muhammad saw bertemu dengan sahabatnya yang telah menjamu tamunya itu, bersabda : “Allah kagum atas apa yang telah engkau lakukan semalam terhadap tamumu”.  Lalu turunlah wahyu Surat Al Hasyr ayat 9 sebagaimana tersebut diatas.

Kembali dengan tangan yang menggenggam ketika lahir. Dan ketika mati, setiap orang mati orang itu akan membuka telapak tangannya, tidak menggenggam. Artinya, bahwa semua harta yang telah dikumpulkan selama hidup di dunia, ketika mati dilepas, tidak ada yang dibawa ke liang kubur, kecuali hanya beberapa meter kain kafan saja.  Bahkan ada yang tidak sempat dikafani, karena ketika ia naik pesawat dan pesawatnya jatuh, tenggelam dalam laut dan ia sudah tidak ketemukan lagi jazadnya. Ia masuk alam kubur tanpa kain kafan.

3.  Persaudaraan Sejati.

Pelajaran sejati terlihat pada diri Abubakar  Siddiq ‘alaihissalam. Setelah perintah dari Allah subhanahu wata’ala untuk hijrah ke Madinah, maka Nabi Muhamamad shollallahu ‘alaihi wasallam datang di rumah Abubakar Siddiq pada waktu yang tidak biasa.

Ketika Nabi saw datang itu, Abubakar juga anak puterinya ‘Aisyah rodiyallahu ‘anha berkata : “Nabi tidak biasa datang pada saat seperti ini, kecuali ada sesuatu yang sangat penting”.  Maka Nabi Muhammad saw menyampaikan kepada Abubakar tentang perintah Hijrah itu.

Apa rekasi Abubakar ketika itu ?  ‘Aisyah r.a. berkata : “Saya belum pernah melihat ada orang menangis karena bahagia sampai saya melihat Abubakar menangis karena bahagia ketika Nabi saw menyampaikan beliau akan bersama berhijrah bersama Nabi Muhammad saw. Rupanya ketika Nabi saw menyampaikan berita adanya perintah ber-Hijrah itu beliau berkata kepada Abubakar : “Engkau menemaniku ber-hijrah ke Madinah”.  Mendengar itu Abubakar merasa sangat bahagia luar biasa sehingga ia menangis.

Abubakar dengan Nabi Muhammad saw memang sangat akrab. Usia beliaupun tidak jauh berbeda. Hubungan antara mereka sangat dekat.  Kalau orang lain masuk Islam masih dengan bertanya ini dan itu, nanti bagaimana dsb, tetapi Abubakar satu-satunya manusia yang masuk Islam tanpa reserve apapun.   Abubakar Siddiq adalah juga mertua Rasulullah saw karena beliau menikah dengan ‘Aisyah r.a seorang puteri Abubakar rodhiyallahu ‘anhu.

Tentang Abubakar, Nabi Muhammad saw bersabda : “Kalau iman Abubakar itu ditimbang, maka iman Abubakar lebih berat dibanding umat seluruh umatku”.

Sahabat utama Nabi Muhammad saw selain Abubakar Siddiq adalah Umar bin Khathab,Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib.  Dalam Hadits shahih dikatakan bahwa orang yang paling mengasihi Nabi Muhammad saw adalah Abubakar Siddiq,  orang yang paling tegas dalam menjalankan agama adalah ‘Umar bin Khathab dan orang yang paling pemalu adalah ‘Utsman bin ‘Affan.

‘Umar bin Khathab terkenal paling tegas dalam menjalankan syariat agama Islam.  Maka ada satu riwayat yang mengatakan bahwa syaithon saja bila berjalan hendak berpapasan dengan ‘Umar bin Khathab,  syaithon itu akan mengambil jalan lain, agar tidak berpapasan dengan ‘Umar bin Khatahb.  Syaithon takut dengan ‘Umar bin Khathab.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib terkenal dengan julukan “Karomallahu Wajhah” (Orang yang wajahnya dimuliakan oleh Allah subhanahau wata’ala).  Ali bin Abi Thalib terkenal sebagai orang yang seumur hidupnya tidak pernah memandang sesuatu yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.

Ketika sedang dalam perjalanan Hijrah ke Madinah, kadang-kadang Abubakar berjalan mendahului agak di depan Nabi Muhammad saw tetapi kadang-kadang ia berada di belakang Nabi Muhammad saw.  Ketika Nabi Muhammad saw bertanya mengapa ia berbuat seperti itu, Abubakar menjawab : “Ya Rasulullah, ketika aku berjalan di depan, karena aku khawatir ada musuh  yang akan mengintai di depan. Biarlah aku yang pertama dilihat oleh musuh.   Sedangkan bila aku di belakang karena aku membayangkan ketika musuh mengejar dari belakang, maka aku melindungi engkau di belakang, biarlah aku yang menghadapi musuh lebih dahulu”.

Itulah persaudaraan sejati.  Ada suatu peristiwa terjadi, dalam suatu peperangan Abubakar di pukul oleh seorang tokoh Quraisy bernama ‘Utbah bin Rabi’ah dengan dibantu orang-orang kafir lainnya, sehingga Abubakar pingsan.  Ketika ia sadar kembali, Abubakar bertanya, yang ia tanyakan : “Bagaimana Rasulullah ?”. dijawab oleh sahabat yang lain : “Alhamdulillah Rasulullah selamat dan sehat wal ‘afiat”.   Lalu Abubakar berkata : “Aku tidak akan memakan makanan sesuap-pun dan tidak akan meminum air seteguk-pun sampai aku melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam”.

Demikianlah persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati bisa diukur bila kita dalam keadaan sulit.  Karena dalam keadaan senang amat mudah mencari saudara, tetapi dalam keadaan sulit kita biasanya sulit mencari saudara. Karena orang mau mendekat kepada kita bila kita bergelimang harta. Biasanya demikian yang terjadi dalam masyarakat kita.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanafaat.

Sebelum diakhiri marilah kita bermembaca do’a untuk Almarhumah Ny. Sutoro, mudah-mudahan Almarhumah diampuni segala dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wata’ala, dan diberikan pahala atas segala amal-ibadahnya, diberikan taman surga dalam alam kuburnya, dan dijauhkan dari adzab kubur,  Amin ya Robbal ‘alamin.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma sholli ‘ala Muhammad,

Wa ‘ala ali Muhammad,

Allahummaghfirlaha, warhamha,

wa’afiha,   wa’ fu’anha fu’anha,

Wa akrim nuzulaha,  wawasi’  mad-kholaha,

Waghsil-ha bil maa-i  watsaalji wal barodi,

Wanaqqiha minal khothoya,

Kama yunaqqotsaubul abyadu minaddanas,

Wabadil khoirin min dariha,

Wa ahlan khoiron ahliha,

Wazaujan khoironmin zaujiha,

Waqiha fitnatal qobri  wa ‘adzabinnar,

Birohmatika ya Arhamarrahimin.

Robbana atina fi dun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqinna ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

__________________

Hari, Tanggal   :   Rabu,  6 Muharrom 1431/ 23 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: