Hadits Bab : 1.Mengajak Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tetapi tidak konsekuen 2.Perintah menunaikan Amanah.

Dr. H.M.Soetrisno Hadi, SH, MM.

27 Maret 2013

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Kajian kali ini adalah pembahasan Hadits dari Kitab Riyadhushsholihin, Hadits Bab Beratnya siksaan orang yang mengajak untuk berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar (Amar Ma’ruf Nahi Munkar) tetapi ia tidak konsekuen. (Tidak satunya kata dengan perbuatan).

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 44 :

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian (kebaikan) sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Tidaklah kamu berpikir?

Dalam AlQur’an Surat Ash Shoff ayat 2 – 3 :

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Dalam AlQur’an Surat Hud ayat 88 :

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang

Keterangan ayat .

Ayat pertama (Surat Al Baqarah ayat 44) tersebut di atas diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menjelaskan berkaitan dengan perilaku orang-orang Yahudi di Madinah di zaman Rasulullah saw.   Orang-orang Yahudi itu tahu bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah benar, dan mengerti bahwa Islam itu benar. Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang sudah  masuk Islam berkata : “Teruskan dan ikuti Muhammad, ia benar”.

Tetapi bersamaan itu orang-orang Yahudi itu melupakan dirinya. Mereka tidak mau masuk Islam, padahal perkataannya bagus, dan membenarkan Nabi Muhammad saw. agar orang mengikutinya, dst. Semestinya  mereka masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Tetapi nyatanya tidak seperti itu.  Perbuatan mereka tidak seperti yang mereka katakan. Tidak ada satunya kata dan perbuatan.  Dan yang demikian itu tercela dalam Islam.

Ayat kedua (Surat As Shoff  ayat 2 – 3 ), menurut Tafsir ada ceritanya :  Ketika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam di Madinah,  banyak orang-orang munafik (menampakkan keimanan tetapi menyembunyikan kekafiran) datang kepada Nabi Muhammad saw  dan berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak bisa ikut berperang (Perang Uhud) karena keluarga kami sedang kasulitan”.  Jawab Rasulullah saw : “Ya sudah, silakan”.

Padahal itu hanya sebagai alasan untuk tidak mau ikut berperang.  Karena ada orang-orang Yahudi (orang munafik) yang berkata tidak mau ikut berperang dengan berbagai alasan itulah, maka turunlah ayat tersebut.  Orang munafik juga sering melakukan sholat, ikut berjamaah bersama Rasulullah saw, tetapi sholatnya hanya untuk berpura-pura saja, karena hati mereka tidak beriman.  Sebenarnya mereka bukan Islam.   Maka bila mereka diajak berperang, dalam hatinya menolak, lalu mengatakan berbagai alasan untuk tidak ikut berperang. Seluruh orang munafik menolak untuk ikut berperang.

Ayat tersebut mengajarkan untuk : Satunya kata dan perbuatan

Amat besar dosanya di sisi Allah subhanahau wata’ala, orang yang berkata tetapi tidak mengerjakan apa yang dikatakan. Dengan kalimat lain : Kalau kita mengajak orang untuk berbuat baik, kita harus berbuat baik terlebih dahulu.

Misalnya kita mengajak orang yang tidak pernah sholat untuk sholat, kita sendiri harus menjadi orang yang selalu mengerjakan sholat terlebih dahulu. Kalau kita mengajak orang untuk pergi mengaji (ke Majlis Ta’lim) maka kita harus selalu mengaji terlebih dahulu.  Jangan sampai  mengajak sholat, tetapi dia seendiri tidak pernah sholat.  Mengajak mengaji, tetapi dia sendiri tidak pernah mengaji.

Ayat ketiga, (Surat Huud ayat 88), adalah cerita Nabi Syu’aib a.s.  Lengkapnya adalah :

Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Nabi Syu’aibalaihissalam adalah nabi yang diutus untuk kaum Madyan, yaitu suatu bangsa yang ketika itu tinggalnya di pesisir Laut Merah. Bangsa Madyan terkenal dengan kecurangannya. Bangsa Madyan terkenal karena ketidak-jujurannya. Artinya ketidak-jujuran manusia sudah ada sejak 3.500 tahun lalu. Dan diulang-ulang terus dalam sejarah  sampai sekarang,   Bukti ketidak-jujuran ditampakkan dengan perbuatan jahat. Muncullah korupsi, gratifikasi (suap-menyuap), manipulasi, dst, sudah ada sejak zaman Nabi Syu’aib ‘alaihissalam (3.500 tahun yang lalu).

Maksudnya bahwa Nabi Sy’aib a.s. ketika itu berkata kepada kaumnya (Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang), adalah Nabi Su’aib tidak ingin berbeda dengan kaumnya dengan apa yang beliau larang.  Nabi Syu’aib a.s. tidak akan mengerjakan apa yang telah dilarangnya.  Kalau dilarang, maka tidak dikerjakan.

Pelajarannya adalah :

Islam bisa dilihat dari dua perspektif (pandangan) :

1.Secara Eksoterik (melihat Islam dari tampilan luar), secara lahiriyah, Islam ada 3 pokok utama yaitu :

  1. Aqidah, suatu system keyakinan yang berangkat (bertumpu) pada Tauhid, bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah subhanahu wata’ala. 
  2. Syari’ah, jalan (aturan) yang disediakan oleh Allah untuk umat-Nya menuju kepada Allah subhanahu wata’ala.
  3. c.       Akhlak, perilaku, cara hidup yang sesuai dengan Aqidah dan Syari’ah.  Akhlak banyak sekali cabang-cabangnya :Akhlak terhadap Allah subhanahu wata’ala, Akhlak terhadap Rasulullah saw, akhlak terhadap Kitab Suci, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap sesama muslim dan akhlak terhadap sesama umat manusia.

Berdasarkan ayat tersebut, kita disuruh untuk memperhatikan akhlak terhadap diri sendiri.  Dan akhlak terhadap diri sendiri yang paling tinggi,  itulah yang disebut jujur (Kejujuran, Honesty).

Kejujuran adalah satunya kata dan perbuatan.  Mengajak orang berbuat baik dan kita juga berbuat baik, maka itulah satunya kata dan perbuatan. Kalau kita melakukannya, maka kita dipuji oleh Allah dan Rasulullah saw. Orang yang mampu hidup dengan lurus, benar, maka sabda Rasulullah saw : “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan itu akan membawa kamu kepada surga”

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda : “Kejujuran, kebenaran, satunya kata dan perbuatan  akan membawa orang kepada Tuma’ninah (hidup yang tenang)”. Maksudnya, orang yang jujur dan benar, maka ia akan hidup dengan tenang.

Kejujuran sudah dikenal sejak zaman dahulu kala.  Nabi Muhammad saw ketika mengirim delegasi dakwah (delegasi diplomatik) kepada Kaisar Heraclius (Raja Romawi), delegasi dipimpin oleh Abu Sofyan,  Kaisar Heraclius bertanya kepada Abu Sofyan : “Apa yang diperintahkan nabimu kepada kamu ?”

Abu Sofyan berkata menjawab : “Dia memerintahkan kepada kami untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Kedua agar kami  meninggalkan apa yang diajarkan oleh nenek-moyang kami.  Ketiga, agar kami melakukan sholat 5 kali sehari/semalam. Keempat dia memerintahkan kami untuk berlaku jujur”.

2.Secara Esoterik (melihat Islam dari dalam), bahwa Islam berisi empat hal :

  1. Syariah, yaitu jalan, aturan beribadah : Sholat, zakat, shiam, ber-Haji, dst.
  2. Thoriqoh, jalan (cara-cara) yang lebih detail (kecil) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala : Dzikir, banyak ibadah-ibadah sunnah (shiam sunnah), Tahajud, sholat Dhuha, dst.
  3. Ma’rifah, mengenal siapa dan bagaimana Allah subhanahu wata’ala.
  4. 4.      Haqiqoh, suatu keadaan di mana seseorang tahu bahwa seluruh yang terlihat di alam semesta ini essensinya kembali kepada Hakikat Allah subhanahu wata’ala.

Menjalani hidup dengan lurus dan benar, membiasakan hidup dengan jujur. perlu latihan. Misalnya menilai diri dengan : Berapa kali dalam sehari berkata dusta (bohong). Esok harinya dihitung lagi berapa kali berkata bohong, sambil berusaha semakin mengurangi (menghilangkan) berkata bohong. Sampai akhirnya setiap hari tidak pernah bohong, artinya menjadi orang jujur, tanpa dusta.  Itulah Thoriqoh, latihan kejujuran.

Bila sudah biasa jujur, maka orang akan Ma’rifat, mengenal Allah subhanahu watangala.  Ia akan menjadi orang yang waspada dan sadar diri.

Dan bila sudah Ma’rifat, maka ia akan sampai kepada Haqiqoh, merasa Allah subhanahu wata’ala selalu bersamanya di mana saja ia berada. Orang baru bisa merasakan selalu bersama Allah subhanahu wata’ala, kalau membiasakan berlaku jujur.

Hadits tentang orang yang tidak jujur, tidak satunya kata dan perbuatan :

Hadits 1 :

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah rodhiyallahu ‘anhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Nanti pada Hari Kiamat  ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan  ke dalam neraka, maka keluarlah usus perutnya dan berputar-putar di dalam neraka  sebagaimana berputarnya keledai  yang sedang berada dalam penggilingannya, lantas para penghuni neraka berkumpul seraya berkata : Wahai Fulan, kenapa kamu seperti itu ?  Bukankah kamu dulu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan mungkar ?  Ia menjawab : Benar,  saya dulu menyuruh untuk berbuat baik  tetapi saya sendiri tidak mengerjakannya;  dan saya melarang dari perbuatan mungkar tetapi saya sendiri malah melakukannya”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Keterangan.

Hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa sifat tidak jujur (ketidak-jujuran) akan membuat orang masuk neraka.

Pelajarannya adalah :

  1. Jangan berlaku tidak jujur
  2. Perbanyak do’a : Allahumma ajirna minannaar (Ya Allah jauhkan kami dari api neraka) setiap selesai sholat.
  3. Jangan lupa membaca : Robbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar (Ya Allah Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat dan hindarkanlah kami dari api neraka).

BAB TENTANG PERINTAH UNTUK MENUNAIKAN AMANAH.

Bab ini merupakan lanjutan dari Bab jujur.  Orang yang jujur akan bersikap Amanah. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat An Nisaa’ ayat 58 :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

Berdasarkan ayat tersebut, para ahli AlQur’an mengatakan bahwa menunaikan amanah hukumnya wajib.  Amanah artinya jujur, bisa dipercaya. Orangnya disebut Al Amin (laki-laki)  atau Aminah (perempuan).

Surat Al Ahzab ayat 72 :

 Sesungguhnya Kami (Allah) telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala pernah menyerahkan Amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Tetapi ternyata langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup memikul amanah itu, mereka menolaknya. Dengan diciptakannya Nabi Adam, maka amanah diserahkan kepada Nabi Adam dan Nabi Adam menerima amanah itu.  Maka amanah dipikulkan kepada manusia.  Lalu diberikan catatan (gambaran) bahwa sesungguhnya manusia dalam memikul, amanah punya dua sifat yaitu suka berbuat dzolim dan suka tidak mau tahu (bodoh).

Pelajarannya.

  1. Melaksanakan amanah hukumnya wajib.
  2. Menjalankan amanah merupakan akhlak terpuji.
  3. Tidak menjalankan amanah disebut  khianat (akhlak tercela).

Dalam kitab-kitab Tafsir, yang dimaksud Amanah adalah :

  1. Agama (Islam).  Jadi Islam adalah amanah Allah subhanahu wata’ala yang harus dijalankan oleh manusia.
  2.  AlQur’an. Maka bila disebutkan bahwa AlQur’an adalah amanah Allah, berarti kita memikul amanah Allah untuk membaca (mempelajari) AlQur’an.
  3. Keluarga. Bila seseorang menikah, maka isteri dan anak-anaknya merupakan amanah yang dibebankan kepadanya. Tidak boleh isteri dan anak-anaknya sampai menyimpang dari Islam. Ajaklah isteri dan anak-anaknya menuju surga.
  4. Anak. Orang yang punya anak berarti ia punya amanah dari Allah subhanahu wata’ala. untuk dididik menjadi anak yang sholih/sholihah.

Dari amanah yang empat itu yang bisa memikul hanya manusia. Sayangnya, dalam memikul amanah manusia punya sifat : Dzolim dan Jahil, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut di atas.

Dzolim artinya menganiaya diri, yaitu :

–          Kalau sudah tahu bahwa amanah harus dijalankan, tetapi tidak dijalankan, itulah dzolim

–          Kalau sudah tahu agama (Islam) adalah amanah, lalu kita tidak menjalankannya, maka kita dzolim.

–          Kalau sudah tahu bahwa AlQur’an adalah amanah Allah, lalu kita tidak mau membaca dan mempelajarinya serta melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari,  maka kita dzolim.

Jahil, artinya tidak mau tahu, (bodoh).  Diberi tahu tetapi tidak mau mengerti. Misalnya, sudah tahu bahwa sholat adalah wajib, tetapi tidak mau mengerjakan. Akan menyesal selama-lamanya.

Tanya-Jawab.

Pertanyaan:

Dalam ayat tersebut di atas dinyatakan bahwa : Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh. Dan itu sudah merupakan ketentuan Allah subhanahu wata’ala ketika Nabi Adam a.s. menerima amanah.  Tentu itu tidak lepas dari skenario Allah subhanahu wata’ala.  Untuk itu kita diharuskan mempelajari AlQur’an dan solusinya dari kebodohan juga diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana sebagai manusia kita mendapatkan yang terbaik ketika di Akhirat kelak ?

Jawaban:

Manusia punya watak suka dzolim dan suka jahil (bodoh). Artinya,  ketika manusia tidak bisa memberdayakan imannya,  tidak mengembangkan akal-sehatnya, dan tidak mengikuti petunjuk Allah subhanahu wata’ala, maka orang itu dzolim. Karena ia mengikuti hawa-nafsu dan bisikan syaithan.  Jadi yang membuat orang tidak jujur adalah hawa-nafsu dan bisikan syaithan.

Untuk menanggulangi itu semua, maka :

  1. Manusia harus mengembangkan dan memberdayakan Iman serta diperbagus Imannya.  Caranya adalah dengan sering mengaji (mendatangi Majlis Ta’lim).
  2. Iman harus disertai akal sehat.
  3. Selalu berharap hidayah (petunjuk) Allah subhanahau wata’ala, agar selamat dan sampai di Surga.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum diakhiri marilah kita membaca do’a untuk kita semua . Al Fatihah.

Do’a :

Bismillahirrohmanirrohim

Allahumma bihaqqil Qur’an.

Wabi kalamikal qodim,

Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,

Wabi haqqi ummil Qur’an

‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,

Wa’alimna ta’wil, wahdina ilassawa-issabil.

 

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan,

Wayaqinan shodiqon warizqon wasi’an,

Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,

Wabadanan shobiron wal’afwa ‘indal hisab,

Wannajata minannaar.

 

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,

Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,

Robbana wafiqna li tho’atika,

Wa atmim taqshirona wataqobbal minna,

Robbana atina fidun-ya hasanah,

Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: