Empat Waktu Yang Tidak Dilewatkan.

Penceramah       :  Dra. Hj. Lilis Nurul Afla

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad yang ditulis oleh Imam An Nawawi Al Bantani, yang isinya tentang nasihat-nasihat untuk para hamba Allah subhanahu wata’ala yang selalu ingin mendapatkan kebaikan dari Allah subhanahuwata’ala, untuk menjadi hamba yang santun dan bijak.  Setiap hamba perlu nasihat, apabila hamba dalam keadaan lupa.

Beruntunglah orang yang mempunyai teman yang bisa memberikan nasihat, baik secara langsung maupun lewat media komunikasi misalnya telepon atau SMS.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Al ‘Ashr :

1. Demi Masa!

2. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian –

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

 

Masa (waktu) diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala sehari semalam 24 jam.   Dalam 24 jam itu ada orang yang berhasil, beruntung.  Tetapi ada yang dengan waktu tersebut orang menjadi merugi.  Orang yang beruntung dalam hal ini adalah orang yang bisa menghargai waktu. Dan siapa yang tidak bisa menghargai waktu, maka ia menjadi orang yang merugi.

Dalam ayat tersebut diatas disebutkan bahwa Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah pedang,  yang bisa melukai setiap pemiliknya.  Ada yang mengatakan waktu adalah uang, yang bila dibelanjakan di jalan yang salah  maka akan menjadi mudharat bagi pemiliknya.

Ada lagi kata-kata mutiara : Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat.  Maka bila akal sehat, jiwa dan tubuh sehat, jangan suka menunda-nunda mengamalkan kebaikan.  Karena kita manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Esok hari adalah rahasia Allah subhanahu wata’ala. Hari ini dan kemarin adalah mutlak milik manusia. Adakah yang menjamin bahwa esok hari kita masih panjang umur ?  Tidak. Maka menurut Surat Al ‘Ashr tersebut orang yang menunda-nuda amal adalah orang yang merugi.

Bagi orang yang berakal ada 4 (empat) waktu yang tidak pernah dilewatkan :

  1. Waktu untuk Munajat kepada Rabb-nya.
  2. Waktu untuk Muhasabah (interospeksi diri).
  3. Waktu untuk Silaturrahim dengan saudaranya yang menceritakan tentang aib dirinya.
  4. Waktu untuk mengendalikan diri dari berbagai kenikmatan, meskipun halal.

1.Waktu untuk Munajat kepada Rabb-nya.

Dalam surat Ali Imran ayat 190 – 194 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

190. Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah) bagi orang-orang yang berakal;

 

191. (Yaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka.

192. Wahai Tuhan kami! sebenarnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka sesungguhnya Engkau telah menghinakannya, dan orang-orang yang zalim tidak akan beroleh seorang penolong pun;

 

193. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru (Rasul) yang menyeru kepada iman, katanya: ` berimanlah kamu kepada Tuhan kamu ‘, maka kami pun beriman. Wahai Tuhan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah daripada kami kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang berbakti;

 

194. Wahai Tuhan kami! berikanlah kepada kami pahala yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui Rasul-rasulMu, dan janganlah Engkau hinakan Kami pada hari kiamat; sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.

Ayat tersebut bagus sekali bila dibaca ketika kita bangun tidur setelah membaca do’a bangun tidur.  Demikian itu yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Bahwasanya Allah subhanahu wata’ala menginginkan yang terbaik bagi kita manusia untuk urusan dunia maupun Akhirat. Ketika manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini berarti ada kewajiban bagi manusia untuk beribadah kepada-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Bila kita hendak menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada kita, kita tidak akan bisa menghitung karena banyaknya.  Maka Allah menganjurkan kita ada waktu untuk selalu meng-khususkan dalam rangka beribadah kepada Allah yang dalam ayat tersebut disebutkan adanya penciptaan langit dan bumi, menandakan bahwa Allah subhanahu wata’ala memiliki kebaikan-kebaikan dari apa yang Dia (Allah) ciptakan bagi mereka orang-orang yang berakal.

Ciri-ciri orang-orang yang berakal, adalah : Mereka yang selalu mengingat (dzikir) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Termasuk orang-orang yang sakit sekalipun.

Maka orang tidak boleh meninggalkan sholat meskipun dalam keadaan apapun.  Dan hendaknya kita sebagai orang beriman selalu ber-munajat (meminta) kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kalaupun hajat kita belum dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala,  mungkin karena masih ada kekurangan dalam kita beribadah. Mungkin saja ketika beribadah tidak ikhlas.  Orang ikhlas tidak perlu diucapkan dengan lisan.  Menurut  Sayidina  Ali bin Abi Thalib r. a. bila  ikhlas diucapkan dengan lisan, berarti belum ikhlas yang sesungguhnya. Karena perkara ikhlas adalah urusan pribadi orang dengan Allah subhanahu wata’ala.

Menurut Hadits Qudsi, Allah subhanahu wata’ala lebih suka (ridho), jika seseorang ingin dikabulkan do’anya adalah do’a yang dipanjatkan ketika seseorang sedang dalam keadaan senang, bukan dalam keadaaan sulit (susah).  Sementara yang terjadi adalah kebanyakan manusia mau berdo’a, bermunajat ketika dalam keadaan sulit, susah.  Ketika dalam keadaan senang manusia suka lupa kepada Allah subhanahu wata’ala.

 

Karena kebanyakan manusia menghargai kebaikan Allah hanya sekedar diukur dari materi. Kalau materi (harta) berkurang, lalu merasa sedih, menganggap Allah tidak baik.

Padahal Allah Maha Baik, Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang, maka Allah memberikan kepada manusia pasti yang terbaik bagi manusia itu. Lihat Surat Al Baqarah ayat 216 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

 

Kamu diwajibkan berperang (untuk menentang pencerobohan) sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.

 

Maksudnya, boleh jadi yang kita minta adalah baik, tetapi menurut Allah itu tidak baik. Boleh jadi yang kita anggap tidak baik, justru itu yang terbaik bagi kita.

Kecuali itu, manusia punya sifat mendahului apa-apa yang menjadi ketentuan Allah subhanahu wata’ala.  Maka perbanyaklah Istighfar, memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala.

 

2.Muhasabah (interospeksi diri).

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al A’raaf ayat 96 :

Dan jikalau sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah yang melimpah-limpah dari langit dan bumi. tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), lalu Kami timpakan mereka dengan azab siksa disebabkan perbuatan mereka.

Juga dalam Surat Ar Ra’du ayat ayat 11  Allah subh

Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) Dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..

Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada yang dapat menolong dan melindungi mereka selain Dia (Allah).

 

Maka manusia diwajibkan berusaha untuk mengubah diri mereka sendiri.  Kalaupun terjadi bencana itu disebabkan campur tangan perilaku manusia.. Manusia diberi akal tetapi tidak pernah diasah, diberi waktu selalu disia-siakan, selalu diisi dengan kesibukan-kesibukan urusan dunia saja,  hingga lupa kepada Allah subhanahu wata’ala. Tidak mau melakukan interospeksi diri (mawas diri).

Keadaan manusia di muka bumi bukan karena takdir Allah semata, melainkan juga karena campur tangan manusia itu sendiri. Karena Allah memberikan akal kepada kita, maka marilah kita berfikir mengubah nasib.  Ber-Muhasabah, apa yang masih kurang pada diri kita, jangan banyak menyalahkan orang lain, atau menyalahkan Allah subhanahu wata’ala, dengan mengatakan Allah tidak adil dsb.

 

Maka jangan kita manusia kalah dengan hewan .  Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat An Nahl ayat 66 :

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak itu, benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami beri minum kepada kamu daripada apa yang berada dalam perutnya, yang berupa susu yang bersih antara tahgi dan darah,   yang mudah diminum, lagi sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnya.

 

Maka kita boleh belajar dari hewan lainnya misalnya cacing, atau burung, yang tidak pernah stress, tidak pernah bunuh diri, dsb. Karena Allah subhanahu wata’ala pasti akan memberikan rezki. Sementara manausia yang jelas-jelas diberi akal, masih banyak yang stress, putus asa, bunuh diri dst. Karena kebanyakan manusia tidak mau ber-muhasabah (isterospeksi).

Maka hendaklah kita sebagai orang beriman perbanyak interospeksi (muhasabah) mana yang kurang pada diri kita yang harus diperbaiki, keburukan-keburukan yang harus dibuang, dst.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Yasin ayat 12 :

 

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami tuliskan segala yang mereka telah kerjakan serta segala kesan perkataan dan perbuatan yang mereka tinggalkan. dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu Kami catatkan (tulis) satu persatu dalam Kitab (Lauhil Mahfudz) yang jelas nyata.

 

Maksudnya,  di kala kita masih hidup di dunia, semua dicatat oleh malaikat (Raqib dan ‘Atid) segala perbuatan kita baik perbuatan baik maupun buruk.  Termasuk apa yang menjadi takdir manusia dan kita dituntut untuk bisa mengubah keadaan, sebagaimana Allah janjikan bahwa sebetulnya perubahan itu ada pada diri kita sendiri. Insya Allah.  

 

3.Waktu untuk bersilaturahim dengan saudara yang telah menceritakan aib diri kita.

Sering terjadi saudara kita menceritakan aib kita, menjelek-jelekkan kita.   Maka kita sebagai orang yang berakal, sebagai orang yang dirahmati,  kita tidak boleh memutuskan silaturahim kepada saudara kita itu.

Dalam Surat Al Hujurat ayat 12 Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadaNya. (oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.

 

Maksudnya, bahwa kepada saudara kita yang suka ghibah (menjelek-jelekkkan)  diri kita,  maka jangan kita balas dengan memusuhi mereka.    Tetapi datangilah saudara tersebut dengan baik-baik, dengan tetap menyambung silaturrahim. Karena yang demikian merupakan kebaikan, berpahala, sebagai bekal untuk kehidupan di Akhirat kelak. Kalau ada saudara kita yang menjelek-jelekkan kita, tidak usah dibalas. Biarlah Allah subhanahu wataa’ala yang akan menilai (membalasnya).

4.Waktu untuk mengendalikan diri dari berbagai kenikmatan, meskipun itu halal.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7 :

 

Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: “Sesungguhnya! jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu, dan, jika kamu kufur ingkar(mengingkari nikmat-Ku) sesungguhnya azabKu amatlah pedih”.

 

Pelajarannya, adalah kecuali kita harus bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita, kitapun jangan terlalu rakus untuk menikmatinya. Jangan mentang-mentang badan lagi sehat, lalu makan sekehendak nafsu kita, segala dimakan.  Meskipun itu halal. Tetapi nikmati sekedarnya, sewajarnya.

Orang yang terlalu banyak makan sekenyang-kenyangnya, biasanya akan timbul malas. Terutama malas beribadah.  Terlalu banyak makan biasanya akan timbul berbagai macam penyakit, kolesterol asam urat, gula darah,  dsb.  Lebih baik menjaga daripada mengobati.

Dalam rangka menjaga makan itulah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan:

  1.  Membaca do’a : Allahumma bariklana fima razaqtana  waghfirlana warhamna (Ya Allah berilah berkah kepada kami  apa yang telah Engkau rezkikan  kepada kami,  ampuni dan rahmatilah kami).
  2. Mencuci tangan sebelum makan.
  3. Makanlah dengan tangan kanan, jangan dengan tangan kiri.
  4. Mengucapkan Hamdallah selesai makan.

Salah satu penyebab do’a kita tidak diijabah (dikabulkan) adalah karena kita tidak melakukan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana tersbut di atas.

Tanya-Jawab.

 

Pertanyaan :

Kita dilarang memakan daging hewan yang disembelih tidak menyebut Nama Allah  (Bimillahir-rohmanirrohim).  Kalau kita membeli daging di pasar, siapa yang bisa menjamin bahwa daging itu adalah hasil sembelihan yang sah (dengan membaca Bismillah).  Mengapa Negara ini tidak membuat aturan yang berkaitan dengan penduduk mayoritas beragama Islam ?

Bagimana usaha kita secara pribadi masing-maing untuk menghindarkan diri dari makan daging yang tidak halal ?

Jawaban :

Berkaitan dengan menyembelih hewan,  Pemerintah (Kementerian Agama) sudah mengatur tentang halal dan haramnya makanan. Kepada rumah-rumah potong hewan, sudah di wajibkan ketika menyembelih hewan (sapi, kambing, kerbau) agar dengan membaca Bismillah.  Kalau itu tidak dipatuhi, maka itu merupakana tanggungjawab petugas pemotongan hewan di rumah potong hewan.

Ikhtiar kita, kalau tidak yakin apakah daging itu penyembelihannya dengan membaca Bismillah atau tidak, maka :

  1. Ketika kita hendak memasak atau hendak makan mulailah dengan membaca Bismillah.
  2. Makanlah dengan tangan kanan (tidak dengan tangan kiri).
  3. Saat makan jangan berbicara,
  4. Makanlah ketika lapar dan makan secukupnya, berhentilah makan sebelum kenyang.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat,

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillahirobbil ‘alamin,

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad,

Wa’ala alihi washohbihi wabarik wasallim ajma’in,

Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin,

Wa’afiatan fil jasadi waziadatan fil ‘ilmi,

Wabarokatan firrizqi, wataubatan qoblal maut,

Warohmatan ‘indalmaut, wamaghfirotan ba’dal maut.

 

Allahumma hawwin ‘alaina fi sakarotilmaut,

Wannajata minannaari wal’afwa ‘indal hisab.

Allahumma ya mannuruhu fisrrihi wasirruhu,

Aghfina, ‘an uyudinnadzirina wattauhin,

Wa qulubil hassidina wal baghin,

Kama ukhfaitarruha fil jasadi innaka ‘ala kulli syain qadir.

 

Robbana hablana min azwajina,

Wadzurriyatina qurrota a’yun,

Waj’alna lil muttaqina imama,

Robbana latuzigh qulubana ba’da idzhadaitana,

Wahablana milladunka rohmah, innaka antal wahhab.

Robbana atina fiddun-ya hasanah

Wafil akhiroti hasanah waqinna ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: