Menyikapi Musibah.

Muhammad Arifin Purba, MA.

Pengajian Tgl, 6 Februari 2013

 

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamu’alaikum wr.wb.,

 

 

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,

Thema kajian kali ini adalah bagaimana Menyikapi  Musibah apakah ia sebagai teguran, adzab atau ujian.  Allah subhanahu wata’ala adalah Robbul ‘alamin, Pencipta dan Pengatur alam semesta.  Dia-lah yang meniupkan angin, membawa awan dan menurunkan hujan.   Dengan hujan tersebut hiduplah bumi yang terhampar ini, tumbuhan dan hewan tumbuh di sana, semuanya itu diperuntukkan bagi manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia kufur kepada Allah subhanahu wata’ala.  Hanya sedikit manusia yang pandai bersyukur.

 

Bahkan ada sebagian manusia yang melampau batas dengan mengatakan dalam tayangan TV-TV : “Jangan ke mana-mana, sebab cuaca sedang tidak bersahabat. Hari ini cuacanya ekstrim,”.   Sebenarnya ungkapan demikian itu keterlaluan kepada Allah subhanahu wata’ala. Ketika mereka mengatakan bahwa “cuaca tidak bersahabat, cuaca ekstrim”, dst,   artinya mereka mengatakan tidak bersahabat dengan Allah dan menuduh Allah adalah bersifat ekstrim.

Karena hakikatnya yang menciptakan keadaan alam seperti itu adalah Allah subhanahu wata’ala.

 

Bahkan ketika ada musibah banjir mereka mengatakan : “Akibat banjir satu hari, maka kerugian ekonbomi kita per-jam sekian milyar rupiah dan satu hari sekian trilyun rupiah”.

Demikianlah mereka, bila rugi ngomong, tetapi kalau beruntung tidak pernah ngomong.

 

Bahkan mereka mengatakan : “Musibah ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan”.  Ketika mereka diberi banjir (pesta air) mereka mengeluh, tetapi ketika mereka malam Tahun  Baru mengadakan pesta Api, padahal itu musibah, tetapi tidak mereka katakan itu musibah.

Demikian manusia masa kini, teramat banyak  melampaui batas. Oleh karena itu kita sebagai orang beriman harus meyakini bahwa musibah adalah atas Izin Allah subhanahu wata’ala.  Di antaranya  Allah subhanahu wata’ala beriman dalam AlQur’an Surat Al Hadid ayat 22 :

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Juga dalam Surat  At Taghabun ayat 11 :

 

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

 

Juga dalam Surat At Taubah ayat 51 :

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Artinya, bahwa semua musibah yang terjadi di muka bimi ini sudah ditetapkan (ditkadirkan ) oleh Allah subhanahu wata’ala.   Segala ketetapan di sisi Allah subhanahu wata’ala disebut Qadha, sudah ada tercantum di dalam Kitab Induk Lauhil Mahfudz.

Qadha adalah sepasang, yaitu positif dan negatif, sebagaimana disebutkan dalam Surat Asy Syams ayat 8 :  

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Maksudnya, Allah subhanahu wata’ala meng-ilhamkan kepada manusia sebagian (50%) positif dan sebagian lagi (50%) negatif. Jadi Qadha Allah ada dua : Positif dan negatif.

Dalam Hadits diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam selesai menguburkan (memakamkan) mayit, berkumpullah dengan para sahabat, beliau bersabda : “Setiap kalian sudah punya tempat tidurnya di neraka”.  Sahabat terkejut dan bertanya : “Ya Rasulullah, lalu untuk apa kami beribadah kepada Alah subhanahu wata’ala?”.

Kemudian Nabi Muhammad saw. menjawab, bersabda : “Akan tetapi setiap kalian juga sudah disiapkan tempat tidurnya di Surga.  Maka berusahalah kalian untuk mendapatkan tempat di Surga itu”..   Mendengar itu mereka para sahabat merasa senang.

Maka kita umat Islam telah ditetapkan dalam Qadha Allah subhanahu wata’ala 50% mati Husnul Khotimah (Akhir hidup yang baik) dan 50% mati Su’ul Khotimah (Akhir hidup yang buruk).  Positif dan negatif ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala, itulah Qadha. kita tinggal memilih mau yang positif atau yang negatif.  Setelah kita lahir barulah Allah subhanahu wata’ala memberikan Qadar (kemampuan) yaitu usaha, doa dan tawakkal. Kalau ia berhasil maka ia bersyukur, sedangkan kalau gagal ia ber-sabar.

Itulah yang dinamakan Qadar, yaitu kemampuan.  Kita manusia diberi tenaga, akal dan qalbu (hati) diturunkan Kitab suci, diutus Nabi,  ada para ulama serta sarana dan prasarana yang lain, itu semua Qadar.  Tinggallah mau atau tidak menjalankannya. Bila mau, maka Allah akan memberikan Taqdir kepada kita. Dan Taqdir tidak bisa diubah, Taqdir ada yang positif dan ada yang negatif. Kalau kita berusaha dengan maksimal sesuai dengan tuntunan (Allah) maka  kita akan mendapatkan Qada dan Taqdir yang positif.

Kesimpulan : Taqdir tidak bisa diubah sedangkan Qadha bisa dipilih.

Maka dalam Al Qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirmaan : Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. 

Itulah yang dimaksud Musibah merupakan ketetapan dan idzin Allah subhanahu wata’ala, artinya telah duitetapkan di Lauhil Mahfudz sebelum musibah itu terjadi.

Faktor Penyebab.

Semua musibah ada factor penyebabnya (Sunnatullah-nya, hukum alamnya).   Penyebab Musibah adalah :

1.Ulah tangan manusia.

Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Ar Ruum ayat 41 :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Juga dalam Surat Asy Suura ayat 30 :

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Contohnya : Banjir dan longsor,  adalah akibat ulah tangan manusia. Manusia membuang sampah sembarangan, pohon-pohon di hutan ditebang, tanpa ditanami lagi, dst.

2.Rusaknya Akhlak dan Aqidah manusia.

Allah subhanahau wata’ala berfirman dalam AlQur’an Surat Al A’raaf ayat 96 :  

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,(kepada Allah)  pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Yang dimaksud “mereka mendustakan” (ayat-ayat Kami) adalah mereka menganggap AlQur’an itu dusta (bohong) dan mereka berlaku syirk (musyrik) melakukan kesyirikan, menganggap ada kekuatan lain selain Allah, menyembah dewa-dewa, meminta pertolongan kepada kuburan, menyembah selain Allah dst. Sehingga Aqidah mereka penuh dengan kemusyrikan.

Maka bila dalam rumahtangga kita terjadi musibah, apakah itu berupa sakit parah dan lainnya, cobalah interospeksi diri, boleh jadi selama ini akhlak dari salah satu anggota keluarga atau seluruhnya rusak,  selama ini Aqidahnya rusak, bercampur dengan ke-musyrikan.

Musyrik adalah mem-persekutukan Allah dengan yang lain, ia sholat tetapi juga masih percaya kepada yang lain, minta pertolongan kepada Makam Gunung Kawi, percaya kepada Nyai Lara Kidul, sesaji kepada tempat-tempat yang dikeramatkan,  dst, Padahal semua itu adalah syirk (musyrik) itu merupakan larangan keras dari Allah subhanahu wata’ala.

Rusaknya Akhlak dan Aqidah itulah yang mengundang bencana dan malapetaka.

Sebagai apa Musibah itu ?

1.Sebagai teguran awal atau peringatan pertama.

Allah subhananhu wata’ala berfirman dalam Surat As Sajdah ayat 21 :

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab (kecil) yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Jadi Musibah yang terjadi di sekitar kita baru teguran kecil dari Allah subhanahu wata’ala, dibandingkan kelak adzab di Akhirat.  Tujuannya adalah agar manusia sadar dan kembali beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara menjalankan semua perintah-Nya dengan benar sesuai dengan petunjuk dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ar Ruum ayat 41 di atas,  musibah terjadi disebabkan oleh sebagian dari perbuatan mereka yang Allah balas, tidak semuanya.  Sebab bila dibalas semuanya, hancurlah seluruh muka bumi ini.  Maka hanya sedikit (sebagian) yang dibalas.

Misalnya manusia punya 10 (sepuluh) kesalahan, maka yang yang dibalas hanya 2 (dua) kesalahan.  Yang 8 (delapan) kesalahan dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala. 

Juga dalam Surat As Syuura ayat 30 sebagaimana disebutkan diatas, bahwa Allah subhanahu wata’ala telah banyak memaafkan umat Islam sekarang.   Bila dibayangkan umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhgammad saw, bila umatnya durhaka langsung dibalas kontan oleh Allah subhanahu wata’ala, ada yang buminya dibalikkkan, sehingga umatnya tenggelam dalam perut bumi,  ada yang diberikan hujan batu, dan banjir bah seluruh muka bumi, sehingga manusia mati semua ketika itu kecuali umat yang taat kepada nabinya.  Tetapi umat Nabi Muhammad saw (umat Islam) berkat do’a beliau, musibah diberikan dalam bentuk kecil. Lebih banyak dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala.  Tujuannya agar umat Nabi Muhammad saw mau sadar.

Tetapi bila tidak sadar juga maka Allah subhanahu wata’’ala akan memberikan bencana yang lebih besar lagi, yaitu dengan “teguran” yang lebih keras, sebagai mana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Anfaal ayat 25 :

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Itulah yang Allah ingatkan, bahwa ada siksaan (bencana) yang lebih besar lagi dibandingkan yang disebutkan di atas.  Karena saat ini banyak para pejabat, para tokoh masyarakat, yang tidak mau tahu, mereka chuek saja, melakukan korupsi seenaknya, dan ketika ditangkap tidak mau mengaku. Dan mereka  masih bisa tertawa-tawa, masih bisa sumpah-sumpah dst.  Dan itu adalah penyakit jiwa, penyakit hawa-nafsu, yang telah merasuki tubuh orang (pejabat, penguasa, dst).

Itulah yang lebih berbahaya.  Ber-partai, berpolitik dijadikan kendaraan untuk mencari harta dengan cara-cara yang melanggar hukum.

2. Musibah sebagai Adzab (siksaan).

Kalau masih belum sadar juga maka Allah berikan “teguran kedua” seperti difirmankan dalam Surat 7 ayat 97 dan 98 :

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Kita ingat, peristiwa Tsunami di Aceh terjadi pagi hari sekitar jam 09.00 pagi (waktu Dhuha) ketika banyak orang sedang senam, olah raga pagi, sedang bermain-main. Itulah peringatan (teguran)  dari Allah subhanahu wata’ala, Apakah mereka tidak takut dengan teguran demikian itu ?

Ayat 99 :

99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Para koruptor itu tidak takut dengan murka Allah, karena kalau mereka takut, tentu tidak akan berani melakukan korupsi.   Mereka adalah orang-orang yang merugi (di Akhirat).

Setelah ditegur demikian tidak juga sadar, maka diberikan teguran yang ketiga, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al A’raaf ayat 96  di atas : Tetapi mereka tetap berbuat kedustaan, (berbuat syirik,  musyrik, dst) akhlaknya sudah becampur dengan berbagai kemaksiatan dan kebohongan, ke-musyrikan sudah meraja-lela, maka Allah adzab dengan berbagai bencana dan musibah.

Seperti Tsunami di Aceh,  bencana gempa di Yogya, karena umat di sana sudah terlalu.  Bahkan mereka sudah jarang sholat Subuh berjamaah. Malam itu mereka ber-pesta narkoba, dst.  Itulah fakta dan data-nya.  Kalau tidak terlalu, tidak mungkin Allah memberikan bencana itu.

3.Musibah sebagai Ujian.

Musibah sebagai ujian bagi orang yang beriman.  Bagi orang yang iman-nya setengah-setengah, kadang beriman kadang tidak, musibah adalah ujian. 

Ujian dimaksudkan untuk mengangkat harkat-martabat kita orang beriman di sisi Allah subha-hanahu wata’ala,  Karena Iman adalah mutiara yang paling berharga.  Orang hidup tanapa iman maka akan si-sialah hidupnya seperti hewan. Orang mati tidak membawa Iman, maka rugilah ia. Maka Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Wal ‘Ashri :

Demi Masa, sesungguhn ya manusi itu pasti merugi, kecuali orang-orang yang beriman.

Maka Musibah yang terjadi adalah ujian bagi orang yang beriman. Iman itu wajib diuji. Dalilnya adalah :

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Ankabut ayat 2 dan 3 : 

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

3. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Maka kalau ada orang berdo’a : Ya Allah jauhkanlah kami dari ujian, cobaan dan musibah – maka do’a yang demikian itu salah.  Yang benar adalah do’a : “Ya Allah tabahkanlah kami, kuatkanlah kami dalam menghadapi ujian ini”. – Artinya, siap menerima ujian dan tabah.

Hakekat hidup ini adalah ujian. Dan ujian itu dimulai dari rumahtangga, ekonomi rumah tangga, dst, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 155 :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat 156 dan 157 :

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

157. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hidup ini adalah ujian.  Bentuk ujian adalah berupa kebaikan (kenikmatan) dan keburukan  (penderitaan) Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah subhanahu wata’ala dalam Surat Anbiyaa ayat 35 :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (cobaan) (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

Ujian bukan saja yang buruk-buruk berupa penderitaan, tetapi ujian juga berupa kebaikan (kenikmatan).  Selama ini kita suka salah kaprah, dikira yang dimaksud ujian hanya yang berupa kenikmatan.  Padahal ujian juga berupa kebaikan (kenikmatan).  Dan banyak orang tidak lulus ketika diuji dengan kebaikan (kenikmatan). Kalau sedang diuji dengan keburukan (penderitaan) sampai di mana ber-sabarnya dan ketika diuji dengan kebaikan (kenikmatan) sampai berapa ber-syukurnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 216 :

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Itulah ayat yang seharusnya menjadikan sikap kita sebagai orang beriman. Kalau mencintai sesuatu jangan terlalu cinta, kecuali  cinta kepada Allah subhanahu wata’ala.   Sebab boleh jadi yang kita cintai itu lain waktu akan membenci  kepada kita.  Dan kalau membenci sesuatu jangan terlalu benci, sebab boleh jadi lain waktu yang kita benci itu akan kita cintai.

Solusi.

Setiap masalah tentu ada solusinya.  Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al Furqon ayat 70 

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jadi solusinya adalah : Taubat.  Dan syarat ber-Taubat ada  3 (tiga) :

  1. Menyadari kesalahan dan jenis kesalahan.  Maka ketika selesai sholat, terutama ketika selesai Sholat Tahajud, sebaiknya merenung, kesalahan apa saja yang pernah kita perbuat. Dan memohon-lah ampun kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menyebut kesalahan (dosa-dosa) apa yang pernah diperbuat.
  2. Menyesali apa-apa yang pernah diperbuat dengana menyesal yang sebenar-benar menyesal.
  3. Tidak akan mengulangi dosa-dosa yang pernah diperbuat. .

Setelah ber-Taubat, kemudian meningkatkan Iman dan Takwa, lebih meningkat dibanding sebelumnya.  Meningkatkan Iman dan Takwa dengan cara belajar, mempelajari tentang Aqidah, Iman, Tauhid, dan tentang Ihsan.  Meningkatakan keimanan dengan terus belajar (mengaji) tentang ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya yang sesuai dengan AlQur’an dan Sunnah.

Kemudian dilanjutkan dengan amal-amal sholeh, yaitu semua peribadatan dan perbuatan baik sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan :

  1. Musibah ada kalanya berarti teguran, ada kalanya adzab dan ada kalanya ujian.
  2. Teguran bagi orang yang imannya tipis, imannya setengah-setengah.
  3. Adzab bagi orang yang benar-benar kufur nikmat dan melampaui batas.
  4. Ujian bagi orang yang kuat imannya.

 

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.

SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA, ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: