Ujian Dari Allah Swt.

Drs. Fauzi Nurwahid

Pengajian 23 Januari 2013

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Pada bahasan kali ini kita berangkat dari apa yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam AlQur’an Surat Al A’raf ayat 168 :

Dan Kami bagi-bagi mereka (kaum Yahudi itu) menjadi beberapa golongan di dunia ini. di antara mereka ada yang soleh dan di antaranya juga yang tidak demikian. dan Kami uji mereka dengan nikmat pemberian yang baik-baik dan bala bencana yang buruk, supaya mereka kembali (bertaubat).

 

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa di antara hamba-hamba Allah (yaitu manusia) ada yang sholeh dan ada yang tidak sholeh,  ada yang taat dan ada yang ingkar.  Dan Allah menguji mereka dengan ujian berupa kenikmatan (kebaikan) dan ujian yang barupa penderitaan (keburukan).  Dengan ujian itu sebetulnya Allah mengingatkan agar manusia kembali kepada jalan yang benar, yaitu jalan Allah subhanahu wata’ala.

 

Dari ayat tersebut sebenarnya kita bisa memahami:

 

  1. Bahwa Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia di dunia ini bergolong-golongan, berkelompok-kelompok,  berkabilah-kabilah, berbangsa-bangsa.  Sebahagian dari mereka merupakan hamba-hamba yang sholeh, yang taat kepada Allah subhanahu wata’ala,  dan sebahagian lagi golongan orang yang tidak sholeh.
  2. Manusia tersebut diuji dengan dua macam ujian : Kenikmatan (banyak harta, kesehatan, dst). dan penderitaan (berupa musibah, bencana, penyakit, kemiskinan, dst. ).
  3. 3.      Semua itu Allah berikan sebagai ujian, agar mereka kembali (taat) kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bagaimana orang yang beriman menyikapi ujian tersebut ?

Orang yang beriman ketika diuji dengan Al Hasanah (kebaikan, kenikmatan), maka mereka akan menyikapinya dengan Syukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka menjadi orang yang tidak lupa kepada Allah swt.   

Orang yang beriman akan menyikapinya berangkat dari Surat Ibrahim ayat 7 :

Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: “Demi sesungguhnya! jika kamu bersyukur niscaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu, dan  jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras”.

Maksudnya, jika manusia pandai men-syukuri nikmat yang Allah berikan, maka akan Allah tambah nikmat itu dengan lebih banyak lagi.  Sedang bila manusia tidak pandai bersyukur, mengingkari nikmat yang Allah berikan, maka Allah akan memberikan siksa yang amat pedih.

Cara men-syuykuri nikmat Allah adalah : Menggunakan nikmat itu sesuai dengan maksud Allah memberikan nikmat itu.

Bila orang yang beriman diberikan ujian oleh Allah dengan sayyi’ah (keburukan), penderitaan, musibah, bencana, maka ia akan bersabar.

Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 155 – 156 :

155. Demi sesungguhnya! Kami(Allah) akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut dan rasa kelaparan, dan kekurangan harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar:

 

156. (Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.”

Orang yang sabar adalah orang yang ketika ditimpa musibah, bencana, ia mampu mengembalikan itu semua kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan ucapan Istirja’ yaitu ucapan : Inna lillahi wa inna ilahi roji’un (Sesungguhnya ini semua dari Allah dan kepada Allah kami kembali).

Dan orang yang beriman menyikapi musiba-musibah seperti kekurangan (kehilangan) harta, kematian, bencana, maka orang itu tidak akan keluar dari lisannya kata-kata keluhan, atau sumpah-serapah, atau ucapan-ucapan yang tidak pantas.  Tetapi akan mengucapkan ucapan Istirja’, seperti disebutkan diatas. Karena ia paham bahwa ketika ia lahir ke bumi ini membawa apa ? Tidak membawa apa-apa. 

Lalu oleh Allah subhanahu wata’ala diberikan segala sesuatu untuk keperluan hidup di dunia, ia punya harta, punya ini, punya itu, punya segalanya.  Ia paham semua itu adalah dari Allah subhanahau wata’ala.  Sehingga bila suatu saat Allah mengambil kembali itu semua, maka itu adalah Hak Allah subhanahu wata’ala. Termasuk bila dirinya sendiri diambil olah Allah, maka ia akan menyerahkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Itulah makna kalimat Istirja’.

Namun perlu diingat, dipahami bahwa kalimat Istirja’ bukan hanya ketika  mendengar berita  orang  meninggal saja, melainkan juga untuk segala musibah, bencana, kehilangan harta, rasa takut, rasa lapar, dan kekurangan apa yang orang butuhkan. Misalnya seseorang diberi kenikmatan oleh Allah subhanahu wata’ala berupa harta yang banyak, tanah yang luas, tiba-tiba rumahnya terbakar (kebakaran), atau terkena banjir, maka sebagai orang yang beriman sudah selayaknya ia mengucapkan kalimat Istirja’ : Inna lillahi wainna ilaihi roji’un.  Bahwa semua ini milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya.

Intinya: Orang yang beriman, ialah orang yang bila diberi kenikmmatan oleh Allah maka ia akan bersyukur, dan bila diberi kesusahan (penderitaan, kecelakaan) ia akan bersabar.

Kemudian bila dikaitkan dengan keadaan sebuah negeri atau sebuah bangsa,  bagaimana mereka menyikapi  manakala Allah subhanahu wata’ala menurunkan bencana ?. Bencana bukan datang tanpa sebab, melainkan pasti ada sebab musababnya. Tidak mungkin Allah subhanahu wata’ala serta-merta menurunkan bencana itu, melainkan pasti ada sebabnya.

Lihat AlQur’an Surat An Nahl ayat 112 :

Dan Allah memberikan suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya  aman damai dan tenteram,  rezekinya datang melimpah-ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya kufur akan nikmat-nikmat Allah itu, maka Allah merasakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan,  disebabkan apa yang selalu  mereka perbuat. (mereka  lakukan).

Itulah sebuah perumpamaan :  Selama penduduk negeri itu penduduknya beriman, bertakwa dan taat kepada Allah subhanahu wata’ala menjadi hamba-hamba yang bersyukur terhadap apa yang Allah karuniakan, maka Allah akan memberikan rezki dan kenikmatan yang berlimpah dari segala penjuru.   Tetapi bila kemudian mereka menjadi kufur nikmat, tidak lagi ingat kepada Allah,  menjadi sombong, hanya memikirkan diri-sendiri masing-masing, masa-bodoh kepada masyarakat banyak, maka bukan lagi rezki yang Allah limpahkan, tetapi bencana, rasa takut, kelaparan, dan kesedihan.  Itu semua akibat dari apa yang telah mereka lakukan.

Dan hampir sama dengan Firman Allah subhanahu wata’ala pada Surat Al A’raaf ayat 96 :

Dan (Tuhan berfirman lagi): sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertaqwa, tentulah Kami akan limpahkan  kepada mereka berkah, dari langit dan bumi. tetapi mereka  mendustakan (ayat-ayat  Kami), maka Kami siksa disebabkan apa yang mereka telah perbuat.

Apa berkah dari langit ? Itulah hujan yang turun, memberikan kesejukan, kesuburan tanah, menjadi rahmat, bukan menjadi bencana.   Bayangkan bila terjadi kemarau panjang, maka panasnya luar-biasa. Tanah menjadi gersang.  Kemudian Allah memberikan berkah dari dalam bumi, yaitu dengan turunnnya hujan, sehingga apa yang ditanam menjadi tumbuh dan subur, mengeluarkan sayur-sayuran dan  buah-buahan di muka bumi, memberikan nilai manfaat.

Kalau penduduk negeri itu beriman dan bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Tetapi bila penduduk negeri itu tidak beriman dan tidak bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala maka akan Allah timpakan bencana dan malapetaka kepada mereka.

Pada ayat berikutnya (Surat Al A’raaf ayat 97 dan 98 )  :

97. Patutkah penduduk negeri negeri itu serta merasa aman daripada kedatangan azab Kami kepada mereka pada malam hari, semasa mereka sedang tidur?

98. atau Patutkah penduduk negeri negeri itu serta merasa aman daripada kedatangan azab Kami kepada mereka pada siang hari, semasa mereka sedang leka bermain-main?

Bencana datang ketika orang sedang tidur, contohnya : Bencana Situgintung.Karena bendungannya jebol, maka air meluap di perkampungan sekitar Situgintug, ketika orang sedang lelap tidur, dan habis semuanya dan korbanyya tidak kurang dari seratus orang meninggal.

Bencana  pada siang hari (Waktu Dhuha) ketika orang sedang bermain-main, bekerja, ada yang sedang senam, olah-raga , contohnya : Tsunami di Aceh, tahun 2003,  yang terjadi saat siang hari sekitar pukul 09.00 ketika orang sedang bekerja, ada yang sedang olah-raga, dll. Dan korbannya ribuan orang meninggal.

Semua itu siapa yang tahu sebelumnya ? Tidak seorangpun yang tahu. Itulah peringatan dari Allah subhanahu wata’ala, yang seharusnya menjadi bahan muhasabah (interospeksi diri), mengapa itu terjadi.  Mungkin manusia sekarang sudah banyak yang ingkar, yang kufur nikmat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Belum lagi tentang banjir Jakarta, yang banyak korban harta, jiwa penduduk.  Padahal perkara hujan bukan baru turun sekarang,  dari zaman dahulu juga turun hujan. Lalu orang awam mengatakan : Itu karena faktor alam, yaitu curah hujan yang demikian besar

Bicara faktor alam, memang ada benarnya, tetapi tidak mustahil bencana itu disebabkan karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusianya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al Qur’an:  “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena ulah manusia”.

Itulah yang menjadi bahan dasar Muhasabah, mawas diri manusia. Harus di-evaluasi.  Dahulu Jakarta banyak tempat-tempat (daerah) resapan air.   Tetapi sekarang tempat resapan air itu sudah dibangun gedung-gedung bertingkat, apartemen,  di bangun Mall, dst.  Maka ketika hujan turun, air yang biasanya mengalir ke daerah resapan, sekarang air membentur ke tembok gedung-gedung tinggi,  maka air mencari daerah aliran ke daerah pemukiman.

Laut yang semula di pinggir-pinggir pantai tumbuh tanaman mangrove (hutan bakau),  yang bisa menahan abrasi, tetapi mangrove itu dibabat habis, dijadikan rumah-rumah mewah.   Lalu kesalahan siapa ? Adalah kesalahan manusia.  Jangan menyalahkan faktor alam.

Sampai-sampai ada seorang ulama yang mengajak meng-Hisab (Muhasabah), berkaitan dengan banjir  yang melanda hampir seluruh wilayah Jakarta.  Termasuk tempat-tempat yang strategis.  

Ulama tersebut mengingatkan, ketika malam tahun baru, yaitu pergantian tahun 2012 ke tahun 2013, yaitu tanggal 31 Deseember 2012 malam terjadi pesta  pora merayakan tahun baru 2013.

Semua manusia Jakarta dan kota-kota lain tumplek di jalan-jalan raya merayakan pergantian tahun baru.  Mereka berhura-hura, pesta-pora, laki-laki dan perempauan campur-aduk menjadi satu, tidak mengenal halal dan haram,  Berapa dana (uang) yang dikeluarkan untuk itu semua ? Belum lagi kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan.  Dengan bangga manusia malam itu menghabiskan waktunya dengan pesta-pora. Delapanbelas hari kemudian Allah subhanahu wata’ala mengirimkan bencana berupa banjir di Jakarta.

Ulama tersebut mengajak untuk Muhasabah (introspeksi diri) bahwa bencana banjir Jakarta tersebut merupakan sebuah peringatan.

Bagi orang yang beriman, maka banjir Jakarta beberapa hari lalu adalah peringatan (Tadzkirah), supaya kita semua kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, mengajak untuk Muhasabah (Meng-Hisab kepada diri).   Orang-orang yang beriman insya Allah taat melaksanakan ibadah.  Dan  bagi orang yang beriman tentu memahami bagaimana ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala yang memerintahkan untuk ibadah. Bukan sekedar Allah memerintahkan untuk sholat, zakat, shaum, Haji, dst, tetapi pahamilah bahwa ibadah yang Allah perintahkan memberikan pengaruh (dampak) positif terhadap sikap dan perilaku manusia.

Lihat Surat Al Ankabut ayat 45 :

Bacalah serta ikutlah (Wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Quran, dan dirikanlah sholat; Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar; dan Sesungguhnya mengingat Allah(dengan sholat) adalah lebih besar (faedahnya dan kesannya); dan (ingatlah) Allah mengetahui akan apa Yang kamu kerjakan.

Bukan sekedar Allah memerintahkan kita untuk sholat, tetapi bagaimana dari sholat itu akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan sikap, bahwa orang yang tekun  melaksanakan sholat akan terhindar dari perbuatan yang buruk.  Berarti amal yang keluar dari orang yang sholat adalah amal-amal yang sholih, yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Cobalah di-Hisab apakah dengan sholat yang telah kita dirikan menghasilkan amal-amal yang baik ?

Lihat Surat At Taubah ayat 103 :

Ambilah (sebahagian) dari harta mereka menjadi sedekah (zakat), supaya dengannya Engkau membersihkan mereka (dari dosa) dan mensucikan mereka (dari akhlak Yang buruk); dan doakanlah untuk mereka, kerana Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. dan (ingatlah) Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui.

Dalam ayat tersebut, baik untuk sholat atau zakat Allah menggunakan kalimat (kata kerja) perintah.   Asal kata-kerja perintah hukumnya wajib. Khusus berkaitan dengan zakat, Allah memerintahkan untuk diambil dari sebagian orang-orang yang diluaskan rezkinya oleh Allah. 

Pertama, pahamilah, bahwa orang yang mengeluarkan zakat akan dibersihkan hatinya.  Orang yang mengeluarkan zakatnya, maka  hartanya yang dimiliki akan bersih.  Kalau ada orang yang diluaskan hartanya tetapi tidak mau mengeluarkan zakat, walaupun hartanya melimpah, maka hartanya itu bercampur dengan harta yang bukan haknya, harta yang bathil. Bila hati seorang hamba bersih, maka amalnya akan baik. Zakat membersihkan hati.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya dalam jasad manusia ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik (bersih), maka baik pula amal yang keluar dari jasad orang itu seluruhnya.  Jika segumpal daging itu rusak, maka rusak pula amal dari jasad itu seluruhnya.  Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”.

Kedua,  kita masing-masing bisa muhasabah, meng-evaluasi diri, setelah kita menegeluarkan zakat, sejauh mana pengaruhnya terhadap pembentukan sikap amal-amal kita selama ini.

Ketiga,  Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk Shaum Romadhon, (lihat Surat Al Baqarah ayat 183):

Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang terdahulu sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa.

Jadi hasil dari shaum Romadhon adalah ada peningkatan kualitas-diri dari orang tidak beriman menjadi orang yang takwa. Dari Mu’min menjadi Muttaqin.  Yang dimaksud Takwa adalah sikap menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa.  Orang yang ber-Takwa adalah orang yang selalu menjaga dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan dosa. Artinya, orang ber-Takwa adalah orang yang amalannya adalah amal-sholih, amal yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala.

Keempat, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada setiap muslim untuk melakukan Ibadah Haji, bagi yang Istitho’ah (mampu). Makna Istitho’ah untuk zaman sekarang bukan saja mampu, tetapi juga punya “nomor kursi”.  Meskipun mampu segalanya terpenuhi tetapi kalau tidak punya n “nomor kursi” maka tidak bisa berangkat Ibadah Haji.

Untuk daerah Jakarta, bila seseorang sudah mendaftar dan membayar Rp 25,5 juta kepada Kementerian Agama, pada tahun ini (2013) maka insya Allah baru bisa berangkat tahun 2023. Menunggunya selama 10 tahun. Itu yang reguler.  Bagi orang yang ber-Haji dengan BPIH Khusus (ONH Plus), bila mendaftar tahun 2013 maka bisa berangkat tahun 2017. Makna Istitho’ah sekarang menjadi berbeda dengan tahun-tahun sebelum ini. 

Oleh karena itu hendaknya bagi orang yang sudah mendapat kesempatan berangkat ibadah Haji,  gunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Yaitu melakukan ibadah Haji sesuai dengan contoh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Jangan mencontoh yang lain.

Karena belum tentu mendapat kesempatan pada tahun-tahun berikutnya. Insya Allah orang tersebut akan mendapatkan Haji Mabrur. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Haji yang mabrur tidak ada balasan lain dari Allah  kecuali Surga”.

Apabila seseorang telah melakukan sholat, membayar zakat, shaum Romadhon dan ibadah Haji, sudahkah semua amalannya itu membentuk perilaku, ucapan dan sikap kita sebagai orang yang beriman ?    Karena terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Ibadah-ibadah yang dilakukan tidak memberikan dampak dan pengaruh apa-apa bagi diri orang yang melakukannya.  Justru yang dilakukan adalah amal-amal yang ghoiru- sholih, bahkan melakujkan kedzoliman-kedzoliman.

Sebagaimana yang sering ditayangkan di TV-TV, orang sudah ber-Haji tetapi banyak melakukan kedzoliman, suka me-fitnah, suka memakan harta yang bukan haknya (korupsi), suka menumpahkan darah, dst.  Dan berita-berita demikian setiap hari kita baca di koran-koran  kita saksikan di TV-TV. 

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dua hal :

1.Pernah beliau memerintahkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal yang pernah diutus oleh beliau untuk berdakwah ke negeri Yaman. Rasulullah saw mengingatkan kepada Mu’adz bin Jabal : “Takutlah kamu terhadap do’a orang yang teraniaya (didzolimi), karena sesungguhnya do’a orang yang teraniaya dengan Allah tidak ada penghalang, do’anya didengar Allah subhanahu wata’ala”.   

Jangan karena seseorang punya jabatan, pangkat dan harta yang melimpah, lalu seenaknya saja menindas orang yang ada di bawah. Pemimpin dengan kekuasaannya mendzolimi rakyatnya, hati-hatilah. Orang-orang yang di bawah yang didzolimi jangan dianggap remeh.  Bila mereka berdo’a karena didzolimi, maka akan melebihi kekuasaan siapapun. Yaitu do’anya akan didengar oleh Allah subhanahu wata’ala dan dikabulkan.  Sehingga tidak sedikit pemimpin yang jatuh karena rintihan do’a orang-orang yang di bawah yang didzolimi.

2.Dalam Hadits dari Abu Huraairah rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad dan  Imam At Tirmidzy, bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda dihadapan para sahabat : “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan orang yang bangkrut?”. Sahabat menjawab : “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang sudah tidak punya satu dirham-pun dan tidak punya harta-kekayaan lagi”.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan  umatku   yakni orang yang datang  ke Yaumal Qiyamah dengan membawa pahala sholat, zakat dan shaumnya. Tetapi ia juga membawa dosa-dosa dari kedzoliman-kedzoliman yang ia lakukan. Ia menipu si Fulan, mem-fitnah si Fulan dan memakan harta yang bukan haknya, ia menumpahkan darah si Fulan dan ia memukul si Fulan. Tetapi ia tidak mau sadar dan tidak mau meminta maaf kepada orang yang di dzolimi dan tidak meminta ampun (bertaubat) kepada Allah subhanahu wata’ala, karena memang ia tidak mau menyadarinya”.

Selanjutnya dalam Hadits tersebut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Maka dibayarkan dengan pahala ibadahnya itu untuk menutup dosa-dosanya kepada orang lain yang pernah ia dzolimi. Sehingga pahalanya habis untuk membayar dosa-dosanya, sementara itu dosa-dosa kedzolimannya masih banyak yang belum terlunasi. Maka diambillah dosa-dosa orang yang didzolimi dibebankan kepada diri orang itu.  Lalu orang itu dilemparkan ke dalam api neraka”.  Itulah yang dimaksud orang yang bangkrut di Akhirat.  Na’udzubillah min dzalik !

Sebagai orang beriman, kita sadar bahwa sebagai manusia tidak ada yang sempurna, suatu ketika kita bisa melakukan kesalahan.  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Setiap Bani Adam (manusia) pasti pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan hendakaah ia segera bertaubat (memohon ampun kepada Allah)”.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sudah dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala, diampuni dosa-dosanya yang sudah lalu dan yang akan datang, tetapi beliau bersabda : “Aku senantiasa memohon ampun ber-istighfar kepada Allah sehari-semalam sebanyak tujuhpuluh kali”.   Dalam Hadits lain disebutkan : “Rasulullah saw dalam sehari-semalam  ber-istighfar seratus kali”.

Padahal beliau seorang Nabi/Rasul yang sudah dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala,

Bagaimana dengan kita yang manusia biasa ini yang tidak dijamin oleh siapapun ? Di sinilah perlunya kita mengadakan Muhasabah (meng-Hisab diri). Kalau dari apa yang sudah kita lakukan ada kesalahan dan kekurangan serta ada dosa-dosa, bersegeralah kita memohon ampun (bertaubat) kepada Allah subhanahu wata’ala dengan Taubatannashuha, menyesali atas apa-apa yang pernah kita lakukan, berjanji tidak akan mengulanginya, dan mengganti dengan amal-amal yang sholih, amal-amal yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Setelah orang menyadari atas dosa-dosa dan kesalahan dan ia bertaaubat, lalu amalan apa saja yang harus ia lakukan ?

Jawaban:

Dengan semua amalan,  baik yang wajib maupun yang Sunnah. Pada dasarnya, orang yang dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala, tidak akan ditimpakan kehinaan di dunia, bahkan diberi kemuliaan oleh Allah, yaitu orang yang senantiasa melaksanakan Hablumminallah dan Hablumminannaas dengan baik. Di antaranya : Sholat.  Dan masing-masing ibadah punya keutamaan masing-masing. Dan sekali-kali jangan musyrik. Itu jaminan dari Allah.  Sebaliknya bila orang tidak melaksnakannya dengan baik, akan ditimpakan kehinaan kepada dirinya.

Pertanyaan:

Tentang Taubatannashuha.  Apakah ada sholat Taubat ?

Jawaban:

Seperti disebutkan dalam Surat At Tahrim ayat 8 :

Wahai orang-orang yang beriman! bertaubatlah kamu kepada Allah dengan ” taubat Nasuha”, (sebenar-benar taubat). Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai,

Syarat bertaubat Nashuha :

  1. Menyesal atas perbuatan dosa-dosanya,
  2. Berjanji tidak akan mengulanginya.
  3. Akan mengubah (mengganti) dengan melakukan amalan-amalan yang baik.

Tentang Sholat Taubat, tidak ada dasar Haditsnya.  Tidak ada sholat khusus bertaubat.

Tidak didapatkan Hadits yang shahih tentang sholat Taubat.  Rasulullah saw bersabda : “Perbanyak do’a mohon ampun ketika sujud dalam sholat”.

Bertaubat juga bisa dilakukan dengan berdo’a selesai sholat Fardhu (Sholat Wajib).

Pertanyaan:

Bagaimana dengan seseorang yang merasa bersalah kepada orangtua dan belum sempat mohon maaf kepada orangtuanya, tetapi orangtuanya sudah meninggal.  Bagaimanakah cara berbuat baik kepada kedua orangtua yang sudah meninggal ?

Jawaban :

Di zaman Nabi Muhammad saw ada seorang pemuda yang bertanya kepada beliau : “Ya Rasulullah, masih adakah kesempatan bagi saya untuk berbuat baik kepada  orangtuaku yang sudah meninggal dunia ?”  Nabi Muhammad saw bersabda : “Tentu, ketika orangtuamu meninggal dunia maka sholatkanlah jenazahnya”.  Tetapi ada sebagian ulama yang memaknai Hadits tersebut : “Do’akan orangtua yang sudah meninggal itu”.   Karena dalam sholat Jenazah itu berisi do’a yang ditujukan kepada jenazah. Dan mintakan ampunan kepada Allah atas keduanya”.  

Selanjutnya dalam Hadits tersebut : “Lanjutkan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan orangtuanya ketika masih hidup dan tetap sambunglah silaturrahim dengan orang-orang yang ketika orangtuamu hidup bersilaturrahim”.

Dan bermohonlah ampun kepada Allah karena pada hakekatnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA,

ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.   Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

                                                                        _____________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: