Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 91 – 92

Oleh Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.


Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahamati Allah subhanahu wata’ala,

Melanjutkan bahasan Tafsir AlQur’an beberapa waktu lalu, sekarang kita sampai pada bahasan Tafsir Surat Al Baqarah ayat 91 – 92, ayat ini membicarakan tentang hubungan orang Yahudi Bani Israil dengan umat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, khususnya umat Islam.  Bagaimana mereka menyikapi umat Islam, bahasannya sebagai berikut :

Bismillahirrohmanirrohim.

Ayat 91 :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”

Yang dimaksud “mereka” dalam hal ini adalah orang Yahudi Bani Israil.  Ketika itu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan dakwah Islam di Madinah dimana pada waktu itu mayoritas penduduk Madinah adalah orang Yahudi. Ketika itu berliau menyampaikan  firman Allah subhanahu wata’ala : “Hai orang-orang Yahudi, berimanlah kamu sekalian kepada apa yang Allah telah turunkan, yaitu AlQur’an”.

Orang Yahudi diajak untuk mau menerima dan meng-imani AlQur’an.

Apa jawab orang-orang Yahudi Bani Israil ?  Mereka berkata : “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja”.

Maksudnya, mereka orang Yahudi tidak mau menerima dan beriman kepada AlQur’an, mereka hanya mau beriman kepada Kitab Taurat saja, yang mereka yakini berasal dari Allah subhanahu wata’ala melalui Nabi Musa ‘alaihissalam.  Di sini kelihatan mereka tidak mau bergeming dari posisinya.

Mereka menolak, mengkufuri, kafir dengan apa yang datang setelah Taurat, artinya mereka tidak mau beriman kepada AlQur’an.  Padahal AlQur’an adalah benar, AlQur’an membawa kepada kebenaran, mengajarkan kebenaran.  Bukan hanya itu, AlQur’an diturunkan membenarkan isi kitab yang mereka bawa (Taurat).  Artinya AlQur’an tidak menolak isi Kitab Taurat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah subhanahu wata’ala menurunkan empat Kitab Suci, yaitu Taurat, Zabur, Injil dan AlQur’an. Artinya, semua itu bersumber dari yang Satu, yakni Allah subhanahu wata’ala. Karena sumbernya dari Allah subhanahu wata’ala, maka tidak muingkin isi AlQur’an bertentangan dengan isi Taurat. Allah tidak mungkin menyalahi ucapan-Nya sendiri.  Allah tidak mungkin mengingkari firman-Nya sendiri.

Contohnya bahwa AlQur’an membenarkan Kitab Taurat :

Taurat yang asli mengajarkan  Tauhid. AlQur’an juga isinya mengajarkan Tauhid. Taurat mengajarkan hukum Rajam, maka dalam AlQur’an juga ada hukum Rajam. Artinya hukum yang ada dalam Taurat di adopsi (diakui) kebenarannya karena sumbernya dari Allah subhanahu wata’ala. Artinya,  Al Qur’an membenarkan Taurat.

Kalau sudah dikatakan demikian mustinya orang Yahudi Bani Israil itu mau (bersedia) menerima AlQur’an.   AlQur’an dari Allah,  sementara Taurat, Zabur dan Injil juga berasal dari Allah subhanahu wata’ala, maka kalau orang beriman kepada Taurat semestinya mereka juga beriman kepada AlQur’an.

Selanjutnya dalam ayat disebutkan :  Katakanlah : “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman ?”.

Maksudnya, kalau memang kamu beriman kepada Taurat saja, mengapa kamu dulu membunuh nabi-nabi ?

Orang-orang Yahudi  terkenal sebagai bangsa yang berani membunuh nabi.  Nabi Zakaria, Nabi Yahya dibunuh oleh orang-orang Yahudi.  Dan Nabi Isa-pun hendak dibunuh, tetapi diselamatkan oleh Allah subhanahu wata’ala, beliau diangkat ke langit.

Maka dalam ayat disebutkan : Kalau memang mereka beriman kepada Taurat, mengapa mereka membunuh nabi-nabi tersebut ?  Padahal dalam Taurat dilarang membunuh orang.   Di sini Allah subhanahu wata’ala menggugat kepada Yahudi Bani Israil.  Lalu bagaimana pengakuan mereka  bahwa mereka beriman kepada Taurat ?  Maka sebetulnya iman mereka seperti yang mereka katakan (akui) itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat tersebut :

Bahwa Iman berisi tiga : Iman dengan lisan, membenarkan dengan hati dan melaksana-kan dengan perbuatan.

Orang Yahudi mengatakan bahwa mereka beriman dengan Taurat, seharusnya hatinya beriman kepada Taurat dan perbuatannya beriman dengan Taurat, sejalan dengan isi Kitab Taurat.  Padahal dalam Kitab Taurat dikatakan bahwa membunuh orang adalah perbuatan dzolim.  Dengan kata lain, membunuh adalah perbuatan jahat.  Maka kalau memang mereka benar beriman kepada Taurat, mustinya mereka tidak membunuh.  Artinya, orang Yahudi itu antara lisan dan perbuatannya tidak sesuai. Perbuatannya bertentangan dengan perkataannya (paradox).

Orang yang beriman seperti itu disebut : Inkonsisten, tidak jujur.  Kalau memang mereka beriman kepada Taurat mustinya mereka juga beriman kepada AlQur’an. Kalau mereka mengakui hanya beriman kepada Taurat saja, mustinya mereka tidak membunuh nabi-nabi.   Dan kenyataannya mereka mengingkari AlQur’an, berarti mereka tidak jujur. Artinya, bahwa orang Yahudi In-konsistensi dalam keimanan mereka.  Pelajaran bagi kita sebagai muslim, bila beriman agar lurus, benar dan jujur. Apa yang diimani dalam hati, diucapkan dengan lisan harus dilaksanakan dengan perbuatan.  Satunya kata dengan perbuatan. Sekali seseorang tidak bisa dipegang perkataannya, maka selamanya orang tidak akan percaya.

Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam tafsirnya mengatakan :

  1. Bukanlah termasuk orang yang berakal dengan akal yang benar. Bukan pula beriman dengan iman yang sungguh-sungguh apabila mereka lebih mengedepan-kan segala yang bersifat duniawi dan mengorbankan segala yang bersifat ukhrowi.  Yang fana didahulukan, yang kekal dibelakangkan.   Orang Yahudi mendahulukan yang fana dan meng-akhirkan yang kekal.
  2. Orang Yahudi Bani Israil tidak konsisten dalam pengucapannya (pengakuannya). Mereka mengaku beriman kepada Taurat saja, padahal Taurat, Zabur, Injil dan AlQur’an  sama-sama diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Sesuai dengan akan sehat, kalau mereka beriman kepada Taurat mustinya mereka juga beriman kepada AlQur’an.
  3. Bila memang mereka beriman kepada Taurat padahal dalam Taurat dilarang membunuh manusia, kenyataanya mereka membunuh nabi-nabi. Kesimpulan : Orang Yahudi tidak konsisten. Tidak sesuai dengan akal sehat. Tidak sesuai dengan iman yang hakiki.

Ayat 92 :

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya*], dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.

*] Maksudnya kepergian Musa a.s. ke bukit Thur yang terletak di Sinai, sesudah didatangkan kepadanya mukjizat-mukjizat.

Nabi Musa ‘alaihissalam datang kepada umat manusia kira-kira 3000 tahun lalu, atau 1000 tahu sebelum Masehi.  Yaitu ketika ibunda Nabi Musa ‘alaihissalam berada di Mesir  ketika Mesir dikuasai oleh Fir’aun. Suatu hari Fir’aun mengeluarkan peraturan yang isinya : Siapa saja perempuan dari kaum Bani Israil yang melahirkan bayi laki-laki maka bayi laki-laki itu harus dibunuh. Kalau bayinya perempuan dibiarkan hidup.

Kebetulan ketika peraturan Fir’aun itu diberlakukan, ibunda Nabi Musa  melahirkan anak laki-laki, yaitu yang kelak bernama Musa (Nabi Musa ‘alaihissalam).  Ketika melahirkan anak laki-laki itu, ibunda Nabi Musa bingung, dan takut, khawatir ketahuan oleh orang,  pasti anaknya akan dibunuh.  Lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa agar Musa yang masih bayi itu dihanyutkan di sungai Nil, yaitu dengan cara diletakkan di dalam suatu tempat (wadah) dan tempat itu seperti perahu kecil dihanyutkan di sungai Nil.

Sampailah tempat bayi Musa itu terapung-apung hanyut dan tersangkut di pinggir sungai Nil di dekat tempat mandi-mandi permaisuri Fir’aun dan dayang-dayangnya.  Oleh dayang-dayang permaisuri Fir’aun  tempat bayi Musa itu ditemukan, karena ternyata bayi tersebut terlihat sehat dan sangat bagus, menarik, lalu disampaikan kepada permaisuri Fir’aun dan dimintakan ijin kepada Fir’aun agar bisa diasuh dalam istana Raja Fir’aun. Ternyata Fir’aun mengijinkan dan bayi Musa di asuh dan dibesarkan di istana Fir’aun.

Jadi Nabi Musa ‘alaihissalam sejak bayi sudah tinggal di lingkungan istana.   Sampai kemudian menjadi dewasa dan setelah menjadi orang dewasa Allah subhanahu wata’ala memanggil Nabi Musa ‘alaihissalam dan diangkatlah beliau menjadi Rasul.  Allah subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam supaya menghadap Fir’aun :  “Hai Musa,  pergilah engkau menghadap Fir’aun, ia sudah melampaui batas”.

Nabi Musa ‘alaihissalam ketika diberitahu untuk menghadap Fir’aun dan berdakwa tentang iman kepada Allah subhanahu wata’ala, beliau lalu berdo’a  :

25. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku*],

26. Dan mudahkanlah untukku urusanku,

27. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

28. Supaya mereka mengerti perkataanku,

*] Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan untuk menghadapi Fir’aun yang terkenal sebagai seorang raja yang kejam.

Jadi do’a tersebut, yang juga sering kita baca berasal dari do’a Nabi Musa ‘alaihissalam.

Bila dicari dalam AlQur’an ada tidak kurang dari 100 do’a dari para Nabi. Yaitu do’a Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dst, ada semua dalam AlQur’an.  Maka bila kita membaca do’a yang dari AlQur’an dan  kita hafalkan, maka do’a tersebut lebih dari cukup.

Nabi Musa ‘alaihissalam datang kepada Fir’aun dengan membawa Bayyinat (mu’jizat).

Mu’jizat adalah kejadian alam yang untuk terjadinya, bersalahan dengan hukum alam yang ada.  Misalnya : Api adalah panas. Itu hukum alam.  Tetapi dalam AlQur’an disebutkan ada seorang nabi (Nabi Ibrahim a.s.) dibakar oleh api tetapi tidak merasa sakit, tidak panas, tidak mati, tetapi tetap sehat wal afiat.  Itulah mu’jizat Nabi Ibrahim a.s. selamat dibakar api.  Ada lagi tongkat Nabi Musa a.s. yang dilemparkan ke tanah bisa berubah menjadi ular.   Tongkat Nabi Musa a.s. ketika dipukulkan di laut, ternyata bisa membelah laut. Itulah Mu’jizat Nabi Musa a.s.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam diperjalankan oleh Allah subhanahau watala dari Mekkah ke Masjidil Aqsha, yang berjarak 1000 kilometer dan diperjalankan ke langit tinggkat tujuh dan sampai ke Sidratul Muntaha hanya dalam tempo kurang dari semalam, itu adalah Mu’jizat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi Mu’jizat hanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul, tidak kepada manusia biasa.  Maka adalah salah bila ada seorang biasa yang sakit parah , sudah berobat ke berbagai rumah sakit, tetapi tidak kunjung sembuh lalu mengatakan : Kalau bukan karena Mu’jizat dari Allah, penyakitku ini tidak bisa sembuh.  Perkataan orang itu salah, karena “Mu’jizat” tidak diberikan kepada orang biasa, melainkan hanya kepada para Nabi dan Rasul.  Orang biasa bukan diberikan Mu’jizat melainkan Ma’unah (pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala).

Mu’jizat dari Allah subhanahu wata’ala adalah banyak.  Ada yang tertulis, yaitu AlQur’an  dan tidak tertulis, misalnya Isro’ dan Mi’roj, tongkat Nabi Musa a.s., Nabi Isa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, dsb.

Dalam ayat 92 tersebut : Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (Al Bayyinat, mu’jizat) ,  maksudnya berupa Taurat.

Kemudian kamu jadikan ‘Ijla (patung anak sapi)  sebagai sesembahan (sebagai Tuhan) sesudah kepergiannya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang dzolim.

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala sudah mengutus Nabi Musa ‘alaihissalam dengan membawa Mu’jizat (Taurat),  dan Tongkat yang bisa berubah sebagai apa saja menurut kehendak Allah subhanahau wata’ala, seharusnya orang Yahudi beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan beriman kepada Taurat tanpa reserve.

Ternyata dalam prakteknya, orang Yahudi Bani Israil ketika Nabi Musa a.s. pergi meninggalkan mereka selama 40 hari/malam, dipanggil Allah subhanahu wata’ala ke bukit Tursina (Dataran tinggi Sinai). Dan selama 40 hari Nabi Musa diperintah oleh Allah untuk berpuasa tanpa berbuka puasa.  Karena untuk mendapatkan (menerima) kitab suci dari Allah subhanahau wata’ala,  orang harus disucikan hatinya. Untuk mensucikan hatinya ialah dengan mengendalikan hawa nafsu dan untuk itu yang paling pas adalah dengan cara berpuasa.

Oleh karena itulah, maka untuk bisa memahami AlQur’an, orang harus bersih hatinya. Oleh karenanya, maka AlQur’an diturunkan di bulan suci Romadhon, ketika orang sedang berpuasa.  Sehingga hanya orang yang berhati bersih, suci jiwa dan batinnya, bisa menangkap isi AlQur’an.  Maka ketika memulai mempelajari AlQur’an kita selalu berdoa : Semoga Allah subhanahu wata’ala berkenan membuka pintu hati kita.

Pelajaran yang bisa kita ambil :  Orang Yahudi Bani Israil adalah orang yang in-konsisten mustinya mereka beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, tetapi ternyata mereka mengingkari Nabi Musa ‘alaihissalam, dengan cara menyembah patung anak sapi.

Yaitu ketika Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya (Bani Israil) selama 40 hari/malam, ketika itu umat Bani Israil ada 600.000 orang ditinggalkan oleh Nabi Musa a.s. pergi ke gunung Thursina untuk menerima Kitab Taurat.

Ketika itulah 70.000 orang dari 600.000 orang membelot, menentang Nabi Musa a.s.  Mereka mengikuti provokasi seseorang bernama Musa Samiri, yang mempropagandakan bahwa Tuhan yang benar adalah Patung anak sapi yang terbuat dari emas.  Patung itu diberi lobang sehingga ketika di letakkan di tempat yang agak tinggi, tertiup angin lalu bisa mengeluarkan bunyi.  Karena patung emas itu mengeluarkan bunyi, lalu dikatakan itu adalah Tuhan yang benar. Orang yang terpengaruh dan mengikuti Musa Samiri ada sejumlah 70.000 orang.

Maka dalam ayat tersebut dikatakan : Kemudian kamu jadikan (patung) anak sapi sebagai sesembahan sesudah kepergiannya (Nabi Musa pergi ke bukit Thursina.  Sebenarnya  kamu adalah orang yang dzolim.

Dzolim artinya menganiaya diri. Kalau memang mereka orang beriman, seharusnya tetap beriman kepada Allah subhanahu wata’ala meskiupun Nabi Musa a.s. tidak ada.  Kenyataannya orang Bani Israil tidak konsisten.

Bagi kita pelajarannya adalah : Meskipun Allah subhanahu wata’ala tidak terlihat oleh mata kita, tetapi Allah tetap ada dan Maha Mengetahui tentang kita.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Mengapa orang-orang Yahudi selalu dijelek-jelekkan, tidak konsisten dsb. Padahal mungkin tidak semua orang Yahudi berperilaku demikian.  Bagaimana kalau orang selalu dijelek-jelekkan, akhirnya akan menjadi jelek benar ?.

Jawaban:

AlQur’an adalah berfungsi sebagai korektor, yang mengoreksi perilaku manusia sebelum Al Qur’an atau manusia yang beriman kepada selain AlQur’an.  Yang dikoreksi dalam AlQur’an kebetulan orang-orang Yahudi Bani Israil.   Apakah semua orang Yahudi jelek?. Tidak semua orang Yahudi itu jelek.  Ada juga orang Yahudi yang  bersifat baik, bersikap tidak bermusuhan.

Dalam kasus ayat tersebut,   Allah subhanahu wata’ala mengoreksi.  Karena ada sebagian orang Yahudi yang menentang keras kepada Islam.  Memang Allah subhanahu wata’ala tidak menyebut satu persatu orang Yahudi, tetapi Allah subhanahu wata’ala menyebut secara umum yaitu “Wahai orang Bani Israil”  atau “Wahai Ahli Kitab”, dst.

Gaya bahasa AlQur’an sering mengarah kepada yang khusus tetapi menyebutnya secara umum.  Misalnya dalam Surat Al ‘Ashr : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi”. Yang disebutkan disini adalah secara umum yaitu “manusia” tetapi bila dipelajari Tafsirnya,  yang dimaksud “manusia” adalah orang-orang kafir, yang tidak beriman.  Bahwa orang yang tidak beriman akan merugi karena “ketidak imanannya”.

Maka bila dalam ayat tersebut (ayat 91) disebutkan “Yahudi Bani Israil” maksudnya adalah tokoh-tokoh Yahudi Bani Israil.  Bagi umat Islam ketika mempelajari ayat tersebut diingatkan agar jangan meniru seperti Yahudi Bani Israil yang in-konsisten itu, maksudnya adalah  tokoh-tokohnya.  Kadang gaya bahasa AlQur’an menyebut  yang khusus tetapi dimaksudkan yang umum, misalnya : Diharamkan bagi kamu memakan bangkai, darah dan daging babi. Yang disebutkan haram  adalah “daging babi”,  tetapi apakah berarti kepala babi boleh dimakan ? Tentu keseluruhan tubuh babi itu haram. Yang disebutkan “daging babi” tetapi artinya adalah keseluruhan tubuh babi.   Disinilah perlu Tafsir (penjelasan).

Maka bila disebutkan bahwa orang Yahudi tidak konsisten, maksudnya adalah :  ada sejumlah tokoh Yahudi yang tidak konsisten.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum diakhiri marilah kita membaca doa untuk kita serta keluarga.

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabikalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, ‘allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron wal ‘afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

______________

Rabu,   25 Shofar 1431 / 10 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: