Ma’rifah (Mengenal Bahaya Hukuman Allah)

Oleh H. Ahmad Rofi’I,  Lc.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Musmlimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Telah dibahas sebelum bahasan kali, bahwa ada lima perkara yang bisa menyebabkan kita teguh dan kokoh bahkan mudah dalam mengamalkan Taqwa terhadap Allah subhanahu wata’ala. Sudah dibahas yang dua perkara yaitu Mahabbah dan Muroqobah. Mahabbah artinya cinta kepada Allah subhanahu wata’ala, dimana bila seseorang sudah punya rasa cinta kepada Allah, maka ia senantiasa merasa haus, tidak akan bosan dan lelah untuk mengabdi beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Muroqobah artinya bahwa sebenarnya apa yang telah kita hidmat-kan kepada Allah tidak ada apa-apanya.  Surga Allah tidak akan terbeli dengan amalan kita.  Kalaupun seluruh usia kita digunakan untuk mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala juga tidak akan bisa “membeli” kehidupan selama-lamanya di hari akhirat.  Oleh karena itu introspeksi merupakan suatu kebutuhan bagi kemajuan dan peningkatan Taqwa kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

Langkah ketiga, setelah Mahabbah dan Muroqobah agar Taqwa kita kepada Allah senantiasa bergairah, termotivasi dan bangkit  selalu berada dalam Taqwa kepada Allah, ialah Ma’rifah (Mengenal) terhadap hukuman akibat perbuatan dosa dan maksiat terhadap Allah subhanahu wata’ala.

Thema tersebut harus kita pahami agar dengan memahaminya lalu kita akan takut kepada Allah, kita akan senantias menjaga diri untuk selalu bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan semestinya kita akan bisa me-manage hawa nafsu kita untuk tidak menyimpang  dari Syari’at Allah subhanahu wata’ala.

Dengan mengetahui dan memahami apa yang menjadi dosa dan apa sanksi Allah kalau kita berbuat dosa, maka kita menjadi ber-strategi agar kita selalu Taqwa, jangan sampai ber-dosa.

Point-pointnya adalah :

  1. Pakar Iblis harus kita sadari.
  2. Apa yang akan dialami oleh kalangan orang-orang kafir dan orang-orang fasik pada hari Kiamat.
  3. Maksiat mengundang turunnya hukuman Allah subhanahu wata’ala.
  4. Mengingat dan mengenal terhadap umat-umat terdahulu yang membangkang Syari’at Allah subhanahu wata’ala.
  5. Maksiat adalah penyebab kerusakan,
  6. Ambillah pelajaran, wahai orang yang berakal.

Mengenal hukuman Allah akibat dosa dan maksiat.

Diharapkan dengan mengenal hukuman itu kita akan menjadi takut dan tidak suka ber-maksiat.  Kemudian menggantinya dengan Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Kami mengajak kepada anda untuk merenungkan ayat yang termuat dalam Surat Al A’raaf, bahwa dalam surat tersebut Allah sudah mengisyaratkan bahwa : Apabila kalian tetap membangkang, kafir dan menyalahi Syari’at Allah, lihatlah, pelajarilah umat-umat terdahulu sebelum kalian. Yang sampai hari ini, orang-orang zaman sekarang , dalam kemajuan tehnologi ini, masih tetap menghargai betapa keampuhan dan keperkasaan umat-umat yang terdahulu. Tetapi akibat mereka kafir dan maksiat, menyalahi dan membangkang ajaran Allah, mereka lalu “dihabisi” oleh Allah subhanahu wata’ala.

Surat Al A’raaf ayat 12 – 17 :

12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya*] sampai waktu mereka dibangkitkan”.

15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

*] Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

Apalagi sekarang ini kita umat-umat yang lemah.  Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : Umatku yang terakhir itu ternyata mereka adalah orang-orang yang lemah. Dari ukuran badan saja kita ini termasuk pendek dibanding umat zaman Nabi Adam ‘alaihissalam.

Diriwayatkan bahwa Nabi Adam itu tingginya 60 hasta (kira-kira 30 meter).  Dan ketinggian badan itu akan kita rasakan kelak bila kita masuk surga Allah subhanahu wata’ala.  Di Surga kelak kita akan punya tinggi badan 30 meter.

Karena kita akan “satu model” dengan Nabi Adam ketika di Surga kelak.

Umat sekarang pendek-pendek tubuhnya dan umurnyapun pendek. Umat-umat terdahulu usianya sampai ribuan tahun. Dan menurut sabda Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam, bahwa umat beliau hanya sekitar 63 tahun.  Maka bagi anda yang sekarang sudah mencapai usia lebih dari 63 tahun  tentunya sudah tidak lagi berurusan dengan urusan dunia.  Urusan dunia serahkan saja kepada anak-cucu. Marilah kita bersiap dengan suatu tempat yang sangat gelap, yang ukurannya 1,5 X 2 meter. Itulah alam yang akan kita alami (kubur).

Umat zaman sekarang adalah pendek umurnya, lemah fisiknya. Itulah hikmahnya kita diperirntahkan sholat hanya lima kali sehari semalam, tidak limapuluh kali, adalah karena lemahnya umat ini.  Semua keringanan itu diberikan oleh Allah dengan Tahfidhot (diskon) kepada kita.  Padahal sangat mudah bagi Allah untuk menghabisi kita, tetapi Allah subhanahu wata’ala sudah memberitahukan melalui Rasulullah shollallahu ’alihi wasallam, bahwa Allah tidak akan menghukum umat ini sekaligus sebagaimana kepada umat-umat terdahulu.

Seperti kita ketahui dari AlQur’an, Allah menghukum umat-umat terdahulu ada yang sekaligus selesai,  ditimbun menjadi laut mati (laut kematian). Tetapi umat Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam sejak 1431 tahun lalu sampai hari ini banyak yang melawan Allah, kafir, melawan, protes, bahwa AlQur’an tidak sempurna, bahwa Islam tidak relevan, dsb, tetapi dibiarkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kasih-sayangnya Allah kepada umat Muhammad shollalalahu ‘alaihi wasallam sungguh luar biasa.  Oleh karena itu sadarilah, jangan sampai kita tertipu, dan lihatlah kepada Surat Al A’raaf ayat 12 – 17 tersebut diatas.

Ayat-ayat tersebut menggambarkan kepada kita, betapa Iblis itu dendam-kesumat terhadap manusia, inginnya seluruh manusia, tanpa kecuali  akan disesatkan semuanya. Maka bila manusia tahu bahwa itu adalah rencana jahat syaithon, semestinya manusia sadar, jangan tergoda, karena syaithon itu sama sekali tidak menguntungkan melainkan merugikan.

Dalam ayat-ayat tersebut Iblis mengatakan bahwa api lebih baik daripada tanah. Oleh karena itu bila ada oranag yang mengukur segala sesuatu dengan materi, maka ia mengikuti paradigma iblis. Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasllam bersabda dalam Hadits : “Allah tidak melihat kepada gambarmu, badanmu, penampilanmu, tetapi Allah melihat hatimu dan amalanmu”.

Maka hendaknya kita melihat sesuatu jangan dari materi, karena Iblis melihatnya dari materi. Kata Iblis : Api lebih mulia dari tanah.

Dari ayat-ayat tersebut, dinyatakan bahwa Iblis ditangguhkan, hidup terus sampai hari dibangkitkan. Dan Iblis berjanji akan menghalangi setiap manusia yang ingin berbuat kebaikan. Dan setelah itu Iblis akan mendatangi setiap manusia (menjemput bola) untuk menggodanya. Jadi dimanapun kita berada, akan didatangi oleh Iblis. Itulah ikrar Iblis. Kata Iblis : Aku akan mendatangai mereka (manusia) baik dari depan, belakang, dari sebelah kanan mereka,  maupun sebelah kiri mereka.  Kebanyakan mereka (manusia) menjadi tidak bersyukur, hanya sedikit manusia yang bersyukur.

Padahal syukur adalah kebalikan dari kufur. Lihat Surat Ibrahim ayat 7 :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dikatakan bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur. Berarti hanya sedikit orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka silakan anda memilih, anda memilih yang kebanyakan atau yang sedikit (yang beriman).

Kholifah Abubkar Siddiq  ‘alaihissalam berdo’a : “Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang sedikit”.

Maka marilah kita meniru Kholifah Abubakar as Siddiq dengan do’anya : “Ya Allah masukkanlah akau ke dalam golongan yang sedikit, yang mereka adalah beriman dan beramal sholih ketika di dunia ini”.

Surat Al A’raaf ayat 12 – 17 tersebut memberitakan kepada kita tentang kewaspadaan.  Waspadalah bahwa Iblis selalu mengintai kita agar kita sesat dari Jalan Allah subhanahu wata’ala.

Kata salah seorang Mufasir AlQur’an bernama Syaikh Abdurrahman as Sya’di mengatakan bahwa maksud ayat tersebut Al A’raaf ayat 12 – 17 ) iblis berkata, ketika  merasa putus asa dari Kasih-Sayang Allah subhanahu wata’ala, dengan mengatakan: “Karena Engkau telah mengutuk aku, maka aku (iblis) akan duduk di atas jalan lurus untuk menghalangi manusia berbuat kebaikan”.

Maksudnya, iblis akan senantiasa tidak pernah pergi dan akan berusaha dengan segala kemampuannya untuk menghalangi manusia, tidak akan membiarkan mereka menjalani jalan yang lurus itu.   Kemudian akan iblis datangi mereka dari depan, belakang, kanan, kiri,  dari seluruh arah dan sisi. Kenapa iblis selalu menggoda manusia, adalah agar manusia menjadi penghuni Neraka Sa’ir.

Kata beliau Abdurrahman as Sya’di, bahwa iblis itu sedemikian jahat dengan makarnya, maka kita manusia hendaknya sadar, lalu menjauhi  dan berusaha membentengi dari godaannya dan semua jalan yang diupayakannya, untuk menghalangi kita dari jalan Allah subhanahu wata’ala.

Surat Al A’raaf ayat 40 – 42 :

40. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit*] dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum**]. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

41. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)***]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,

42. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

*] Artinya: doa dan amal mereka tidak diterima oleh Allah.

**] Artinya: mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum.

***] Maksudnya: mereka terkepung dalam api neraka.

Ayat 40 diatas adalah merupakan rumus dari Allah subhanahu wata’ala bahwa : ”Orang yang sombong menghadapi ayat-ayat Allah, maka pintu langit tidak akan Allah buka (do’a dan amal mereka tidak diterima Allah), dan mereka tidak akan masuk surga, sehingga unta masuk melalui lobang jarum”.  Artinya sangat tidak mungkin, mustahil  mereka masuk surga. Maka kita harus takut, jangan mencoba-coba mendustakan ayat Allah, mencoba sombong dan enggan menjalankan Syari’at Allah, karena yang demikian itu akan mengancam kita tidak akan masuk surga.

Semua ruangan yang ada di neraka Jahannam itu akan menutup dan membelenggu  orang yang sombong itu, seperti dalam penjara di neraka. Tidak akan ada pintu untuk melarikan diri dari neraka. Demikianlah Allah balas orang-orang yang dzolim.

Sedangkan bagi orang yang beriman dan beramal sholih, tidak akan dibebani kecuali sesuai dengan kemampuan mereka.  Mereka adalah penghuni surga dan mereka kekal selamanya di dalamnya. Semua itu menjadi penegas bagi kita agar jangan kafir, jangan fasiq, agar kita masuk surga. Kalau semua itu kita sadari, maka yang kita lakukan bukanlah kefasikan atau dosa,  melainkan Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Maksiat adalah penyebab turunnya hukuman Allah subhanahu wata’ala. Dan janganlah bicara penyebab dari luar, dengan mengatakan orang-orang kafir yang membenci kita, mempersempit kita, menyerang kita.  Bicaralah penyebab intern lebih dulu.

Segala langkah dan perjuangan umat Islam adalah ditentukaan oleh kekuatan dan Istiqomah-nya setiap kaum muslimin sendiri terhadap agamanya. Bila kita memang beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, sekuat apapun orang kafir akan kalah dan akan dibuat malu oleh makarnya sendiri.   Sejarah telah membuktikan.

Maka bertaqwalah selalu kepada Allah subhanahu wata’ala. Jauhilah maksiat, insya Allah kita bisa meraih apa yang Allah janjikan.

Lihat Surat Al A’raaf ayat 167 :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka janganlah kita putus asa, tetapi optimislah, bahwa jika kita tidak maksiat,  tidak kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada kita semua.

Syaikh Abdurrahan As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan : “Ketika Allah memberitahukan pemberitahuan yang sangat jelas, maksudnya Allah telah menghinakan mereka yang berbuat maksiat, sehingga Allah akan segerakan hukuman itu di dunia.  Bagi orang yang bertaubat Allah akan mengampuni dosa-dosa dan akan menyelimuti (menutupi) aib orang itu, mengasih-sayangi dan menerima ketaatan,  memberikan pahala terhadap orang itu dengan berbagai jenis ganjaran.  Allah telah melaksanakan itu kepada orang yang telah Dia janjikan, maka mereka  selalu dalam keadaan hina di atas hukum selain mereka,  mereka tidak pernah akan berjaya dan Allah tidak pernah akan menolong kepada mereka”.

Itulah ayat yang sungguh memberikan petunjuk kepada kita, bahwa jika manusia kafir kepada Allah, maka ancaman yang selalu mengiringi hidup manusia itu adalah adzab, adzab dan  adzab,  dan seterusnya.

Perbandingkan dengan umat-umat terdahulu.

Lihat Surat Al A’raaf  ayat 64, ketika berbicara tentang umat Nabi Nuh ‘alaihissalam., ketika umat Nabi nuh itu menentang, lalu Allah berfirman :

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia(Nabi Nuh) dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).

Bahwa umat Nabi Nuh karena mendustakan dan melawan ajaran Nabi Nuh, maka mereka ditenggelamkan.

Lihat juga kaum Nabi Hudalaihissalam, menyampaikan dakwahnya, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Kami selamatkan Hud bersama orang-orangnya, dengan kasih-sayang dari Kami.  Kami putuskan semua harapan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka tidak beriman”.

Syaikh Abdurrahman As Sya’di menjelaskan, maksudnya, : Telah Allah habiskan mereka (kaum Nabi Hud) dengan siksa yanag sangat dahsyat sehingga tidak ada yang tersiksa seorangpun, Allah menyiksa mereka dengan angin topan dan tidak ada yang tersiksa kecuali puing-puing, semua binasa sehingga tidak ada yang nampak di tempat tinggal mereka.

Kata beliau selanjutnya : Perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang sudah diberi peringatan, ditegakkan kepada mereka hujjah (keterangan), tetapi mereka tidak mengikuti (taat) kepada nasihat itu.  Mereka disuruh beriman tetapi mereka tidak beriman, maka hukumannya adalah kebinasaan dan kehinaan.

Lihat Surat Al A’raaf ayat 73 dst, tentang kaum Nabi Sholeh, ‘alaihissalam, yaitu kaum Tsamud, firman Allah subhanahu wata’ala setelah Nabi Sholeh ‘alaihissalam berdakwah kepada kaumnya tetapi mereka tetap mendustakan, tidak percaya, bahkan menentangnya, maka pada ayat 78 Allah berfirman :

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

Imam Al Baghwami menafsirkan ayat tersebut, kata beliau : “Allah guncangkan bumi (terjadi gempa), dan dengan gempa yang dahsyat, mereka menjadi orang yang binasa.  Mereka yang berada dalam rumahpun semuanya bergelimpangan menjadi mayat-mayat saling bertindihan. Mereka tidak berkutik, semua dihabisi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Itu adalah hukuman bagi kaum Nabi Sholeh ‘alaihissalam, yang mendustakan Nabi Sholeh dan Syari’at Allah subhanahu wata’ala.

Begitu juga lihat  kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, dalam Surat Al A’raaf ayat 84 :

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.

Al Imam Al Baghawi mengatakan : “Mereka dihujani dengan batu yang berasal dari Sijjil (neraka)”.  Berarti batu yang sangat panas. Maka silakan, siapa yang hendak mendustakan ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala, pelajarilah sejarah tentang kaum Nabi Luth alaihissalam, bersiaplah akan Allah lempari (hujani) dengan batu panas.

Maka siapa yang mendustakan, tidak beriman kepada  ajaran Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, bisa jadi kita akan dihujani dengan meteor. Dan mungkin saja meteor itu merupakan media (wasilah Allah) untuk melempari manusia.  Maka bagi manusia yang beriman ambillah itu semua sebagai pelajaran.

Lihat kaum Nabi Su’aib ‘alaihissalam dalam Surat Al A’raaf ayat 91 & 92 :

91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

92. (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

Al Imam Al Baghawi mengatakan : Yang dimaksud “rojfah” adalah gempa.  Jadi kalau ada gempa, jangan-jangan bila terjadi gempa maka itu adalah apa yang telah Allah berikan kepada umat terdahulu, diberikan juga kepada umat zaman sekarang.

Oleh karena itu, gempa akan Allah turunkan jika manusia telah mendustakan ayat-ayat-Nya.

Lalu berikutnya dalam Surat Al A’raaf ayat 133, setelah bercerita panjang tetang Nabi Musa ‘alaihissalam, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah*] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

*] Maksudnya: air minum mereka berubah menjadi darah.

Syaikh Abdurrahman As Sya’di mengatakan : Taufan yang dimaksudkan adalah air yang sangat membludag (membanjiri), sehingga menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman mereka, dan membuat mereka terkena bahayanya.  Buah-buahan serta tanaman mereka habis semuanya. Taufan itu melukai mereka, sehingga dari hidung mereka mengeluarkan darah. Dan mereka menyangka air, lalu mereka hendak meminumnya, ternyata air itu berubah menjadi darah.  Mereka tidak meminumnya kecuali minum darah. Mereka tidak bisa memasak kecuali air itu berasal dari darah.

Allah subhanahu wata’ala menyiksa manusia seperti itu karena mereka mendustakan ayat-ayat-Nya.   Jadi umat-umat terdahulu ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala, menentang syari’at dan hukum Allah, maka akan diberi hukuman seperti itu.

Bagi kita sekarang, lihat beberapa Hadits seperti berikut :

Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, berasal dari Al Hasan bin Muhammad, bahwa ada seorang wanita dari kalangan Anshor (penduduk Madinah), yang meriwayatkan kepada beliau dan kata beliau orang itu masih hidup ketika itu, bahwa orang wanita tersebut masuk ke rumah Ummu Salamah, menceritakan bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah itu seolah-olah dalam keadaan marah, terjadi dialog,  akhirnya sabda beliau shollallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya kejahatan (maksiat) itu  jika tersebar di bumi ini, tidak dicegah apa yang akan terjadi, Allah akan turunkan berbagai musibah kepada penghuni bumi ini”.

Sabda itu bukan ramalan, melainkan wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Lalu kata Ummu Salmah : “Ya Rasulullah, bagaimana bila di antara mereka ada orang-orang sholeh ?”.  Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : “Kalau ada orang sholeh, merekapun akan terlanda musibah sebagaimana musibah itu melanda manusia, kemudian Allah cabut nyawa mereka dan Allah ampuni dan ridhoi mereka dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala”.

Oleh karena itu kalau ada yang mengatakan : Bukankah disitu ada orang sholeh? Mengapa terjadi juga bencana itu ?.   Maka sesuai berita dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tersebut, kalau disitu ada orang sholeh dan terjadi bencana, dan orang sholeh itu ikut terkena musibah, maka Allah ampuni dosa-dosa orang tersebut serta diridhoi, tidak termasuk orang-orang yang diadzab.

Pelajarannya : Jika kejahatan (maksiat) telah merajalela di muka bumi ini berarti kedamaian tidak akan terwujud, justru yang ada adalah  bencana.

Hadits riwayat Imam Ahmad  dari seorang sahabat bernama Tsauban, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang itu dihalangi untuk mendapatkan rezki oleh Allah subhanahu wata’ala akibat dosa-dosa yang ia perbuat”.

Dalam Hadits itu jelas, dinyatakan mengapa seseorang susah mendapatkan rezki, adalah karena dosanya. Itu salah satu sebabnya, di antara sebab-sebab yang lain.

Mengapa hidup ini menjadi susah,  ekonomi menjadi pailit berkepanjangan, dunia dikejar tetapi dunia semakin jauh, bisa jadi karena seperti yang Rasul sabdakan seperti tersebut di atas,  karena dosa-dosa manusia yang telah mereka lakukan.  Baik itu dalam konteks individu ataukah dalam konteks bangsa dan negara.  Apa sebab kemiskinan negeri ini berkepanjangan,  krisis ekonomi berkepanjangan, antara lain karena manusianya telah berbuat dosa.

Hadits juga dari Tsauban,  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Hampir saja umat ini akan mengeroyok kalian, jangan-jangan karena muslimnya terdapat penyakit cinta dunia dan takut mati”.

Zaman sekarang kita terlalu cinta dunia dan takut mati.  Sedangkan zaman dahulu, di zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat, tabi’in serta tabi’uttabi’in, mereka tidak suka kepada dunia, mereka cinta mati (akhirat) maka Islam menjadi jaya ketika itu.  Sedangkan kalau kita selalu mengejar dunia, maka dunia akan bertambah mengerjai kita, dan akhirnya mati menjemput kita dalam keadaan kita tidak suka mati.  Itulah pelajaran untuk kita semua.

Kholifah Abubakar As Siddiq rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kepada kita , ketika beliau mengatakan, melihat serta memperhatikan masyarakat ketika itu salah cara memahami ayat berikut ini. Yaitu Surat Al Maa-idah ayat 105 :

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk*]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

*] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, asal kamu telah mendapat petunjuk. Tetapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Manusia memamahi ayat tersebut : Tidak usah mengurusi orang lain, urusilah dirimu sendiri.  Orang lain itu tidak akan membahayakanmu kalau kamu berpegang teguh pada hidayah.

Maka kata Abubakar as Siddiq ‘rodhiyallahu ‘anhu : “Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini (ayat 105 tersebut diatas), tetapi kamu tempatkan bukan pada tempatnya”.

Padahal menurut penjelasan Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam, maksud ayat tersebut adalah : “Sesungguhnya manusia itu jika melihat ada orang berbuat dzolim (maksiat) tetapi tidak bersama-sama mencegah orang yang berbuat dzolim itu, jangan-jangan Allah akan ratakan hukuman untuk semua mereka”.

Jadi yang berdosa dan yang tidak berdosa semuanya terkena hukuman.  Karena ternyata orang berbuat dzolim (maksiat) dibiarkan saja.  Manurut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila ada orang berbuat dzolim (kejahatan, keburukan, kemaksiatan) harus dicegah”. Dalam Hadits yang lain beliau bersabda : “Tolonglah saudaramu yang dalam keadaan dzolim atau dalam keadan didzolimi”.

Itu merupakan pelajaran bagi kita semua bahwa kedzoliman (kemaksiatan) adalah penyebab turunnya adzab dari Allah subhanahu wata’ala.

Dalam Hadits lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasllam bersabda : “Tidaklah suatu kaum yang didalamnya mereka melakukan maksiat,  mereka itu mampu untuk mengubah perbuatan maksiat itu tetapi mereka tidak mau mengubah  kemungkaran itu, kecuali mereka akan Allah landa semuanya dengan hukuman”.

Maka bisa saja kita ada yang mengatakan “Saya tidak ikut berbuat dosa”, tetapi karena kita mendiamkan orang berbuat dosa, maka kita akan merasakan siksaan Allah untuk mereka yang berdosa.

Maka berbagai kebaikan akan terhalang sampai kepada diri kita, dan kalau kita sadari, hentikan perbuatan maksiat itu dan marilah kita bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Pernah disampaikan bahwa dalam suatu khutbah Rasulullah shollallahu ‘’alaihi wasallam bersabda : “Wahai segenap Muhajirin, ada lima perkara, jika lima perkara itu melanda kalian dan aku berlindung kepada Allah agar lima perkara itu tidak melanda kalian, yaitu :

  1. Tidaklah perbuatan zina itu nampak pada suatu kaum sehingga mereka terang-terangan melakukan perbuatan zina itu kecuali Allah akan tebar ditengah-tengah mereka penyakit Tho’un (penyakit menular), dan kelaparan yang tidak pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka.
  2. Kalau suatu kaum curang dengan mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menghukum mereka dengan ditimpakan kemarau panjang, hidup yang berat dan penguasa (pemerintah) yang semakin hari semakin dzolim.
  3. Curang dalam takaran dan timbangan akan mengakibatkan alam (atas perintah Allah) akan menghukum kita   yakni kemarau panjang, kehidupan ekonomi yang berat (krisis moneter), penguasa bukan menjadi baik tetapi bahkan semakin bertambah dzolim.
  4. Ketika suatu kaum itu segan membayar zakat dari harta mereka (zakat Maal), maka Allah akan larang hujan turun dari langit, kalau Allah tidak sayang kepada binatang ternak, maka Allah tidak akan turunkan hujan.
  5. Ketika suatu kaum itu mengingkari, membatalkan ikatan mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, yaitu Syahadat, tidak konsekuen dengan apa yang mereka ikrarkan, maka mereka akan dikuasai oleh musuh dari luar diri mereka, lalu mengambil kekayaan milik mereka.  Karena mereka tidak komitmen dengan Tauhid, tidak komitmen dengan Lailaha illallah.

Selanjutnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kalau para pemimpin mereka tidak berhukum pada Kitab Allah (AlQur’an) dan bahkan mencari apa-apa yang tidak diturunkan oleh Allah, maka Allah timpakan mereka selalu berada dalam bencana dan masalah”.

Maka bila pemerintah kita tidak menerapkan  hukum Allah subhanahu wata’ala, maka tidak akan beres.  Demikian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kita.   Haditsnya makbul.

Menurut apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha (isteri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam), bahwa apabila mereka membolehkan zina, meminum khomer,  memukul alat musik,  maka Allah akan cemburu dari langit, dan Allah turunkan semua itu dengan gempa. Dan gempa itu sebagai nasihat dan kasih-sayang bagi orang-orang mukmin dan merupakan hukuman (adzab) dan bukti murka Allah terhadap mereka orang-orang kafir.

Menurut Imam Al Hasan Al Basri : “Jika manusia menampakkan ilmu tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu itu, sukanya hanya membahas dan berwacana, satu sama lain saling memutuskan silaturrahim, Allah mengutuk mereka  maka buta dan bisulah mereka.

Ali bin Abu Thalib mengatakan : “Akan datang suatu masa (zaman) di mana tidak tersisa dari Islam kecuali namanya,  tidak ada yang tersisa dari AlQur’an kecuali tulisannya, masjid mereka megah-megah, tetapi masjid itu kosong dari petunjuk Allah subhanahu wata’ala, ‘ulama mereka lebih jahat dibanding apa yang ada di bawah bumi ini dan kemudian pada mereka keluar fitnah dan di tengah-tengah merekalah kalian akan kembali.”.

Dikatakan oleh Hilal bin Sa’ad : “Jangan kamu melihat kepada kecilnya dosa tetapi lihatlah siapa yang kamu perbuat dosa”.

Al Fudhoy bin Iyat mengatakan : “Sedemikian kecil dosa yang ada pada dirimu, tetapi dalam pandangan Allah adalah besar.  Kalau kamu merasa bahwa dosa itu besar, maka di sisi Allah akan menjadi kecil”. Selanjutnya Al Fudhoy mengatakan :  “Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihissalam: Wahai Musa, di antara makhluk-Ku yang akan pertama mati adalah Iblis karena ia adalah makhluk yang pertama maksiat kepada-Ku dan Aku janjikan orang yang berbuat maksiat itu adalah orang yang mati”.

Imam Syafi’i mengatakan : Aku mengeluh kepada guruku bernama Waqi’ tentang jeleknya hafalanku, lalu beliau memberikan bimbingan agar aku meninggalkan maksiat: “Ketahuilah wahai Syafi’i, bahwa Ilmu adalah keutamaan, dan keutamaan Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat”. 

Sedemikian banyak para ulama yang bersepakat bahwa maksiat adalah penyebab petaka. Dan karena itu kalau kita tahu bahwa maksiat dan maksiat lagi yang menyebabkan petaka,  maka hendaknya kita jangan mendekati maksiat, tetapi marilah kita bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Belajarlah, bahwa kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mengambil pelajaran, seperti Firman Allah dalam Surat Al A’raaf ayat  93 – 102 : 

93. Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

94. Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

95. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, Maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

(Ingat, Tsunami Aceh tahun 2004 terjadi kira-kira jam 09.00 pagi, ketika matahari sepenggalah).

99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

(Karena mereka selalu menolak ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala)

101. Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kalau kita mau belajar dari ayat-ayat tersebut, maka ternyata dosa itulah yang mengundang banyak petaka kepada kita.  Misalnya hukuman di dunia, kesempitan rezki, kesulitan hidup, problema, kisruh, ricuh, tidak aman, berbagai problema sosial, ekonomi, politik.  Semua itu datang kepada kita,  kepada negeri kita.

Kalau kita cermati Hadits-Hadits yang tersebut diatas, bahwa zina adalah perkara yang berkaitan dengan banyak masalah, sosial, ekonomi, akhlak, moral.  Lalu kalau kita lihat selanjutnya, urusan menakar, mengurangi timbangan, itu urusan ekonomi.

Zakat adalah urusan sosial, urusan Hak Allah, urusan hak fakir-miskin.  Ketika disampaikan petunjuk Allah dan para Rasul-Nya itu adalah urusan Tauhid, apabila berhubungan dengan hukum Allah, itu adalah urusan pedoman.  Ketika pedoman hidup tidak ada, ketika janji dengan Allah tidak komit, ketika urusan ekonomi tidak berjalan di atas Syari’at Islam, demikian juga sosial-budaya tidak di atas Syari’at Islam, maka semua itu adalah sumber bencana  bagi kehidupan manusia.

Palajaran dan bahasan kali ini dipenuhi dan dipadati dengan bukti bahwa jika kita berdosa maka hukuman Allah akan turun kepada kita.  Jika kita lagi-lagi ragu, protes, tidak mengamalkan apa yang Syari’at dan ajaran Allah, maka Allah subhanahu wata’ala tidak segan-segana akan menurunkan adzab (siksa) kepada kita.

Semua itu harus kita sikapi, di antara sikap kita adalah : Bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika kita semakin tahu bahwa maksiat dan kekufuran itu adalah penyebab turunnya petaka dan hukuman serta adzab dari Allah subhanahu wata’ala, berarti bila kita ingin selamat,  jalannya adalah bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Jika kita sudah disentuh dengan bukti-bukti bahwa banyaknya petaka ini adalah karena dosa, masih juga tidak sadar, maka jangan-jangan hati kita sudah terkunci mati. Na’udzubillah min dzalik.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan petunjuk kepada kita semua, sehingga kita senantiasa berada di atas jalan Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Sekian bahasan kali ini mudah-mudahan bermanfaat,

Subhanakallahumma wabihamdika,  asyahdu an lailaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

_________________

Senin malam,  4 Jumadil Akhir 1431 /  17 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: