Tafsir Surat Al Maa-idah ayat 106

Drs. H.M. Soetrisno Hadi, SH, MM.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Muslimin dan muslimat yang ditahmati Allah subhanahu wata’ala,

Melanjutkan bahasan Tafsir Al Qur’an beberapa waktu lalu, maka kali ini kita membahas Tafsir Surat Al Maa-idah ayat 106. Ayat ini menyangkut soal-soal yang berkaitan dengan hubungan  antara manusia dengan manusia.

Bismillahirrohmanirrohim.

Ayat 106 :

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu*], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) Kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.

*] Ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan dijadikan saksi.

Kita tahu bahwa ayat-ayat yang berpola seperti ayat tersebut (yaitu diawali dengan Yaa ayyuhalladzina amanu, wahai orang-orang yang beriman), adalah ayat yang diturunkan di Madinah (Ayat Madaniyah),   dan ayat-ayat Madaniyah tidak lagi berbicara tentang keimanan,  tetapi sudah berbicara soal-soal ibadah,  Syari’at dan soal-soal mu’amalah (hubungan antar manusia), soal-soal perdagangan, jual-beli, wasiat, akhlak dan sudah lebih realistik. Sementara ayat-ayat Makkiyah (yang diturunkan di Makkah) adalah membicarakan soal-soal Tauhid, soal-soal keimanan, karena masyarakat Makkah ketika itu belum beriman.

Berkaitan dengan ayat 106 tersebut, telah meriwayatkan Imam Bukhari, Imam Daraquthni, Imam Ath Thobari, Ibnul Mundzir, dari sahabat Ikrimah, dari Ibnu ’Abbas,   dan Ibnu ’Abbas menceritakan sebab-sebab ayat  106 ini turun :   Dahulu ada dua orang Nasrani bernama Tamim Addari dan Adi bin Budda. Kedua orang ini pergi ke Makkah untk berdagang, di jaman Jahiliyah.  Mereka tinggal di Makkah lama bahkan menjadi penduduk Makkah.

Ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam hijrah ke Madinah, kedua orang Nasrani itu ikut berhijrah, ikut memindahkan urusan perdagangannya ke Madinah.  Ketika mereka ikut hijrah (pindah) ke Madinah, bersama itu pula ikut seorang bekas hamba sahaya dari Amr bin ’Ash,  bernama Budail As Suhaimi. Mereka lalu menetap di Madinah dan memperluas usaha dagangnya, bukan saja di Madinah tetapi diperluas juga ke negeri Syam (sekarang Damaskus Syiria, Iraq).

Ketikam  mereka sedang mengadakan perjalanan antara Madinah ke Syam (Syiria), tiba-tiba Budail As Suhaimi sakit keras, bahkan ia merasa sudah akan meninggal. Ketika ia merasa bahwa sudah akan meninggal, ia menulis surat lalu dimasukkan ke dalam paket (bungkusan) barang-barang dagangannya (milik Budail), untuk meminta tolong kepada kedua orang Nasrani itu agar nanti bila sudah pulang sampai di rumah, sampaikan barang-barangnya  ke rumah Budail.  Ketika barang dagangan yang juga berisi tulisan surat yang mencantumkan nama-nama barang dagangannya yang akan diserahkan kepada keluarga Budail, ketika dibuka bungkusan barang-barang dagangannya itu, kedua orang Nasrani itu tertarik dengan barang-barang milik Budail.  Lalu kedua orang itu mengambil barang milik Budail itu berupa sebuah Ina (semacam kendi terbuat dari perak yang berukir emas).

Sampai di rumah Budail,  bungkusan barang itu diserahkan kepada keluarga Budail As Suhaimi. Ketika dibuka bungkusan barang itu ternyata ada surat yang berisi nama-nama barang-barang yang dibungkus itu.  Waktu diperiksa antara tulisan nama-nama barang  dengan barang-barangnya ternyata tidak cocok, ada yang kurang (tidak ada).  Lalu keluarga Budail menanyakan kepada kedua orang Nasrani itu tentang kekurangan barangnya itu.  Kedua orang Nasrani itu menjawab bahwa  mereka hanya menerima barang seperti yang ada itu. Mereka berbohong, mengatakan bahwa mereka tidak mengambil sedikitpun.  Ketika terjadi ketidak sesuaian seperti itulah, maka keluarga Budail mengadu kepada Rasulullah shollallahu ’alaihi  wasallam. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan supaya mencari kedua orang Nasrani yang dititipi barang itu, supaya mereka bersedia bersumpah atas kesaksiannya bahwa memang hanya itu barang yang dititipkan kepada mereka.

Setelah dua Nasrani itu berada di situ, maka mereka agar disuruh menunggu sampai sholat Ashar.  Alasannya, setelah sholat Ashar biasanya masyarakat Madinah selesai mengerjakan pekerjaan rutinnya,  mereka berkumpul di Masjid, disitu biasanya dilakukan putusan-putusan pengadilan, persoalan yang berkaitan dengan kemasyarakatan, dsb. Maka kedua orang itu disuruh menungggu di situ dan bersumpah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ketika orang itu disuruh bersumpah kepada Allah subhanahu wata’ala, ternyata mereka ragu-ragu.  Allah subhanahu wata’ala kemudian mengajarkan kepada Nabi-Nya :

”Kalau kamu ragu-ragu terhadap kesaksian kedua orang Nasrani itu, maka ambillah saksi yang terdekat untuk mengukuhkan kebenaran isi barang itu seperti yang disebutkan dalam surat (daftar) barang-barang itu”.

Dalam Hadits disebutkan bahwa Tamim Addari dan Adi bin Budda (kedua Nasrani itu) kemudian masuk Islam, setelah mendengar turunnya ayat 106 tersebut, diterangkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk merespons perilaku kedua Nasrani itu.  Mereka merasa tersanjung, mereka merasa karena mereka berdua-lah lalu Allah menurunkan  wahyu (ayat 106) itu.  Mereka kemudian mengakui Nabi Muhammad saw adalah benar dan mereka menyatakan diri masuk Islam.

Pelajaran dari peristiwa tersebut :

Hukum Syari’at. Bila kita membaca hukum Syari’at, maka isinya mengatur enam hal, yaitu :

  1. Mengatur soal-soal Ibadah, yaitu hubungan antara manusia dengan Allah subhanahu wata’ala, misalnya sholat, zakat, shaum, haji, dll.
  2. Mengatur hubungan antar manusia, yaitu Muamalah :  Warisan, wasiat, jual-beli, simpan-pinjam, tukar-menukar dst.
  3. Mengatur masalah Munakahah, yaitu soal-soal yang berhubungan dengan pernikahan. (Siapa yang wajib menjadi wali, saksi, apa syaratnya, dsb).
  4. Mengatur soal-soal Jinayah, yaitu hukum kriminal, membunuh, mencuri dst.
  5. Mengatur Hukum Siyasah, yaitu hukum Syari’ah yang berkaitan dengan negara, politik, seperti apa Kepala Negara, siapa-siapa perwakilan negara, dst.
  6. Mengatur Dualiyah, yaitu huykum internasional, misalnya menetapkan seorang duta besar, tentang batas-batas negara, penyelesaikan sengketa antar negara, antar warga negara, dst.

Ayat 106 juga menyinggung soal wasiat.  Wasiat terkait dengan harta.  Menurut ayat tersebut, bahwa berwasiat sebelum orang meninggal terhadap harta yang akan ditinggal-kan, adalah wajib. Ketika orang hendak menyampaikan wasiat,  dipersyaratkan harus ada saksi.  Saksi, menurut AlQur’an harus orang Islam yang Adil sebanyak dua orang. Yang dimaksud Adil, ialah orang itu tampak nyata tidak pernah berbuat dosa besar. Tidak pernah berzina,  mabuk, berbohong dst. Maka boleh ia menjadi saksi yang Adil.

Bila orang-orang dengan persyaratan seperti tersebut tidak ada, maka boleh mengambil saksi yang bukan orang Islam, jumlahnya dua orang.   Saksi yang dua orang yang bukan Islam itu tetap harus bersumpah.

Mengenai sumpah orang yang bukan Islam itu ada pendapat-pendapat ahli Hukum Islam yaitu :

  1. Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) : Boleh saja orang kafir bersumpah atas orang kafir pula.  Tetapi tidak boleh orang kafir atas orang Islam.
  2. Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) : Boleh sumpah itu diucapkan dengan meletakkan Mushaf AlQur’an.  Maka di Indonesia bila orang bersumpah mengucapkan sumpahnya dibawah Kitab AlQur’an.
  3. Imam Malik (Madzhab Maliki) : Orang yang bersumpah harus dengan mengucapkan kalimah : ”Lailaha illallah”, disamping ucapan :”Demi Allah saya bersumpah” dst.
  4. Imam Ahmad bin Hanbal (Madzhab Hanbali) : Tidak dimakruhkan (artinya boleh) bersumpah dengan menggunakan Kitab AlQur’an.

Kewajiban bersumpah dan menetapkan saksi ketika berwasiat, itu berlaku ketika ayat  mengenai warisan belum turun.  Ayat 106 menjelaskan tentang wasiat. Bahwa setiap orang yang memiliki harta dan ia sudah merasa akan meninggal dunia, maka ia wajib berwasiat, adalah benar.   Tetapi ayat tersebut oleh para Ahli Tafsir dikatakan bahwa dengan datangnya ayat warisan, maka ayat tersebut dimansuh (disalin, diganti).

Dalam ayat 106 tersebut seandainya di Budail tidak  berwasiat apapun terhadap hartanya, maka Tamim Addari dan Adi bin Budda (dua orang Nasrani itu) wajib menyampaikan  paketnya kepada keluarga Budail.   Perkara bagaimana keluarga Budail membagi warisan kepada keluarganya, itu diatur dalam Hukum Warisan Islam.   Tetapi Tamim dan Adi wajib menyampaikan sebagai orang yang menyaksikan kematian Budail. Agar hubungan antar manusia menjadi harmonis, meskipun berbeda agamanya.

Praktek Hukum Islam di Indonesia.

Hukum-hukum AlQur’an dan As Sunnah tidak serta-merta bisa masuk menjadi hukum positif di Indonesia.   Dia baru bisa masuk ke dalam struktur tatanan hukum positif ketika melalui proses Legislasi di Indonesia.  Adalah menjadi tanggungjawab anggota DPR untuk bagaimana memberikan warna hukum positif dengan Hukum Islam.  Dan sebagian perundang-undangan di Indonesia sudah memperlihatkan adanya pengaruh Islam.  Misalnya : Setiap pejabat yang  bersumpah diatasnya ada AlQur’an.   Artinya upaya Islamisasi hukum positif sudah berjalan.  Dari sudut ini kita bisa mengatakan bahwa peraturan perundang-undangan di Indonesia sebagian diwarnai oleh Islam.

Ada yang menginginkan agar Hukum Syari’at Islam itu berlaku utuh di Indonesia. Dan sistem hukum dan perundangan lainnya yang ada harus dihapus.

Paham demikian itu disebut Paham Skripturalistik Islam. Yaitu orang yang memahami Islam dan berusaha menerapkan Syari’at Islam secara skriptural (kata per-kata, huruf per-huruf).

Paham tersebut bila diterapkan akan menimbulkan banyak masalah.  Sistem hukum yang berlaku sejak zaman tahun 1945 bahkan sejak sebelumnya yang diadopsi ke dalam negara Indonesia, bila itu dihapuskan, apakah cukup hukum Fiqih Islam yang ada bisa memberikan warna kesitu.  Apakah cukup dan cocok atau tidak.

Persoalan kedua, dalam Hukum Syari’at kita mengenal Fiqih dan Fiqih itu madzhab-nya berbeda-beda, yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.  Yang mana yang hendak dipakai ?

Persoalan lagi adalah: Mana yang hendak dipakai cara Sunnah atau cara Syi’ah ? Ini menjadi polemik, sehingga muncul paham kedua yaitu : Paham Esensialistik Islam.

Yaitu paham yang mengatakan bahwa penerapan ajaran Islam ke dalam hukum positif di Indonesia tidak harus kata per-kata, huruf per-huruf, seperti paham Skriptualistik, tetapi cukup esensinya saja.  Paham ini dianggap lebih luwes, bisa diterima, bisa diakui dan bisa diterapkan.   Contohnya : Setiap pejabat negara harus diangkat sumpahnya.

Itu masuk ke dalam paham konstitusi, bahwa setiap pejabat negara harus bersumpah. Bahkan dalam UUD 1945 sumpahnya ditulis : ”Demi Allah, saya bersumpah, bahwa saya . . . .dst”.  Lalu diikuti dengan peraturan perundang-undangan yang menyempurna-kan itu.  Maka dipakailah AlQur’an.  Pengaruh Islam masuk.  Yang seperti tersebut itulah yang bisa diterima.

Maka tugas anggota DPR-lah untuk lebih cenderung menjadikan Islam dalam esensinya, bukan dalam substansinya, dan bukan formalisme-nya.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Disebutkan diatas bahwa adanya keterangan bahwa boleh memakai orang non Islam (Nasrani) sebagai saksi dan harus bersumpah, tetapi tidak diterangkan bagaimana cara mereka bersumpah.  Karena bersumpah menurut Islam harus menyebut Nama Allah, sedangkan mereka adalah Nasrani. Apakah mereka juga menyebut Nama Allah ?

Bagaimana cara mereka bersumpah padahal mereka bukan muslim ?

Jawaban:

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa apabila karena alasan darurat, karena ketiadaan orang Muslim yang bisa diminta untuk menjadi saksi, dan bersumpah menggunakan Nama Allah, maka boleh meminta orang bukan Islam untuk menjadi saksi dan ia harus bersumpah atas Nama Allah.   Lalu bagaimana sumpah mereka ?

Prof. Dr. Wahbah menjelaskan sehubungan dengan ayat 106 tersebut,  mereka diminta setelah selesai sholat Ashar, tentunya mereka tidak ikut sholat Ashar, tetapi mereka berdo’a menurut peribadatan cara mereka.  Dan mereka bersumpah menggunakan Nama Allah dalam hal ini mereka mengucapkan Nama Tuhan : Demi Tuhan,  dst.

Dr. Wahbah mengatakan, bahwa meskipun mereka Nasrani, mereka tentu kenal Allah, bagaimana bentuknya diserahkan bagaimana ritual mereka.   Tetapi mereka harus bersumpah agar mereka menjadi orang yang jujur. Caranya adalah menggunakana cara-cara agama mereka dalam bersumpah.  Dan dilakukan di depan umat Islam, ketika selesai sholat Ashar dalam konteks ayat 106 itu.

Sebetulnya ayat 106 itu ada maksud da’wah mengapa mereka ditahan (disuruh menunggu) sampai selesai sholat Ashar.  Dan bersumpah di depan kaum muslimin dengan atas Nama Allah,  maksudnya supaya mereka mengikuti cara-cara Islam.  Dan ternyata da’wah Islam tepat, karena kedua orang Nasrani itu kemudian masuk Islam, setelah kejadian itu.  Mereka sadar dan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar dan Islam itu benar.

Pertanyaan :

  1. Ada seseorang membikin testamen di Notaris, bahwa harta yang ditinggalkan supaya dibagi rata, apakah itu ahli waris laki-laki atau perempuan mendapat bagian yang sama. Bagaimana hukumnya bila terjadi demikian, padahal menurut AlQur’an ahli waris perempuan mendapat separuh dari bagian ahli waris laki-laki ?
  2. Paham esensial ada yang mengatakan bahwa Islam itu ibarat garam, dimasukkan ke dalam air tidak terlihat warnanya, tetapi rasa asinnya terasa.  Apakah pendapat tersebut sama dengan paham esensialistik yang dimaksud ?

Jawaban:

  1. Bagi orang yang beriman dan ke-Islamannya kuat,  sebelum ia meninggal semestinya ia menyerahkan soal-soal warisannya itu menurut hukum Islam. Kalau ia berwasiat dan membuat testamen agar harta warisannya dibagi rata, baik laki-laki maupun perempuan mendapat warisan yang sama, maka ia tidak mentaati hukum Islam. Kalau memakai hukum Islam, walaupun ia tidak berwasiat siapa mendapat berapa, maka hukum Islam akan mengatur sendiri tentang warisan orang itu, siapa mendapat berapa. Hendaknya kita tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.
  1. Itulah esensialistik Islam. Menerapkan hukum Islam dengan esensinya. Ketika nilai-nilai Islam dihadapkan dengan nilai-nilai hukum yang berkembang dalam masyarakat,  pasti ada benturan.  Yang paling bagus adalah konformisme (menyesuaikan), Islam secara esensial bisa masuk ke dalam perundang-undangan tanpa harus mengubahnya, tetapi  warnanya sudah berubah, bernilai Islam. Garam masuk ke air, airnya tidak berubah, tetapi asinnya terasa.

Pertanyaan:

Tentang orang Nasrani yang dimaksud dalam ayat 106 itu tentu kitabnya Injil yang masih asli,  belum berubah.  Apakah mereka tidak bersumpah menurut Kitab mereka ? Lalu apakah ayat 106 tersebut masih berlaku hingga sekarang ?

Jawaban:

Perlu kami luruskan apa yang anda sebutkan bahwa di zaman Nabi Muhammad saw orang Nasrani kitab Injil-nya masih asli.  Tidak.  Ketika itu pada zaman Nabi Muhammad saw kitab Injil dan Taurat sudah banyak berubah (mengalami perubahan), sudah tidak asli lagi.   Karenanya Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah subhanahu wata’ala untuk meluruskan, meng-koreksi apa yang pernah dilakukan secara keliru orang-orang sebelum Nabi Muhammad saw.   Taurat yang sudah diubah, diluruskan oleh AlQur’an. Injil yang telah berubah juga diluruskan.

Kalau orang Nasrani mengikuti Injil yang asli, tentu mereka sudah masuk Islam.  Karena menurut Injil (menurut Nabi Isa ’alaihissalam), dinyatakan sesudah ini akan ada Rasul namanya Ahmad (Muhammad).  Kalau ia datang ikutilah dia. Tetapi ketika itu Injil sudah diubah oleh orang-orang Nasrani.  Demikian juga Yahudi, kalau mereka mengikuti Taurat yang diajarkan oleh Nabi Musa ’alaihissalam, tentu mereka masuk Islam.  Ternyata tidak demikian.

Apakah ayat 106 tersebut masih berlaku ?  Masih berlaku.  Prof. Dr. mengatakan masih berlaku, dengan catatan seperti pernyataan Abu Hanifah, kalau yang bersaksi orang kafir, maka itu untuk orang kafir lagi.  Kalau orang Islam, saksinya harus orang Islam.

Sedangkan Imam Malik mengatakan : Kalau mereka mau bersaksi, walaupun bukan Islam, ia harus mengucapkan Lailaha illallah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah).

Pertanyaan:

  1. Tentang pembahasan yang kompromi (pemahaman secara kompromi).  Penyebaran Islam di Indonesia (Jawa) dilakukan oleh para Wali, yang menggunakan media wayang.  Mohon maaf kalau saya salah, bahwa wayang adalah benda yang identik dengan berhala. Wali menggunakan media wayang ketika itu, mungkin supaya diterima oleh masyarakat terutama Jawa, disesuaikan dengan kultur orang Jawa.  Apakah ini bagian dari kompromi ?
  2. Kemudian kompromi tersebut tentu menghasilkan sesuatu yang baru,  sebagai hasil dari kompromi itu. Bagaimana hukumnya dalam Islam terhadap sesuatu yang baru itu ?

Jawaban:

  1. Mari kita luruskan, apakah wayang itu benda dan benda itu  adalah berhala ?. Kata ”identik” artinya sama persis.  Identik dengan berhala artinya sama persis dengan berhala. Apakah wayang itu berhala ?.  Berhala itu disembah. Apakah orang menyembah wayang ? Itu menjadi persoalan.  Apakah sebodoh itu Walisongo ? Apakah Walisongo menganggap bahwa wayang itu disembah ? Sehingga mereka mewarnai wayang dengan nilai-nilai Islam ?.   Itu harus jelas terlebih dahulu.  Kalau itu jelas, sepakat, maka kita bisa melanjutkan dengan pertanyaan yang kedua.   Saya mengatakan bahwa wayang bukan berhala, melainkan ia adalah media intertaintment (pertunjukan hiburan) yang punya nilai-nilai idealisme moral, kejujuran, keteguhan dalam keyakinan. Jadi bukan berhala. Walisongo artinya Wali Sembilan. Tidak semuanya menggunakan media wayang.  Salah satunya yang menggunakan media wayang adalah Sunan Kalijaga. Dia menda’wahkan Islam melalui media yang sudah berakar di masyarakat Jawa yaitu wayang.  Dalam pertunjukan wayang itu diisi dengan nilai-nilai ajaran Islam.
  1. Sesuatu yang baru belum tentu jelek.  Kalau isinya tidak bertentangan dengan Islam, maka yang baru bisa diterima. Namanya Bid’ah.   Yang Bid’ah belum tentu jelek.   AlQur’an itu Bid’ah.  Zaman Nabi Muhammad saw tidak ada  AlQur’an seperti sekarang ini.  AlQur’an dizaman Nabi Muhammad saw adalah dihafal. Ditulis di lembaran kulit kayu,  di pelepah kurma, dilembaran kulit kambing, dsb. Dihafal oleh para sahabat dan terletak dimana-mana.   Kalau sekarang berbentuk buku, itu adalah Bid’ah. Kalau tidak demikian anda tidak akan bisa membaca AlQur’an. Ketika itu tulisan AlQur’an tidak ada baris dan titiknya.  Ada baris dan titik itu baru pada zaman Khalifah ’Utsman bin ’Affan. Sebelumnya tulisan AlQur’an tidak ada titk dan barisnya, lalu oleh perintah ’Utsman bin Affan tulisan AlQur’an diberi titik, baris dan tanda baca.  Semakin maju semakin bagus hingga seperti sekarang.  Kalau tidak ada Bid’ah itu anda tidak akan bisa membaca AlQur’an.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum ditutup marilah kita membaca do’a untuk kita semua dan keluarga.

Do’a :

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

’Allimnal Qur’an, ’allimnal Qur’an,

Wafaqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kaamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an,  walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ’indal hisab,

Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bihusnil khotimah,

Wala takhtim ’alaina bisu’il khotimah,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasañah waqinna ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

____________

Kamis malam,  14 Jumadi Ula 1431 / 28 April 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: