Orang-Orang yang Mendapat Rahmat (lanjutan)

Oleh K. H. Rusli Amin, MA.

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Pada bahasan yang pekan lalu sudah kita bahas tentang Rahmat yang apabila dihubungkan dengan manusia, maknanya adalah belas kasih, kelembutan dan kehalusan.  Tetapi bila kata “Rahmat” dihubungkan dnegan Allah subhanahu wata’ala, maka maknanya sangat banyak, antara lain bermakna kehadiran Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, maka dalam AlQur’an Nabi Muhammad saw disebut sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin (Rahmat bagi seluruh semesta alam).  “Rahmat” juga bermakna Kitab AlQur’an,  “Rahmat juga bermakna rezki, juga berarti kasih-sayang dari Allah subhanahu wata’ala, juga berarti Surga yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wata’ala, bisa juga bermakna pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

Maka banyak orang dalam masyarakat kita yang memberi nama anaknya “Rahmat” dan anak perempuan diberi nama “Rahmah”.

Orang-orang yang mendapatkan Rahmat ialah :

1. Orang yang mengimani Rasululah saw sebagai utusan Allah subhanahu wata’ala, menjadi muslim dan meneladani Rasulullah saw.

Dan orang yang menjadi Muslim, menjadi orang Islam yang dalam kehidupannya meneladani Rasulullah saw.

Misalnya Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 102 :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Oleh karena itu sebagai konsekuensi logis dari percaya kepada Rasulullah saw sebagai utusan Allah subhanhau wata’ala, maka kita mengikuti ajaran yang bawakan beliau sebagai seorang muslim.   Pernah disampaikan di sini bahwa sekarang lagi nge-trend orang-orang yang bukan Islam pindah menjadi beragama Islam menjadi fenomena yang sangat menarik dalam kehidupan kita sekarang.    Di negara Amerika Serika saat ini ada hampir 10 juta umat Islam dan 1.500 buah masjid dan Islamic Centre.

Populasi umat Islam yang terbanyak di Eropa adalah di Inggris dan Perancis.   Demikian di benua Australia, dimana muallaf-muallaf yang sekarang justru menjadi penyebar Islam banyak terdapat orang-orang Eropa.   Misalnya seorang bekas penyanyi terkenal dari Inggris bernama Keith Steven yang masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Yusuf Islam.   Di Austria ada yang bernama Leopold Weiss, ia masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Assad.   Demikian juga di Amerika Serikat, dari  Malcolm X, Nola Gonzales, Steve Agension, termasuk juga seorang penyanyi Rapp setelah masuk Islam mengganti namanya menjadi Fahim Rasyid Muhammad.  Di Jepang ada seorang bergelar Doktor bernama bernama Dr. Muhammad Syauki Mutaki, di Austria ada seorang Mua’dzin bernama William Klilen, ada Amatollah Armstrong dan masih banyak sekali yang lainnya.

Banyak juga para pemain sepak bola kaliber dunia yang beragama Islam, misalnya : Frank Ribery di Club sepakbola Jerman Munchen.   Sebelumnya ia orang Kristen dan masuk Islam, dan karena sangat pandai main sepakbola ia menjadi rebutan oleh klub-klub besar sepakbola Eropa, seperti Barcelona,  Real Madrid,  Chelsea, dsb.  Di klub sepabla Chelsea (Inggris) ada nama  Nikola Anelka, ia seorang muslim, ketika suatu hari di bulan September tahun 2009 (bersaman dengan bulan Romadhon 1430 H),  Chelsea bertanding melawan klub sepakbola Fulham,  ketika itu Anelka mencetak satu goal ke gawang Fulham padahal ia sedang melaksanakan puasa Romadhon, dan puasa ketika itu di Inggris adalah 18 jam sehari.  Anelka ketika itu gajinya per-minggu sebesar Rp 1,5 milyar (bila dirupiahkan).  Itulah keistimewaan Nikola Anelka, seorang muslim pemain sepakbola Inggris (Chelsea), kaya, terkenal  dan  taat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Orang yang mendapat Rahmat itu menjadi muslim, percaya kepada Rasulullah saw dan meneladaninya.  Kita tidak hanya dituntut agar percaya kepada Rasulullah saw  yang merupakan Rahmatan lil ‘Alamin, konsekuensinya adalah kita harus meneladani kehidupan beliau  sehari-hari.  Apapun yang keluar dari Rasulullah saw, bila kita mencontohnya maka kehidupan kita dunia dan akhirat pasti baik.

Bila kita mencontoh beliau, maka kita akan hidup sehat.  Rasulullah saw selama hidupnya selalu sehat wal’afiat, sakit hanya sekali sakit menjelang wafat beliau.

Salah satu rahasia kenapa Rasulullah saw . selalu sehat wal afiat karena cara hidup beliau adalah cara hidup yang benar.

Rasululah saw dalam hal-hal yang menyangkut urusan duniawi, beliau menikmati dengan pola “sedikit”.  Misalnya beliau sedikit makan dan sedikit tidur.  Berbeda dengan kita, yang sedikit-sedikit makan dan sedikit-sedikit tidur.  Kita sering mengalami sakit (sakit badan),  karena kita sering membebani pikiran kita dengan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Sehingga kita menjadi stress dan stress itu yang kemudian menggerogoti fisik kita, jantung,  paru-paru dan hati kita menjadi rusak.  Sedangkan pola hidup  Rasulullah saw tidak seperti itu,  maka beliau hidupnya selalu sehat.  Beliau bersabda : Dalam hidup ini, sedikit yang dapat disyukuri adalah lebih baik daripada banyak tetapi tidak dapat disyukuri.

Rasulullah saw hidupnya sangat berhati-hati. Beliau serba sedikit dalam hal keduniaan. Suatu hari beliau sholat sunnat sambil duduk, tidak sambil berdiri seperti biasanya.   Lalu datang Abu Hurairah r.a sahabatnya,  setelah menunggu beberapa saat sampai selesai Rasulullah saw sholat, Abu Hurairah bertanya : “Wahai Rasulullah, kenapa engkau sholat sambil duduk, apakah engkau sakit ?”.   Rasullah saw menjawab : “Ya Abu Hurairah, saya sholat sambil duduk, karena bila aku berdiri badanku tidak kuat, karena aku lapar”.

Rasuullah saw juga pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena lapar.

Padahal bila beliau mau, bisa saja beliau minta kekayaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah saw bahkan pernah ditawari oleh Allah subhanahu wata’ala melalui Jibril, agar kerikil-kerikil kota Mekkah akan dijadikan emas untuk beliau, juga pernah gunung Uhud ditawarkan kepada beliau untuk dijadikan emas, tetapi beliau tolak. Beliau lebih memilih hidup sederhana. Beliau bersabda : “Biarlah dunia kepunyaan orang kafir, tetapi akhirat kepunyaan kita”.

Umar bin Khathab r.a pernah menangis karena melihat Rasulullah saw bangun tidur dan punggung beliau ada bekas pelepah kurma yang dijadikan alas tidurnya.  Umar menangis, lalu membuka lemari beliau kosong, tidak ada makanan sedikitpun yang bisa dimakan.

Umar bin Khathab lalu berkata : “Wahai Rasulullah, tuan adalah kekasih Allah, kaisar Romawi dan raja Persi mereka bergelimang dengan kemewahan, tuan adalah kekasih Allah, mengapa tuan hidup seperti ini ya Rasulullah ?”.

Rasulullah saw bersbada : “Wahai Umar, biarlah dunia ini kepunyaan mereka dan akhirat kepunyaan kita”.  Maka Rasulullah saw tidak pernah membebani hidupnya dengan  beban yang diluar kemampuannya.   Pernah pada suatu pagi beliau bertanya kepada isterinya (‘Aisyah r.a.) : “Wahai ‘Aisyah, apakah ada yang bisa dimakan untuk hari ini ?.  ‘Aisyah menjawab : “Tidak ada, ya Rasulullah”.  Beliau bersabda : “Ya sudah, kalau begitu hari ini aku hendak puasa”.

Maka Rasulullah saw selalu hidup sehat, bahagia, apapun yang terjadi beliau jalani dengan karunia Allah subhanahau wata’ala. Lalu apakah kita dilarang untuk menjadi orang kaya ?  Apakah kita tidak boleh berkendaraan mobil ?

Jawabannya : Boleh saja bahkan kalau bisa jadilah orang kaya dan beriman serta Taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Jadikan harta itu untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah saw hidupnya sederhana, karena beliau adalah teladan.

Maka kita berusaha meneladani Rasulullah saw. Dan semua yang baik-baik adalah dari beliau.  Beliau murah senyum,  karena tersenyum bukan saja mendapat pahala tetapi juga menyehatkan badan.  Senyum satu menit manfaatnya sama dengan olah raga selama 45 menit.

Rasulullah saw bila menunjuk suatu ara bukan dengan satu jari telunjuk, melainkan dengan kelima jari tangan-kanannya.  Apabila ada suara memanggil beliau, maka beliau bukan hanya sekedar menengokkan mukanya tetapi seluruh badan beliau menghadap orang yang memanggil itu dan mengucapkan “Labbaik”.   Rasullallah saw tidak pernah mengatakan “ya”  ketika menjawab panggilan sahabat atau orang lain, melainkan dengan ucapan : “Labbaik”.   Bila beliau diajak bicara dengan seseorang, beliau penuh perhatian dan tidak pernah beranjak dari tempat itu sebelum orang itu yang lebih dahulu beranjak.

Suatu ketika ada seorang ibu tua yang menyampaikan urusannya (cur-hat) kepada Rasulullah saw,  lama sekali, tetapi beliau dengan sabar menunggu sampai ibu itu selesai bicara.  Dan beliau tidak pernah mohon diri sebelum orang yang mengajak bicara memohon diri.  Ketika beliau berjabat tangan dengan seseorang, beliau tidak pernah melepas genggaman jabat tangan itu sebelum orang itu berusaha melepas jabat tangannya.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits : “Dua orang muslim yang berjumpa dan berjabatan tangan, maka Allah akan mengampuni dosa kedua orang itu sebelum mereka melepas jabat tangannya itu”

2. Rahmat juga berarti : Kitab AlQur’an.

Seperti disebutkan dalam Surat Al Isra’ ayat 82 :

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Maka orang yang mendapatkan Rahmat adalah orang yang membaca, memahami  serta mengamalkan AlQur’an.  Karena AlQur’an adalah Rahmat  dan Rahmat akan berguna bila dimanfaatkan oleh orang-orang yang membaca dan mengamalkannya.  Kalau Kitab AlQur’an itu ada di rumah tetapi hanya sebagai hiasan almari, maka itu bukan Rahmat yang dimaksud.

Rahmat tidak akan kita peroleh bila Kitab Al Qur’an hanya sebagai hiasan almari buku.   Rahmat baru akan terasa manfaatnya apabila AlQur’an itu dibaca dan diamalkan isinya.

Agar kita termasuk orang yang rajin membaca dan mengamalkan AlQur’an dan juga melakukan kebajikan-kebajikan lain, ialah :

Biasanya orang yang rajin melakukan sesuatu apabila orang telah merasakan nikmat dari sesuatu itu  atau orang senang terhadap sesuatu itu. Bila seseorang senang terhadap sesuatu, maka ia akan rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk sesuatu yang ia senangi itu.   Maka rajin-rajinlah membaca AlQur’an, nanti akan menyenanginya dan mengamalkannya.  Karena AlQur’an akan menjadi bagian dari kehidupan kita.  Dan hiasi-lah bacaan AlQur’an dengan suara yang merdu. Karena suara yang merdu akan mendatangkan kesenangan,  baik bagi yang mendengarkan maupun yang membacanya.

Ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Abu Musa Al Asy’ari, yang bila ia membaca AlQur’an suaranya bagus dan merdu sekali.  Suatu malam Abu Musa Al Asy’ari membaca AlQur’an  dan Nabi Muhammad saw mendengarkan dari luar rumahnya. Esok harinya Nabi Muhammad saw bertemu dengan Abu Musa Al ‘Asy’ari dan beliau bersabda : “Wahai Abu Musa, tadi malam aku mendengarkan engkau membaca AlQur’an dan aku suka sekali dengan suara bacaanmu”.  Abu Musa berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya saya tahu engkau senang dengan bacaan AlQur’an saya,  maka akan saya panjangkan bacaan itu untuk engkau, ya Rasulullah”.

Dan ternyata semua Nabi dan Rasul yang diutus Allah subhanahu wata’ala bersuara merdu.  Dan yang paling merdu adalah Nabi Dawud ‘alahissalam.

Di Jakarta ini ada seorang ustad yang bersuara merdu, bernama Ustad Hasanuddin Sinaga. Bila beliau membaca AlQur’an suaranya bagus sekali dan enak didengarkannya.  Beliau adalah Imam Rawatib Mesjid Istiqlal.  Ketika di bulan Romadhon ia selalu diundang oleh berbagai pengurus masjid untuk menjadi Imam Sholat Tarawih.  Maka di bulan Romadhon beliau berkeliling berganti-ganti tempat seantero masjid-masjid Jakarta.

Dalam Kitab yang ditulis oleh Imam At Thurmudzi, berjudul Syama’il Muhammad, dalam kitab itu diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh seseorang bagaimana cara membaca AlQur’an yang bagus,  dijawab bahwa Rasulullah saw bila membaca AlQur’an berhenti pada tiap-tiap ayat.

Dalam bukunya Dr. Briliantono M Sunarwo,  Phd yang berjudul Sehat Tanpa Obat, beliau menulis bahwa beliau punya alat Push Oximeter yang bisa memberikan keterangan bila orang membaca surat Al Fatihah seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw yaitu setiap ayat berhenti,  maka bacaan itu akan memberikan suatu manfaat yang sangat positif terhadap kesehatan bagi yang membacanya.

Maka ukuran membaca AlQur’an yang baik adalah bagaimana seseorang ketika membaca Surat Al Fatihah. Bila bacaan Surat AlFatihah benar, insya Allah bacaan surat yang lain juga benar.  Bila bacaan Surat AlFatihah masih belum baik dan benar,  tentu bacaan surat-surat yang  lain akan tidak baik/benar.

Salah satu faktor orang senang membaca AlQur’an adalah bila AlQur’an itu dibaca dengan suara yang bagus dan indah. Maka Rasulullah saw bersabda : “Hiasilah AlQur’an dengan bacaan yang merdu”.

Demikian pula para ‘ulama menganjurkan agar membaca AlQur’an dengan menangis, bila si pembaca mendapatkan ayat-ayat yang menggugah ia untuk menangis.  Misalnya ayat yang  isinya berupa ancaman adzab Allah subhanahau wata’ala, yang membuat si pembaca takut sehingga berlinang air matanya, atau berisi tentang kebaikan-kebaikan Allah sehingga ia tersentuh hatinya sehingga berlinang air matanya.

Dalam Hadits diriwayatkan pernah suatu kali Nabi Muhammad saw ketika melakukan sholat Tahajud beliau membaca berulang-ulang suatu ayat sambil menangis.

Dan kita akan rajin membaca AlQur’an sama halnya melakukan sesuatu karena kita tahu keuntungan dari yang kita lakukan itu.   Hanya mengamalkan agama tidak langsung memberikan keuntungan materi.  Tetapi jika kita tahu pahala membaca AlQur’an akan mendapat pertolongan di Hari Kiamat. Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad saw : “Bacalah AlQur’an karena ia akan datang pada hari Kiamat menjadi penolong (Syafa’at) bagi orang-orang yang membacanya”.

Ada seorang laki-laki di zaman Rasulullah saw, orang tersebut sering menjadi imam sholat dimasjid Quba. Imam sholat ini setiap kali selesai membaca AlFatihah, selalu membeca surat Al Ikhlash lalu membaca surat lainnya.  Maka ada yang melaporkan kepada Rasulullah saw dan diceritakan apa yang dibaca imam sholat di masjid Quba itu. Lalu Rasulullah saw memanggil orang tersebut dan beliau tanyakan mengapa orang tersebut selalu membaca Surat Al Ikhlas sebelum membaca surat lainnya.  Maka orang itu memberikan keterangan : “Ya Rasulullah,  itu saya lakukan karena saya sangat mencintai surat Al Ikhlash itu”. Rasulullah saw bersabda : “Kalau begitu engkau akan masuk surga bersama surat Al Ikhlash yang engkau cintai itu”

Intinya adalah, kalau kita cinta AlQur’an  dan kita selalu membaca AlQur’an yang kita cintai itu, maka kita akan masuk surga bersama AlQur’an yang kita cintai itu.

Seorang sahabat membaca Surat Al Kahfi, kudanya ia ikat tidak jauh dari ia membaca AlQur’an itu, tiba-tiba ada gumpalan awan turun sampai-sampai kudanya yang diikat itu berteriak-teriak karena ketakutan.  Lalu ia laporkan kejadian itu.  Rasulullah saw bersabda : “Itu adalah ketenangan yang diturunkan Allah  kepadamu karena AlQur’an yang engkau baca”.

Dalam AlQur’an diceritakan bahwa Maryam ketika selesai sholat, di mihrabnya, ada hidangan dari Allah subhanahu wata’ala, dan itu setiap hari terjadi.  Ketika Maryam mengandung  bayi Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan ketika melahirkan Nabi Isa ‘alaihissalam, ia duduk dibawah pohon kurma, maka Allah subhanahu wata’ala menyampaikan pesan melalui Jibril : “Goyangkan pohon kurma itu, maka pohon itu akan menjatuhkan buah yang telah matang kepadamu”.   Maryam bertanya : “Ya Allah ketika dulu aku mengandung anakku ‘Isa,  Engkau memberikan rezki kepadaku tanpa usaha,  sekarang mengapa ketika aku sedang menyusui Engkau memerintahkan aku agar berusaha, barulah aku akan mendapat rezki ?”.

Jawaban Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Maryam, ketika engkau belum melahirkan anakmu, seluruh cintamu untuk Kami. Maka Kami berikan rezki untukmu tanpa kamu berusaha.  Tetapi ketika engkau telah melahirkan anakmu,  cintamu terbagi antara anakmu dan Kami.  Maka Kami perintahkan engkau berusaha terlebih dahulu barulah rezki Kami berikan”.

Maka bagaimana hasil kita dari Allah subhanahu wata’ala, tergantung seberapa cinta kita kepada Allah subhanahu wata’ala, seutuhnya atau terbagi. Bahkan kadang-kadang cinta untuk Allah subhanahu wata’ala hanya sekedar sisa-sisa setelah kita bagi-bagi untuk yang lain.  Maka perolehan kita, gumpalan awan ada atau tidak,  rezki mudah atau tidak, sakit kita cepat sembuh atau tidak,  maka mawas dirilah tanyakan kepada diri kita seberapa cinta kita kepada Allah dibandingkan cinta kita kepada yang lain.

3.  Orang yang mendapatkan Rahmat dari Allah subhanahu wata’ala adalah orang yang sabar.

Lihat Surat Al Baqarah ayat 155 – 157 :

155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” *].

157. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

*] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Sabar yang sesungguhnya adalah sabar ketika detik-detik awal terjadinya musibah.  Maka bila terjadi musibah hari ini dan anda sabar,  maka sabar itu tingkatnya lebih tinggi dibanding sabar sebulan sesudah terjadi musibah.

Dan sabar yang paling rendah adalah seperti Rasulullah saw sabdakan : “Seorang muslim yang mengalami kesakitan misalnya tertusuk duri atau lebih dari itu maka Allah akan mengampuni dosanya seperti gugurnya daun dari pohonnya”.

Dosa yang diampuni oleh Allah juga merupakan Rahmat Allah subhanahu wata’ala. Dan bila Allah hendak memberikan kebaikan kepada seseorang  maka Allah akan memberikan cobaan (ujian) kepadanya.

Maka para Sufi bila mendapatkan musibah, yang diucapkan pertama-tama adalah “Alhamdulillah”. Sedangkan kita orang awam bila mendapatkan musibah mengucapkan :”Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Dan ketika mendapatkan keberuntungan mengucap-kan : “Alhamdulillah” .

Orang-orang Sufi bila mendapatkan  keberuntungan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, dan bila mendapatkan kesusahan mereka mengucapkan “Alhamdulillahirobbil ‘alamin”.  Karena bagi mereka keberuntungan belum tentu kenikmatan.  Keberuntungan boleh jadi merupakan cobaan (musibah) dari Allah subhanahu wata’ala.   Banyak orang sukses ketika diuji dengan kesusahan, dan berapa banyak orang gagal ketika diuji dengan kenikmatan.

4.  Orang yang mendapatkan Rahmat adalah orang yang Taqwa kepada Allah.

Lihat Surat Al Hujurat  ayat 10  :

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Pada ayat tersebut, orang yang bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu orang yang selalu berupaya mewujudkan kedamaian dalam hidup dan yang memandang saudaranya sesama orang beriman seakan-akan saudara kandungnya sendiri.  Itulah orang yang mendapatkan Rahmat.

Dan Rahmat Allah yang diberikan kepada orang yang bertaqwa itu, pada Surat Ath Thalaaq  ayat 3 juga berarti berupa rezki secara tidak disangka-sangka.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dan Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi dan Allah akan memberikan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Rezki ada dua macam yaitu rezki yang kita cari dan rezki yang mencari kita.   Dan syarat untuk rezki yang mencari kita adalah : Taqwa.

Bila anda sudah sampai pada derajat Taqwa yang benar, insya Allah anda akan dicari oleh rezki, yaitu rezki yang datang tidak disangka-sangka.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum diakhiri marilah kita membaca doa  untuk Ibu Darmayanti  semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kemudahan untuk urusan-urusan beliau. Amin.

Kemudian juga do’a untuk Imran Hasyim yang sedang sakit, semoga lekas sembuh.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillahirobbil ‘alamin,

Allahumma sholli ‘ala Muhammad,

Wa ‘ala ali Muhammad,

Allahumma anta Robbana

Lailaha illa anta ‘alaika tawakkalna,

Anta Robbul ‘arsyil ‘adzim,

Masyaa Allahukaan wamalamyasya’lam yakun,

Bismillahilladzi layadzurruma’asmihi

Syai’un fil ardhi wala fissamaa’,

Wahuwassami’ul ‘alim.

Lailaha illa anta subhanaka

Inna kunna minadzdzolimin,

Wahasbunallah lailaha illa huwa

‘alaihi tawakkalna  wahuwa Robbul ‘arsyil ‘adzim.

Allahumma robbannaas,

Ad-hibil ba’sa isyfi,  antasysyafi,

La syifa-a illa syifa-uka,

Syifa-an layughodiru syaqoman,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqinna ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

______________

Rabu,  8 Rabi’ul Akhir 1431 / 24 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: