Orang-Orang yang Mendapat Rahmat

Oleh Rusli Amin, MA.


Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kata “Rahmat”  bila disandarkan kepada manusia berarti kelembutan, belas-kasih, kehalusan. KataRahmat” bila disandarkan kepada Allah subhanahu wata’ala maka pengertiannya banyak,  bisa berarti kasih-sayang Allah, bisa mencakup karunia yang datang dari Allah subhananu  wata’ala yang disebut dengan nikmat. Rahmat dari Allah subhanahu wata’ala bisa berarti Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, bisa juga berarti AlQur’an, bisa juga bararti rezki,  juga bisa berarti Surga.

Kata “Rahmat” dalam AlQur’an disebutkan tidak kurang dari 145 kali.  Bila kita perhatikan ayat-ayat dalam AlQur’an yang terdapat kata “Rahmat”, maka yang dimaksud “Rahmat” adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Lihat Surat Al Anibyaa ayat 107 :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Jadi kehadiran (keutusan) Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam merupakan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, untuk seluruh manusia.  Allah tidak pernah menyebutkan manusia lain sebagai rahmat, yang diutus, yang dihadirkan, selain beliau.

Dalam riwayat, menurut penuturan ibunda beliau yaitu Aminah binti Wahab, selama beliau mengandung bayi Muhammad saw, beliau tidak merasakan adanya beban atau merasa berat dalam rahim beliau sedikitpun.

Dalam Surat Al Mu’minun ayat 12 dan 13 :

12. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Rahim itu tempat yang kokoh. Rahim bisa elastis seperti karet, tetapi ia bisa lebih kuat daripada besi.  Kata “Rahim” juga menjadi satu akar-kata dari kata “Rahmah – Rahmat” yang berarti kasih sayang ibu terhadap anaknya, yang merupakan Rahmat dari Allah subhanahu wata’ala sehingga kasih-sayang seorang ibu tidak bisa ditandingi oleh kasih-sayang siapapun.  Rahim merupakan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang diberikan kepada para ibu dikala ia mengandung anaknya, maka peranakannya (kandungannya) disebut Rahim.

Seperti yang ditulis dalam Kitab Al Wafa’ yang ditulis oleh Imam Ibnu Jauzi,  bahwa Aminah (ibunda Nabi Muhammad saw) ketika mengandung (hamil) beliau tidak merasakan  beban barang sedikitpun.  Ketika Nabi Muhammad saw berusia 6 tahun, ibunda beliau Siti Aminah binti Wahab wafat.   Jadi sejak kecil Nabi Muhammad saw sudah yatim piatu.  Dalam riwayat Hadits, disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw  (ketika itu beliau sudah menjadi Nabi), berjalan melewati kuburan ibunda Siti Aminah  dan beliau lalu melaksanakan sholat sunnat dua rokaat tidak jauh dari kuburan itu. .  Selesai sholat beliau menangis.  Beliau bercerita kepada para sahabat : “Aku baru saja melewati kuburan ibuku, aku melaksanakan sholat dan berdo’a kepada Allah agar Allah mengampuni dosa-dosa ibuku.  Tetapi permintaanku tidak dikabulkan oleh Allah subhanahau wata’ala. Maka aku menangis”.

Menurut ketertangan para ulama, mengapa permohonan Nabi Muhammad saw itu tidak dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala karena ibunda Siti Aminah wafat tetapi belum masuk Islam.  Artinya, Allah subhanahu wata’ala melarang mendo’akan (memohonkan ampun) orang-orang kafir-musyrik.  Karena kembalinya mereka adalah ke neraka Jahannam.

Menurut penuturan Siti Aminah binti Wahab (ibunda Nabi saw),  begitu lahir bayi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dalam posisi duduk, sebagaimana orang duduk pada Tahiyat Awal (dalam sholat).

Kemudian memancar meliputi Barat dan Timur ketika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan oleh ibundanya. Memang banyak keterangan bahwa wajah Nabi Muhammad saw memancarkan cahaya.

Misalnya : Suatu hari Siti ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha meminjam jarum untuk menjahit sesuatu,  tiba-tiba jarum itu jatuh.  Karena ruangannya gelap Siti ‘Aisyah r.a. mencari jarum yang jatuh itu tidak menemukan.  Kebetulan masuklah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ke dalam rumah itu.  Karena sinar yang memancar dari wajah beliau,  ruangan yang semula gelap menjadi terang benderang, dan Siti’Aisyah bisa menemukan jarumnya kembali.  ‘Aisyah r.a. kemudian tertawa.  Maka Rasulullah saw bertanya : “Wahai ‘Aisyah, mengapa engkau tertawa ?”.

Siti ‘Aisyah r.a menjawab : “Ya Rasulullah, tadi aku meminjam jarum, tetapi tiba-tiba jarum itu jatuh, aku mencari-cari tetapi tidak menemukannya, karena gelap. Kemudian engkau masuk dan memancar cahaya dari wajah engkau ya Rasulullah,  sehingga ruangan yang gelap menjadi terang dan jarum yang jatuh itu aku temukan kembali”.

Rasulullah saw bersabda : “Malanglah orang yang tidak mau melihat wajahku karena tidaklah seorang muslim ataupun kafir kecuali mereka mendambakan untuk melihat wajahku”.

Itulah Rahmat Allah subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasul-Nya.

Pada awal-awal ketika Rasulullah saw di Madinah, bila beliau hendak menyampaikan khutbah (pidato) beliau berpegangan atau bersandar pada sebatang pohon kurma yang sudah dipotong sebagai tempat beliau menyampaikan khutbah.  Karena semakin banyak umat Islam dan usia beliau semakin bertambah, lalu ada yang menyarankan bagaimana bila dibuatkan semacam mimbar untuk tempat beliau memberikan khutbah.  Beliau setuju lalu dibuatlah mimbar dari pohon kurma dengan tiga undakan.

Pada suatu hari Rasulullah saw hendak menyampaikan khutbah,  ketika sedang menaiki mimbar tiba-tiba beliau mendengar suara tangisan dan tangisan itu juga di dengar oleh sahabat-sahabat yang lain.  Ternyata yang menangis itu adalah batang pohon kurma.  Rasulullah saw lalu turun dari mimbar kemdian beliau mengusap batang kurma itu, barulah batang korma itu tidak menangis lagi.  Rasulullah saw berkata kepada para sahabat : “Batang korma itu menangis karena ia aku tinggalkan”.  Akhirnya, beliau memberikan  dua tawaran kepada batang korma : “Hai batang korma, silakan engkau pilih.  Apakah engkau pilih aku menanam kembali ke tempat asalmu, ataukah aku menanam dalam surga agar engkau bisa minum air surga dan buah-buahmu akan dimakan penduduk surga?.   Lalu beliau berkata kepada para sahabat : “Pohon korma itu minta kepadaku agar aku menanamnya di dalam surga”. Sahabat Ubay bin Ka’ab lalu mengambil  batang korma itu dibawa kerumahnya sampai batang korma itu lapuk dan hancur.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kalau sebatang pohon korma saja sedih dan menangis ketika ditinggalkan oleh Rasulullah saw, alangkah celakanya orang yang berhutang jasa kepada Rasulullah saw yang tidak memiliki kerinduan kepada Rasulullah saw.

Karena beliau adalah Rahmat dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita kaum muslimin dan muslimat serta untuk semesta alam. Rasulullah saw adalah Rahmat.  Seperti disebutkan dalam Surat Al Anbiyaa ayat 107 diatas.

Rahmat juga berarti AlQur’an. Antara lain disebutkan dalam Surat Al Isra’ ayat 82 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orangorang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Jadi pengertian Rahmat Allah subhanau wata’ala adalah AlQur’an.  Dalam ayat-ayat lain dalam AlQur’an juga kita dapati bahwa yang dimaksud Rahmat adalah AlQur’anul Karim.

Tentang AlQur’an sebagai obat, dan hubungan Iman dengan kesehatan, sudah banyak pembuktian, banyak ahli yang telah melakukan riset, yang membuktikan bahwa bila kita beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar Iman,  maka kita akan sehat bahkan akan sembuh dari penyakit.  Itu sudah diriset oleh Dr. Herbert Benson dari Universitas Harvard Amerika Serikat,  beliau mengadakan survey di masyarakat Amerika Serikat, membuktikan bahwa para dokter dalam mengobati pasien tidak hanya dengan tindakan medik secara murni, tetapi hendaknya disertai dengan do’a-do’a atau ritual-ritual lainnya sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.

Bahwa keyakinan kita sebagai orang yang beriman,  bila kita sakit maka yang menyembuhkan adalah Allah subhanahu wata’ala. Tentu pengobatan itu dilakukan secara normal, dengan berobat ke dokter (rumah sakit), dan Allah yang memberikan kesembuhan. Peran Allah subhanahu wata’ala menentukan.

Demikian pula dalam peristiwa “Kun Fayakun” (Allah berfirman: Jadi, maka jadilah). Allah subhanahu wata’ala sangat menentukan.   Kita sebagai orang beriman meyakini perkara tersebut.

Dalam AlQur’an disebutkan bahwa keuntungan orang beriman salah-satunya adalah ketenangan hati. Lihat Surat Ar Ra’du ayat 28 :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kebanyakan orang yang menderita penyakit fisik, umumnya karena ketidak-tenangan hatinya.  Orang yang sering cemas, akan keluar keringat dingin. Orang yang tidak tenang hatinya (hidupnya) akan mengakibatkan fisiknya menjadi sakit.  Tetapi orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala akan diberikan ketenangan hati dan jauh dari rasa cemas, dimana  kecemasan itu menimbulkan berbagai penyakit fisik.

Maka yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, seorang suami sering lebih dahulu meninggal (mati) daripada isterinya.  Pada umumnya perempuan lebih panjang umurnya dibanding laki-laki.  Karena laki-laki lebih banyak menghadapi tantangan hidup dibandingkan perempuan.  Tidak sedikit perempuan yang diberikan kekuatan lebih oleh Allah subhanahu wata’ala, ia bisa berhasil membangun kariernya disamping membangun rumahtangganya.

Umumnya perempuan lebih aman dari berbagai penyakit, perempuan lebih panjang  umurnya dibanding laki-laki, salah satunnya adalah dari sekian banyak jenis penyakit lebih banyak yang menimpa laki-laki dibandingkan kepada perempuan.   Misalnya sakit serangan jantung, lebih banyak laki-laki yang terkena sakit jantung dibandingkan perempuan.   Maka untuk menetralisir itu semua,  disinilah pentingnya Iman kepada Allah subhanahu wata’ala.

AlQur’an adalah rahmat Allah subhanahu wataa’ala. Kecuali itu, dalam AlQur’an disebutkan bahwa yang dimaksud Rahmat Allah subhanahu wata’ala adalah rezki.

Selain melimpahkan kasih sayang, Allah subhanahu wata’ala juga melimpahkan rezki bagi umat manusia.  Allah-lah yang meluaskan dan menyempitkan rezki seseorang.

Banyak orang yang berpendapat bahwa rezki itu berupa harta (uang), yang merupakan hasil usahanya. Itu menurut pemahaman orang pada umumnya.

Padahal sesungguhnya menurut agama yang dimaksud rezki adalah : Penghasilan atau perolehan yang kita manfaatkan.  Karena banyak orang yang mempunyai penghasilan tetapi bukan merupakan rezkinya.  Orang bisa memiliki harta, tetapi bukan merupakan rezki baginya.

Rezki adalah sesuatu yang kita miliki, nikmati dan kita manfaatkan. Yang tidak kita manfaatkan bukan rezki kita.  Banyak orang Jakarta yang memiliki rumah villa di daerah Puncak.  Tetapi yang menikmati dan memanfaatkan villa di Puncak itu bukan pemilikinya melainkan orang yang menunggu villa itu, apakah itu pembantunya atau orang yang ditugasi menunggu (mengurusi) villa itu.  Pemilik villa itu paling-paling seminggu sekali atau sebulan sekali menempati villa itu.   Selebihnya yang menikmati dan memanfaatkan adalah pembantunya atau tukang kebunnya. Berarti itu rezki si pembantu atau tukang kebunnya.

Rezki yang kita nikmati ada dua pengertian, yaitu menikmati secara fisik dan menikmati secara bathin, yaitu rezki yang dibelanjakan dijalan Allah subhanahu wata’ala.

Pemanfaatan tidak semata-mata dalam pengertian fisik, tetapi juga dalam pengertian bathin atau spiritual.

Maka Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits shahih : “Bahwa harta yang sesungguhnya bagi anak Adam, bukan harta yang telah ia makan yang akhirnya menjadi kotoran, dan ia pakai yang akhirnya menjadi sampah, melainkan yang telah dibelanjakan di jalan Allah. Itulah harta yang sesungguhnya”.

Maka bila anda hendak bersodakoh tidak usah ditunda-tunda, tetapi sekarang dan segera.

Ada sebuah kisah nyata, yaitu ada seorang ibu yang menderita gagal-ginjal,  dan divonis oleh dokter harus menjalani transplantasi (cangkok ginjal). Kemudian ia membuat pengumuman di surat kabar, bahwa ia menawarkan kepada siapa saja yang ingin mendonorkan ginjalnya dengan imbalan harga berapa saja.   Ternyata ada seorang ibu yang bersedia mendonorkan ginjalnya, dan sesuai pengumuman di koran itu mereka (si ibu yang ingin mendonorkan dan ibu yang membutuhkan donor ginjal) bertemu di rumah sakit pada waktu yang telah ditentukan. .   Mereka mengadakan kesepatan dan si ibu yang membutuhkan donor ginjal itu akan membayar kepada si pendonor ginjal sebanyak 20.000 Real Arab-Saudi. (sekitar Rp 60 juta).

Ketika diadakan serah terima uang dan ketika akan dilakukan transplantasi ginjal, si ibu yang mendonorkan ginjlal itu menangis.  Lalu si ibu yang gagal-ginjal itu bertanya : “Mengapa ibu menangis, bukanlah uang telah ibu terima dari saya, apakah ibu tidak rela?”.  Maka si ibu yang hendak mendonorkan ginjalnya itu menjawab sambil masih menangis : “Bukan saya tidak rela, tetapi saya merasakan diri saya ini, seandainya bukan karena kemiskinan keluarga yang saya alami selama ini, mungkin aku tidak akan mendonorkan ginjal saya.  Karena kemiskinan-lah yang membuat saya terpaksa mendonorkan ginjal saya”.

Si ibu yang sakit ginjal dan membutuhkan donor ginjal itu lalu berkata : “Kalau begitu, saya tidak jadi meminta donor ginjal dari ibu,  uang yang telah saya serahkan ambillah untuk ibu”.  Setelah itu si ibu yang gagal-ginjal itu memeriksakan ginjalnya ke dokter yang  biasa memeriksanya, ternyata sakit ginjalnya semakin membaik dan akhirnya sembuh dan dinyatakan sembuh oleh dokter, tanpa di adakan transplantasi (cangkok ginjal).   Itulah yang disebut : Kun Fayakun (Jadi, maka terjadilah) oleh Allah subhanahu wata’ala.

Bila dipikir sacara logika memang tidak ada hubungan antara sakit ginjal dengan sodakoh 20.000 real,  tidak ada hubungannya.  Tetapi itulah yang terjadi, sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala.

Seperti juga yang terjadi (dialami) oleh Syaikh Abdullah bin Al Mubarok, ada seseorang yang datang kepada beliau,   orang itu mengeluh sambil mengatakan bahwa ia sakit bisul tetapi tidak kunjung sembuh.  Padahal orang itu sudah berobat ke dokter dan ke tabib dimana-mana mengusakan kesembuhannya, tetapi tidak juga sembuh.  Maka Syaikh Abdullah  Al Mubarok berkata : “Apakah di kampungmu ada orang yang membutuhkan sumur ?”.   Orang itu menjawab :”Ada, ya Syaikh”.

Syaikh Abdullah Al Mubarok berkata : “Kalau begitu kamu gali sumur itu di kampung-mu itu,  insya Allah bila kamu telah mendapatkan air dari sumur itu, kamu akan disembuhkan sakitmu oleh Allah subhanahu wata’ala

Lalu orang itu pulang ke kampungnya dam menggali sumur, ketika telah menemukan air, bisul yang telah diderita selama tujuh tahun itu disembuhkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Itulah peristiwa Kun Fayakun. Jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan shodakoh.   Dalam keterangan agama bahwa shodakoh itu bisa menolak bala (bencana, menyembuhkan penyakit, dll).

Bila kita ber-infaq atau ber-shodakoh di jalan Allah, pasti Allah akan membalasnya lebih banyak lagi.

Dalam AlQur’an, juga yang dimaksud rezki adalah Surga. Siapa yang mendapatkan Rahmat dari Allah subhanahu wata’ala insya Allah ia akan masuk surga.  Dalam Surat Al Baqarah ayat 156 – 157, bahwa di antara orang yang mendapatkan Rahmat adalah orang yang sabar menghadapi cobaan (ujian) dari Allah subhanahu wata’ala.

Tanya-Jawab:

Pertanyaan :

Disebutkan diatas bahwa ketika Nabi Muhammad saw berjalan melalui tempat kubur ibundanya, beliau lalu mengerjakan sholat sunnat.  Diamanakah beliau mengerjakan sholatnya itu, apakah di dekat kubur ibundanya atau dimana ?

Jawaban :

Tentu Nabi Muhammad saw tidak melakukan sholat di dekat kuburan itu, melainkan agak jauh dari tempat itu, melakukan sholat Sunnat dua rokaat lalu berdo’a mendo’akan arwah ibundanya, tetapi ditolak oleh Allah subhanahu wata’ala, karena ibundanya wafat ketika  masih kafir, belum masuk Islam.

Pertanyan:

Bagaimana memberi shodakoh kepada orang bukan Muslim, bolehkah ?

Jawaban:

Pada prisipnya boleh orang Islam memberikan shodakoh, atau pemberian lainnya kepada orang bukan muslim.   Pembagian zakat harta terutama kepada fakir muskin dan Mu’allaf. Yang dimaksud Mu’allaf adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang sudah tertarik untuk masuk Islam tetaapi belum mengucapkan Syahadat, atau belum menyatakan diri masuk Islam.  Berarti ia belum Islam,   tetapi boleh menerima pemberian shodakoh dari orang Islam.  Orang yang memberikan makan kepada hewan saja akan dibalas oleh Allah berupa pahala, apalagi memberi kepada manusia.  Tentu Allah akan membalas dengan pahala yang berlipat-ganda.  Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi seluruh alam semesta).

Pertanyaan:

Bagaimana dengan bunga bank ?

Jawaban:

Memang sampai sekarang masih terjadi perbedaan pendapat tentang bunga bank, apakah itu termasuk riba atau bukan riba.   Karena riba itu sanksinya sangat berat di akhirat.

Bila anda menyimpan uang di bank, karena bila uang disimpan di rumah tentu tidak aman,  dan bila ada bunganya ambillah dan berikan uang bunga itu kepada pembangunan fasilitas umum, misalnya membuat jalan umum, saluran air atau WC umum, dst.

Tetapi ada jalan tengah, yaitu :  Simpanlah uang anda di bank syari’ah, akan lebih aman dari segi Syar’i.   Karena bank syari’ah tidak ada bunga, melainkan dengan sistem bagi hasil  (Mudhorobah).

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

______________

Hari, Tanggal  :  Rabu, 1 Rabi’ul Awal 1431 / 17    Maret  2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: