Syahadat Risalah

Al Ustadz H. Ahmad Rofi’I,  Lc.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Sebagai kelanjutan dari bahasan tentang Lailaha illallah sebagai intisari daripada pernyataan  iman kita kepada Allah subhanahu wata’ala, maka kali ini kita bahas tentang Syahadat Risalah. Maksud Syahadat Risalah adalah Syahdat setelah Syahadat Tauhid. Kita semua tahu bahwa Syahadat ada dua pilar yaitu :

  1. Bersyahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah subhanahu wata’ala (Syahadat Tauhid),
  2. Bersyahadat bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan Allah subhanahu wata’ala.

Bersyahadat yang kedua tersebut disebut juga dengan Syahadat Ar Risalah. Menunjuk-kan bahwa kita bersaksi, meyakini, berikrar dan bersumpah bahwa Muhammad bin Abdillah adalah hamba Allah dan utusan-Nya.

Syahadat tersebut juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari syarat Lailaha illallah. Karena tidak mungkin orang mengucapkan “Asyhadu an lailaha illalalah” tanpa mengucapkan  “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah”.

Seperti dikatakan oleh seorang ‘alim pada akhir abad ini yaitu Syaikh Hafidz Hakami ketika ditanya apa hubungan kedua Syahadat tersebut, beliau mengatakan : Dua Syahadat ini adalah mutalazimatan, artinya satu sama lain saling terkait.

Kata beliau selanjutnya : Syarat-syarat Syahadat yang pertama (Lailaha illallah), adalah merupakan syarat Syahadat kedua (Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu).

Sebagaimana Syahadat kedua (Muhammad ‘abduhu wa rasuluhu) merupakan syarat bagi Syahadat pertama yaitu Lailaha illallah.

Sebelum masuk bahasan tentang Syahadat Risalah, yaitu bahwa Allah subhanahu wata’ala mengutus rasul, tidak mengutus anak, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Nasara bahwa Isa adalah anak Allah.  Padahal sesungguhnya dalam kitab Injil yang asli disebutkan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Hal ini penting untuk mendasari muqoddimah bahasan kali ini, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 26 :

Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah. sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.

Dan bahwa juga Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia pilihan yang dimuliakan Allah subhanahau wata’ala. Oleh karena itu Rasul bukanlah anak Allah, melainkan rasul adalah manusia pilihan Allah subhanahu wata’ala. Maka kita sering juga mengatakan untuk Rasul adalah Al Musthofa, Al Muhtar, yang artinya adalah pilihan.

Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga salah seorang di antara pilihan. Bahkan manusia terpilih di dunia ini adalah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wata’ala dan bahwa kita harus menyaksikan, berikrar, meyakini bahwa Muhammad adalah Rasulullah sebagaimana tercantum dalam banyak ayat, misalnya  Surat Al Baqarah ayat 151 :

151. Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Yang dimaksud Hikmah adalah Sunnah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam

Juga Allah subhanahu wata’ala dalam Surat At Taubah   ayat 128 berfirman :

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,  berat terasa olehnya penderitaanmu,  sangat menginginkan  (keimanan dan keselamatan)  bagimu, amat belas kasihan  lagi penyayang  terhadap orang-orang mu’min.

Rasul yang dimaksud adalah seorang dari kaummu sendiri (manusia) dan sifat dari Rasul itu adalah ‘Azizun ‘alaihi (sangat mulia), harishun (merasa berat) atas penderitaan umatnya, tidak suka ada perkara yang memberatkan umatnya. Contoh : Tentang siwak, tentang sholat malam bulan Romadhon,  Rasul tidak ingin itu menjadi fardhu.  Harishun juga berarti sifat gigih terhadap mu’minin.  Apa saja yang memberikan manfaat kepada orang-orang mu’minin, Rasul selalu gigih memperjuangkannya.

Terhadap orang-orang mu’min Rasul juga bersifat ro’uf (kasih) dan rahim (sayang).

Dari ayat tersebut diketahui bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam punya sifat yaitu : ‘Azizun (mulia), Harishun, Ro’ufun, dan Rohimun.

Dari ke-empat sifat tersebut sayangnya tidak tercantum satupun dalam Sifat yang wajib diketahui oleh kita tentang Sifat-sifat Rasul.  Bahkan kita suka mengarang : Siddiq, Amanat, Tabligh dan Fathonah.   Padahal Sifat ‘Azizun, Harishun, Ro’ufun dan Rohimun adalah sifat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang Allah firmankan dalam AlQur’an, seperti dalam ayat tersebut diatas.

Juga dalam AlQur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman : Allah mengetahui bahwa engkau (ya Muhammad) adalah utusan-Nya.

Ini adalah bukti bahwa Muhammad adalah Rasullullah, utusan-Nya.  Dan bagian daripada beriman adalah kita wajib meyakini bahwa Muhammad ditetapkan sebagai Rasulullah (utusan Allah subhanahu wata’ala).  Allah sebagai Pencipta alam semesta ini menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.

Dengan demikian bagi kita adalah merupakan tuntutan bahkan konsekuensi untuk menetapkan, meyakini dan meng-imani bahwa Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wata’ala.

Apakah yang dimaksud dengan Syahadat terhadap Risalah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ?

Menurut penjelasan para ulama, disini dinukilkan pernyataan Syaikh Hafidz  Hakami dalam kitabnya Al A’lam As Sunnah Al Manshurah, yang dimaksud bersaksi: “Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah adalah membenarkan dengan pasti dari hati yang paling dalam,  yang bersesuaian dengan pernyataan lisan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah untuk semua makhluk apakah itu manusia ataukah jin”.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Muhammad adalah berfungsi sebagai saksi bagi kita, sebagai pemberi kabar gembira, sebagai pemberi peringatan keras.  Muhammad adalah menyeru kita menuju jalan Allah dan itu bukan karangannya sendiri, tetapi dengan idzin Allah subhanahu wata’ala. Muhammad adalah lampu yang menerangi”.

Maka siapa yang ingin terang benderang dengan cahaya wahyu dari Allah subhanahu wata’ala,  maka berimanlah kepada Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Perkataan beliau Syaikh Hafidz Hakami selanjutnya :

  1. Wajiblah atas kita untuk membenarkan seluruh apa saya yang diberitakan oleh Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, apakah berita itu tentang masa lampau ataukah berita masa yang akan datang,
  2. Wajib membenarkan perkara yang dihalalkan oleh beliau dan kita wajib mengimani, membenarkan apa yang haram.
  3. Hendaknya menjalankan dan patuh terhadap apa yang menjadi perintah Muhammad Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam.
  4. Menghentikan apa saja yang dilarang oleh Muhamamad shollalalahu ‘alaihi wasallam.
  5. Mengikuti syari’at Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dan selalu menetapi dan menepati Sunnah-sunnah beliau, apakah kita dalam keadan sendiri atau terang-terangan di hadapan orang banyak, disertai dengan rasa puas dan ridho terhadap perkara apa saja yang menjadi ketetapan Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh pasrah.
  6. Bahwa ketaatan kita kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam merupakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala.
  7. Bermaksiat, menyelisihi, melanggar terhadap Sunnah Muhamamad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah wujud maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena Rasulullah hanyalah penyampai risalah Allah dan Allah tidak me-wafatkan Muhammad hingga Allah sempurnakan Al Islam.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal berarti syariat Allah telah lengkap. 

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan Islam ini dengan sejelas-jelasnya,  meninggalkan umatnya benar-benar berada di atas terang-benderang.  Tidak ada orang yang menyeleweng, mencari jalan lain, dan menyelisihi ajaran Muhamamad shollallahu ‘alaihi wasallam setelah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam wafat dan meninggalkan Islam dalam keadaan sempurna ini, kecuali orang itu akan menjadi orang yang binasa.  Banyak masalah yang terkait dengan masalah ini.

Jangan mengatakan “Muhammad Rasulullah”  sambil kita tidak mengetahui kandungan yang ada di dalam Syahadat bahwa Muhammad itu Utusan Allah.  Seolah-olah konsekuensi itu sesuatu yang boleh dilalui begitu saja, tidak penting,  lebih penting kita mengurusi hidup kita.  Tidak demikian.

Syahadat Risalah, seperti dikemukakan di atas, yaitu menyatakan dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah subhanahu wata’ala. Banyak bukti yang memberikan argumentasi bahwa Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia biasa. Beliau adalah hamba Allah seperti kita.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Isro’ ayat 1 :

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Di sini Allah subhanahu wata’ala menyatakan bahwa yang di perjalankan dari Mekkah ke Masjidil Aqsho  adalah hamba-Nya yaitu Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Ternyata Muhammad adalah Hamba-Nya.

Juga dalam Surat Al Jin ayat 19 disebutkan :

Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah)  hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya.

Yang dimakusd “hamba Allah” dalam ayat tersebut adalah Muhamamad shollalalahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Surat An Najm ayat 10 :

Lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Yang dimaksud “hamba-Nya” dalam ayat tersebut adalah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam .

Dalam Surat Al Baqarah ayat 23 :

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,   jika kamu orang-orang yang benar.

Dalam ayat tersebut yang dimaksudkan “hamba Kami” adalah Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa Muhammad adalah hamba Allah subhanahu wata’ala.

Dalam Hadits tentang Syafaat pada hari Kiamat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, ketika manusia sudah mendatangi para nabi sejak Adam sampai Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, beliau mengatakan : “Wahai anak Adam, pergilah kalian kepada Muhammad, ia adalah hamba Allah yang telah diampuni dosa-nya yang lalu dan Allah ampuni dosanya yang akan datang”.

Hadits tersebut menyatakan bahwa Muhammad adalah hamba Allah subhanahau wata’ala bahkan di antara keistimewaannya bahwa martabat ‘ubudiyah Muhamamad itu mencapai semua nabi/rasul, sehingga menjadi rujukan, bila manusia ingin minta syafaat ketika hari Kiamat datanglah hanya kepada Nabi Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Tidaklah mungkin orang (hamba) yang seperti itu jika ia tidak mencapai derajat penghambaan yang sangat tinggi kepada Allah subhanahu wata’ala.  Maka jika kita ingin menjadi hamba Allah, menjadilah hamba yang sangat patuh kepada Allah, sehingga akan menduduki derajat yang tinggi dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala.

Semakin tinggi iman, taqwa dan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, maka semakin seseorang itu menjadi hamba Allah yang sesungguhnya.  Sebagaimana Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam, Muhammad bin Abdillah bin Abdul Mutholib, Allah pilih menjadi manusia yang disebut hamba Allah subhanahu wata’ala. Padahal beliau adalah manusia pilihan dan manusia pilihan itu berderajat hamba.

Kita sering mengaku “hamba Allah”, tetapi apakah derajat penghambaan kita sudah seperti penghambaan Muhammad Rasulullah terhadap Allah subhanahu wata’ala ? . Itulah yang harus kita mawas diri.

Dalam Surat Al Fath ayat 29 :

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Maksudnya, bahwa Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam ayat tersebut Muhammad adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Muhammad adalah utusan Allah.

Dalam surat Ahzab  ayat 40 :

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Rasul lebih tinggi daripada Nabi, dan setiap Rasul adalah Nabi tetapi tidak setiap Nabi adalah Rasul. Jika Nabi ditutup (diakhiri) maka pasti Rasul juga ditutup. Dan setelah itu tidak boleh ada nabi baru.  Siapa yang mengatakan ada nabi baru berarti orang itu keluar dari iman kepada Allah, iman kepada Islam dan iman kepada kerasulan Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia adalah kafir, keluar dari Islam.

Dalam Surat Al A’raaf ayat 158 :

158. Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

Maksudnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sendiri menyatakan atas perrintah Allah subhanahu wata’ala untuk mengatakan : Bahwa beliau adalah utusan Allah  subhanahu wata’ala, untuk seluruh manusia.  Siapa yang tidak mengimani Muhammad sebagai Rasulullah, maka menurut firman Allah tersebut ia bukan manusia.   Maka bila orang ingin mempertahankan statusnya sebagai manusia, maka ia wajib mengimani bahwa Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wata’ala.

Dan itu Allah Robbul ‘alamin yang menyatakannya.

Itulah tuntutan setelah kita berikrar dan faham apa yang dimaksud “Muhammad adalah Rasulullah” dan memahami apa yang menjadi kandungan dan unsur yang kita yakini, ketika kita mengucapkan : Asyahadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Maka dalam salah satu kitab bernama Kitab Dienul Haq, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Hammad ‘Ali ‘Umar, dikatakan :

Pengertian Syahadat yang menyatakan bahwa saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, adalah kita mentaati perkara apa saja yang diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dan diperintahkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dan membenarkan apa saja yang diberitakan oleh Rasul Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.  Dan menjauhi apa saja yang dilarang dan diancam oleh Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan tidak melakukan suatu ibadah apapun terhadap Allah subhanahu watala kecuali dengan melalui Syari’at yang disyari’atkan oleh Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Berikutnya dikatakan dalam kitab tersebut :

Selain itu kamu harus mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah untuk segenap manusia, dan Muhammad itu adalah hamba, tidak boleh disembah. Muhammad adalah utusan Allah, tidak boleh didustakan, dengan mengatakan Muhammad bukan utusan Allah.

Muhammad itu harus ditaati, harus diikuti, barangsiapa yang mentaati Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan masuk surga.  Dan barangsiapa yang maksiat kepada Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan masuk ke dalam neraka.

Bagian dari makna “Muhammad adalah utusan Allah” adalah engkau mengetahui dan meyakini bahwa engkau harus menerima apa yanag disyariatkan Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam baik dalam perkara aqidah maupun dalam perkara-perkara ibadah yang Allah perintahkan apakah juga dalam masalah perundang-undangan, perhukuman dan juga masalah syari’at (hukum) baik itu dalam perkara perilaku, moral, akhlak, maupun dalam membangun dam membina keluarga,  dalam perkara halal dan haram, semuanya harus mengikuti ajaran dan syari’at Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam

Tidak mungkin kita berlaku terhadap semua perkara tersebut diatas itu kecuali melalui jalan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dia adalah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Muhammad adalah penyampai risalah dari Allah subhanahu wata’ala.

Berulang-ulang kita akan sering mendapatkan pernyataan seperti itu dari para ‘ulama Salaf maupun ‘ulama Kholaf, bahwa makna Muhammad Rasulullah seperti (antara lain) yang dikatakan dalam kitab tersebut diatas.  Karena kita memahami bahwa pernyataan Asyhadu anna Muhammadarrasulullah harus mempunyai nilai konsekuensi bukan sekedar perkataan yang mudah dikatakan dan dilontarkan begitu saja. Maka setiap kita harus mengetahui dengan benar dan tepat apa makna dan kandungan dari Syahadat Risalah itu.

Bila ada berita yang disampaikan Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yaitu berita tentang umat-umat yang telah lalu, tentang apa yang terjadi hari ini (sekarang), ataupun apa yang akan  terjadi di masa yang akan datang, kalau itu berasal dari Muhammad Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam, maka kita wajib membenarkannya. Tidak boleh ragu dan tidak boleh harus selalu rasional.  Karena rasio (akal) kita manusia terbatas. Karena Rasulullah hanya menyampaikan wahyu saja dari Allah subhanahu wata’ala.

Berikutnya, misalnya ada kata-kata “taat kepada perintah Rasulullah” berarti kita harus tahu perintah Rasulullah itu seperti apa.  Perintah Rasulullah shollalallahu ‘alaihi wasallam berbentuk kata perintah atau berita yang maknanya perintah. Semua itu dibahas dalam “Ushul Fiqih” tidak selamanya perintah bermakana “perintah”, tetapi bisa jadi didalamnya ada cara lain yang dengan itu kita mengetahui bahwa itu adalah perintah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian juga “larangan Rasulullah” adalah banyak, bisa sharih (nyata) dilarang dengan lafadz “dilarang”, atau dengan berita yang maknanya menunjukkan “pekerjaan yang dilarang”.

Kemudian perintah “tidak melakukan suatu peribadatan”. Orang mengatakan bahwa : ”Ini ibadah, ini baik”  tetapi kalau tidak ada contoh  dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak boleh dilakukan.

Bagian dari konsekuensi   “Asyhadu anna Muhammadarrasullah” adalah, bahwa kita harus konsekuen apakah sesuatu ajaran demikian itu ada dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Kalau tidak ada ajaran itu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam jangan menganggap baik atau buruk atas ajaran itu, karena sesungguhnya baik dan buruk itu adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan juga yang diberikan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Singkatnya, kalau menurut Allah dan Rasul-Nya sesuatu itu baik, maka pasti itu baik, walaupun menurut akal manusia belum tertangkap atau tercerna.  Demikian pula kalau menurut Allah dan Rasul-Nya sesuatu itu tidak baik, pasti itu tidak baik, walaupun akal kita belum bisa mencernanya.

Bila kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah subhanahu wata’ala (Asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi  warasuluh),   maka tidak kurang dari 5 perkara yang harus kita lakukan :

1. Mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Yang dimaksud cinta, ada cinta biologis dan ada cinta iman bahkan ada cinta karena ras (suku). Cinta kepada isteri adalah cinta biologis.   Tetapi yang lebih tinggi dari semua itu adalah cinta Iman. Iman cinta kepada Rasulullah harus menimbulkan cinta dari diri kita.

Instruksi cinta kepada Rasulullah adalah langsung dari Allah subhanahu wata’ala.

Apakah seseorang itu bertemu dengan Rasulullah atau bermimpi bertemu dengan Rasulullah atau tidak, apakah orang itu senang dengan orang Arab atau tidak, ia wajib mencintai Muhamamad  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada kaitannya dengan suku (ras), melainkan karena membenarkan apa yang dari Allah subhanahu wata’ala. Karena perintah-Nya harus mencintai Muhammad Rasulullah shollalalahu alaihi wasallam, maka wajib dilaksanakan.

Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits shahih : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih kalian cintai daripada kalian mencintai anak atau kepada bapak-ibu kalian dan lebih mencintai dari seluruh manusia”.

Sudahkah kita lebih mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam daripada mencintai anak kita sendiri atau orang-tua kita sendiri ?.   Ini tidak mudah.

‘Umar bin Khathab rodhiyallahu ‘anhu pernah berikrar  di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Demi Allah, sesungguhnya engkau paling aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku”.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab (bersabda): “Tidak wahai Umar, pernyataan engkau itu tidak benar. Seharusnya engkau mencintai aku lebih dari engkau mencintai dirimu sendiri”.

Mendengar sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang sifatnya meng-koreksi itu ‘Umar bin Khathab langsung bersumpah lagi : “Demi Allah sesungguhnya engkau ya Rasulullah lebih aku cintai daripada aku mencintai diriku sendiri”.

Artinya ‘Umar bin Khathab langsung meluruskan pernyataannya, tidak usah menunggu lama-lama.  Berarti ‘Umar bin Khathab mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang berarti ia orang yang sudah terbukti keimanannya.

Dalam Hadits lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ada tiga perkara, siapa yang terdapat dalam tiga perkara itu maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya paling ia cintai daripada  selain keduanya”.

Maka wajib hukumnya kita mencintai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Kalau kita tidak mencintai Rasulullah berarti kita sama dengan orang-orang kufar.

2. Menyatakan / bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.

Di dalamnya harus ada unsur bahwa kita membenarkan berita, semua berita yang disampaikan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam wajib kita benarkan.  Sampai kepada misalnya, seandainya ada berita bahwa “umat ini suatu hari akan mengalami penyakit yang menjangkit umat-umat terdahulu”. Ternyata penyakit itu adalah Al Bathor dan Al Baghdho (satu sama lain saling membenci).

Peluang penyakit tersebut ada pada umat yang sekarang ini, karena umat sekarang suka meniru umat terdahulu.  Kalau peluang itu tidak kita jaga dan kita waspadai maka kaum muslimin mudah diadu domba. Berita dari Rasulullah ini wajib kita benarkan dan wajib kita waspadai.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Azzumar ayat 33 :

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

Disebut sebagai orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang membenarkan orang yang membawa kebenaran  yaitu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi bila ada orang yang mencela atau mengkorek-korek dengan mengatakan bahwa Muhammad itu orang biasa saja, ia membawa tradisi Arab, yang demikian itu didesas-desuskan oleh orang-orang liberalis, mereka adalah orang yang tidak takut kepada kemurtadan.  Itu berbahaya.   Dalam ayat tersebut Allah berfirman bahwa orang yang ingin disebut bertaqwa harus membenarkan apa yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Surat At Taghobun ayat 8 :

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Maka kalau orang itu hendak kafir atau hendak mengingkari, Allah tahu.  Maka orang wajib beriman kepada Allah dan wajib beriman kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepada ajaran cahaya (AlQur’an) yang terang.  Orang yang ingin kepada kekufuran berarti ia menginginkan kegelapan.

Surat An Najm ayat 3 dan 4 :

3. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Maka apa yang diberitakan oleh Muhammad Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bukan nafsu, melainkan wahyu.

Kalau itu menancap pada hati sanubari kita, maka kita tidak akan terpengaruh oleh penyakit dan virus apapun.

Dalam Hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Demi yang jiwa Muhammad di tangan Allah,  tidak ingin aku dengar seorangpun dari umat ini Yahudi-kah atau Nasrani-kah dan orang itu mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, orang itu akan menjadi penghuni neraka”

Itulah ancaman dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu hadits dan ayat diatas sangat jelas, apa yang datangnya dari Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam wajib kita mengimani dan membenarkannya.

3.  Berhukum pada Syari’at Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam.

Inilah yang sampai saat ini masih bermasalah.  Banyak kaum muslimin Indonesia yang masih ketakutan (trauma) terhadap hukum dan Syari’at Allah subhanahu wata’ala. Dianggapnya  sholat itu bukan Syari’at Allah subhanahu wata’ala. Untuk sholat, orang mau mengerjakannya karena itu bukan syari’at Allah subhanahau wata’ala. Seolah-olah demikian.

Padahal bila hukum orang mencuri dihukum potong tangan sama dengan orang meninggalkan sholat.   Orang yang meninggalkan sholat maka Pemerintah berhak untuk mengambil tindakan.  Disuruhlah orang itu bertaubat.  Kalau tidak bertaubat, maka orang tersebut boleh dibunuh dengan hukuman Had. Itulah Syari’at Allah subhanahu wata’ala.

Orang Indonesia baru memahami bahwa sholat lima waktu adalah wajib. Padahal Syari’at yang lain juga ada  berkenaan dengan sholat itu.

Mengapa kita menjalankan syari’at tentang sholat tetapi tidak menjalankan tentang sanksi orang yang meninggalkan sholat?.  Ini adalah penting.

Surat An Nisaa’ ayat 65 :

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Ternyata yang terjadi dalam masyarakat kita bahwa keputusan-keputusan bukanlah keputusan yang patuh kepada keputusan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, melainkan patuh kepada keputusan yang berdasarkan hawa nafsu.   Kalu demikian mana Syahadat kita ? Kita selalu menyatakan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah subhanahu wata’ala, tetapi sampai kepada konsekuensi, masing-masing kita mencari alasan.  Berarti kitta tidak konsekuen.

Dalam Surat ‘Asyuura ayat 21 :

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.

Maksudnya, apakah mereka telah membuat Syari’at dalam agama ini sesuatu yang tidak pernah Allah idzinkan ?  Membuat syari’at atau peraturan perundangan di luar ketetapan Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, di luar ketetapan Islam berarti membuat syari’at yang tidak pernah mendapatkan idzin dari Allah subhanahu wata’ala.   Padahal pemberi idzin adalah Allah subhanahu wata’ala.

Surat Al Hujuraat ayat 1 :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya*] dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

*] Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.

Rasul memutuskan suatu keputusan, tetapi umat memutuskan lain.   Allah subhanahu wata’ala memutuskan sesuatu tetapi manusia memutuskan selain keputusan Allah dan Rasul-Nya.  Itulah yang dimaksud “mendahului”.

Kita dilarang mendahului Allah dan Rasul-Nya tetapi kita tetap masih melanggarnya. Dimanakah Syahadat kita ?

Surat Al Ahzab 36 :

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.

Maksudnya, Jika Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, lalu ada orang yang memilih ketetapan lain selain ketetapan Allah dan Rasul-Nya, barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti ia sudah sesat yang sangat.

Ayat tersebut membuat  berdiri bulu kuduk kita (mengerikan),  siapa yang mencari pilihan selain apa yang dipilih oleh Allah dan Rasul-Nya, maka orang itu menjadi orang yang sesat. Walaupun orang itu mengaku muslim.

Perkataan para ‘ulama antara lain Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam kitabnya bernama Tahkim Syar’illah, kata beliau : Makna syahadat bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya,   yaitu berhukum kepada hukum Allah saja, tidak berhukum selain hukum Allah subhanahu wata’ala

Dan itu berbarengan dengan wujud peribadatan hanya terhadap Allah subhanahu wata’ala saja, karena kandungan dua kalimah syahadat adalah bahwa yang diibadahi hanyalah Allah dan Muhammad adalah yang diikuti, yang memutuskan suatu hukum,  dst.

Terakhir, jika kita beraksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya adalah tidak beribadah kecuali dengan syari’at Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam.

Tidak menamakan, tidak menggandengkan, tidak meng-kategorikan ibadah kecuali jika yang demikian itu terdapat, termaktub, tercatat, terwariskan di dalam syari’at Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa itu adalah ibadah.

Dalam Surat Al Ahzab ayat 21 :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Ada ancaman, yaitu Surat An Nisaa’ ayat 115

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Maka orang wajib mengikuti apa yang dibawakan Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang menyelisihi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tempatnya adalah neraka Jahanam.

Dalam Hadits juga Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  “Siapa yang mengada-ada dalam perkara kami yang bukan dari ajaran kami, maka ia tertolak”.

Dalam Hadits yang lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan merupakan ajaran kami, maka amalan itu tertolak”.

Menunjukkan bahwa kita tidak boleh berkata dan berbuat dengan kategori ibadah kecuali jika ada ketentuannya (dalil) dari Allah dan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Demikianlah bahasan kali ini mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamu’alikum warohmatullahi wabarokatuh.

_____________________

Senin malam, 11 Muharram 1431 – 28 Desember 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: