Penghalang Kelezatan Iman

Oleh Dra. Hj. Lilis Nurul Afla


Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Sebagaimana kita ketahui dalam Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya seorang mu’min akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan orang yang fajir (bukan mu’min) akan memandang dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari).

Maksudnya, orang yang imannya kokoh, sekecil apapun perbuatannya yang membuat orang lain resah, maka ia menganggap itu merupakan beban yang luar biasa. Sedangkan orang fajir (tidak beriman), sekalipun dosanya besar sekali, ia tetap tenang-tenang saja.

Hidup kita sampai wafat nanti akan membawa Iman.  Sejauh mana keimanan itu ada dalam dada, itulah yang akan menghantarkan kita selamat dunia dan akhirat.

Maka ada keharusan bagi kita setiap muslim dan muslimah selalu meningkatkan Iman. Karena menurut Rasulullah saw Iman itu mengalami turun-naik.  Tetapi tidak usah khawatir, karena keimanan manusia yang naik bahkan akan bisa melebihi imannya malaikat.  Padahal iman yang paling tinggi di antara makhluk Allah adalah iman para malaikat.

Tetapi bila iman manusia itu sedang turun, maka ia akan lebih buruk daripada Iblis sekalipun.  Tidak pernah ada cerita bahwa Iblis membunuh anak Iblis lalu di mutilasi.   Tetapi kita sering mendengar berita bahwa ada manusia membunuh anak manusia lalu di mutilasi.  Na’udzubillahi min dzalik.

Maka kita berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala, yang telah memberikan hati nurani kepada kita,  dalam bentuk Iman dalam dada kita.  Sehingga mudah-mudahan Allah tidak memberikan ujian yang membawa iman kita rusak.  Mudah-mudahan kalaupun kita diuji dengan masalah, hendaknya masalah itu menjadikan menambah keteguhan iman kita.  Karena setiap masalah yang diberikan kepada kita, pasti Allah memberikan jalan keluar.

Untuk itulah Allah subhanahu wata’ala menciptakan Neraka Jahanam.  Karena kebanyakan manusia (juga disebut insan) cenderung lupa. Karena lupa akhirnya cenderung melakukan kesalahan. Dan kesalahan yang berupa pembangkangan kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu manusia tidak beriman, maka ia akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahanam.

Bagaimana ciri-ciri orang yang akan dilemparkan ke dalam Neraka jahanam, lihatlah Surat Al A’raaf ayat 179 :

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.   Mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Rasulullah shollallahu ‘aalaihi wasallam bersabda : Insan (manusia) itu cenderung kepada lupa. Lalu manusia cenderung berbuat salah. Apalagi ketika imannya lemah.  Akhirnya kesalahan tersebut kalau tidak segera diperbaiki, akan lebih jatuh terpuruk lebih rendah daripada Iblis, akhirnya Allah subhanahu wata’ala menempatkannya ke dalam Neraka Jahanam .

Maka menurut ayat tersebut diatas, ciri-ciri orang yang akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahanam :

1. Mempunyai hati tetapi tidak mau memahami ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala.

Baik yang tersurat maupun yang tersirat. Yang tersurat adalah AlQur’an. Dalam AlQur’an jelas ditunjukkan dimana manusia harus menjauhi larangan dan menjalankan setiap perintah.  AlQur’an adalah skenario bagi umat Islam.  Kalau umat Islam pandai membaca skenario dalam AlQur’an itu dengan baik, maka Allah sebagai “Sutradara” akan memberikan “piala citra”  kepada umat manusia sebagai makhluk Allah subhanahu wata’ala. Piala yang akan Allah berikan adalah Husnul Khotimah.

Tempat orang yang Husnul Khotimah adalah surga. Tetapi bila manusia tidak bisa menjalani seperti skenario Allah maka tempatnya adalah Neraka Jahanam.

Maka AlQur’an harus kita baca dan pelajari, kita hayati, lalu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.  Itulah pentingnya belajar (mengaji) dalam Majlis Ta’lim (Majlis Ilmu).  Dengan mempelajari AlQur’an insya Allah kita akan memperoleh dunia dan akhirat.

Manakah ayat Allah yang tersirat ?. Ialah yang berupa ciptaan-Nya. Yang tersirat misalnya : Sabar.  Ketika pengajian belum dimulai anda diminta sabar menunggu teman yang lain.  Mempelajari yang tersirat ternyata membutuhkan kesabaran. Adanya rumah tangga, keperluan hidup, merupakan yang tersirat. Maka kita belajar bagaimana memahami apa yang tersirat. Ada masyarakat yang bisa menerima kita ada yang tidak bisa menerima kita. Mungkin kita masih banyak salah, maka jangan merasa paling benar sendiri.

2. Mempunyai mata, tetapi tidak mau melihat (memperhatikan) tanda-tanda kebesaran Allah subhanahu wata’ala.

Tidak mau membaca kebesaran Allah yang ada di sekelilingnya. Tidak peduli dan masa bodoh.

3. Mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengar ayat-ayat Allah subhanahu wata-‘ala. Ketika Ayat-ayat AlQur’an diperdengarkan, tidak mau mendengarkan.  Alasannya karena belum mendapat Hidayah dari Allah subhanahu wata’ala.  Padahal hidayah bukan ditunggu, melainkan harus dicari, diupayakan.

Apa saja yang termasuk Penghalang Lezatnya Iman ?

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Yang merupakan penghalang lezatnya iman adalah :

  1. Nafsu yang diperturutkan,
  2. Cinta dunia yang amat sangat,
  3. Godaan syaithon yang selalu datang,
  4. Sifat-sifat tercela yang ada pada diri manusia.
  5. Dosa yang dilakukan oleh manusia.

Penjelasan:

1. Tentang nafsu yang diperturutkan, lihat Surat An Naazi’aat ayat 40 :

Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.

Memang sulit sekali menahan diri dari hawa nafsu.  Padahal bila iman seseorang sedang turun, merosot, maka ia lebih rendah daripada Iblis.  Oleh karenanya, maka dengan Iman orang akan bisa mengendalikan nafsu.  Nafsu berasal dari hembusan syaithan.

2. Cinta dunia yang amat sangat, lihat Surat Al A’raaf ayat 176 :

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Maksudnya, orang yang sangat bernafsu kepada dunia diumpamakan seperti anjing.  Anjing adalah hewan yang najis.   Maka bila seseorang yang sangat mencintai dunia, menuruti hawa nafsunya, orang itu diibaratkan seperti anjing yang najis itu.

Jika ada manusia yang terlena dengan dunia (harta, pangkat, jabatan,dst), sampai ia lupa segalanya,  urusan akhirat menjadi kecil, silaturahim dan ajaran agama dianggap remeh, pergi mengaji juga tidak mau, karena sibuk mengurus harta, maka menurut ayat tersebut, orang itu lebih diibaratkan seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.

Itulah gambaran orang yang tertipu dengan dunia.  Ingatlah bahwa kehidupan kita bukan hanya dunia, tetapi juga akhirat.  Lihat Surat Al Ankabut  ayat 64 :

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Hanya orang-orang tahu dan diberikan pemahaman ilmu oleh Allah subhanahu wata’ala bahwa hidup itu ada dua, yaitu dunia dan akhirat.  Dunia yang sekarang sedang kita rasakan dan akhirat yang lama sekali akan kita arungi.

Allah subhanahu wata’ala tidak mengharuskan kepada kita agar sujud saja terus-menerus, tetapi juga urusan dunia harus diingat, tetapi jangan terlalu menyibukkan urusan dunia sehingga lupa beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala yang memberi segalanya kepada kita, memberikan sehat, dll.

Tetapi kita manusia sering lupa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Orang mencari dunia dengan segala tenaganya, pontang-panting, tetapi kalau Allah belum mengidzinkan, tetap saja tidak akan didapatinya dunia (harta) yang dikejarnya.  Tetapi bilah sudah ada idzin Allah, rezki akan dengan mudahnya didapatkan.

Allah menghendaki adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Ketika waktu siang hari untuk berusaha dan waktu malam dijadikan sarana beribadah.

Maka sesuai dengan ayat tersebut diatas, bahwa dunia ini hanya sementara, hanya seperti orang bermain-main atau sendau gurau saja. Bila kita manusia tidak bisa menyikapinya, akan terjerumus pada bujukan syaithan.

3.  Godaan syaitahn yang selalu datang, lihat Surat Faathir  ayat 6 :

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Maka adalah benar bahwa AlQur’an adalah skenario hidup manusia. Semua pahala dan imbalan akan terjadi di akhirat, ada surga yang dibawahnya sungai mengalir, dan neraka yang apinya menyala-nyala.   Maka bila manusia mengikuti apa skenario yang ada dalam AlQur’an, manusia akan mendapatkan piala sebagai orang yang Husnul Khotimah. Maka bacalah AlQur’an dan pelajarilah, tidak usah menunggu bulan Romadhon, tetapi sekarang dan kapan saja. Baca dan pelajarilah AlQur’an dengan sungguh-sungguh sampai paham, jangan hanya sekedar membacanya lalu sudah.

Allah subhanahu wata’ala menyebutkan : “Apa salahku sehingga kalian sebagai hamba-Ku tidak pernah menyebut dan mengingat Aku ? Adakah nikmat-Ku yang tidak pernah kalian rasakan wahai manusia, adakah nikmat yang terputus menjadi rahmat bagimu?”.

Tidak pernah, selama denyut nadi yang ada di badan kita, Allah tidak pernah memutus nikmat. Kita yang diberi kesehatan, bernapas tidak pernah menggunakan bantuan tabung oksigen.  Orang yang sakit sehingga menggunakan tabung oksigen pun masih diberikan rahmat, yaitu bisa membeli tabung oksigen.

Syaithan-lah yang menggoda manusia, karena syaithan tidak ingin manusia menjadi penghuni surga.  Maka dibuatlah manausia ini sibuk sesibuk-sibuknya urusan dunia, sehingga manusia lupa bahwa ada yang harus diingat yaitu Allah subhanahau wata’ala.

Maka kita manusia selalu berlindung dengan mengucapkan : A’udzubillahi minasy-syaithonirrojim. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk).

4. Syifat-syifat tercela pada diri kita, misalnya, menurut Rasulullah saw adalah :

Dusta (Bohong). Walaupun berdusta atau bohong itu untuk kebaikan, tetap saja hati kita tidak tenang.   Rasulullah saw bersabda : “Yang menyebabkan kebanyakan manusia masuk ke dalam neraka adalah dusta (bohong) walaupun itu untuk kebaikan”.

Maka katakanlah yang benar, mesikipun itu pahit.  Tetapi cara mengatakannya tentu dengan cara yang baik.  Sehingga orang lain bisa menerima (mengerti, memahami).

Dosa yang dilakukan kita manusia menjadikan kita malas beribadah, mengundang sial bagi orang yang berbuat dosa tersebut.  Mungkin tidak sesaat itu, tetapi pada hari-hari berikutnya.  Kalaupun tidak sial di dunia tetapi sial di akhirat.

Maka sebagai orang beriman, bila kita melakukan kesalahan atau dosa segeralah minta maaf kepada orang yang diperlakukan salah itu,  dan segeralah mohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan bertaubat.

Apakah Allah subhanahu wata’ala menerima taubat kita ?.

Lihat Surat Az-Zumar ayat 53 :

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka sebesar apapun dosa kita, Allah subhanahu wata’ala bila kita benar-benar bertau-bat, Allah akan mengampuni.  Kecuali bila kita berpindah keyakinan (murtad).

Bila ada di antara kita melakukan dosa besar, jangan putus asa, Allah akan tetap memberikan ampunan kepada mereka yang minta ampun, agar mereka termotivasi.  Tetapi bukan berarti setiap saat kita boleh berbuat dosa.

Itulah sekelumit bahasan tentang Penghalang Kelezatan Iman. Mudah-mudahan bermanfaat. Billahittaufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

_________________

Rabu, 24 Rabi’ul Awal 1431 / 10 Maret  2010.

Satu Tanggapan

  1. assalaamu’alaikum…..menurut hadits ,zaman sekarang ini termasuk zaman fitnah.Dimana manusia sama meninggalkan al qur’an dan assunah dampaknya adalah umat islam mengalami “krisis aqidah”dan kesimpulan ini bisa kita lihat pada jarangnya minat umat untuk menuntut ilmu islam. walloohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: