Inner Beauty

Oleh  Dra. Hj. Durrah Baraja,  SH

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Dalam perjalanan naik bus umum antara Solo dan Jogya dalam rangka dinas, kami melihat ada seorang perempuan muda yang cantik sekali. Saking cantiknya, kami sebagai seorang  perempuan yang sudah tua-pun masih tertarik melihat wajahnya.  Berarti perempuan yang duduk di bus itu memang cantik sekali.  Membuat saya ingin melihat, memandangnya berkali-kali.  Tidak lama kemudian dalam bus itu ada seorang pengamen,  melagukan nyanyian dengan harapan para penumpang bus itu akan memberinya uang sekedarnya.  Si perempuan muda yang cantik itu lalu memberikan uang kepada si pengamen itu 2 ribu rupiah.  Padahal pada saat itu (tahun 1990-an) umumnnya orang memberikan uang kepada pengamen atau pengemis rata-rata 100 rupiah.  Jadi perempuan muda yang cantik  itu juga seorang yang dermawan.

Sungguh iri saya dengan perempuan muda yang cantik itu, karena ternyata  bila di-banding dengannya,  baik kecantikannya maupun kedermawanannya saya kalah jauh. Saya ingin sekali seperti dia. Cantik sekali dan dermawan.

Tetapi ketika pada suatu halte (tempat pemberhentian bus), perempuan cantik itu turun dengan mengambil tongkatnya untuk berjalan, ternyata ia buntung sebelah kakinya. Sambil turun dari bus itu ia menoleh kepada saya, dan tersenyum.

Kalau kita kembalikan kepada AlQur’an, akan ada pertanyaan dari Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Ar Rohman dan ayat pertanyaan itu diulang-ulang sampai 31 kali : Fabia ayyi alaa-i robikuma tukadzdzibaan ? (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?).

Surat Ar Rohman ayat 13 :

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah subhanahu wata’ala mengulang-ulang ayat tersebut sampai 31 kali dalam Surat Ar Rohman.  Maka ketika saya melihat kejadian seperti tersebut di atas, menangislah saya.  Karena melihat perempuan yang cantik sekali dan ternyata salah satu kakinya cacat, berbaliklah pikiran saya, bahwa saya tidak iri dan tidak ingin seperti dia.

Demikianlah kehidupan manusia di dunia ini, ada yang cantik, ada yang punya kekurangan, ada yang punya kekayaan, kelebihan dan sebagainya, itulah warna yang terjadi di alam ini.   Maka kalau kita kaji apa yang ada dalam Al Qur’an yang berupa kalam Allah subhanahu wata’ala, yaitu ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Qauniyah.

Dalam buku saya yang saya tulis berjudul : Inner Beauty, sebagai produk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka dalam AlQur’an Surat Luqman ayat 16 :

(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.

Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

Setiap biji akan tumbuh 7 tangkai dan setiap tangkai akan tumbuh  buah 100, maka kelipatannya sudah tujuhratus kali.  Maka bila kita beramal betapapun sedikitnya, oleh Allah subhanahu wata’ala akan diberikan pahala yang berlipat-lipat banyaknya.

Dalam ayat tersebut disebutkan : Khordalin (khordal) artinya biji hitam yang tidak terpakai.  Maknanya perbuatan yang kelihatannya sepele, tidak ada artinya.  Misalnya cuci piring, menyapu lantaui rumah, kelihatannya itu pekerjaan yang sepele, tidak ada nilainya bagi kita.  Tetapi ternyata Allah subhanahu wata’ala tidak pernah menyepele-kan yang kecil-kecil itu.   Semua akan dicatat dan dibukukan dalam buku catatan amal manusia  sekecil apapun yang dianggap oleh banyak orang sebagai pekerjaan yang sepele, yang tidak ada nilainya.

Misalnya anda sekedar memberi makan kepada seekor kucing, itu akan dicatat oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai ibadah. Itulah yang dimaksud Inner Beauty.

Disebutkan dalam ayat tersebut “Shokhrotin” (Shokhroh) artinya bukit batu, maksudnya bisa juga belukar, atau semak-semak, berapa besarnya sebuah biji kapuk randu (klentheng)  dibandingkan  dengan belukar ?  Sangat kecil.  Sehingga perumpamaan itu yang diberikan oleh Allah subhanahau wata’ala dalam AlQur’an.

Atau biji itu dibandingkan dengan langit, artinya sangat kecil perbandingan perbuatan itu, atau bila dibandingkan perbuatan yang hanya sebiji butir kapuk randu (klentheng) dengan besarnya bumi, sedemikian kecil perbandingan amal manusia,  menunjukkan seberapa kecilnya amal perbuatan manusia, tetap dicatat oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai amal-ibadah.    Perbuatan (amal) itu pahalanya akan tumbuh dan tumbuhnya berlipa-ganda, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan balasan, mungkin rezki di dunia, bukan dari orang yang ditolongnya,  melainkan dari “tangan” Allah yang Maha Kuasa, melalui orang lain.

Kita sering mempunyai niat baik, pergi untuk melaksanakan sesuatu kebaikan, tetapi di perjalanan ada rambu-rambu yaitu yang disebut Fujur dan Taqwa. Maka tetapkanlah langkah kaki kita, tetapkanlah hati kita ke arah Allah subhanahu wata’ala.

Hati dalam bahasa Arab adalah Qolbun (Kalbu).  Kata Imam Ghodzali, hati disebut juga Qolbun karena hati sering yanqolibu artinya berbolak-balik atau berubah-ubah. Maka bila niat ingin berbuat kebaikan janganlaah berbolak-balik atau berubah-ubah.    Tetapkan hati untuk taat dan tunduk serta patuh kepada perintah Allah subhanahu wata’ala

Misalnya, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada kita : “Maafkan saudaramu”. Sudahkah kita memaafkan saudara kita ?

Misalnya perintah : “Jangan suka marah” –  Sudahkah kita melaksanakannya ?   “Sampaikanlah amanat itu kepada yang berhak” – Sudahkah kita menyampaikan amanat dengan benar ?

Itulah hal-hal kecil, yang berkaitan dengan diri kita sendiri, benahilah diri sendiri, jangan menuding orang sebelum membenahi diri sendiri.

Kita akui bahwa kadang kita ingin seperti malaikat, padahal kita juga sering bersifat seperti binatang (ternak), bahkan bisa lebih rendah derajatnya dari itu. Dan itu adalah firman Allah subhanahau wata’ala.

Padahal kita manusia itu diciptakan (dijadikan) oleh Allah subhanahu wata’ala diangkat derajatnya menjadi Khalifah Allah di bumi, wakil Allah di atas bumi.  Tetapi kadang kita sendiri yang berlaku rendah bahkan lebih rendah dari binatang.  Maka keadaan kita yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Kita sering mementingkan diri sendiri, ingin menang sendiri.  Bukan itu yang dimaksud Inner Beauty.

Maka kami mengajak kepada anda terutama yang sudah berusia lanjut, sejengkal lagi kita masuk ke tanah, yaitu apabila kita dijemput oleh malaikat maut.

Apabila malakal maut telah tiba kepada kita, tidak ada yang bisa menolaknya.  Maka kapan lagi kita berbuat untuk Allah subhanahu wata’ala ?  Dan Allah pasti akan membalas apa yang kita perbuat.  Allah Maha Halus lagi Maha Bijaksana.

Allahu Akbar – Allah Maha Besar.  Kalau kita memandang langit yang maha luas ini, lalu anda menebarkan segenggam biji kacang hijau ke angkasa, maka bulatan biji kacang hijau itu berputar,  seperti itulah bumi dan planet-planet yang diciptakan Allah itu seperti bumi kita.  Padahal masing-masing planet dan bintang-bintang itu satu dengan yang lain jaraknya jauh sekali dan tidak pernah bertabrakan.  Masing-masing mereka berputar pada porosnya, beredar pada garis edarnya.  Lihat Surat Yaasin ayat 40 :

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Bayangkan bahwa bumi dan planet-planet itu sepertti kacang hijau yang bertebaran di angkasa, lalu kita manusia ada di bumi, betapa kcilnya manusia.  Lalu Kita ucapkan Allahu Akbar. Ketika kita sholat dengan Takbirotul Ihrom, Allahu Akbar, maka Akbarnya Allah itu kita gambarkan ketika kita sholat, tidak ada yang besar kecuali Allah subahanahu wata’ala. Semuanya kecil.

Maka bila seseorang melakukan sholat, lalu yang di dalam pikirannya bukan Allah tetapi urusan lain, berarti ia telah menyisihkan Yang Besar yaitu Allah, menjadikan yang kecil menjadi besar.  Maka orang yang demikian berada dalam posisi tidak tahu-diri.  Tidak tahu mana yang besar dan mana yang kecil. Apalagi bila ketika itu HP-nya berdering, maka Allah menjadi kecil, HP menjadi besar.

Itulah yang ditanyakan mana ruku’ dan sujudnya ?

Apalagi bila ada seseorang tidak mau memaafkan suadaranya, tetangganya, dsb., padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits bersabda : “Tidaklah termasuk orang beriman apabila seseorang itu tidak baik dengan tetangganya”.

Maka marilah kita renungkan sejenak, apa yang difirmankan Allah subhanahu waata’ala kepada kita  lewat kalam-kalam-Nya.  Mendekat (Taqorrub) kepada Allah dengan ber-dzikir.   Dzikir artinya menyebut Nama Allah dan mengetahui  bahwa Allah mendengar dzikir kita. Bila dzikir kita demikian itu, berarti kita sudah dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.  Itulah yang disebut Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah sub- hanahu wata’ala.

Yang sering kita tahu, kebanyakan orang melakukan suatu perbuatan, tetapi orang itu sendiri yang melepaskan perbuatan itu,  tidak menjadi catatan amal.

Dapat digambarkan bahwa di setiap diri kita ada dua malaikat yaitu Malaikat Qiroman (yang memonitor) dan Malaikat Katibin (yang menulis).  Kedua malaikat itu memonitor dan menulis apa saja yang dipikirkan (yang ada dalam hati)  dan dikerjakan manusia setiap saat.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh para sahabatnya : “Ya Rasulullah,  umatmu rata-rata berumur antara 60 – 70 7 tahun.  Sedangkan  umat-umat zaman dahuu lebih panjang umurnya, sampai ratusan tahun. Bagaimana  itu ?”.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Umatku akan diberi kelipatan pahala dari amalnya.  Ada yang dilipatkan sepuluh kali, seratus kali bahkan dilipatkan tujuhraatus kali.  Apalagi disediakan pada suatu malam di bulan Romadhon yaitu yang namanya Lailatul Qadar.  Umat-umat terdahulu tidak diberikan yang seperti itu”.

Maka kita beramai-ramai mencari malam Lailatul Qadar di Bulan Romadhon.  Tetapi harus “membeli tiket” terlebih dahulu.   Maka marilah mulai sekarang kita “membeli tiket” dimaksud dengan Inner Beauty, yaitu membersihkan niat kepada Allah subhanahu wata’ala, bukan kepada manusia atau hamba-hamba yang lain.

Tanamkan dalam hati nurani.  Ketika anda datang mengaji di Majlis Ta’lim, atau melakukan ibadah lainnya karena Allah semata, maka Allah swt yang akan membalas-nya. Itulah yang dimonitor oleh Malaikat Qiroman dan dicatat oleh Malaikat Katibin. Anda akan dinilai dan dipisahkan  mana yang emas dan mana yang loyang.

Maka catatan-catatan yang demikian yang kelak akan diberikan kepada anda, anda akan menerima hadiahnya (balasannya) bahkan akan diberikan “bonus” oleh Allah subhanahu wata’ala. Maka dalam Surat Yaasin dikatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan mengucapkan kepada anda di Surga kelak dengan ucapan : “Salamun qoulan mirrobirrohim” (Salam sejahtera dari Allah Yang Maha Penyayang).

Bayangkan,  mendapat ucapan selamat dari Allah subhanahu wata’ala.  Siapakah yang tidak bahagia dengan mendapat ucapan yang demikian itu dari Allah Yang Maha Penyayang.  Dan ucapan selamat dari Allah swt itu hanya diberikan kepada orang yang memang diberikan “bonus” dari “pembelian tiket” untuk Lailatul Qadar.

Untuk “membeli tiket” Lailatul Qadar tidak harus dengan tidak tidur sepanjang malam, melainkan dengan cara sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :

  1. Menebarkan salam (keselamatan)
  2. Memberi makan kepada (menyantuni) fakir-miskin,
  3. Maafkanlah suami, maafkanlah isteri, maafkanlah tetangga, dan saudara-saudara kita yang lain,
  4. Menyambung silaturahim dengan orang-orang yang pernah putus silaturahimnya dengan kita.
  5. Sholat malam, dikala manusia lain sedang tidur lelap.

Menyambung silaturahim tentu dengan hasilnya (buah silaturrahim), yaitu perbuatan.  Contoh Rasulullah saw ketika melakukan silaturrahim kepada sahabatnya, beliau selalu melihat apakah dapur sahabat itu berasap atau tidak. Beliau siap dengan segala pertolongannya. Bukan bersilaturrahim karena ingin melihat kekayaan seseorang.

Dalam dada setiap manusia ada hati. Dan hati yang paling dalam itulah yang dimaksud Inner Beauty (kecantikaan dari dalam) yaitu perbuatan dengan niat bersih hanya untuk Allah subhanahu wata’ala. Inner Beauty adalah produk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ketika Rasulullah saw mengunjungi sahabatnya sebagai silaturahim, adalah sambil melihat keadaan sahabat itu, apa yang menjadi kekurangannya dan apa yang bisa diberikan kepadanya.

Yang dimaksud sholat malam adalah sholat Tahajud. Orang yang benar-benar ber-Tahajud tidak lagi mengutarakan permintaannya kepada Allah swt,  karena ia sudah ridho dengan ketetapan Allah swt.  Yang diminta adalah ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.  Itulah Taqorrub kepada Allah subhanahu wataa’ala.

Maka orang tersebut akan masuk surga dengan selamat.

Bila anda masuk surga tanpa dikoreksi, adalah luar biasa.  Tetapi bila harus dengan koreksi (dihisab) maka akan dilihat bagaimana ibadahnya, bagaimana amal-perbuatannya, bagaimana zakatnya,  shodakohnya, dst. maka tidak langsung masuk surga.   Lalu kapan kita bebas dari koreksi itu ?  Ialah apabila kita seringkali setelah sholat, duduk dzikir,  lalu koreksi diri sendiri.  Siapa yang sering meng-koreksi diri sendiri maka ia akan bebas dari koreksi di akhirat.

Tetapi bila seseorang tidak mau meng-koreski diri sendiri ketika masih hidup, bahkan merasa ia sudah sempurna hidupnya, maka ia akan dikoreksi di akhirat, dan tidak mungkin akan langsung  masuk surga.

Lalu bila ditanya lagi diri kita ini, kapan kita menjadi orang yang ber-atsar (berbekas) dari sujud dan ruku’ kita ?  Sujud dan ruku’ memang menjadi tanda ketundukkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala, tetapi beramal yang lain misalnya memaafkan saudara kita,  tetangga kita dst. Misalnya anda pernah disakiti, atau diambil hak anda oleh saudara/tetangga, maka maafkanlah dia.  Jadilah seorang yang mempunyai sifat Inner Beauty.

Maka sesungguhnya ibadah kita, sholat kita  dan amalan kita adalah persiapan kita untuk menjadi Inner Beauty.  Ibadah itu mahal harganya.  Misalnya anda shaum Romadhon, tidak makan dan minum dari sejak sebelum Subuh sampai sore hari.  Lalu kira-kira menjelang Maghrib, sebentar lagi Maghrib lalu anda ditawari uang satu juta rupiah tetapi shaum anda harus anda batalkan, maukah anda?.  Tentu tidak mau. Anda pasti akan tetap mempertahankan shaum anda    Disitulah mahalnya ibadah, dan disitulah mahalnya Taqwa.

Sama saja anda disuruh mengembalikan hak orang lain, maka itulah Taqwa.  Atau anda tidak boleh mengumpat orang lain, menahan amarah, dsb, dan anda taat, maka itulah Taqwa.  Selanjutnya anda menghormati seseorang, saling menghargai, itupun Taqwa.

Ketika di bulan Romadhon kita dilatih oleh Allah subhanahu wata’ala selama satu bulan penuh,  ditambah dengan bonus-bonus amalan sunnat yang lainnya.   Ketika anda berhalangan shaum(puasa) maka anda dibolehkan tidak puasa, tetapi harus mengganti di hari lain atau membayar fid-yah.  Tetapi difirmankan oleh Allah swt, bahwa lebih baik shaum daripada membayar fid-yah.

Dan bila kita tahu bahwa sholat adalah ibadah kepada Allah swt, maka hendaknya kita juga beribadah kepada sesama manusia, yaitu dengan shodakoh, zakat, dst. Mudah-mudahan anda bisa dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.

Demikian pula bila anda mendapat rezki dari Allah swt. sebanyak satu juta rupiah, maka yang 2,5% adalah hak orang lain (fakir-miskin). Karena setiap rezki yang kita terima, disitu ada hak orang lain. Disitulah letak Inner Beauty seseorang.

Setiap yang diberikan oleh Allah swt kepada kita itu merupakan kasih-sayang Allah swt. Tetapi tidak semua orang bisa merasakan itu.  Bahkan kebanyakan adalah bila seseorang sudah diberikan kenikmatan harta misalnya, maka ia masih meminta lebih banyak lagi. Sifat tamak dan rakus  memang ada pada diri manusia.

Bagaimana cara mengendalikan tamak dan rakus ? Ialah dengan jalan shaum (puasa). Tetapi janganlah puasa itu hanya menahan lapar dan haus. Melainkan ikhlas karena Allah swt.  Nanti akan diberikan oleh Allah swt bonus pahala yang lebih besar lagi, bahkan lebih besar dari pahalanya itu sendiri.   Surga adalah pemberian balasan oleh Allah swt atas apa yang manusia lakukan di dunia. Dan bonus dari surga adalah : Anda bisa melihat Allah subhanahu wata’ala. Lihat AlQur’an Surat Ath Tahghobun.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Tentang mengendalikan tamak dan rakus sudah dijelaskan diatas.  Kecuali yang dijelaskan itu, apakah ada lagi cara mengendalikan tamak dan rakus ?

Jawaban:

Seperti dijelaskan diatas bahwa untuk mengendalikan sifat tamak  adalah dengan cara ber-Taqwa.  Sedangkan Taqwa adalah tujuan dari shaum (puasa). Tetapi mengembalikan hak orang lain juga merupakan Taqwa.  Misalnya seseorang mempunyai hutang kepada orang lain.  Sudah lama tidak dibayar (dikembalikan) hutangnya.  Mungkin orang yang  punya piutang diam saja.  Tetapi sebenarnya hati nurani yang berhutang mengatakan bahwa kewajibannyalah membayar hutang itu.  Tidak harus ditagih. Yang punya hutang itulah yang merasa harus membayar.  Kalau memang ia orang yang ber-Taqwa, maka ia akan membayar hutangnya itu meskipun tidak ditagih.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menceritakan ada tiga orang yang sedang istirahat di dalam gua, tiba-tiba batu yang ada di atas mulut gua itu runtuh, sehingga menutupi pintu gua itu.  Tentu ketiga orang itu tidak bisa keluar. Lalu ketiga orang itu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar batu itu bisa bergeser hingga mereka bisa keluar dari gua.

Orang pertama berdo’a kepada Allah swt, dengan memohon agar batu itu bisa bergeser dari pintu gua agar mereka bisa keluar dari gua itu. Do’anya disertai dengan mengungkap amalan yang pernah ia lakukan. Yaitu setiap malam itu memerah susu kambing disediakan untuk ibunya yang sudah tua.  Ketika malam-malam anaknya yang masih kecil meminta susu itu, tidak ia berikaan kepada anaknya yang masih kecil itu, karena susu itu  disediakan untuk ibunya yang sudah tua itu untuk minum bila ia bangun dari  tidurnya.  Jadi ia mengutamakan ibunya daripada anaknya sendiri.

Lalu ia mengemukakan amalannya itu kepada Allah swt: “Ya Allah, bila amalanku itu Engkau terima, saya mohon batu itu digeser agar kami bisa keluar dari gua ini”. Maka batu itupun bergeser sedikti.  Tetapi belum bisa untuk lewat, sehingga tiga orang itu belum bisa keluar dari gua itu.

Yang seorang lagi menceritakan kepada Allah swt, bahwa ia pernah mengembalikan hak orang lain yaitu upah karyawannya yang tidak diambil, padahal sudah lama sekali dan upah itu sudah dibelikan kambing sehingga kambingnya menjadi banyak, dan itu dikembalikan semua kepada karyawannya yang tidak mengambil upahnya dulu. “Ya Allah, kalau amalan saya itu Engkau terima, saya mohon agar batu ini bisa bergeser dari pintu gua ini sehingga kami bisa keluar”.

Ternyata batu itu bergeser sedikit, tetapi belum bisa untuk jalan keluar.

Yang seorang lagi menceritakan kepada Allah swt tentang ia bisa menahan syahwatnya di hadapan seorang gadis yang sangat cantik dan ia sangat tertarik pada gadis itu, tetapi ia bisa menahan syahwatnya, sehingga tidak terjadi pelanggaran larangan Allah swt. Itu dilakukan, tidak jadi menyalurkan keinginan syahwatnya, karena ia diingatkan agar ber-Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Maka ia memohon kepada Allah swt : “Ya Allah, kalau amalan saya itu Engkau terima, saya mohon agar Engkau membuka pintu gua ini untuk kami  bisa keluar dari gua ini”. Maka bergeserlah batu dari pintu gua itu dan mereka bertiga bisa keluar dari gua itu sengan selamat.

Atas permohonan ketiga orang yang ber-Taqwa itu, selamatlah mereka.  Kata “Taqwa” banyak sekali dalam AlQur’an.  Taqwa adalah merupakan pelaksanaan dari Iman.

Maka Inner Beauty itu bisa dikemas dengan berbagai macam kemasan. Kemasan Inner Beauty  bisa dengan hati, niat, nafsu dan akal.

Terakhir, lihatlah Surat An Nahl ayat 92 :

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Itulah inti dari Inner Beauty. Jangan sampai anda menghadap Allah swt bukan karena Allah subhanahu wata’ala.  Banyak sekali orang beramal tetapi tidak ada bekasnya karena ia beramal hanya ingin dihargai orang lain.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad

Wa’ala ali Muhammad.

Allahuma ya qodhiyal haajat,

Allah ya Robbi Addarojah,

Allah ya dafi’assayyi’ah,

Allah ya Arhamarrohimin,

Allahummaftahlifi futuhil ‘arifin,

Allahummaftahlimin abwabi rohmatik,

La maqsuda illallah

Ya Allah Yang  Rohman dan Rohim,

Dengan kasih-sayang-Mu kami bisa melihat

Yang benar nampak benar,

Berilah kepada kami kekuatan yang benar itu,

Dengan kasih-sayang-Mu kami bisa melihat

Yang salah itu nampak salah,

Berilah kekuatan kepada kami

Untuk meninggalkan yang salah itu.

Karena bila bukan karena kekuatan dari Engkau,

Kami tidak bisa melaksanakan semua itu.

Ampunilah segala dosa-dosa kami,

Jauhkanlah dosa kami seperti jauhnya timur dan barat.

Berikanlah kami petunjuk

Untuk menyelamatkan keluarga kami.

Robbana atina fidun-ya hasanah

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

________________

Rabu,  27 Muharram 1431 / 13 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: