Fiqih Sholat

Oleh Dra. Hj. Ohan Zarkasih.

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Bahwa ibadah sholat akan diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala sebatas apa yang kita mengerti tentang Sholat. Bahwa sholat adalah tiang agama. Harus diyakini bahwa ibadah sholat merupakan ikhtiar . Yang membedakan seseorang itu muslim atau bukan adalah sholat.

Pertama, tegaknya agama (Islam) bila kita menegakkan sholat dengan baik, tepat waktu, khusyu’, istiqomah, sabar, ikhlas, yakin, tawakkal. Dan bila itu sudah diikhtiarkan sedemkian rupa, akhirnya kembali kita serahkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Hanya Allah yang menentukan apakah sholat itu diterima atau tidak. Maka diminta kita sabar. Sholat adalah kewajiban setiap muslim dan tidak bisa diwakilkan.

Kedua, Sholat merupakan ibadah yang pada hari Akhirat merupakan amalan yang paling pertama yang akan dihisab (dipertanyakan, dihitung). Jika nilai sholatnya baik, maka semua amalan menjadi baik, menjadi amal-sholih. Bila sholatnya buruk, maka amalan yang lain akan menjadi buruk pula.

Ketiga, harus kita yakini dan kita asumsikan bahwa sholat yang kita lakukan itu adalah sholat yang terakhir dalam hidup. Jangan sampai menjalankan sholat nanti-nanti saja, masih ada waktu dsb. Harus segera, begitu masuk waktu sholat, segera sholat. Anggap saja itulah sholat terakhir dalam hidup kita. Sebab semua nilai akan kembali kepada Allah dan Allah subhanahuwata’ala menilai ibadah kita adalah pada sholat yang terakhir itu.
Maka ada kalimat mutiara : Atsbi’issayi-atal hasanah – Biasakanlah memperbaiki amalan hari ini, maksudnya agar bisa menutup ketidak-sempurnaan dan kekurangan pada ibadah-ibadah yang lalu.

Keempat, ibadah sholat akan diterima Allah subhanahu wata’ala bila sholat itu dihayati, di mengerti, tidak sebatas gerakan dan bacaan saja. Yaitu dipahami seluruh bacaan sholat dan dilakukan dengan khusyu’. Misalnya ketika mengucapkan takbir (Takbirotul-ihrom) artinya kita membesarkan (mengagungkan) Allah subhanahu wata’ala, yang lain semuanya kecil.

Takbir adalah mengucapkan ”Allah Akbar”, kalau itu diucapkan di awal sholat disebut Takbirotul-ihrom, artinya mengagungkan dan meng-haramkan. Yaitu mengharamkan berkata-kata dan gerakan selain ucapan dan gerakan dalam sholat.
Takbir Intiqol adalah takbir (mengucap Allahu Akbar) pada setiap pergantian gerakan (rukun) dalam sholat.

Bagaimana supaya ibadah kita menjadi bernilai kebaikan ?

Lihat Surat Yunus ayat 61 :

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya, tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Allah menyebut dirinya dengan kata ”Kami” artinya Allah beserta para malaikat. Bahwa setiap gerakan, perkataan atau dalam hati, walau sekecil apapun disaksikan oleh Allah subhanahu wata’ala dan malaikat dan dicatat dalam kitab catatan yang nyata (Lauhil Mahfudz).

Lihat Surat Qaaf ayat 16 – 18:

16. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

17. (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.

”Kami” dalam ayat tersebut maksudnya adalah Allah dan malaikat, serta orang tua. Yaitu ketika menciptakan seorang (bayi) manusia, Allah menghargai peran makhluk-Nya, yaitu bapak-ibu si anak manusia itu.

Maka bila kita selalu ingat bahwa Sholat kita selalu dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala dan selalu dicatat oleh malaikat, demikian pula ibadah kita yang lain seperti mendatangi majlis ta’lim, dsb, maka itu merupakan kepuasan tersendiri. Tidak akan terasa jerih-payah kita jauh-jauh datang dari rumah, merasa alhamdulillah bisa duduk bersimpuh di majlis ta’lim. Sukma kita merasa tenang, bisa duduk bersama dengan teman-teman pengajian yang lain.

Sebaliknya bila kita melakukan pelanggaran, maka hati nurani kita juga akan bicara, misalnya kita berbohong (dusta). Allahpun akan melihatnya. Ini menjadi ukuran sejauh mana kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Yaitu ketika sholat seakan-akan sesudah itu Allah akan mencabut nyawa kita. Sebagaimana dimaksud Surat Yunus ayat 61 diatas.

Bila seseorang sudah cinta, maka ia akan selalu ingin duduk berdampingan dengan yang dicintainya. Maka bila seseorang sudah cinta dengan Allah subhanahu wata’ala, ketika ia melaksanakan Syari’at Allah, itulah saat-saat ia merasa ada kebersamaan dengan Allah subhanahu wata’ala. Maka dalam keadaan apapun ia merasa bersama dengan Allah subhanahu wata’ala. Ketika terjadi sesuatu tentu ia akan mengucap Astaghfirullah, di saat kagum kepada sesuatu ia akan mengucap Subhanallah, karena ia merasa bersama Allah subhanahu wata’ala. Karena ia akan selalu merasa bahwa Allah menyaksikan, seperti disebutkan dalam Surat Yunus ayat 61 tersebut diatas.

Demikian ketika seseorang membaca AlQur’an, Allah subhanahu wata’ala menyaksikan, malaikat mencatatnya. Orang yang mencintai sesuatu, akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh yang dicintainya itu.
Maka bila seseorang tidak mau mendengarkan AlQur’an, maka sebetulnya ia sedang tidak mencintai Allah subhanahu wata’ala., atau cintanya kepada Allah sedang menurun.

Dan bila kamu tidak mengerjakan sesuatu, sesungguhnya Kami menjadi saksi.Tidak ada yang luput dari pengetahuan Tuhanmu walau sebesar zarrah-pun.
Maksudnya dihadapan Allah subhanahu wata’ala tidak ada satupun yang bisa disembunyikan walaupun sekecil biji sawi (sekecil atom). Dan semuanya itu dicatat dalam kitab yang nyata. Misalnya anda hanya sekedar menjep (mencibir), Allah tetap akan mencatatnya. Allah menyaksikan dan mencatatnya.

Maka mudah-mudahan sholat dan ibadah lainnya yang sudah kita lakukan, dengan segala kekurangannya, diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Kita melakukan itu antara lain untuk sejauh mana kita mengenal Allah ketika kita melakukan sholat. Bila kita awalnya hanya merasa diperintah, atau sebatas melakukan kewajiban, maka sekarang marilah kita tingkatkan agar ibadah kita lebih dari itu. Kita melakukannya karena kecintaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

Lihat Surat Luqman ayat 34 :

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sifat Tawakkal merupakan akhlak ke-Nabian yang kita pelajari dari Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam, yang diajarkan oleh Allah subhanahau wata’ala.
Tawakkal berarti menyerahkan segala keputusan kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi tetap berusaha dengan maksimal, ibadah dengan optimal dan sabar. Kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berbuat untuk mencapai tujuan.

Dengan tawakkal kita tidak mudah putus-asa, tetap semangat dalam menjalani hidup yang penuh tantangan dan cobaan ini. Maka kita prihatin kepada saudara-saudara kita yang saat ini terkena musibah. Kita setidaknya menyisihkan waktu untuk mendo’akan mereka yang terkena musibah, agar memulihkan kembali kondisinya.

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari atau masa yang akan datang. Manusia boleh berencana tetapi keputusan ada pada Allah subhanahu wata’ala. Dengan ber-tawakkal kita tidak mudah bersedih ketika upaya kita belum berhasil. Karena rahmat Allah subhanahu wata’ala sangat luas, sehingga semua makhluk di alam semesta ini bisa mendapatkan anugerah-Nya.

Yakinlah bahwa Tawakkal adalah kunci sukses orang-orang yang beriman. Artinya apa yanag sudah kita usahakan, sholat kita laksanakan seolah-olah itu sholat yang terakhir. Tiada hari tanpa kesaksian dari Allah subhanahu wata’ala. Maka kita merasa sebenarnya sangat membutuhkan Allah subhanahu wata’ala. Maka setelah kita berusaha beramal dengan maksimal, hasilnya kita serahkan kepada Allah subhanahu wata’ala, diiringi dengan harapan dan do’a.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala akan mengaruniakan pertolongan-Nya, ada kekuarangan kita Allah akan mencukupkannya, ada ketidak-sempurnaan Allah yang menyempurnakan dan pada saat kita dalam keadaan berdosa mudah-mudahan Allah memberikan ampunnan.

Do’a :
Bismillahirrohmanirrohim,
Allahumma ya Allah, setelah kami mendengar,
Engkau berfirman, setiap saat kami bergerak,
Setiap saat kami mengedipkan mata,
Sungguh hati dan perasaan-pun Engkau saksikan,
Karena itu kami memohon pertolongan-Mu ,
Melalui majlis ta’lim yang kami adakan,
Sebagai bukti tanda kebersamaan kami,
Dan bukti syukur kami dengan segala kekurangannya,

Jadikan pertemuan Majlis Ta’lim ini
Menjadikan wasilah bertambahnya keimanan kami,
Bertambahnya keyakinan kami,
Istiqomahnya dalam ibadah kami,
Sehingga kepada-Mu kami berharap,
Berikanlah kami rasa mencintai-Mu ya Allah,
Dan mencitai Rasul-mu sesudahnya.

Mudah-mudahan Engkau membantu dan menolong hati kami,
Agar jangan terlalu mencintai selain Allah dan Rasul-Nya,
Karena Engkau berfirman dalam Surat At Taubah :
“Bahwa siapa yang meletakkan cinta kepada selain Allah,
Lebih cinta dari pada kepada-Mu maka Engkau berfirman:
Akan ada saat dimana Engkau
Akan memberikan ujian dan cobaan,
Karenanya, ya Allah aku berlindung kepada-Mu,
Jangan berikan ujian dan cobaan
Yang kami tidak sanggup memikulnya.
Bila saat ini ada keluarga kami yang sedanaag sakit,
Angkatlah penyakitnya, ya Allah,
Mudahkan kesembuhannya,
Bantulah segala keperluannya,
Agar segera Engkau berkenan memulihkan kembali,
Mengganti sakitnya dengan sehat wal a’fiat,
Bagi yang sedang dalam kebahagiaan,
Semoga tetap bersyukur dan tidak menjadikan
Sesuatu yang mendatangkan kekufuran
Terhadap nikmat-Mu.

Bagi anak-anak kami yang sudah berumah tangga,
Semoga Allah menjadikan rumah-tangga yang terpelihara,
Sakinah, mawadah warohmah,
Dan terjaga dari sesuatu yang mendatangkan dunia,
Dan fitnah akhirat.
Akhirnya ampunilah dosa da kekeliruan kami,
Kedua orangtua kami dan urusan bangsa dan negara kami.
Untuk dapat kami ikuti kebaikannya,
Dan bantulah segala urusan kami hingga selesai

Robbana atina fiddun-ya hasanah,
Wafil akhiroti hasanah, waqina ‘adzabannar.
Washollallahu ‘ala Muhammadin Rasulin amin,
Alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

_________________

Hari, Tanggal : Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1431 / 3 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: