Muroqobah

Oleh H. Ahmad Rofi’I,  Lc.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Pada pertemuan lalu telah kita bahas tentang Mahabbah, amalan agar Allah subhanahu wata’ala mencintai kita, merupakan salah satu amalan dari sekian amalan agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Untuk kali ini kita membahas tentang amalan kedua yaitu Muroqobah, juga merupakan salah satu upaya agar kita termotivasi dan bangkit gairah kita untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Beberapa pengertian tentang Muroqobah menurut para ulama.

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa Muroqobah adalah dawam (selalu), meng-kontiyu-kan pengetahuan seorang hamba dan terus-menerus adanya keyakinan dalam diri seorang hamba Allah,  bahwa Allah selalu mengetahui tentang dirinya baik secara dhohir maupun secara bathin.

Bila kita selalu ada rasa sebagaimana disebutkan diatas, berarti kita mempunyai sikap Muroqobah. Itu akan menimbulkan “waskat” (pengawasan melekat) pada diri kita.  Sikap merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala itu sebenarnya sudah diajarkan sejak 1400 tahun lalu.  Mental manusia yang demikian sudah sejak 1400 tahun lalu diobati oleh Islam.

Kinerja manusia supaya tumbuh demikian itu, hendaknya ditumbuhkan pada diri kita bahwa setiap individu diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala.  Pekerjaan yang ada dihadapannya adalah amanah. Dalam bahasa menejemen disebut delegasi. Seseorang itu harus melaksanakan job-discription yang sudah ditentukan, item dan kontraknya sudah jelas.  Semua itu diawasi, sehingga orang itu tepat waktu, tepat kerja dan tepat guna, sehingga menghasilkan amalan yang bagus.

Muroqobah menimbulkan semangat tinggi dalam diri seseorang karena ia merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala. Bukan karena ia merasa diawasi oleh atasan kerjanya, atau oleh mandornya, sehingga kalau ia bekerja bagus lalu konduite-nya naik lalu gajinyapun naik, lalu diberi jabatan.   Tetapi dalam Syar’i, semangat itu bukan karena pekerjaan, bukan karena aatasan, gaji, ataupun pangkat, melainkan orang mengerjakan amalan itu karena Allah semata.  Karena Allah subhanahu wata’ala selalu melihatnya.

Bila Muroqobah itu tumbuh dalam setiap diri kita, maka akan menjadi luar-biasa, ibadah kita menjadi hebat sekali. Apabila terdengar suara Adzan,  langsung semua kita menuju ke masjid untuk sholat berjamaah. Sebagaimana banyak riwayat menceritakan bahwa umat terdahulu kita apabila sudah dipanggil untuk datang ke masjid, terdengar Adzan, langsung mereka berhenti bekerja, dan bergegas menuju ke masjid.  Mereka tahu benar bahwa panggilan Allah lebih utama dibandingkan lainnya.

Ulama lain mengatakan, bahwa Muroqobah adalah perhatian selalu kita terhadap penilaian Allah subhanahu wata’ala dalam setiap lintasan pikiran dan langkah hidup kita.   Teori tersebut tidak mudah mempraktekkannya. Yaitu bahwa setiap pikir dan gerak langkah kita merasa selalu diawasi oleh Alllah.  Menjadikan kita selalu berhati-hati dan waspada, karena khawatir Allah murka. Sikap demikian itu disebut Muroqobah.

Muroqobah juga berarti ketulusan, kemurnian, kesejatian perkara yang rahasia maupun yang nampak nyata, hanya untuk Allah ‘Azza wajalla. Baik sedang sendiri maupun bersama orang banyak.

Ternyata Muroqobah adalah adanya sikap dalam diri kita merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala, baik dalam keadaan sendirian maupun ditengah orang banyak, apakah itu sesuatu perkara yang nyata ataukah sesuatu perkara yang bersifat bathin (tidak kelihatan).  Itulah Muroqobah menurut para ulama.

Bila semua orang mempunyai sikap Muroqobah, maka semua kita akan bekerja dengan jujur  karena Allah.  Dan semuanya akan berjalan dengan baik dan benar.

Al Junaid, seorang ulama  yang oleh orang-orang Sufi dijadikan tokoh, padahal beliau adalah seorang Tabi’in yang tidak ada urusan dengan Sufi, kata beliau Al Junaid ketika ditanya oleh seseorang : “Wahai Junaid, bagaimanakah kiatnya (caranya) agar pandangan mata kita ini terkendali ?”.   Beliau menjawab : “Caranya adalah dengan satu keyakinan dan ilmu yang ada pada dirimu,  bahwa pandangan Allah kepadamu mendahului apa yang kamu pandang”.

Maka apabila kita benar-benar mempunyai Muroqobah,  maka kita akan terkendali, karena takut kepada Allah subhanahua wata’ala.

Al Harits Al Muhasibi, seorang Imam dari Ahlussunnah wal Jamaah mengatakan bahwa Muroqobah adalah pengetahuan dalam hati kita bahwa Allah subhanahu wata’ala itu dekat.  Bahkan lebih dekat dari urat leher kita.   Bila orang punya pandangan seperti itu maka ia akan selalu berhati-hati, waspada, akan selalu dengan perhitungan, ia akan takut bahkan ia produktif dalam perkara ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dalil dari Ayat AlQur’a dan Hadits agar kita mempunyai sikap Muroqobah.

Surat Al Hadid ayat 4 :

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy,  Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Allah subhanahu selalu bersamamu dimanapun kamu berada.  Allah melihat apa saja yang kita kerjakan dan apa yang ada dalam hati kita.  Oleh karena itu kita harus berhati-hati, karena kita selalu dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala.

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan  bahwa maksud ayat tersebut adalah Allah subhanahu wata’ala selalu melihat kapan dan dimanapun kalian, berarti seluruh hidup kita dilihat oleh Allah,  amal-amal kita baik itu berupa kebajikan di darat maupun di laut  apakah itu siang ataupun malam hari, di rumah atau ditengah gurun pasir,  semua dalam pengatahuan Allah subhanahu wata’ala.

Kata beliau bahwa dalam pandangan atau pendengaran Allah, bahwa Allah subhanahu wata’ala mendengar perkataan kalian, dan Allah melihat tempat kalian dan Allah mengetahui apa yang kalian rasakan dan nyatakan.

Semua gerak dan diam kita diketahui oleh Allah subhanahu wata’ala.  Ayat 4 yang disebutkan diatas adalah firman Allah subhanahu wata’ala, jadi tidak boleh ada yang ragu-ragu, karena bila ragu-ragu berarti kufur.  Karena itu adalah  ayat AlQur’an, firman Allah subhanahu wata’ala.

Surat Huud ayat 5 :

Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan.   Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.

Semua isi hati manusia, Allah mengetahui.

Ahli Tafsir  Imam Muhammad Al Amin As Sinqidi mengatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala menjelaskan dalam ayat yang mulia tersebut bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sesuatu apapun, yang dirahasiakan dan  yang didhohirkan di sisi Allah sama saja.

Dan ayat-ayat yang menjelaskan demikian itu dalam AlQur’an banyak sekali , antara lain dalam Surat Qaaf ayat 16  :

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

Surat Al Baqarah ayat 235 :

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf. dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Pada akhir ayat tersebut : Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu.  Maka takutlah kepada-Nya dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Dijelaskan ayat tersebut oleh Ahli Tafsir Imam Asy Sya’di, kata beliau bahwa yang dimaksud dengan Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka niatkan olehmu dengan niat yang baik, jangan kalian berniat  yang jahat, karena kita harus takut dengan hukuman Allah dan kita harus berharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

Allah Maha Tahu siapa yang ketika berbuat dosa kemudian bertaubat kepada Allah, Allah mengetahui.   Dan Allah Maha Lembut (Maha Halus),  Dia tidak menyegerakan hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, padahal Allah Maha Kuasa.

Dalam Hadits, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : Sungguh pada umat ini akan terjadi : Tanah runtuh (longsor), gempa bumi, dan Allah akan lempari dari atas. Ternyata penyebabnya adalah apabila :

  1. Minuman keras (khomer) sudah diminum,
  2. Para penyanyi dijadikan pemuas (hiburan) dalam kehidupan,
  3. Musik dan nyanyian dijadikan gaya hidup.

Jadi yang dimaksudkan dalam ayat tersebut “Maha Penyantun” menurut Imam Asy Sya’di adalah bahwa Allah tidak menyegerakan hukuman kepada orang yang berbuat maksiat, padahal Allah Maha Kuasa.  Lihat umat Nabi Luth, umat Nabi Nuh, umat Nabi Hud, Umat Nabi Syu’aib alahissalam, langsung dihukum berat, dibinasakan.  Tetapi kepada umat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam tidak demikian,  umat ini masih diberikan panjang umur, bahkan diberikan kejayaan.  Lalu umat ini menyangka bahwa yang mereka lakukan adalah benar adanya. Bukannya kembali ke jalan Allah, tetapi semakin bertambah congkak.  Karena Allah sengaja mengundur (istidhrat).  Maka hendaknya kita segera kembali ke jalan Allah sebelum terlambat.

Lihat Surat Al A’raaf ayat 7 :

Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).

Maksudnya, Allah Maha Mengetahui atas segala  sesuatu.

Al Imam Al Baghawi menjelaskan : Akan Kami beritakan dengan sesungguhnya, menurut Tafsir Ibnu ‘Abbas maknanya adalah bahwa kelak di Hari Kiamat kitab-kitab catatan amal kita akan berbicara. 

Bisa dibayangkan, bila seseorang berbuat dosa setiap hari dicatat satu halaman,  misalnya seseorang hidup di dunia sampai usia 60 tahun, dikurangi masa sebelum aqil-baligh  15 tahun, menjadi 45 tahun.

Bila setiap hari untuk tidur selama 8 jam, jadi sepertiga dari umurnya untuk tidur.  Yang aktif tinggal 2/3 dari umurnya, yaitu 30 tahun.  Kalau sehari satu halaman catatan dosa-dosanya, maka kali 30 tahun sama dengan 360 hari X 30 X 1 lembar = 10.800 halaman. Itulah lembar-halaman catatan amal kita kelak di Akhirat di hadapan Allah subhanahau wata’ala dan setiap halaman itu akan bercerita (melaporkan) : Ya Allah, orang ini begini, begini, dst., dan mulut orang ketika itu dikunci. Yang bisa berbicara hanyalah kulit, jari, mata, telinga dan anggota badan lainnya, yang menjadi saksi.   Na’udzubillah min dzalik !

Lihat Surat Al Jaatziyah ayat 29 :

(Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”.

Kata beliau Imam Al Baghawi,  bahwa Malaikat telah mencatat apa yang manusia kerjakan di dunia dan malaikat tahu siapa di antara umat ini yang menjawab da’wah dan menolak da’wah.   Buku catatan amal kalian  akan berbicara.

Surat Yunus ayat 61 :

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya,  tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit,  tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Penjelasan para ‘Ulama atas ayat tersebut, antara lain dari Ahli Tafsir Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan bahwa Allah subhanahu wata’ala memberitahukan kepada kita bahwa persaksian Allah itu meliputi segala sesuatu, bahwa Allah mengetahui segala keadan manusia dalam gerak dan diam mereka,  dan hal ini merupakan seruan agar mereka mempunyai Muroqobah. Dalam ayat tersebut Allah berfirman tentang keadaanmu baik tentang Din maupun dunia kamu.

Kata beliau selanjutnya : : Hati-hatilah dengan sesuatu yang Allah benci, sebab Allah mengetahui dhohir dan bathin kalian, semua itu tidak ghaib bagi Allah, dst.

Surat Ghofir (Al Mu’min) ayat 19 :

Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat*] dan apa yang disembunyikan oleh hati.

*] Yang dimaksud dengan pandangan mata yang khianat adalah pandangan yang dilarang, seperti memandang kepada wanita yang bukan muhrimnya.

Menurut Imam Al Baghawi, maksud ayat tersebut adalah Allah subhanahu wata’ala tahu tentang khianatnya mata kalian, yaitu mencuri pandangan terhadap perkara yang haram. Mata kita sering mencuri-curi untuk melihat yang haram.  Allah subhanahu wata’ala tahu itu.  Pandangan mata yang demikian itu adalah pandangan mata yang khianat.

Dalam Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kita : “Jangan sekali-kali laki-laki melihat aurat laki-laki dan jangan sekali-kali wanita melihat aurat wanita”.

Sementara zaman sekarang sudah tanpa batas. Bahkan orang telanjang di depan umum dianggap hak azasi manusia untuk ber-ekspresi, katanya.  Bayangkan, anggapan itu menjadi peng-halal sesuatu yang haram. Katanya bebas ber-ekspresi.  Kata mereka : Manusia bebas mencari gaya hidup dan mencari penghidupannya masing-masing. Jangan diganggu dan jangan dilarang.   Dianggapnya manusia itu bebas seperti hewan. Padahal hewan saja punya batasan-batasan perilaku.

Kata beliau Imam Al Mujahid bin Jabr, murid dari Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu mengatakan : Mata khianat adalah pandangan mata untuk melihat apa yang Allah larang.  Zaman sekarang banyak sekali ditayangkan secara terbuka di TV-TV, di layar HP, di koran dan majalah. Tanpa malu memamerkan dan menampakkan auratnya.

Karena Jahilnya,   mereka bangga berbuat demikian itu.

Itulah dalil-dalil dari AlQur’an bahwa kita harus selalu menyadari bahwa kita selalu dalam pandangan dan pengawasan Allah subhanahu wata’ala.

Dalil dari hadits.

Ada beberapa, seperti Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan dihasankan oleh Syaikh Nasarudin Al Albany, kata beliau melalui ‘Abdullah bin Mas’ud Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :  “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu”. Para sahabat menyahut : “Ya Rasulullah,  kami telah merasa malu, alhamdulillah”.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bukan itu maksudnya wahai saudara-saudaraku, maksud malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah : Kamu harus pelihara kepalamu dan apa isi kepalamu (pelihara pikiran kita, jangan berpikir sesuatu yang mengundang murka Allah). Peliharalah perut dan apa yang terkandung dalam perut. Ingat kepada mati dan kamu akan menjadi hancur. Meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan perbuatan itu maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu”.

Keterangan Hadits.

Malu kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar malu adalah :

  1. Peliharalah kepalamu dan isi kepalamu, maksudnya : Jangan berfikir sesuatu yang mengundang murka Allah subhanahu wata’ala. Berfikirlah yang positif, yang baik-baik saja. Berfikirlah tentang ketaatan, jangan berfikir tentang maksiat.
  2. Peliharalah perutmu dan apa yang terkandung dalam perut, maksudnya: Jagalah perut kita,  diisi dengan makanan-minuman  yang halal, jangan sampai ada barang haram masuk dalam perut kita. Hidup kita jangan ngawur.
  3. Ingat kepada mati dan kamu akan hancur, maksudnya : Ingat kepada mati dan kalau sudah mati badan kita akan menjadi rusak dan membusuk dalam bumi, menjadi makanan ulat-ulat tanah.  Kecuali  yang mati syahid insya Allah akan diabadikan oleh Allah subhanahu wata’ala.
  4. Tinggalkan perhiasan dunia, maksudnya : Dalam hidup di dunia jangan terlalu bernafsu dengan harta, pangkat dan jabatan yang merupakan perhiasan dunia. Hidup sederhana saja, harta secukupnya saja.  Orang yang terlalu ngoyo (bernafsu kepada harta) berarti ia tidak punya malu kepada Allah subhanahu wata’ala.

Selanjutnya, menurut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, perhiasan dunia sekedarnya saja, bukan untuk bermewah-mewah, berfoya-foya,  karena negeri kita bukanlah di dunia, negeri kita yang sebenarnya adalah di Akhirat. Beliau bersabda : “Dunia ini adalah penjara bagi orang mu’min dan surga bagi orang kafir”.

Maka adalah wajar bila ketika kita hidup di dunia banyak larangannya, ini tidak boleh, itu tidak boleh, memakai emas tidak boleh bagi laki-laki.  Ketaatanlah yang diujikan kepada manusia ketika hidup di dunia. Taat atau tidak kita kepada Allah subhanahu wata’ala ?

Selanjutnya dalam Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang rakus kepada dunia, dan mengabaikan akhirat, berarti ia tidak malu kepada Allah subhanahu wata’ala”.

Perhatikan perkataan Ulama Imam Al Manawi dalam Kitab Faidhul Qadir, maksud Hadits tersebut adalah : Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, yaitu dengan meninggalkan syahwat, semua yang diinginkan dituruti, seolah-olah dunia ini surga.   Bila manusia bisa seperti itu maka ia  akan menjadi suci, dan manusia itu berada dalam kehidupan sebagaimana yang Allah berikan, yaitu kehidupan dengan kecukupan

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah  dan dishahihkan oleh Syaikh Nasharuddin Al Albany, dari Tsauban,  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku benar-benar tahu kaum-kaum dari umatku yang mereka datang pada hari Kiamat dengan membawa kebajikan seperti Gunung  Tihamah yang putih. Ternyata amal yang sebesar itu oleh Allah dijadikan porak-poranda, hancur, tidak bermakna”. Lalu Tsauban bertanya : “Ya Rasulullah, siapakah yang seperti itu, supaya kami tidak menjadi bagian dari mereka, padahal kami tahu ?”.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Mereka adalah saudara kalian, dari bangsa kalian, mereka juga sholat malam (Tahajud), akan tetapi apabila mereka dalam kesendirian, mereka menjalankan suatu yang diharamkan Allah”.

Ciri-ciri sikap Muroqobah (Dinukil dari Kitab Madarijussalikin)

  1. Mendahulukan apa yang Allah turunkan, mengagungkan apa yang Allah agungkan, mengecilkan sesuatu yang Allah kecilkan.  Maksudnya, yang Allah turunkan adalah AlQur’an dan Sunnah. Banyak dalam kehidupan kita tidak menggunakan AlQur’an dan Sunnah.  Apalagi di negeri kita ini, jauh dari Syari’at Allah subhanahu wata’ala. Dalam berbagai kehidupan kita, belumlah menjadikan AlQur’an dan Sunnah sebagai pemandu.  Maka kita belum Muroqobah.
  2. Allah akan menjaga gerak tubuhnya, maksudnya : Gerak-geriknya terkendali, tidak melakukan sesuai dengan hawa-nafsunya. Terkendali cara berfikirnya, berbicara (ucapannya), dan perbuatannya terkendali sesuai dengan Syari’at.

Upaya agar kita Muroqobah :

Muroqobah adalah pengabdian terhadap Allah dengan Nama Allah bahwa Allah mengawasi, menjaga, mengetahui, mendengar dan melihat.  Kalau semua itu menjiwai dalam kehidupan seseorang, dan ia mengabdi kepada Allah dengan tuntunan dan konsekuensi lima sebutan tersebut, maka ia akan punya Muroqobah dalam dirinya.

Demikian tentang Muroqobah, mudah-mudahan kita semua dikaruniai sikap Muroqobah sehingga kita bisa saling mengingatkan agar kita mempunyai ruh untuk merasa selalu diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Tanya-Jawab:

Pertanyaan:

Diatas disebutkan dalam suatu Hadits, Rasulullah bersabda : Bahwa dunia ini adalah penjara bagi seorang mu’min dan surga bagi orang kafir. Bagaimana memahami Hadits tersebut ?  Padahal sebenarnya seorang mu’min yang  melakukan Syari’atnya dengan baik, ia tidak merasa terkekang, justru merasa banyak ketenangan hati dalam hidup di dunia ini.   Sementara orang kafir banyak yang tidak merasakan bahwa dunia ini surga, karena di antara mereka banyak juga yang menderita dalam hidupnya.   Mohon penjelasan bagaimana tentang ke-shahih-an Hadits dimaksud.

Jawaban:

Hadits yang dimaksud adalah Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim.  Bila ada hadits yang menurut akal kita kurang jelas, atau remang-remang, jangan lalu menuduh Hadits itu tidak shahih.  Karena mungkin yang remang-remang adalah pemahaman kita. Tetapi hendaknya dipahami lebih dahulu, karena setiap Hadits shahih adalah wahyu.

Jelas sekali bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mempunyai metodologi dalam men-tarbiyah umat ini.  Sehingga umat terpandu dengan hikmah, diberikan perumpamaan-perumpamaan,  bahkan juga dengan ancaman, terkadang janji yang menggiurkan dst.

Kata “Penjara” tidak identik dengan siksaan.  Bagi pencuri, penjara adalah siksaan. Tetapi bagi politikus atau koruptor adalah Ruang VIP.  Bahkan diupayakan agar penjara itu enak, sehingga betah di sana.  Jadi yang dimaksud “penjara” dalam Hadits dimaksud adalah batasan,  terkekang,  tidak bisa bebas sebebas-bebasnya, tidak bisa keluar dari batasan ruang penjara itu.

Bahkan oleh Rasulullah disabdakan dalam Hadits lain bahwa Raja atau Penguasa itu mempunyai pembatas-pembatas.  Batasan yang dimaksudkaan adalah perkara yang diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Penafsiran terhadap Hadits tersebut bahwa yang dimaksud dengan “Sijin” adalah batasan agar selalu ingat yang mana yang halal dan mana yang haram. Ada yang boleh dan ada yang tidak boleh.  Sementara bagi orang kafir tidak ada batasan halal dan haram, semuanya boleh, apa yang ia mau ia makan dan telan.

Dan jangan kita berada pada perbatasan, karena bisa menjadi melampaui batas dan melanggarnya.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah dekat-dekat dengan perbatasan. Karena bisa jadi kamu melangkahi batas itu,  lalu menjadi haram”.    Sijin adalah batas aturan bahwa yang haram tidak boleh dilanggar.

Adapun surga bagi orang kafir, maksudnya bahwa yang dinamakan Surga adalah dimana semua yang dimaui selalu ada, semua kemauan dituruti dan boleh.  Orang yang meng-umpamakan dunia adalah surga maksudnya adalah bahwa dunia ini semua serba boleh, bebas, semau kita, itu menunjukkan bahwa dunia adalah surga. Itulah pola kehidupan orang kafir.

Pertanyaan:

Apakah bedanya Ihsan dan Muroqobah ?.

Jawaban :

Sebenarnya diatas akan disebutkan Hadits tentang Ihsan, bahwa Muroqobah sangat erat hubungannya dengan Ihsan. Seperti disabdakan oleh Rasulullah shollalalahu ‘alaihi wasallam : Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Tetapi bila kamu tidak mampu seolah-olah melihat Allah,  yakinilah bahwa Allah melihatmu”.

Tentu Ihsan dan Muroqobah sangat erat, karena dibawakan Hadits itu dalam konteks dengan Muroqobah.  Ihsan merupakan ruh dari Muroqobah itu sendiri.

Pertanyaan:

  1. Disampaikan diatas bahwa jasad para syuhada (orang mati syahid), dalam Hadits Imam Muslim disebutkan,  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang mati syahid tidak membusuk dimakan tanah. Mohon ditunjukkan Haditsnya.
  2. Bagaimana paham yang berkembang dalam masyarakat bahwa tentang “penghafal AlQur’an”,  karena mereka boleh jadi dihitung sebagai syuhada, dan juga para ‘Ulama ?.

Jawaban:

  1. Bukti nyata bahwa pada zaman Qibar At Tabi’in, cucu dari para sahabat, di Madinah yaitu di lokasi kawasan Uhud, ada yang mengenali tentang tubuh kakek mereka. Padahal ia sudah meninggal dan dimakamkan disitu.  Karena kakek itu menjadi Syuhada pada Perang Uhud.  Karena ia Syuhada maka tidak dikubur di kuburan umum, melainkan dikubur di medan perang itu.  Itu bagian dari dalil. Bahkan ada majalah tertentu yang menggali tentang jasad para Syuhada,  ada orang-orang yang Allah karuniakan tubuhnya tidak rusak, tetap utuh sampai sekarang.  Orang yang mati Syahid adalah orang yang mati di medan laga, di jalan Allah, meninggikan Lailaha illallah.

Pertanyaan:

Kalau zaman dahulu masih ada peperangan, lalu orang mati syahid karena berperang membela dan menegakkan kalimat Lailaha illallah, lalu bagaimana dengan zaman sekarang dimana tidak ada peperangan ? Bagaimana kreteria syahid dizaman sekarang ?

Jawaban :

Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa Jihad adalah hukum yang abadi sampai hari Kiamat.   Kalau ada Jihad berarti ada kemungkinan mati syahid.  Perkara di Indonesia ada syahid atau tidak, bukan karena tidak ada jihad, tetapi memang Indonesia tidak untuk dalam kerangka jihad itu. Di Indonesia adalah bagaimana membela bangsa dan negara, tidak membela Lailaha illallah. Tetapi bila ada orang mati karena membela Lailaha illallah Muhammadurrasulullah, maka ia syahid.   Siapapun dia.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an lailaha illa anta, asyaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

______________

Senin malam ,   18 Jumadil Ula 1431 /  3 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: