Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 194 – 196

Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM

16 Januari 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala.

Bahasan kali ini adalah Tafsir AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 194 – 196 sebagai kelanjutan bahasan Tafsir sebelumnya.

 

Surat Al Baqarah ayat 194 :

 

Bulan haram (yang dihormati) dengan bulan haram (yang dihormati); dan tiap-tiap perkara yang dihormati itu berlaku hukum qishash,  Oleh sebab itu barangsiapa  yang menyerang kamu, maka seranglah ia  seimbang dengan serangannya terhadapmu.  Bertakwalah kepada Allah  dan ketahuilah , bahwa Allah beserta orang-orang yang betakwa.

 

Ayat 195 :

 

Dan belanjakanlah (harta-bendamu) di jalan Allah  dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan dan berbuat baiklah , karena sesungguhnya Allah  menyukai orang-orang yang berbuat baik.

 

Keterangan Tafsir.

Perlu difahami bahwa dalam Islam ada yang disebut Bulan Haram.  Jumlah bulan dalam Islam ada 12 (duabelas).  Yaitu :

 

  1. Muharram,
  2. Shofar,
  3. Rabi’ul Awal,
  4. Rabi’ul Akhir,
  5. Jumadil Awal,
  6. Jumadil Akhir
  7. Rojab,
  8. Sya’ban,
  9. Romadhon,
  10. Syawal,
  11. Dzulqo’dah,
  12. Dzulhijjah.

 

Di antara bulan-bulan tersebut itu ada bulan-bulan yang dihormati, disebut Asy Syahrul Haram bulan-bulan di mana umat Islam dan orang pada umumnya dilarang melakukan peperangan.  Yaitu ada 4 (empat) :  Rojab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram.

Kalau masuk  pada bulan yang empat tersebut maka perang harus dihentikan, apapun alasannya.

 

Allah subhanahu wata’ala mengatur demikian, ada bulan-bulan yang dihormati sehingga orang tidak boleh berperang,  adalah untuk memberikan kesempatan (keleluasaan) kepada umat Islam untuk melaksanakan Ibadah Haji.  Karena pada bulan-bulan tersebut, orang-orang Islam banyak melaksanakan Ibadah Haji. Dzulqo’dah orang berangkat dari rumahnya (tempat tinggalnya) untuk pergi ke Makkah melaksanakan Ibadah Haji.  Dzulhijjah adalah bulan melaksankan Haji, dan Muharram  orang sedang pulang dari melaksnakan Ibadah Haji.

 

Jadi tiga bulan tersebut disediakan agar orang bisa melaksnakan ibadah Haji dengan sebaik-baiknya.   Kalau sudah disediakan bulan-bulan seperti itu, lalu ada orang musyrikin yang memerangi kamu, sudah diatur bahwa bulan-bulan tersebut tidak boleh berperang, tetapi kamu masih diperangi juga, maka dalam ayat tersebut dinyatakan : Maka perangilah (seranglah) mereka seimbang dengan apa yang mereka lakukan kepadamu.

Kalau sudah diputuskan tidak boleh berperang, ternyata kita diperangi juga, maka harus dibalas, perangilah.

 

Di akhir ayat tersebut :  Bertakwalah kamu kepada Allah – Maksudnya, peliharalah dirimu dari ancaman Allah subhanahu wata’ala,  atau : jagalah dirimu untuk tidak melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala. Bahwa di empat bulan itu dilarang untuk berperang, jangan dilanggar.

Bahwa dalam empat bulan itu kita diberikan kesempatan untuk beribadah, gunakanlah watu itu untuk ibadah.

Kesimpulannya,  bahwa empat bulan tersebut digunakan untuk :

 

  1. Memberi kesempatan umat Islam melaksanakan ibadah Haji,
  2. Memberi keleluasaan dalam melaksanakan hidup, tidak berperang terus-menerus, ada istirahatnya. Yaitu 4 bulan tersebut di atas.
  3. 3.      Bulan Haram bermakna dua  macam  : – Bulan yang dihormati  

                                                               – Bulan yang dilarang berperang.

 

 

Ayat 195 : Perintah untuk membelanjakan, menginfakkan harta yang kamu miliki di jalan Allah.

 

Berdasarkan ayat ini Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk infaq, yaitu ibadah maliyah (ibadah harta),  yaitu :

 

–          Nafaqoh

–          Shodaqoh,

–          Zakat,

–          Hadiyah,

–          Wasiat

–          Waqaf,

–          Hibdah.

 

Dalam ayat ini diperintahkan : Belanjakanlah (nafkahkanlah) di jalan Allah (fisabilillah) harta yang kamu miliki. Nafkah artinya  belanjakanlah, digunakan, dikonsumsi harta yang kamu miliki di jalan Allah (fisabilillah).  Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah membiayai perang.

 

Di zaman Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam, bila beliau mengajak umatnya untuk ber-Jihad, artinya berperang.  Perang dalam konteks ayat tersebut adalah dibiayai oleh masing-masing umat Islam.  Yang punya unta, dibawa untanya, yang punya bekal dibawalah bekalnya dst. Membawa  unta, membawa bekal dsb. untuk berperang itu namanya : Nafkah.

 

Kalau di zaman Nabi,  Jihad berarti perang, maka di zaman sekarang bentuk perangnya lain. Kalau zaman dulu musuhnya adalah orang, orang musyrik Mekkah yang datang ke Madinah untuk menghancurkan Islam, maka perang sekarang musuhnya adalah kebodohan, ketidak-tahuan. ketidak-mengertian.  Bagaimana memeranginga ? Ialah dengan belajar, mengaji, menuntut ilmu, mendatangi Majlis Ta’lim, dst. Itulah Jihad zaman sekarang.

 

Nafaqoh, contohnya : Membiayai pendidikan anak. Atau seorang suami memberikan uang belanja kepada isteri, semua itu adalah Nafaqoh. Seorang suami yang tahu bahwa nafaqoh kepada isteri adalah wajib, tentu akan dengan senang hati memberikan itu, tanpa dihitung-hitung.  Karena itu adalah fisabilillah.

 

Shodaqoh, artinya ibadah yang dilakukan di bidang harta sebagai pembuktian Iman.  Bahwa Iman ada di dalam hati (dada), tidak nampak, maka wujud dari bukti adanya Iman, maka orang bersedia (mau) untuk bershodaqoh.

Besar-kecilnya shodaqoh ditentukan oleh kuat-lemahnya Iman.   Semakin kuat Imananya, maka semakin senang seseorang ber-Shodaqoh.  Semakin lemah iman seseorang, semakin malas ia ber-Shodaqoh.

 

Karena bershodaqoh itu besar sekali pahalanya, maka sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits : “Setiap kali orang hendak ber-shodakoh ia dirubungi oleh 70 syaithan, yang menggoda  agar ia tidak jadi bershodaqoh”. 

 

Zakat, adalah ibadah di bidang harta yang jumlah, ukuran, besaran dan prosentase-nya pasti.  Hadiah, adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, karena prestasi. Misalnya seorang memberikan hadiah kepada anaknya karena prestasi anaknya di sekolah bagus.

 

Wasiat, adalah ibadah di bidang harta (finasial) yang hukumnya wajib dijalankan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia.  Misalnya, seorang suami berwasiat : Kalau aku meninggal nanti, sebagian hartaku akan aku serahkan ke Masjid. Tetapi wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga kekayaan (harta) yang ber-wasiat.

 

Waqaf adalah ibadah di bidang harta (finasial) yang dengan cara itu terputuslah hubungan hukum antara pemilik harta dengan harta yang diwaqafkan itu. (Waqaf = putus, berhenti).

Waqaf di zaman dahlu berupa tanah, bangunan, sekarang bisa waqaf dalam bentuk uang.

 

Hibah adalah ibadah dibidang harta (finasial) yang dilakukan bukan karena prestasi, tetapi karena sebab lain.   Misalnya, sebuah keluarga mengambil anak angkat.  Si anak angkat itu menurut hukum waris tidak berhak mendapat warisan dari orangtua angkatnya.  Maka orangtua angkatnya bisa saja men-hibah-kan, (memberikan) sebagian hartanya kepada si anak angkat. Syaratnya: Tidak boleh lebih dari sepertiga harta yang dimiliki orang tua angkatanya.

 

Maka dalam ayat 195 tersebut Allah berfirman : Dan belanjakanlah (harta-bendamu) di jalan Allah  dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan.

 

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsirnya mengatakan bahwa : Yang dimaksud jangan kamu menjatuhkan dirimu dala kebinasaan, artinya : Jangan kamu bersifat bahil (kikir, pelit), jangan kamu tidak memberi terhadap upaya umat Islam yang diperintahkan Allah dalam AlQur’an untuk ber-Jihad.  Artinya, kalau ada orang ber-Jihad hendaknya kita ikut bergabung.  Kalau tidak bisa berjihad dengan fisik, paling tidak membantu di bidang harta (uang).  Jaman dahulu Jihad artinya perang.    Tetapi zaman sekarang misalnya mengajarkan ilmu (agama).  Rasulullah saw bersabda : “Jadilah kamu orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu. Kalau tidak bisa mengajar, jadilah orang yang belajar. Kalau tidak sempat belajar, jadilah kamu orang yang mencintai orang yang belajar”.

 

Ayat tersebut (195) diakhiri dengan kalimat : Berbuat baiklah (ihsan), sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (ihsan) -.

 

Dalam Islam ada 3 pokok ajaran : iman (Aqidah)  – islam (Syari’ah) – ihsan (Akhlak).

Iman dalam arti  : Iman adanya Allah, adanya Rasul-Rasul, iman kepada kitab-kitab suci, iman akan adanya Hari Kiamat,   Arti  islam   adalah Syari’ah.  Ihsan artinya berbuat kebaikan.

 

Ihsan dalam ayat tersebut maksudnya adalah : Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Jika tidak bisa seolah-olah melihat Allah, sadarilah bahwa sesungguhnya Allah melihat engkau.

Orang yang berbuat Ihsan disebut Muhsin (Muhsinin).  Dalam ayat-ayat  AlQur’an banyak terdapat kata “ihsan”.  Berbuat ihsan artinya berbuat ikhlas tanpa mengharap balas. Misalnya, seorang ibu merawat, mengasuh dan membesarkan anaknya adalah perbuatan ihsan, artinya ikhlas tanpa mengaharap balasan.

 

Dalam konteks ayat tersebut, kita disuruh untuk ikut ber-Jihad, kalau tidak bisa setidaknya ikut membantu orang yang sedang ber-Jihad dengan apa saja.   Membantu orang ber-Jihad disebut Ihsan.

 

Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsirnmya menyimpulkan :

 

  1. Disyari’atkannya perang dalam Islam adalah untuk menolak (memadamkan) permusuhan.  Karena Islam diturunkan di dunia untuk mengajarkan hidup damai, rukun, saling menghormati. Kalau ada permusuhan harus dicegah dengan Jihad.

 

  1. Untuk menjaga keberlangsungan dakwah. Dalam masa damai dakwah bisa dilaksanakan dengan baik, tetapi dalam keadaan perang, dakwah tidak akan bisa terlaksana dengan baik.  Dalam keadaan damai dakwah bisa berjalan dengan baik dan ilmu bisa kita gali dengan banyak. Tetapi dalam keadaan perang semua itu tidak akan terlaksana.

 

  1. Disyari’atkan perang dalam Islam adalah untuk memerdekakan agama (Islam) dari hawa nafsu.  Karena perang itu ujung-ujungnya adalah hawa nafsu. Islam ingin membuat agama itu steril dari hawa nafsu.

 

  1. Untuk membantah trend (anggapan) global yang menganggap Islam itu menakutkan. Dunia Barat selalu menyebarkan Demonisasi Islam (Islam itu menakutkan, seperti setan). Padahal  Islam adalah menegakkan keadilan dan kebenaran. Sifat perang dalam Islam adalah defensif aktif, bukan agresif.  (Membela-diri, bukan menyerang). Maka salah dan keliru anggapan (pandaangan) bahwa Islam itu senang perang, teroris dsb. Padahal perang dalam Islam adalah untuk mempertahankan diri. Perang dalam Islam adalah untuk menyayangi dan melindungi kaum lemah.

 

Ayat 196 :

 

Dan sempurnakanlah Ibadat Haji dan Umrah kerana Allah; tetapi sekiranya kamu dikepung (dan dihalang daripada menyempurnakannya ketika kamu sudah berihram, maka kamu bolehlah bertahallul serta) sembelihlah hewan kurban yang mudah didapati; dan janganlah kamu mencukur kepala kamu (untuk bertahallul), sebelum binatang kurban itu sampai (dan disembelih) di tempatnya. maka siapa di antara kamu sakit atau terdapat sesuatu yang menyakiti di kepalanya (lalu ia mencukur rambutnya), hendaklah ia membayar fidyah. yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau menyembelih hewan kurban, . kemudian apabila kamu berada kembali dalam keadaan aman, maka siapa yang mau menikmati kemudahan dengan mengerjakan Umrah, (dan terus menikmati kemudahan itu) hingga masa (mengerjakan) Ibadat Haji, (bolehlah ia melakukannya kemudian wajiblah ia) menyembelih hewan kurban yang mudah didapati. kalau ia tidak dapat (mengadakan Dam), maka hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam masa mengerjakan Haji dan tujuh hari lagi apabila kamu kembali (ke tempat masing-masing); semuanya itu sepuluh (hari) cukup sempurna. hukum ini ialah bagi orang yang tidak tinggal menetap (di sekitar) Masjid Al-Haram (Makkah). dan hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah; dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha berat balasan siksaNya (terhadap orang-orang Yang melanggar perintahNya).

 

Keterangan.

Dalam bahasa Arab, Haji (Al Hajju) artinya sengaja, (menyengaja).  Orang yang pergi haji adalah orang yang menyengaja meninggalkan rumah dan keluarga (tanah-air) menuju Baitullah (Makkah) untuk melaksanakan ibadah karena Allah.

 

Hukum Haji adalah wajib, bahkan merupakan salah satu rukun Islam. Untuk melaksanakan ibadah Haji ada musimnya (waktunya).  Musim Haji adalah : Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah (sampai tanggal 9 Dzulhijjah).

Umroh, artinya ziarah (kunjungan), mengunjungi Baitullah yang mulia untuk ibadah.

 

Baik, Haji maupun Umroh menurut ayat 196 tersebut di atas harus dilakukan karena Allah subhanahu wata’ala.

 

Perbedaan Haji dan Umroh :

 

 

Haji                                                                                Umroh.

 

  1. Ada waktunya (Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah)           1. Kapan saja, setiap waktu.
  2. Ada Wukuf di Arofah, Mabbit, Jumroh,                          2. Thawaf, Sa’i dan Tahalul.
  3. Hukumnya Wajib (bagi yang mampu)                             3. Hukumnya Sunnat.

 

 

Dalam ayat : Jika kamu terkepung oleh musuh, maka wajib baginya untuk menyembelih seekor hewan  sembelihan (kurban) – Maksudnya, bila seseorang sudah berniat untuk Haji atau Umroh, sudah memakai pakaian Ihram, tiba-tiba terkepung oleh musuh, sehingga harus membatalkan Ihramnya, maka cara membatalkannya adalah dengan menyembelih seekor kambing (domba), disebut Al Had-yu (Qurban).

 

Dalam ayat : Jangan kamu gunting rambutmu (tahalul) sebelum kurban sembelihan itu sampai di tempat penyembelihan (di Makkah) – Maksudnya tidak boleh menggunting rambut (Tahalul) sebagai bukti bahwa ia membatalkan Ihramnya, sebelum hewan sembelihan itu sampai tempat yang dituju, itulah Makkah.

 

Maka siapa di antara kamu sakit, atau ada penyakit di kepalanya, (terpaksa menggunting atau mencukurnya) maka ia harus mengganti dengan berpuasa atau membayar shodaqoh (Dam), atau menyembelih seekor hewan sembelihan (kurban).

Maka jika kamu sudah dalam keadaan aman, siapa yang mendahulukan Umrahj daripada Haji, maka wajib baginya menyembelih seekor hewan sembelihan.

 

Pelajarannya adalah bahwa Ibadah Haji dapat dilakukan dengan tiga cara :

 

  1. Haji Tamattu’, artinya melaksanakan Haji tetapi ketika di Makkah mendahulukan Umroh, kemudian melaksanakan Haji. Misalanya pergi tamsya (Tamattu’) dulu ke Madinah, melaksanakan sholat Arba’in (sholat wajib empatpuluh waktu di Masjid Nabawi). Lalu berpakaian Ihram sejak dari Bir Ali, lalu berangkat menuju Makkah melakukan Umroh.  Artinya melakukan Umroh dulu, padahal belum Haji. Namanya Haji Tamattu’ (Haji bersenang-senang). Haji Tamattu’ terkena Dam (denda) yaitu menyembelih seekor hewan kurban. Bila tidak punya uang untuk membeli hewan kurban, maka seseorang itu harus berpuasa tiga hari ketika di Makkah dan  tujuh hari di kampung halamannya. Jadi jumlah puasanya sepuluh hari. Itulah sepuluh hari yang sempurna.

 

  1. Haji Ifrad,  yaitu melaksanakan ibadah Haji, terlebih dahulu kemudian Umroh. Yang ini tidak terkena Dam (denda) sebagaimana disebutkan di atas.  Maka ketika di daerah Yalamlam (bila naik pesawat terbang,  ketika di atas Yalamlam) harus sudah memakai pakaian Ihram, sampai turun dari pesawat, Ihram-nya tidak boleh dilepas, terus dipakai sampai selesai ibadah Hajinya, sampai tanggal 10, 11,  12, dan 13 Dzulhijjah).

 

  1. Haji Qiron, yaitu Haji dan Umroh dilakukan bersamaan waktunya.  Yang ini terkena Dam (menyembelih hewan kurban).

 

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum diakhiri marilah membaca do’a untuk kita dan keluarga.  Al Fatihah.

 

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim.

Allahumma bihaqqil Qur’an

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin.

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, ‘allimnal Qujr’an,

Wafaqqihna fiddin, wa’alimna ta’wil,

Wahdina ilassawa-issabil,

 

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

 

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtima ‘alaina bi su’il khotimah,

Robbana atina fiddun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar,

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: