Mahabbah

Oleh Ustad H. Ahmad Rofi’i, Lc.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb. ,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala.

Mahabbah adalah mengerjakan amalan-amalan yang menyebabkan Allah cinta kepada kita, merupakan upaya agar kita bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Sebenarnya perkara tersebut sudah biasa kita laksanakan, akan tetapi kita bahas lagi untuk memperkuat (memperkokoh) ingatan kita kepada masalah Mahabbah ini.   Bahwasanya yang menyebabkan amalan kita diterima oleh Allah subhanahu wata’ala ada dua perkara :

1. Ikhlas bahwa amalan kita hanya untuk Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

2. Mengikuti Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Untuk hal No.1 diatas, mudah untuk mengatakannya, tetapi tidak mudah bagi orang yang tidak mendapat hidayah dan taufiq dari Allah subhanahu wata’ala. Ikhlas karena Allah adalah perkara yang sangat sulit dilakukan oleh mereka para ulama dan orang-orang shalih.  Maka wajar bila Ikhlas itu mudah diucapkan tetapi sulit dipraktekkan.  Walaupu demikian,  karena ikhlas adalah kunci diterima atau tidaknya amalan kita, kita selalu bermohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kita dikaruniai ikhlas dalam perkataan dan perbuatan : ”Ya Allah karuniakan kepada kami ikhlas dalam perkataan maupun perbuatan kami”.

Dalam do’a yang dipanjatkan oleh Umar bin Khathab, Amirulmu’minin  rodhiyallahu ’anhu, seorang Khalifah : ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahui dan menyadarinya.  Dan aku bermohon ampun kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dari perkara yang tidak aku ketahui”.

Demikian berhati-hatinya mereka para ulama dalam memproteksi diri dalam perkara Ikhlas. Dan ikhlas tidak perlu diucapkan.

Kata para ulama : ”Orang yang mengatakan ”Ikhlas” dalam suatu perbuatan, maka sebetulnya ia perlu ikhlasnya itu pada ikhlas yang lain”.

Ikhlas bukan urusan mulut melainkan urusan hati, bukan urusan kita dengan manusia melainkan urusan kita dengan Allah subhanahu wata’ala.

Dalilnya adalah  Surat Al Furqon ayat 23 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan*], lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

*] Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman.

Artinya,  amalan itu akan berakhir dengan sia-sia (bagai debu beterbangan), karena amalan itu tidak ikhlas.

Surat An Nisaa’ ayat 125 :

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Surat Al Baqarah ayat 112 :

Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Artinya bahwa pahala, hilang dari rasa takut dan hilang dari rasa sedih, semuanya bukanlah perkara yang mudah.  Zaman sekarang, orang sedang krisis rasa aman, krisis jiwa.  Banyak orang yang tidak merasa aman jiwanya,  merasa selalu ketakutan, tidak bahagia,  bahkan mereka merasa sedih dan duka hatinya.  Karena mereka tidak ber-pasrah diri kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak tulus  (ikhlas) dalam beramal.

Dalam Hadits Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasallam bersabda :  Sesungguhnya amalan itu disertai dengan niatnya (tergantung niatnya).

Mengikuti Sunnah Rasulullah shollalahu ’alaihi wasallam.

Ikhlas menjadi motivasi dan landasan dalam beramal, yang menjadi tujuan dan orientasi dari amalan kita.  Semuanya itu untuk, dengan dan dari Allah subhanahu wata’ala.

Tetapi prosedur, mekanisme, tehnis dan srtategis yang harus dikerjakan oleh seorang hamba ketika beribadah kepada Allah tidak boleh ia mengarang sendiri, tidak boleh orang membuat aturan sendiri atau atas dasar kreatif dirinya sendiri. Tidak demikian.

Untuk urusan Din (agama) hukum asalnya adalah terpaku kepada Wahyu.

Dengan kalimat lain : Segala urusan dan perkara Din semuanya sudah baku, terpaku pada panduan. Kalau  panduan mengatakan boleh berarti boleh, kalau panduan mengatakan tidak boleh berarti tidak boleh. Dalam panduan ada ajarannya, maka dikerjakan. Tetapi bila dalam panduan tidak ada ajarannya, maka tidak boleh dikerjakan. Kalau ada perintah atau contohnya, maka dikerjakan. Kalau tidak ada perintah dan contohnya, jangan dikerjakan, karena yang demikian itu akan sia-sia, ibarat debu yang beterbangan.

Seperti itulah prosedurnya.

Hadits yang sangat masyhur, Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dalam urusan kami (Sunnah Rasulullah) maka amalan itu tertolak”.

Imam An Nawawi (salah seorang tokoh terpenting dari Ahlussunnah wal Jamaah, beliau adalah ber-madzhab As Syafi’i),  menjelaskan Hadits tersebut : Hadits ini merupakan kaidah yang agung  dari kaidah-kaidah yang terdapat dalam Islam.  Ini merupakan ringkasan dari apa yang terkandung dalam Hadits Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam sesungguhnya Hadits ini merupakan aturan yang sangat sarih, jelas, gamblang, terang dalam penolakan setiap perkara-perkara yang Bid’ah dan perkara-perkara baru yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Bisa jadi ada orang yang membangkang dari sekian banyak orang yang melakukan ke-Bid’ah-an itu terhadap Bid’ah yang ternyata didahului sebelumnya. Atau mengamalkan apa saja yang tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Yang demikian itu tidak menjadikan amalan kita berhasil dan berbuah dan menguntung-kan, tetapi sebaliknya amal menjadi gugur.

Tolok Ukur.

Ada tolok ukur yang diberikan oleh salah seorang ulama abad masa kini antara lain adalah Syaikh Nasharuddin Al Albany , beliau menuliskan perkara ini dalam Kitab Ahkamul Jana-iz, kata beliau : Kalau kita ingin tahu tentang ke-bid’ahan sesuatu maka cobalah tilik  (tidak kurang) dari 8 point yang akan menjadikan tolok ukur  yang harus kita ketahui, jika perkara ini ada maka ia termasuk perkara yang baru dan terancam tertolak dalam ukuran Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Sesungguhnya Bid’ah yang dijelaskan, dinaskahkan, diredaksikan, terhadap kesesatannya dalam Syari’at, (maksudnya karena semua Bid’ah adalah sesat, maka perkara yang dikatakan sesat menurut Syar’i ) bisa diukur dari beberapa point berikut ini :

1. Setiap apa saja yang menentang As Sunnah apakah itu berbentuk perkataan, atau perbuatan, atau keyakinan,  betapapun perkataan, perbuatan dan keyakinan itu bertitik tolak dari Ijtihad sebelumnya. Dalam perkara Aqidah tidak boleh ada unsur Ijtihad.   Setiap penolakan dan pembantahan terhadap Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam adalah termasuk dalam kategori Bid’ah. Sejak zaman Rasulullah, para sahabat selalu sami’na wa atho’na.  Dan ketika mereka ada ketidak sempurnaannya, lalu mereka berdo’a kepada Allah : Ghufronaka, ampunilah kami bila ada kekurangan.

Contoh : Ada yang berpaham, kalau perempuan bercerai dengan suaminya maka perempuan itu mempunyai masa Iddah, tentunya laki-laki juga punya masa Iddah, yaitu tiga bulan. Agar sama antara laki-laki dan perempuan. Aturan yang demikian itu berarti menentang Sunnah. Itu Bidah.

2. Setiap perkara mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala tetapi tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam, yang demikian dilarang. Contoh : Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Jangan kalian memperlakukan   (mengkultuskan) aku seperti orang-orang Nasrani memperlakukan Isa ibnu Maryam”.

Orang-orang Nasrani membikin perayaan Natal, dalam memperingati hari kelahiran Nabi Isa ’salahissalam, lalu sekelompok orang Islam membikin acara Maulid Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam. Lalu dalam acara itu mereka berdiri mengelu-elukan dan berdo’a meminta sesuatu kepada arwah beliau, karena mereka menganggap bahwa arwah beliau hadir di antara mereka, maka itu merupakan kultus kepada Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wasalalam. Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasaallam tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Maulid, tetapi sebagian umat Islam merayakan Maulid beliau. Itu adalah bagian dari perkara mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, padahal perkara tersebut dilarang oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam sendiri.

Contoh lagi : Shaum (puasa) itu dilakukan sejak Subuh hingga terbenamnya matahari. Dan Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam melarang menyambung (melebihi) dari waktu itu, sehingga puasanya bersambung sampai waktu malam hari. Itu dilarang. Katanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Apalagi bertapa, tidak makan-minum sampai sehari-semalam bahkan sampai mati, itu dilarang.

3.  Setiap perkara tidak mungkin disyari’atkan kecuali melalui Nash (dalil dari AlQur’an dan Hadits), atau perkara yang baku yang tidak boleh manusia biasa merekayasa.  Harus berasal dari Allah dan Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Maka janganlah meyakini sesuatu itu benar atau salah, (dimana  diperlukan dalil) tetapi tidak ada dalilnya.

Misalnya membenarkan mimpi,  kalau bermimpi giginya tanggal berarti dalam waktu dekat ini  akan ada anggota keluarga yang meninggal.  Lalu orang itu menjadi gelisah, tidak tenang karena memikirkan perkara mimpi itu. Yang demikian itu Bid’ah, dilarang.  Karena tidak ada orang tahu tentang waktu kematian seseorang. Tidak boleh meyakini sesuatu tanpa dalil.

4.  Apa-apa yang dibarengkan (diboncengkan) dengan perkara ibadah, padahal itu adalah adat-istiadat orang kafir. Misalnya mencintai Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam dengan metodologi orang-orang Nasrani.  Orang-orang Nasrani memperingati kelahiran Isa ibnu Maryam, dengan istilah Natal. Lalu orang-orang Islam mengadakan Maulid Nabi.  Yang demikian itu tidak bisa dibuktikan dengan dalil ataupun lewat sejarah,  ataupun lewat ajaran yang berasal dari Rasulullah, atau para sahabat ataupun lewat tabi’in bahkan lewat para Imam sekalipun, bahwa cara mencintai Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasallam itu dengan cara membonceng cara Nasrani.

Yang demikian tidak boleh ada dalam kebiasaan kaum Muslimin.

5. Perkara-perkara yang dianjurkan oleh sebagian para ulama, terutama dari kalangan ulama mutaakhirin.  Kapan batas ulama mutaakhirin ? Ialah setelah abad ke-3 (tiga) Hijriyah. Abad ke-4 (empat) sampai sekarang dikategorikan abad mutaakhirin.  Termasuk dalam kategori  mutaakhirin adalah Al Mu’asirin.  Maka apabila ada orang mulai abad ke-4  sampai sekarang mengatakan bahwa dianjurkan melakukan ini dan  itu,  padahal tidak ada dalilnya,  maka itu dikategorikan Bid’ah.

Misalnya Bid’ah dalam masalah pernikahan, Bid’ah dalam masalah ibadah sholat, ada Bidah dalam masalah Wudhu, Bid’ah dalam masalah Adzan, Bid’ah dalam masalah masjid dst,  masih banyak sekali Bid’ah-Bid’ah yang lain.

Bid’ah dalam masalah pernikahan, misalnya : Pengantin bersanding di pelaminan,  itu adalah Bid’ah, karena itu tidak ada ajarannya.   Seorang yang hendak dinikahkan disuruh mengucapkan dua Kalimah Syahadat, barulah dinikahkan. Juga seorang anak perempuan ketika hendak dinikahkan disuruh minta ijin kepada orang tuanya terlebih dahulu barulah dinikahkan.  Semua itu tidak ada dalam ajaran Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam, semua itu adalah rekayasa.   Padahal  dalam satu menit, ijab-kabul, maka sah pernikahan itu, karena mudahnya menurut ajaran Islam.  Tidak harus berjam-jam menunggu dulu segaala macam ritual dan acara-acara yang tidak ada ajarannya.

Misalnya Bid’ah dalam Wudhu : Setiap gerakan, cuci tangan ada do’a, berkumur ada do’a, membasuh muka ada do’a, mengusap kepala ada do’a,  membaca do’a dan do’a, padahal semua itu tidak ada ajarannya dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Lalu ketika seseorang berdo’a, selesai berdo’a ditutup dengan mengusap muka, itu tidak ada ajarannya.  Dalam rumah, yang ini merupakan dari budaya, yaitu ditempelkannya foto-foto tentang riwayat pernikahan sejak pengantin sehingga punya anak, punya cucu dst, foto-fotonya ditempel pada dinding,  semua itu adalah perkara yang tidak ada pada masa Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Dan gambar-gamabar yang demikian itu dilarang untuk dipajangkan,  bahkan gambar–gambar itu akan menjadi tempat bersemayamnya jin.  Maka bila dalam rumah itu ada orang kesurupan,  pertama yang harus dikerjakan adalah menggulung gambar-gambar yang dipasang di dinding rumah itu.

Bid’ah dalam Adzan : Sebelum adzan membaca ayat AlQur’an,  bacaan-bacaan sebelum adzan Subuh, dsb. Ada lagi nyanyian Asmaul Husna dinyanyikan sebelum adzan Subuh, dsb.  Semua itu tidak ada ajarannya dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Atau bacaan-bacaan lainnya seperti sholawat dan sebagainya, tidak ada  ajaran demikian itu.  Semua itu adalah tambahan-tambahan yang entah dari mana asalnya, tetapi jelas bukan dari Nash AlQur’an atau Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Bid’ah dalam masjid : Hiasan-hiasan dalam masjid, kuburan dalam masjid, dst, yang tidak ada ajarannya dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.  Katanya dianjurkan- dianjurkan padahal tidak dasar ajarannya.

Setiap ibadah yang tersebut diatas  tidak ajarannya, kecuali tata-cara ibadah itu melalui hadits yang lemah atau hadits palsu.  Dan seluruh Hadits sudah dikodifikasikan sejak abad ke-3 Hijriyah,  maka sudah matang ilmu itu pada abad ke-3 Hijriyah.  Maka para ulama mengatakan bahwa tidak ada hadits, kecuali para ulama telah berkomentar tentang kedudukan dan status hadits tersebut.

Kita ini adalah ber-madzhab Syafi’i, dimana madzhab Syafi’i adalah madzhab yang paling ketat dalam penerimaan hadits-hadits yang dho’if (lemah).  Antara lain kata beliau : Dho’ifnya tidak boleh terlalu dho’if. Tidak boleh sangat lemah. Dan hadits palsu tidak boleh dipakai.  Para ulama sudah menjelaskan tentang hal tersebut.

Ibnul Jauzi menulis kitab sampai dengan tiga jilid tentang Hadits palsu.  Isinya tentang Hadits palsu. Untuk menunjukkan kepada umat Islam bahwa banyak hadits-hadits palsu  dan semua yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah hadits palsu, sampai dengan penjelasan dan pembahasannya.

Maka hendaknya  kita berhati-hati terhadap pernyataan orang yang mengatakan ini ibadah, tetapi ternyata haditsnya palsu atau tidak ada dalilnya.

Ibadah kita semuanya harus jelas, benar, shahih, diatas dalil, insya Allah makbul.  Yang seperti itu yang kita kerjakan.  Karena masih banyak hadits-hadits shahih yang belum kita kerjakan.  Misalnya saja Hadits-hadits yang menjadi pegangan Ahlussunnah wal Jamaah adalah Kutubussittah, misalnya : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunnan Abi Dawud, Sunnan At Turmudzy, Sunnan An Nasaa’i, Sunnan Ibnu Majah. Kalau setiap kitab berisi 4000 Hadits, maka dikalikan 6 menjadi : 6 X 4000 Hadits = 24.000 Hadits.

Artinya masih banyak Hadits-Hadits yang shahih yang belum kita kerjakan.   Jangankan 24.000 Hadits,  Kitab Riyadhushsholihin (Kitab yang paling akrab dengan kita)  yang berisi 1.800 Hadits saja belum tentu kita sudah mengamalkannya.  Bagaimana dengan yang 24.000 Hadits ? Mengapa mencari-cari hadits yang dho’if (lemah) ?  Padahal Hadits yang shahih saja masih sedikit yang bisa kita mengamalkannya ?.

Maka marilah kita efektifkan umur kita dengan mengerjakan (mengamalkan) Hadits yang shahih-shahih saja.   Masih banyak perkara yang shahih tetapi kita belum pernah ”menjamahnya” (menyentuh dan mengkajinya), bagaimana mungkin mengamalkannya ?.

6.   Berlebihan dalam beribadah.

Misalnya berdzikir dengaan berlebihan, sampai melupakan isteri, lupa mencari nafkah, dst.  Kalau yang dimaksudkan ingin zuhud, maka sebenarnya zuhud artinya adalah hanya memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar saja, yang berupa kebutuhan primer, tidak butuh yang sekunder dst. Itulah Zuhud.

Tentang dzikir seperti dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam beliau berdzikir mengucap Astaghfirullah 100 kali, atau 70 kali sehari/semalam.  Lalu ada orang yang berlebihan, berdzizkir terus-menerus di masjid atau dalam rumahnya, sampai lupa mencari nafkah.  Yang demikian itu berlebihan.

Maka ketika Khalifah Umar bin Khathab melihat ada seseorang ber-dzikir terus-menerus, berlama-lama di masjid, beliau temui dan disuruhnya orang itu keluar mencari nafkah  ke pasar, sambil beliau berkata : ”Sesungguhnya langit tidak menurunkan hujam emas dan perak kepadamu karena dzikirmu, pergilah kamu ke pasar, bekerjalah mencari nafkah”.

Artinya, beribadah tidak boleh berlebihan dari apa yang sudah diterangkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.   Yang penting adalah seperti diucapkan oleh para ulama, yaitu : Mencukupkan diri dengan apa adanya dari AlQur’an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam itu saja,  itu lebih baik daripada menambah-nambah dengan ke-Bid’ahan.

7. Setiap ibadah yang diutarakan oleh Syari’at tetapi di-muqoyyad-kan (ditetapkan jumlahnya )

Misalnya berdasarkan ayat AlQur’an : ”Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingat kepada Allah)  dengan dzikir yang banyak”.

Yang dimaksud dengan ”Dzikir yang banyak” artinya sebanyak-banyaknya tidak ditentukan jumlahnya.

Lalu ada orang yang mengatakan agar mengucap ”Ya Rohman” sebanyak 1.111 kali (seribu seratus sebelas kali) antara Maghrib dan ’Isya,  dibaca di lereng gunung.  Atau mengucapkan ”Ayat Kursi” sebanyak 17 kali.  Yang seperti ini tidak ada dalam ajaran Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam .   Itu mengada-ada (Bid’ah).

Juga ada kesalahan yang sifatnya umum (kaprah), misalnya Hadits Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam : ”Janganlah kamu melakukan perjalanan (ziarah) kecuali kecuali kalian mendatangi Masjid An Nabawi”.

Bukan berarti ke kubur Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasallam, melainkan ke Masjid Nabawi. Bukan ziarah kubur.  Tetapi bila ada orang ber-ziarah ke kubur Rasulullah shollallahu ’alaihi  wasallam, itu merupakan sampingan dari kunjungannya ke Masjid Nabawi, maka itu boleh.  Tetapi bila orang menyengaja pergi ke Madinah khusus untuk berziarah ke kubur Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam, itu tidak boleh.  Karena ajarannya adalah : Hanya ke masjid Nabawi.

Ke kubur Nabi saja tidak dianjurkan, apalagi ke kubur Wali atau Kiai.  Jadi kalau ada orang membuat kelompok untuk ziarah Tour ke kubur para wali atau Kiai,  maka itu tidak ada ajarannya. Itu merupakan safar (bepergian) yang tidak disunnahkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam .

Yang dimaksudkan oleh Hadits Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam adalah ziarah (perjalanan ibadah) ke tiga tempat yaitu Makkah, Madinah dan Masjidil Aqsha. Tiga tempat itu saja, bukan ke kubur para wali dan kiai.   Itu tidak ada ajarannya, bahkan menjadi syirik (dosa besar).

Sesungguhnya Bid’ah itu bermacam-macam, dan dibagi-bagi :

Bid’ah Qauliyah I’tiqodiyah, yaitu Bid’ah berkenaan dengan  keyakinan, misalnya orang mengatakan bahwa AlQur’an adalah makhluk, atau mengatakan AlQur’an itu kurang, mengatakan tidak boleh mempercayai para Sahabat Rasul, karena para sahabat itu kafir.  Yang demikian itu termasuk keyakinan-keyakinan dari ucapan yang Bid’ah.

Bid’ah dalam perkara Ibadah. Banyak sekali, antara lain misalnya ibadah dalam sholat, contoh : Ketika Imam sholat selesai membaca Al Fatihah, lalu jamaah mengucap : Robbighfirli waliwali daiya aamiin. Ucapan demikian adalah Bid’ah, tidak ada ajaran demikian itu.  Yang benar adalah ucapan : Aamiin. Itu saja yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Dan masih banyak lagi Bid’ah dalam cara-cara beribadah, misalnya menambah dan mengurangi dalam tata-cara beribadah, mengada-ada yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Bid’ah juga di bagi dua, yaitu Bid’ah dalam perkara duniawi dan Bid’ah dalam perkara Din (agama).  Dalam perkara duniawi, yaitu Bid’ah Hasanah kita bahkan diperintahkan, agar mengembangkan tehnologi, mengembangkan sarana beribadah, mengelola dunia ini agar menjadi lebih baik dan modern.  Yang ini memang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala : Waf’alu al khaira, la’allakum tuflikun.

Memang dibuka kesempatan untuk bid’ah dalam perkara duniawi. Kalau zaman dahulu dari Mekkah ke Madinah  atau dari Mekkah ke Masjidil Aqsha memerlukan perjalanan sebulan, karena berkendaraan unta atau jalan kaki.  Tetapi zaman sekarang karena perkembangan tehnologi, perkembangan duniawi, maka untuk perjalanan tersebut cukup beberapa jam saja. Itu perkara duniawi.

Bid’ah dalam perkara Din bisa berkembang menjadi tiga Hukum :

  1. Bid’ah Mukaffiroh, yaitu bid’ah yang menyebabkan orang menjadi kafir, keluar dari Islam.
  2. Bid’ah Haram, yaitu Bid’ah yang termasuk perbuatan dosa dan termasuk yang dibenci.

Bid’ah dalam perkara Din harus kita hindari, karena dalam hal Din bukan wewenang kita, semua perkara Din adalah dari Allah subhanahu wata’ala.

AlQur’an diturunkan dari Allah.  Apa yang diucapkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah.  Maka Din kita adalah wahyu (Khobar). Oleh karena itu kita tidak boleh mengada-ada, menambah-nambahi atau mengurangi semau kita.

Dan ketika kita mengabdi, beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala janganlah dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam.

Banyak dalil baik dari AlQur’an maupun dari As Sunnah serta perkataan para sahabat dan tabi’in, juga perkataan para ulama bahwa Bid’ah (dalam perkara Din) adalah tercela, dilarang,  bahkan hukumnya haram, bahkan bisa menjadi pintu kekufuran.  Maka bila ada orang mengatakan bahwa Allah tidak punya nama, tidak punya sifat, dst, itu adalah Bid’ah, menyebabkan orang yang mengatakan itu kufur, keluar dari Islam.

Demikian juga kalau ada orang mengatakan bahwa AlQur’an yang ada sekarang ini hanya sepertiga dari yang semestinya, yang duapertiga-nya tidak ada, maka yang mengatakan demikian itupun kufur.  Orang yang mengatakan bahwa para sahabat kafir kecuali beberapa orang saja,  perkataan demikian itupun bisa menyebabkan orang itu menjadi kafir.   Termasuk yang mengatakan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti) menyebabkan orang menjadi kafir.

Juga dalam keseharian, ketika kita menghitung dzikir selesai sholat adalah menggunakan jari-jari tangan. Itu yang diajarkan oleh Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasallam, dan di hari Kiamat jari-jari tangan kita akan menjadi saksi dzikir kita di hadapan Allah subhanahau wata’ala.  Bukan menggunakan biji-bijian (Tasbeh). Itu mirip dengan Budha (agama musyrik). Itu termasuk Bid’ah dan Tasyabbuh (menyerupai).

Itulah perkara-perkara yang harus kita ketahui dan hendaknya kita selalu merujuk kepada apa yang difirmankan oleh Allah dan disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Allah subhanahu wata’ala berfirmana dalam Surat An Nuur ayat 63 :

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Dalam akhir ayat tersebut :  ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Maka hindarilah oleh kalian orang-orang yang menyelisihi (berbuat Bid’ah)  urusan atau Syari’at Muhammad), demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir. Beliau Ibnu Katsir menterjemahkan ”An amrihi” dalam ayat tersebut adalah : Islam, Syariat, Sunnah Rasulullah shollalalahu ’alaihi wasallam.

Akibatnya, jika Syari’at, Sunnah Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam ditinggalkan, diselisihi, maka yang terjadi adalah mereka selalu ditimpa musibah, cobaan, di dunia dan di akahirat akan menerima siksa yang sangat pedih.

Barangkali kita sekarang selalu dirundung musibah silih berganti, disana-sini, jangan-jangan karena kita mengaku Muslim tetapi kita meninggalkan dan menyelisihi Sunnah Muhammad Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.

Dari Sunnah (Hadits), kita sering mendengar Hadits berikut ini (biasanya dibacakan ketika Khutbah Jum’at) :

Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (AlQur’an),  dan sebaik-baik petunjuk dan bimbingan adalah petunjuk dan bimbingan Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam, seburuk-buruk perkara adalah bid’ah, perkara yang baru (yang diada-adakan), setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka”.

Tetapi dalam pelaksanaan sehari-hari tidak sedikit orang,  bahkan dari para khotib sendiri yang melakukan Bid’ah.   Yaitu ketika selesai sholat, setelah salam, lalu melakukan hal-hal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Itu dilakukan oleh Khotib sendiri. Yaitu : Mengucap salam menengok kekanan, membalikkan tangan kanannya, menoleh ke kiri  dengan membalikkan tangan kirinya, lalu mengusap wajah, lalu mengomando kepada jamaah : Al Fatihah. Padahal semua itu tidak ada ajarannya dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Jadi orang itu melakukan Bid’ah padahal sebelumnya ia menyampaikan Hadits yang melarang Bid’ah.

Seburuk-seburuk perkara adalah perkara-perkara yang baru, yang mengada-ada (Bid’ah). Tentunya yang dimaksudkan adalah dalam perkara Din. Perkara yang baru dalam Din apapun bentuknya terancam neraka.  Dan setiap yang Bidah adalah sesat dan yang sesat tempatnya adalah neraka.

Selanjutnya Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam dalam Hadits shahih bersabda :

”Barangsiapa yang Allah tunjuki, tidak akan ada yang bisa menyesatkan orang itu. Dan barangsiapa ayang disesatkan Allah, tidak ada orang yang bisa memberi petunjuk”.

Perkatan sahabat (Umar bin Khathab rodhiyallahu ’anhu) tentang Bid’ah : ”Hindarilah oleh kalian orang-orang yang mengedepankan akal, karena mereka adalah musuh-musuh Sunnah, mereka telah buta untuk menghafal dan memelihara Hadits, lalu mereka dengan pendapatnya,  mereka sesat dan menyesatkan”.

Menunjukkan bahwa sejak dahulu Bid’ah itu dibenci.

Kata Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ’anhu : ”Ikutilah Sunnah Rasulullah oleh kalian, jangan kalian berbuat Bid’ah, kalian sudah dicukupkan.  Setiap Bid’ah adalah sesat”.

Kata Umar bin Abdul ’Aziz rodhiyallahu ’anhu : ”Aku berwasiat kepadamu agar kalian bertaqwa kepada Allah,  mencukupkan diri dengan apa yang menjadi perintah Allah dan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam,  dan meninggalkan apa yang diada-adakan oleh orang, sesuatu yang baru”.

Berkata Imam Hasan Al  Bashri : ”Tidak sah suatu perkataan kecuali jika diamalkan. Perkataan dan amal itu tidak sah kecuali dengan niat. Perkataan, perbuatan dan niat itu tidak sah bila tidak sesuai dengan As Sunnah”.

Berkata Imam Syafi’i : ”Hukumku, keputusanku terhadap mereka yang menggunakan filsafat, menggunakan kalam, menggunakan mantiq, di dalam Din adalah : Mereka agar dipukul dengan pelepah kurma, kemudian dibawa di atas unta orang tersebut, dikelilingkan  kepada orang-orang banyak (kabilah, suku), dan diumumkan (dikatakan ) : Inilah balasan orang meninggalkan AlQur’an dan Sunnah dan kemudian menjadikan Al Kalam (filsafat) sebagai sumbernya”.

Itulah perkara-perkara yang harus kita pegang, bahwa apabila kita ingin agar ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, maka cukupkan :

  1. Dengan ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala,
  2. Dengan menerima dan menjalankan prosedur yang berasal dari Sunnah Muhammad Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.
  3. Jangan Bid’ah karena Bid’ah membuat kita terancam gagal dalam hidup ini, tidak diterima amalannya, rugi modalnya,  dan akhirnya menghadap Allah subhanahu wata’ala dengan hampa, karena amalan kita semua gugur tidak berhasil.

Tanya-Jawab

Pertanyaan:

Tentang penggunaan ro’yu (akal).  Sekarang berkembang adanya penafsiran AlQur’an dan Hadits dengan sistem kontekstual, yaitu menggunakan ro’yu. Kata mereka yang menggunakan ro’yu, bila tidak ditafsirkan secara kontekstual, maka dikhawatirkan AlQur’an dan Hadits menjadi tidak sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga tidak bisa dipergunakan.

Tetapi ada yang berpendapat bahwa penafsiran hanya boleh secara tekstual, seperti apa adanya yang tertulis.  Ada yang berpendapat tidak cukup secara tekstual tetapi juga dengan kontekstual (dua-duanya dipakai). Tetapi akhirnya penafsiran secara konstekstual lalu melahirkan kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal).

Apakah boleh penafsiran secara kontekstual itu ?

Jawaban:

Pertama, AlQur’an adalah Kalamullah (Firman Allah).   Maka yang paling faham tentang firman Allah adalah Allah subhanahu wta’ala.   Karena memang Allah yang berfirman.

Kedua, manusia di dunia ini yang paling faham tentang AlQur’an adalah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Karena beliaulah yang diberikan Firman Allah itu.  Dan Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjelaskan AlQur’an kepada manusia.

Ketiga, setelah Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam yang paling faham tentang AlQur’an adalah para sahabat.  Dan yang paling mengerti AlQur’an setelah sahabat adalah para Tabi’in. Dan berikutnya adalah Tabi’uttabi’in dan para Imam, dan selanjutnya adalah Bahasa Arab.

Demikianlah prosedurnya, bila kita ingin bicara tentang Firman Allah subhanahu wata’ala. Jangan menurut ro’yu (akal).    Berbicara tentang Arro’yu, maka  ada dua : Arro’yu Al Mahmud dan Arro’yu Al Madzmum.

Menafsirkan AlQur’an secara Al Ma’tsur adalah menafsirkan AlQur’an dengan apa yang difahami oleh para pendahulu umat.  Menafsirkan AlQur’an selain dengan cara itu disebut penafsiran secara Arro’yu.

Penafsiran secara Arro’yu Al Mahmud (terpuji), karena ia merupakan pendukung dan penjabaran atau penjelasan dari apa yang ada dalam Tafsir bil Ma’tsur.  Penafsiran yang bertentangan dengan itu disebut Arro’yu Al Madzmum.

Adapun pembahasan tafsir AlQur’an baik secara tekstual ataupun kontekstual tidak menjadi masalah.  Tekstual artinya sesuai dengan redaksinya, sedangkan kontekstual adalah mafhum (memahami) apa yang terkandung dalam ayat AlQur’an.  Para ulama selalu menggabungkan antara keduanya.  Jadi tidak ada dekotomi antara tekstual dan kontekstual.  Karena tekstual artinya terjemah sedangkan kontekstual adalah tafsir.

Tetapi yang menjadi masalah bukan soal tersebut, melainkan adalah radikalisme terhadap Firman Allah subhanahu wata’ala, yang para penafsirnya tidak begitu mahir dalam bahasa Arab, tidak mantap seperti Imam Sibawaih yang ahli bahasa Arab itu.  Juga tidak semantap Ibnu Malik yang menulis kitab Alfiyah dalam masalah bahasa Arab.

Bahkan para penafsirnya berbahasa Indonesia, referensinya dari buku-buku orang kafir, bagaimana mungkin bisa menjabarkan AlQur’an.  AlQur’an berbahasa Arab, bagaimana mungkin difahami dengan bahasa orientalis ? Tentunya itu studi Islam yang salah.

Jadi masalahnya bukan soal tekstual dan kontekstual, melainkan apakah sesuai atau tidak dengan pemahaman yang mendasar,  menurut mereka yang paling paham.

Orang-orang orientalis mengatakan bahwa Assalamu’alaikum adalah tradisi, sama dengan Good morning, Selamat pagi atau Selamat sore, Selamat malam, dst. Oleh karena itu menurut orang orientalis siapa saja boleh mengucapkan  Assalamu’alaikum.

Pencetusnya adalah orang orientalis (kafir) yang benci dengan Isam,  memahami As Sunnah didefinisikan sama dengan tradisi.

Mereka ingin menjelaskan AlQur’an dan As Sunnah, tentu tidak benar.  Dan JIL adalah ”Beo” dari para orientalisme.  Kita harus hati-hati dan waspada, karena mereka adalah gerakan pemurtadan, tidak usah ragu.  Contoh : Mereka memahami bahwa Hak waris laki-laki dan perempuan sama.  Itu bukan menterjemahkan atau tafsir, melainkan sudah mengganti ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala. Itulah gerakan pemurtadan.

Pertanyaan:

Bagaimana memahami Hadits yang berisi dialog antara Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam dengan Mu’adz bin Jabal ketika beliau hendak ditugasi menjadi Gubernur  Yaman ?  Dan bagaimana perkembangan selanjutnya dimana Islam menghadapi berbagai negara yang mempunyai adat-istiadat yang berbeda ?

Jawaban:

Dalam Islam ada dua perkara yaitu Ats Tsawabid dan Al Mutaghoyyir.

Ats Tsawabid adalah  perkara yang paten, tidak bisa bergerak dan tidak boleh digerak-gerakkan dan standar. Jika bergerak atau berubah sedikit saja, berarti bukan Islam. Misalnya tentang Aqidah, meyakini bahwa Allah adalah Esa. Meyakini bahwa yang benar di dunia adalah satu: Islam.  Yang selain itu adalah bathil.  Itu permanen, paten.

Al Mutaghoyyir artinya berubah-ubah, berbeda-beda. Setiap tempat dan negeri berbeda-beda adat-istiadatnya.  Pakaian orang Arab Saudi adalah jubah, gamis.  Orang Malaysia memakai celana dan baju koko, dan memakai sarung sebatas lutut.  Orang Nigeria memakai jubah tetapi dengan warna-warni yang mencolok, dan seterusnya.

Tetapi intinya adalah kaidahnya, yaitu pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian wanita, demikian sebaliknya. Laki-laki tidak boleh musbil (isbal, menutupi mata-kaki). Kaidah-kaidah inilah yang semua negeri menyepakati. Kalau itu dilanggar berarti melanggar Sunnah. Adapun ada yang memakai batik, ada yang bercorak lain lagi, itu boleh saja asalkan kaidahnya tidak dilanggar.  Islam itu dimana saja bisa dipakai dan bisa diaplikasikan. Tetapi bukan kemudian diputar-putar sesuai dengan kemauan sendiri.

Pertanyaan:

Tentang Bid’ah, bagaimana dengan penulisan AlQur’an,  yang disusun oleh para sahabat setelah Nabi Muhamamad shollallahu ’alaihi wasaallam, dimana masalah ini sering dibuat alasan bagi mereka yang mempertahankan kebid’ahan.

Jawaban:

Tentang penyusunan AlQur’an, pada awalnya Abubakar as Siddiq sendiri menolak.  Yang mengusulkan adalah Umar bin Khathab agar AlQur’an dikodifikasikan (dibukukan)

Tetapi ingat,  bahwa sebelum itu AlQur’an itu ada penulisnya, artinya AlQur’an sudah ditulis sejak zaman Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Bahkan penulisan AlQur’an lebih dahulu diprioritaskan daripada penulisan As Sunnah.

Bahkan Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam men-spesialisasikan siapa yang menulis AlQur’an dan siapa yang menulis Hadits (As Sunnah). Sudah ada sejak zaman Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam.   Kemudian perkembangan dunia selanjutnya adalah karena pada zaman itu yang dipakai menulis adalah batu, pelepah kurma, kulit kayu, kulit binatang.  Lalu pada zaman Khalifah Abubakar as Siddiq sudah mulai ada kertas, saat itu Umar bin Khathab mengusulkan agar AlQur’an dibukukan.  Tetapi Abibakar As Siddik menolak, dengan alasan bahwa tidak pernah ada perintah dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam untuk membukukan AlQur’an.

Dan melalui istikhoroh, bermusyawarah para sahabat ketika itu, akhirnya terjadilah Ijma’ para sahabat, yaitu penulisan AlQur’an berbentuk Kitab. Disempurnakan pada masa Khalifah Umar bin Khathab,  kemudian disempurnakan lagi pada masa Khalifah Utsman bin ’Affan, semua itu dipimpin tim-nya oleh Zaid bin Haritsah.

Untuk menunjukkan bahwa para ulama itu berusaha memelihara AlQur’an.  Penulisan AlQur’an adalah Ijma’ para sahabat.  Itu adalah Maslahat, tidak dikategorikan Bid’ah, bahkan dalam Ushul Fiqih disebutnya Mushalih Mursalah. Termasuk juga pencabangan ilmu,  misalnya ada Ilmu Fiqih, Ilmu Ushul Fiqih, Ushul Tafsir, Mustakhol Hadits, Nahwu, Sharaf, dst. Termasuk Maslahat, bagian dari wasilah yang disyari’atkan.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyadu an lailaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

_____________

Senin Malam,  5 Jumadil Ula 1431 /19 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: