Tafsir Surat Al Baqarah ayat 202 – 203.

Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM

 20 Februari 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.

 

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Melanjutkan bahasan Tafsir Al Qur’an,  kali ini sampai pada Surat Al Baqarah ayat 202 – 203.  Pada ayat sebelumnya yaitu ayat 201 kita telah diberikan wawasan oleh Allah subhanahu wata’ala, tentang bagaimana orang yang berimaan berdo’a.  Mereka dalam berdo’a mengharapkan dua hal. Yaitu berdo’a agar diberikan hasanah (kebaikan) di dunia dan di Akhirat.  Sementara orang-orang yang tidak beriman (orang kafir) berdo’a hanya untuk kebahagiaan dunia. Demikian ditampilkan pada ayat 200.    Kali ini kita lanjutkan bahasan ayat 202 – 203, bagaimana yang sebenarnya.

 

Surat Al Baqarah ayat 202 :

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Keterangan Tafsir.

Ada orang yang orientasi hidupnya bersifat sekularistik (keduniawian). Bagaimana agar bisa senang hidupnya dengan harta yang banyak dan kedudukan tinggi di dunia.   Tetapi ada orang yang orientasinya bersifat asketik (Ukhrowi, akhirat).

 

Orang tersebut dalam hidupnya tidak hanya (melulu) mengejar kebahagiaan dunia tetapi juga mengejar kebahagiaan akhirat. Itulah yang dimaksud dalam Surat Al Baqarah ayat 201.

Yaitu mereka yang berdoa : Robana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat  dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Maka ayat 202 memberikan penjelasan,  baik bagi yang berorientasi duniawi saja maupun yang berorientasi dunia dan akhirat, bahwa Allah subhanahu wata’ala telah menyediakan bagian (balasan) atas apa yang selama ini mereka usahakan.

Maknanya, kalau orang di dunia semata-mata mengejar dunia saja, maka ia akan mendapatkan dunia saja,  tetapi akhiratnya nihil, tidak mendapat apa-apa, bahkan disiksa di neraka.  Sebaliknya orang yang berorientasi Asketik (Ukhrowi), maka ia punya dua sasaran, yaitu dunia dan akhirat. Ia bekerja (mencari nafkah) dan  taat kepada semua perintah Allah subhanahu wata’ala, menghindari larangan-Nya, maka ia bukan hanya mendapat kebahagiaan  di dunia saja, tetapi juga kebahagiaan di akhirat berupa surga.

Berdasarkan ayat 202 Surat Al Baqarah tersebut, mencerminkan bahwa Allah Maha Adil.

Adil, artinya kalau kelak ada orang masuk neraka,  itu bukan karena Allah benci atau dendam kepada mereka, tetapi karena orang tersebut sejak di dunia memang hanya keduniaan saja yang dikejar. Maka pantas kalau ia maasuk neraka. Kalau ada orang mencari akhirat, karena memang ia memilih surga, maka ia akan masuk surga.   Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak ada dendam.  Orang memilih neraka dipersilakan, memilih surga juga dipersilakan. Karena di Akhirat kelak hanya dua alam yaitu Surga dan Neraka. Tidak ada pilihan lain.

Maka jangan bosan membaca dan mempelajari AlQur’an, karena AlQur’an memberi petunjuk, mencerahkan dan membawa hidup ini menjadi lebih baik. Dan belajar AlQur’an memang perlu guru yang akan menjelaskan tafsirnya secara rinci dan detail.  Jangan hanya membaca terjemahan AlQur’an, sebab bisa keliru cara memahaminya. Oleh karena itu perlu belajar, dengan mendatangi majlis-majlis ta’lim yang mengajarkan Tafsir AlQur’an.

Sebetulnya Allah itu bagaimana kita manusia.  Dalam Hadits Qudsi disebutkan bahwa : “Aku (Allah) tergantung bagaimana prasangka hamba-Ku kepada Aku”.  

Maksudnya, kalau orang berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan baik kepada orang itu, sebaliknya kalau ada orang berprasangka tidak baik kepada Allah maka demikian pula Allah terhadap orang itu.

Ayat 203 :

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan*]. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan Barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya**], bagi orang yang bertakwa. dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.

*] Maksud dzikir di sini ialah membaca takbir, tasbih, tahmid, talbiah dan sebagainya. beberapa hari yang ditentukan ialah tiga hari sesudah hari raya haji yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijjah. hari-hari itu dinamakan hari-hari Tasy’riq.

**] Sebaiknya orang haji meninggalkan Mina pada sore hari terakhir dari hari Tasy’riq, mereka boleh juga meninggalkan Mina pada sore hari kedua.

Keterangan Tafsir.

Maksud kata  “ta’ajjala” artinya ingin cepat-cepat (menyegerakan) pada dua hari (pada hari Tasyriq), yaitu menyegerakan ibadahnya di Mina dan ingin cepat (segera) pulang ke Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadzoh.  Artinya, siapa yang ingin tanggal 12 Dzulhijjah menyelesaikan Jumroh Ula, Ustha dan Aqobah,  kemudian ia segera meninggalkan Mina menuju Mekkah,  maka boleh saja ia lakukan, tidak ada dosa baginya. Itulah yang disebut Nafar Awal.

Sebaliknya, siapa yang melambatkan (menunda, menangguhkan) kepulangannya ke Mekkah dari Mina pada hari berikutnya, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah, maka tidak ada dosa baginya, bagi siapa yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala.  Yang demikian itu disebut Nafar Tsani.

Sehingga orang melaksanakan ibadah Haji bisa dilakukan dengan dua pilihan.  Pilihan pertama disebut Nafar Awal (rombongan pertama), yaitu mereka yang meninggalkan Mina menuju Mekkah  tanggal 12 Dzulhijjah.

Di Muzdalifah orang Mabit (menginap) semalam dan ketika di Mina orang melakukan :

  1. 1.      Melontar (melempar) Jumroh.  Bagi yang memilih Nafar Awal maka melontar Jumroh : Aqobah (tanggal 10 Dzulhijjah dini hari) dan melakukan Dzikir seperti yang disebutkan dalam ayat 203 tersebut : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, dalam hari-hari yang telah ditentukan”. Di Mudzdalifah berdzikir (Talbiyah). Disebutkan dalam Hadits : Talbiyah adalah syi’arnya orang yang sedang Ihram..
  1. 2.      Mabit (Menginap) di MinaBagi mereka yang Nafar Awal, mereka tinggal di Mina tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah.  Kecuali melontar Jumroh, mereka sholat berjamaah,, Takbir,  membaca AlQur’an dsb,  lalu tanggal 12 Dzulhijjah kembali ke Mekkah, melaksanakan Thawaf Ifadhoh.

Selanjutnya dalam ayat : Dan barangsiapa yang menangguhkan    (kepulangannya ke Mekkah), maka tidak ada dosa baginya,  yaitu yang disebut Nafar Tsani (Nafar Akhir) tanggal 13 Dzulhijjah baru menuju Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadhoh.  

Adanya Nafat Awal dan Nafar Tsani (Akhir) merupakan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala  bagi Jamaah Haji.   Seandainya tidak ada Nafar Awal,  karena sedemikian banyak Jamaah Haji, tidak terbayangkan betapa berjejal-jejalnya manusia di Mina ketika itu. 

Di ujung ayat : Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah  bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya,  artinya semua amal manusia kelak akan dibalas di Akhirat di hadapan Allah subhanahu wata’ala.  

Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili memberikan keterangan :

  1. 1.      Hari Arofah adalah hari yang sangat agung, pahalanya sangat besar.  Karena itu bagi orang yang melaksanakan ibadah Haji menggunakan kesempatan di Arofah dengan sebaik-baiknya untuk berdo’a. Rasulullah saw bersabda dalam Hadits : “Sebaik-baik do’a adalah do’a ketika orang sedang berada di Arofah  dan seutama-utama ucapan yang aku ucapkan dan para nabi sebelum aku adalah Lailaha illallah wahdahu lasyarikalah. Lahulmulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu, wahuwa ‘ala kulli syain qadir.  Maka ketika Wukuf di Arofah para Jamaah Haji selalu membaca kalimat (do’a) tersebut sebanyak seratus kali.
  1. Bagi  orang yang tidak ber-Haji, ketika Hari Arofah disunnah-kan untuk berpuasa, karena puasa tersebut menghapuskan dosa satu tahun lalu dan dosa satu tahun yang akan datang. Jadi yang tidak ber-Hajipun ikut mendapat pahala ketika Hari Arofah.  Itulah kemurahan dan kaeadilan Allah subhanahu wata’ala.
  1. Do’a yang paling banyak diucapkan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah : Robbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar. Demikian dalam Hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik.
  1. 4.      Ada Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ketika Wukuf di Arofah beliau melakukan sholat Dhuhur dan Ashar dengan Jama’ Taqdim,  dengan dua kali khutbah seperti khutbah sholat Jum’at.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kemudian sholat Maghrib dan ‘Isya di Muzdalifah dengan Jama’ Ta’khir.

Sementara orang Indonesia ketika Wukuf di Arofah sholat Dhuhur – Ashar dan Maghrib – Isya dilakukan dengan Jama’ Taqdim di Arofah.

Melontar Jumroh Aqobah.

Para ahli Fiqih mengatakan bahwa waktu melontar Jumroh  Aqobah (saja) adalah sah bila dilakukan Ba’dal Fajri (Sesudah Fajar) sebelum terbit matahari.  Tetapi Imam Syafi’i lebih luwes lagi, yaitu bahwa sesuai dengan Hadits-Hadits Rasulullah saw adalah boleh melontar Jumroh Aqobah walaupun belum masuk Fajar, sesudah lewat tengah malam.

Tahalul Awal.

Dr. Wahbah Az Zuhaily menjelaskan bahwa Tahalul Awal disebut juga Tahalul Asghar (Tahalul Kecil), dilakukan setelah melontar Jumroh Aqobah saja. Kemudian kembali ke Mekkah, Thawaf dan Sai dan membaca doa menghadap Ka’bah (selesai Sai) lalu menggunting rambut. Paling sedikit tiga helai.   Bagi laki-laki yang bagus adalah mencukur seluruh rambut kepala.

Hadits Rasulullah saw : “Apabila kamu selesai melontar Jumroh (Aqobah) kemudian kamu selesai menggunting rambut dan melaksanakan Sunnah Qurban, maka telah halal bagimu segala sesuatu kecuali wanita”.

Artinya setelah mencukur (memggunting) rambut,  maka  sudah boleh mengganti pakaian Ihram  dengan pakaian biasa, Tetapi belum boleh bergaul dengan isteri/suami.

Untuk Haji Mabrur tidak ada balasan lain kecuali Surga.   Haji Mabrur adalah :

  1. Haji yang makbul (diterima oleh Allah subhanahu wata’ala). Supaya diterima maka syarat dan rukunnya serta wajib dan sunnahnya harus terpenuhi.   Maka sebelum pergi Haji, latihan (Training) dan belajar terlebih dahulu tentang ibadah Haji (Manasik Haji).
  2. Dalam pelaksanaan ibadah Hajinya tidak disertai dengan dosa.  Baik dosa terhadap Allah subhanahhu wata’ala, maupun terhadap sesama. (Ketika sedang Ihram dilarang Rofats, maksiyat, dan jidal). Ketika Thawaf tidak menyakiti orang.
  3. Keadaan sesudah Haji menjadi lebih baik, semakin sholih, akidahnya semakin mantap, ibadahnya semakin rajin dan khusyu’

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Ketika orang ber-Haji dan ketika Wukuf di Arofah, do’anya makbul.  Juga di tempat-tempat lain ketika orang sedang melakukan ibadah Haji do’anya makbul.  Bagaimana dengan orang yang Umroh apakah doa-‘anya juga makbul.  Dan di manakah tempat-tempat yang makbul do’anya ketika orang melakukan ibadah Umroh ?

Jawaban:

Arofah adalah kawasan di sekitar Mekkah yang dipenuhi oleh umat Islam dari seluruh dunia, tetapi hanya hari-hari tertentu saja, yaitu tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah dimana orang melakukan Wukuf di Arofah.   Di luar waktu itu, Arofah menjadi tempat ziarah yaitu orang-orang yang melakukan Umroh, singgah di Arofah, Kalau orang membaca do’a di Arofah di luar musim Haji, maka tidak se-makbul seperti ketika  musim Haji tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Tetapi do’a-do’a yang mustajab adalah di selain tempat tersebut, misalnya di Multazam, di depan Ka’bah, di Hijir Ismail, do’a di Sofa dan Marwa, do’a ketika Thawaf, dst. masih banyak pilihan lain.

Pertanyaan:

Bagaimana bila orang ber-Haji Mabit-nya di Aziziyah ?

Jawaban:

Aziziyah adalah kasawan di luar kota Mekkah.  Bila ada orang Mabit di sana tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, maka Mabitnya tidak sah.  Mabit yang sah adalah di Mina.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.   Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk keluarga.  Al Fatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim,

Allahumma bihaqqil Qur’an,

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an,

‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,

Wa’alimna ta’wil, wahidna ilassawa-issabil

 

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron wal ‘afwa ‘indal hisab,

Wanajata minannaar.

 

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Walatakhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Allahumma balighna wa balighman ma ana,

Min ahli baitina wa banatina wa auladina ,

Wa dzurrayatina wa qorobatina,  wa jama’atina,

Wabil khusus Jamaah Kaum Ibu Majid At Taqwa,

Ila Baitillahil Haram, wa ziaroti qobri nabiyika

Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Warzuqna wa iyahum ziarota Makkah wal Madinah,

Salimin, ghonimin, farihin, mabrurin, mustafsirin,

Marrotin adidatan ya Robbal ‘alamin.

 

Robbana atina fiddun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

 

Wassalamu’alikum wr. wb.

 

                         ___________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: